NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Garasi Mobil

Bela merobohkan tubuhnya ke atas kasur kos yang terasa jauh lebih keras dari biasanya. Seluruh badannya terasa remuk, sendi-sendinya seolah terlepas satu per satu. Hari pertama kerja dan dia langsung diterjunkan ke lapangan tanpa aba-aba; mulai dari mendaki ratusan anak tangga gedung perusahaan, mengikuti protokol militer di Pangkalan Udara yang terik, hingga berdiri berjam-jam mendampingi Melani di antara para menteri.

Sehari saja rasanya sudah membuat tubuhnya hancur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Bagaimana dengan Melani? Wanita itu bahkan memakai high heels yang lebih runcing darinya, namun tetap terlihat bertenaga hingga detik terakhir. Apakah karena Melani sudah terbiasa, ataukah tubuh Bela yang kini terlalu lemah?

Spontan, jemarinya bergerak mengelus perutnya yang masih datar. Namun, belum sempat ia menikmati rasa haru itu, perutnya kembali bergejolak. Bukan suara bayi, melainkan suara gemuruh mules yang hebat.

Bela tahu penyebabnya. Saluran pencernaannya yang sensitif tidak terbiasa dengan menu makanan tadi. Apapun makanan yang baru pertama kali Bela coba, akan langsung bereaksi pada tubuhnya. Ia baru saja hendak berlari ke kamar mandi saat ponsel di atas nakas bergetar hebat.

Layar ponselnya menyala, menampilkan nama yang membuat nyalinya menciut 'Bu Bos'.

"Iya, halo. Selamat malam, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bela, otomatis, seperti operator customer service yang sudah terlatih bertahun-tahun.

"Malam, Bel. Gini, bisa ke rumah saya sekarang? Ambil kunci apartemenmu," suara Melani terdengar tenang namun tidak menerima penolakan.

Bela melirik jam dinding. Pukul 22.30 WIB. Ia baru saja merebahkan diri selama lima belas menit! Ingin rasanya ia menegosiasikan waktu, meminta agar kunci itu diambil besok pagi saja di kantor. Namun, mengingat posisinya sebagai asisten baru yang ingin memberikan impresi sempurna, Bela menelan kembali keberatannya.

"Baik, Ibu. Saya segera ke sana," jawabnya pasrah.

"Okay, saya share location sekarang."

Tidak ada pilihan lain. Di jam segini, bus sudah tidak ada yang beroperasi. Bela bergegas memesan ojek online. Saking paniknya karena harus mengejar waktu, ia baru menyadari sesuatu saat driver ojek sudah hampir sampai di depan gerbang kos, yakni ia belum ganti baju!

Bela masih mengenakan baju tidur, celana pendek sutra yang menampilkan paha mulusnya dan atasan yang nyaris menjadi crop top, hingga memperlihatkan pusarnya jika ia mengangkat tangan. Benar-benar busana yang tidak pantas untuk bertamu ke rumah bos besar. Dengan gercep, ia menyambar sebuah cardigan panjang yang menggantung di balik pintu, memakainya dengan terburu-buru untuk menutupi kulitnya yang terekspos sebelum melompat ke belakang jok motor.

lima belas menit kemudian, Bela berdiri di depan sebuah gerbang besi raksasa di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah itu lebih mirip istana daripada tempat tinggal, ia harus berjalan menanjak di atas jalan aspal pribadi untuk sampai ke bangunan utama yang berdiri di atas singgasana pada bukit kecil itu.

Namun, belum sempat ia melangkah lebih jauh, silau lampu mobil dari arah garasi sebelah kanan mencuri perhatiannya. Bela menoleh dan mendapati sebuah Mazda MX-5 merah yang elegan sudah menyala. Di sana, Melani duduk di balik kemudi.

Namun yang membuat langkah Bela terhenti bukan mobilnya, melainkan situasi di samping pintu pengemudi. Raka berdiri di sana, tepat di samping Melani. Meskipun jaraknya agak jauh, Bela bisa merasakan aura ketegangan yang pekat. Keduanya nampak sedang adu mulut hebat. Wajah Raka nampak tegang, sementara Melani terlihat berbicara dengan nada dingin yang menusuk.

Bela refleks menunduk, mencoba mengalihkan pandangan ke arah taman bunga di pinggir jalan. Ia merasa seperti pengintip yang tidak sengaja melihat keretakan di balik dinding porselen pernikahan sempurna sang atasan.

'Pip! Pip!'

Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Melani rupanya menyadari kehadiran Bela. Mobil merah itu melaju pelan, mendekati Bela yang berdiri mematung memegangi cardigannya agar tidak tertiup angin.

"Bel, ini kunci apartemen mu," ucap Melani sambil menjulurkan tangan dari jendela mobil. Raut wajahnya kini datar, sangat serius, namun anehnya tidak ada sisa marah yang meledak-ledak seperti yang Bela saksikan beberapa detik lalu. Seolah ia adalah aktor kawakan yang bisa mengganti topeng dalam hitungan detik.

"Saya harus keluar kota malam ini juga. Usahakan besok kamu sudah packing barang-barangmu untuk isi apartemen, sebelum ada jadwal lagi. Alamat lengkapnya nanti saya Japri, okay?"

"Oke, baik Ibu," jawab Bela sambil meraih kunci logam yang terasa dingin itu.

"Saya pamit dulu ya, thanks Bela," ucap Melani sebelum kaca jendela otomatis menutup rapat dan mobil itu melaju membelah malam, meninggalkan debu yang tipis.

Bela terpaku. Ia menempuh perjalanan lima belas menit dengan ojol hanya untuk pertemuan singkat yang tak sampai lima menit. Namun, masalah yang lebih besar baru saja datang. Perutnya kembali mules. Kali ini bukan sekadar suara, tapi rasa melilit yang sudah mencapai ubun-ubun. Ini adalah alarm darurat dari pencernaannya yang bisa meledak kapan saja.

Bela melirik ke arah garasi. Raka masih berdiri di sana, menatap kepergian istrinya dengan tangan di pinggang. Tidak ada pilihan lain. Jika ia mencoba pulang ke kos sekarang, ia bisa meledakkannya di atas motor ojek.

"Pak! Permisi, Pak!" teriak Bela sambil berlari kecil menuju garasi, menahan rasa melilit di perut bawahnya.

Raka menoleh, alisnya bertaut melihat asisten istrinya yang datang tengah malam dengan pakaian yang nampak berantakan di balik cardigan.

"Saya... saya mau numpang WC sebentar, Pak!" ucap Bela dengan wajah yang sudah pucat pasi. Meskipun rasa malunya sudah mentok ke langit-langit, rasa mulas ini jauh lebih mendominasi. "Gak kuat lagi, Pak. Tolong!"

Raka terpaku sejenak, menatap Bela dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di bawah lampu garasi yang terang, ia bisa melihat kaki jenjang Bela dan sedikit bagian perutnya yang mengintip dari balik cardigan yang tersingkap saat ia berlari.

Mendengar permintaan Bela, Raka agak ngeblank. Pikirannya mendadak kacau. Gawat! Wanita ini mau ke toilet? Masalah utamanya sekarang adalah kondisi rumah yang sedang tidak bersahabat. Toilet tamu di dekat garasi sedang tersumbat sejak kemarin, dan kamar tamu kedua terkunci rapat, kuncinya dibawa oleh Melani karena ada dokumen penting di dalamnya.

Satu-satunya toilet yang berfungsi dengan baik dan bisa diakses saat ini hanyalah toilet di dalam kamar pribadinya. Raka menimbang-nimbang dengan cepat. Mengajak asisten baru istrinya masuk ke kamar pribadi di tengah malam saat istrinya baru saja pergi adalah ide yang sangat berisiko bagi kewarasannya. Apalagi dengan penampilan Bela yang hanya berbalut baju tidur tipis di balik cardigan itu.

Namun, melihat wajah Bela yang sudah berkeringat dingin dan nampak sangat tersiksa, Raka tidak tega. Ia ingin mengusahakan membantu, meski nuraninya berteriak waspada.

"Oh, mari masuk," ucap Raka singkat tanpa berani menatap mata Bela. Ia akhirnya berjalan lebih dulu, memimpin jalan masuk ke dalam rumah melalui pintu akses dari garasi.

Bela mengikuti dengan langkah yang sedikit tertahan, kedua tangannya meremas ujung cardigan untuk menutupi bagian depannya. Ia belum tahu di mana lokasi toiletnya, intinya dia harus mengeluarkan beban itu secepatnya

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!