Buat yang gak suka gerah, harap melipir!
Bukan bacaan untuk anak yang belum cukup umur.
Ketika Aishe didorong ke laut oleh Farhan tunangan tercintanya, semua rasa cinta berubah menjadi tekad untuk membunuhnya.
Aishe tidak pernah berpikir bahwa Farhan hanya mencintai uangnya, dan tega berselingkuh bahkan mendorongnya ke laut.
Ketika ombak menelan tubuh Aishe, dirinya berpikir akan mati, namun keberuntungan berpihak padanya. Aishe terdampar di sebuah pulau kosong selama 59 hari hingga suatu hari dia diselamatkan oleh Diego, seorang pengusaha yang tampan namun lumpuh.
Dengan kekuatan dan kekayaan Diego, Aishe memiliki identitas baru dan wajah baru, dia bahkan menjadi sekretaris pribadi Diego. Diego, pria yang kaya dan berkuasalah yang dapat membantunya membalas dendam pada Farhan.
Setelah balas dendam selesai, senyuman menyeramkan muncul di wajah Diego, yang membuat jantung Aishe berdegup kencang menunggu kalimat selanjutnya.
"Sekarang giliranmu untuk membalas budi padaku."
Aishe menatap pria yang mendekat di depannya, dalam hati dia berkata, "Lolos dari mulut buaya, malah masuk ke mulut singa."
Ini bukan novel garis lurus yang bisa diambil banyak pelajarannya. Jadi kalian bisa berhenti jika alir terasa berputar-putar, membosankan, jelek dan yang lain.
Silakan kembali tanpa meninggalkan kesan buru di komentar.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
9
Dokter Hakan berlari usai memarkirkan mobilnya di depan pintu begitu saja, memasuki rumah bahkan tanpa mengetuk pintu. Napasnya terdengar sengal, saat bertemu dengan Ashan yang berdiri di depan pintu kamar.
"Di-dimana? A-apa ada masalah?" tanyanya sembari mengatur napas.
"Entah, Tuan tidak mengeluhkan apa pun," jawab Ashan.
Kecemasan dokter Hakan bertambah naik usai mendengar pernyataan tangan kanan Diego. Pikirannya pun tak segan-segan menerawang pasien yang sudah 5 tahun dia rawat dengan baik. Alih-alih berpikir terlalu lama, dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam dan memeriksa.
Kamar dengan cahaya lampu yang temaram, juga asap yang keluar dari Mabkhara. Membuat suasana di dalam kamar terlihat tenang tanpa kepanikan.
Diego sedang duduk di sofa meluruskan kakinya. Tangan yang terlipat di dada, mata yang tertutup. Tampak seperti layaknya orang biasa yang sedang menikmati waktu santai.
"Tu-tuan, saya datang." Hakan menyapa ramah.
"Periksa kakiku!"
Hakan berpikir, jika Diego sedang tertidur dalam lelapnya, sehingga dia berkata cukup lirih tadi. Akan tetapi, siapa yang menyangka jika Diego masih sepenuhnya sadar. Meski, dia memerintah tanpa membuka mata.
Hakan membuka tas dan mengeluarkan beberapa perlengkapan medis. Ia mulai memeriksa, tanpa bertanya apa pun, tanpa berkata apa pun. Sampai di tengah pemeriksaan, Diego bertanya.
"Kapan, bisa kembali normal?"
Lima tahun lalu. Kecelakaan fatal merenggut beberapa hal penting dalam hidup Diego, terutama kakinya. Dokter Hakan menjelaskan, bahwa Diego mengalami Lumpuh Layu. Kelumpuhan yang disebabkan karena adanya cedera saraf pada tulang belakang.
Sejauh ini, dokter Hakan telah mengoptimalkan pengobatan. Mulai dari operasi, fisioterapi, bahkan pengobatan alternatif lainnya. Semua usahanya sedikit demi sedikit berbuah manis.
Diego sesekali mulai merasakan kesemutan di kakinya, bahkan terkadang bisa berdiri selama beberapa detik. Selain itu, dia juga sudah bisa mengatur gairah se'xnya. Suatu kemajuan yang luar biasa dalam kedokteran, bukan?
Namun, prestasi itu nyatanya tidak membuat Diego puas.
"Kenapa diam? Kemampuanmu sudah hilang?" Diego perlahan membuka mata, menatap seorang dokter berumur 35 tahun yang masih diam tidak dapat memberinya penjelasan.
"Maaf, Tuan. Anda menghentikan pengobatan secara tiba-tiba tahun lalu, jadi …."
"Jadi semua salahku?" Diego menyela.
"Bukan, bukan seperti itu."
"Pergi! Kau sama saja tidak berguna!" teriaknya lantang.
Takut? Tentu saja. Di Istanbul, siapa yang tidak mengenal kebengisan Diego pada masanya? Meski sekarang dia hanya seorang 'Tuan Muda Lumpuh' tetapi wibawa kepemimpinannya masih begitu melekat.
Usai dokter Hakan keluar, Ashan masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan tuan yang emosinya tidak stabil. Ia membawa secangkir coffee dan menaruhnya di atas meja.
"Anda merasa tidak nyaman, Tuan?" tanya Ashan.
"Menurutmu? Apa aku bisa lebih nyaman daripada bisa berjalan normal?"
Ashan tertunduk beberapa saat, lalu menegakkan kembali kepalanya dan menatap Diego. "Tiba-tiba saya teringat saat itu. Anda terbaring di ranjang tanpa bisa menggerakkan kepala sedikitpun. Sekarang, Anda sudah bisa menyalurkan gaya ranjang dengan baik, bahkan …."
Diego menurunkan kakinya dan memukul meja dengan keras. "Kau terus membelanya!"
"Bukan, Tuan. Saya hanya bersyukur, keadaan Anda, jauh lebih baik daripada sebelumnya." Ashan tersenyum tipis menatap mata Diego.
"Keluar!" Diego berteriak lantang.
Entah, hal apa yang tiba-tiba menyulut perasaan jengkelnya. Dia membuang semua benda yang ada di atas meja begitu saja. Termasuk secangkir coffe yang di bawa Ashan.