Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Yang Penting Cocok
Oh iya,” lanjut Krisna, nadanya tetap dingin tapi sedikit melunak karena lelah, “Ezio baru minum susu. Nanti kalau sudah waktunya makan, tolong disuapi MPASI.”
“Iya,” jawab Raisa singkat.
Ia tetap tidak mengangkat kepala. Lebih tepatnya Raisa malas bersitatap.
Krisna berdiri beberapa detik lebih lama dari yang perlu. Seolah ingin mengatakan sesuatu—entah apa. Tapi kepalanya terlalu berat, dadanya terlalu penuh, dan hari ini ia benar-benar tidak punya tenaga untuk berdebat, menjelaskan, atau mempertahankan ego.
Ia hanya mengembuskan napas panjang. Lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Pintu kamar tertutup pelan.
Di kamar tamu, Raisa menghela napas kecil setelah langkah Krisna menjauh. Ia menatap Ezio yang tertidur pulas, lalu bergumam lirih, “Dede ini … bikin orang dewasa jungkir balik.”
Ezio mendengus kecil dalam tidurnya, seolah menjawab.
Bu Lita berdiri di ambang pintu kamar tamu, memperhatikan pemandangan itu dengan mata lembut. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum, lalu melangkah pergi agar tidak mengganggu.
Pagi itu, rumah Pak Wijaya kembali tenang. Bukan karena masalah selesai.
Melainkan karena, untuk sementara, ada seseorang yang tahu caranya memegang hal-hal rapuh—tanpa suara keras, tanpa ego, tanpa perlu diakui.
Dan Krisna, di balik pintu kamar yang tertutup, akhirnya tertidur dengan satu pikiran terakhir yang mengendap sebelum kesadarannya tenggelam:
Untuk hari ini ...
ia menyerah.
Dan anehnya, itu terasa seperti keputusan paling masuk akal yang ia buat sejak kembali ke desa.
***
Menjelang pukul sebelas siang, matahari sudah tinggi. Cahaya masuk lewat sela tirai kamar Krisna, jatuh tepat ke wajahnya.
Ia terbangun dengan tarikan napas panjang.
Tubuhnya terasa jauh lebih segar dibandingkan beberapa jam lalu. Kepalanya tidak lagi berdenyut, matanya tidak seberat dini hari. Tangisan Ezio yang semalaman seperti alarm tanpa tombol mati kini hanya tinggal gema samar di ingatannya.
Krisna duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya sekali, lalu berdiri.
“Lumayan segar,” gumamnya.
Ia tahu hari ini tidak bisa santai. Calon pengasuh anaknya akan datang—dan dari tiga nama yang kemarin ia wawancarai, pilihannya sudah jatuh pada satu: Lena. Janda beranak satu. Punya pengalaman nyata, bukan sekadar teori atau janji manis.
Krisna masuk kamar mandi, mandi cepat tapi bersih. Setelah itu ia mengenakan kemeja polos warna biru muda dan celana bahan. Rambutnya dirapikan seadanya. Wajahnya kembali ke ekspresi tenang, profesional—topeng yang sudah lama ia kenakan dengan sempurna.
Begitu keluar kamar, langkahnya terhenti.
Dari arah dapur kering—area kecil dekat kamar tamu—terdengar suara tawa bayi.
Bukan tawa kecil yang setengah ragu.
Tawa renyah.
Lepas.
Seperti bunyi lonceng kecil yang dipukul berkali-kali.
“Hah?” Krisna mengernyit.
Ia melangkah mendekat tanpa suara.
Di sana, Raisa duduk di kursi rendah. Baby Ezio berada di baby chair menghadapnya. Celemek kecil terpasang di leher Ezio, pipinya belepotan sisa MPASI, matanya berbinar.
Raisa menyendok makanan, lalu—alih-alih langsung menyuapkan—ia menggerakkan sendok itu ke kiri, ke kanan, ke atas, sambil membuat suara aneh.
“Brrr … swoop ... nah, ke mana sendoknya?”
Ezio tertawa keras.
Suara tawanya nyaring, memantul ke dinding, membuat Raisa ikut tertawa.
“Dede ini kalau ketawa kencang juga ya suaranya,” kata Raisa sambil menutup mulutnya karena ikut geli. “Kirain suaranya kecil, ternyata kayak klakson mobil.”
Ezio tertawa lagi, kakinya menendang-nendang senang.
Raisa cepat-cepat menyuapkan sendok saat mulut kecil itu terbuka lebar.
“Pinter,” pujinya. “Masuk semua.”
Krisna berdiri beberapa langkah dari mereka, diam.
Ia tidak sadar sudah mengamati cukup lama.
Adegan itu terasa … ganjil.
Dapurnya yang biasanya sunyi kini dipenuhi suara tawa. Anaknya yang semalam membuatnya nyaris menyerah kini tertawa sekeras itu, seolah dunia tidak pernah bermasalah.
Dan Raisa—dengan kaos lusuh, rambut diikat asal, tanpa riasan—tampak begitu … pas di tempat itu.
Raisa sama sekali tidak menoleh. Fokusnya hanya pada Ezio.
“Ayo, makan lagi,” katanya lembut tapi ceria. “Tinggal beberapa suap lagi.”
Ezio mengoceh, lalu tertawa lagi.
Barulah Krisna berdeham kecil.
Raisa tetap tidak menoleh.
“Dia tidak rewel?” tanya Krisna akhirnya, suaranya dingin, datar seperti biasa.
Raisa tetap menyendok MPASI, lalu menyuapkan satu suap lagi. Setelah itu barulah ia menjawab, tanpa menoleh.
“Kalau lagi ketawa,” katanya pelan, nyaris malas, “berarti sedang tidak menangis.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang lebih menusuk, “Masa begitu aja nggak paham.”
Krisna mengernyit.
Ia membuka mulut untuk membalas—entah apa—tapi belum sempat satu kata pun keluar, suara lain menyela.
“Maaf, Den.”
Bik Sum muncul dari pintu samping, membawa lap kecil di pundaknya. Wajahnya agak tegang—mungkin sudah menangkap sisa ketegangan di udara.
“Makanannya mau disiapkan di sini atau di ruang makan?”
Raisa melirik Bik Sum sekilas, lalu kembali ke Ezio.
Krisna mengalihkan pandangan dari Raisa ke Bik Sum. Ia menarik napas pelan.
“Makan di sini aja, Bik,” katanya. “Saya sekalian mau mengawasi Ezio.”
“Baik, Den.”
Bik Sum buru-buru pergi, jelas lega karena berhasil memotong potensi adu mulut.
Hening kembali turun.
Raisa menyuapkan sendok terakhir. “Nah,” katanya puas. “Habis juga makannya. Dede pinter sekali.”
Ezio menjilat bibirnya, lalu tertawa kecil lagi, seolah bangga dengan pencapaiannya.
Raisa membersihkan mulut dan tangan Ezio dengan tisu basah, gerakannya cepat tapi lembut. Tidak ada rasa tergesa, tidak juga canggung.
Krisna memperhatikan dari samping.
“Dia makannya banyak,” katanya, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Raisa mengangkat bahu. “Karena nggak dipaksa. Suapinnya harus enjoy.”
Krisna menoleh. “Saya juga nggak maksa.”
Raisa akhirnya menoleh, menatapnya datar. “Iya, Mas. Tapi Mas tegang.” Kalimat itu sederhana. Tapi tepat.
Krisna terdiam.
Raisa berdiri, mengangkat Ezio dari baby chair. Bayi itu langsung menyandarkan kepala ke bahu Raisa, tenang.
“Kalau habis makan, biasanya dia pengen digendong sebentar,” kata Raisa, seperti memberi laporan kerja. “Biar nggak gumoh. Dan, dia bisa bersendawa.”
Krisna mengangguk kecil.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh. Tidak benar-benar canggung, tapi juga tidak nyaman.
“Ada calon pengasuh datang hari ini,” kata Krisna akhirnya.
“Oh,” Raisa menanggapi singkat. “Yang kemarin itu?”
“Iya.”
“Siapa yang terpilih?” tanya Raisa datar, tanpa ada rasa penasaran yang berlebihan.
Krisna meliriknya. “Namanya Lena.”
Raisa mengangguk. “Oh, semoga cocok.” Nada suaranya netral, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang tidak bisa Krisna tangkap dengan jelas.
“Kamu … nggak keberatan kan,” lanjut Krisna, “kalau nanti Ezio dipegang orang lain?”
Raisa menatap Ezio sebentar sebelum menjawab. “Keberatan atau nggak, itu bukan urusan saya. Pertanyaan Mas Krisna ini lucu sekali. Padahal Ezio anaknya Mas, bukan anak saya.”
Ia mengusap punggung Ezio pelan. “Yang penting Ezio aman dan nyaman dengan pengasuhnya.”
Jawaban itu membuat Krisna sedikit terusik. “Kamu cuma sementara di sini.”
Bersambung ... 🔥💔
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊