Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir saja
Dira panik sekali saat mendapatkan telpon dari Ella yang mengatakan Arel hilang. Dia pun minta izin ke Zora untuk segera pulang. Zora tidak tahu dia punya anak, jadi dia beralasan lain.
Sudah lebih dari satu jam dia dan Ella mencari-cari keberadaan sang putra, kalau tidak ketemu, Dira tahu dia tidak sanggup hidup lagi. Anak itu adalah nyawanya.
Tangan Dira gemetar saat ia menekan nomor Arel untuk kesekian kalinya. Tersambung tapi tidak diangkat. Tidak ada jawaban.
"Apa mbak benar-benar nggak lihat dia lari ke mana?" suaranya pecah. Bukan marah. Lebih ke arah putus asa yang nyaris tak tertahan.
Ella sudah menangis sejak tadi.
"Aku cuma ditegur dua pria itu sebentar, Dir. Cuma sebentar. Pas aku nengok lagi … Arel sudah nggak ada…"
Dunia Dira terasa seperti runtuh.
Lebih dari satu jam mereka menyusuri taman, masuk ke gang-gang kecil di sekitar ruko, bertanya pada pedagang, pada tukang parkir, bahkan pada orang asing yang kebetulan lewat. Tidak ada yang melihat anak kecil bernama Arel.
Pikiran-pikiran buruk mulai menyerang kepala Dira tanpa ampun. Bagaimana kalau ada yang menculik putranya?
Bagaimana kalau Arel ketakutan dan tersesat? Bagaimana kalau ... Dira menutup mulutnya sendiri, menahan tangis yang semakin sulit dibendung. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang.
"Arel nggak mungkin jauh-jauh," gumamnya seperti meyakinkan diri sendiri.
"Dia pasti masih di sekitar sini. Dia anak pintar … dia tahu nggak boleh pergi jauh-jauh …"
Tapi tetap saja, ketakutan itu makin menghantui dirinya.
"Mbak Ella cari di sana, aku di sana." ucapnya kemudian, berusaha tetap kuat.
Kali ini Dira mencari di semua tempat makan yang masih cukup dekat dengan taman. Lalu ia berhenti di sebuah warung sederhana karena matanya langsung menangkap putranya di sana. Dira hampir berteriak, namun ia segera menutup mulutnya kuat-kuat dan langsung menyembunyikan dirinya di tembok karena menyadari siapa sosok yang sedang duduk bersama dengan Arel sekarang.
Jantung Dira hampir copot. Itu Ethan. Ke-kenapa mereka bisa bersama? Ethan tidak mungkin menyelidiki tentangnya dan menemukan fakta dirinya diam-diam melahirkan anak pria itu kan? Tidak, tidak mungkin. Kalau ketahuan, Ethan pasti akan langsung mendatanginya lebih dulu.
Dira menempelkan punggungnya ke tembok kasar di samping warung. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Dari celah kecil di antara papan reklame dan tiang listrik, ia bisa melihat dengan jelas.
Arel duduk manis di kursi plastik. Di depannya semangkuk mie ayam yang hampir habis. Dan di seberangnya, Ethan.
Pria itu duduk tegak, wajahnya setenang biasanya. Tidak ada senyum. Tidak ada kelembutan mencolok. Tapi ia tidak terlihat mengintimidasi di depan Arel. Setidaknya dia masih bersikap baik pada anak kecil.
Arel juga terlihat bahagia. Bocah itu sibuk bercerita dengan Ethan. Dira tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dia bisa melihat betapa antusiasnya Arel bercerita ke Ethan dan Ethan yang asyik mendengar.
Wajah mereka mirip. Dari tempat Dira berada, kemiripan itu sangat jelas. Jangan sampai Ethan curiga. Jangan sampai. Ia lalu berjalan ke toilet dan menelepon Ella, menyuruh wanita itu mengambil Arel secepatnya. Tidak mungkin dia yang menampakkan diri di depan Ethan. Pria itu bisa langsung tahu kalau Arel adalah putra kandungnya.
"Ada di warung mie ayam sisi timur taman. Cepat ke sini, mbak. Sekarang," bisik Dira dengan suara gemetar.
"Arel sudah ketemu?!" suara Ella terdengar campur aduk antara lega dan panik.
"Iya. Tapi … ada laki-laki yang bersamanya. Mbak jangan sampai sebut namaku di depan laki-laki itu ya."
Di seberang, Ella tampak bingung, namun mengangguk kemudian.
"Okey."
Dira menutup telepon kemudian. Tangannya masih dingin. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin toilet kecil yang remang-remang itu.
Tenang.
Kamu harus tenang. Jangan gugup. Mereka cuma kebetulan bertemu.
Dira membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap detak jantungnya ikut mendingin. Namun dia justru semakin gelisah. Matanya merah. Bibirnya pucat.
Dira keluar dari toilet seperti pencuri yang mengendap-endap. Ia berdiri agak jauh dari warung, cukup tersembunyi di balik tiang dan motor-motor yang terparkir. Dari sana ia bisa melihat semuanya dengan jelas.
Ethan masih duduk tegak. Arel kini sedang menyeruput es tehnya dengan ekspresi puas. Sesekali bocah itu berbicara, tangannya bergerak lincah. Ethan mendengarkan. Bahkan … sudut bibirnya sempat terangkat tipis.
Itu membuat dada Dira terasa aneh.
Kenapa mereka terlihat… serasi sekali? Ayah dan anak itu.
Tidak. Jangan berpikir seperti itu.
Beberapa menit kemudian, Ella muncul dengan napas terengah. Ia berusaha terlihat setenang mungkin saat mendekati meja.
"Arel!"
Bocah itu menoleh dan langsung tersenyum lebar.
"Bibi Ella!"
Ia turun dari kursi dan menghampiri Ella. Ethan ikut berdiri, sorot matanya otomatis berubah tajam saat menilai situasi.
"Anda bibinya?" tanyanya datar.
"Iya," jawab Ella cepat, menunduk sedikit.
"Maaf, tadi saya lengah. Terima kasih sudah menjaga dia."
Ethan menatap Ella beberapa detik. Tatapan itu membuat Ella nyaris tidak berani bernapas, saking tajamnya.
"Lain kali lebih hati-hati,”"ucap Ethan akhirnya.
"Dia mudah percaya pada orang asing."
Kalimat itu terdengar seperti peringatan … atau mungkin sindiran halus. Arel langsung membela,
"Om bukan orang asing! Om baik kok, Arel sayang sama om!"
Ethan terdiam lama, seperti merasakan kehangatan dalam kalimat bocah itu.
Arel maju dan memeluk paha pahanya. Tingginya baru sampai sepaha pria dewasa itu. Ella sendiri memperhatikan kedua orang berbeda usia itu. Yang membuatnya cukup kaget adalah, mereka mirip. Ah, sekarang dia mengerti kenapa Dira bilang jangan sebut namanya.
"Arel, ayo ikut bibi pulang. Nanti mama kamu khawatir." kata Ella kemudian.
Ia menggenggam tangan Arel keluar dari tempat itu. Namun tepat sebelum berbalik, Arel tiba-tiba menoleh ke arah sisi jalan, ke arah Dira bersembunyi.
"Mama ...?
Suara kecil itu membuat dunia Dira berhenti. Lalu cepat-cepat membungkuk di antara motor-motor yang terparkir. Untung di tempatnya berdiri gelap sekali. Astaga, mata anaknya terang sekali.
Ella refleks menutup mulut Arel dengan lembut dan cepat menggendongnya.
"Ssst, salah lihat, sayang. Mama kamu masih di perjalanan pulang." katanya mencoba menutupi rasa gugupnya.
Ethan ikut menatap ke arah yang di lihat Arel tadi, tapi tidak ada siapapun di sana.
Arel masih terus melihat ke tempat dia melihat mamanya tadi. Dia bingung karena mamanya tiba-tiba menghilang. Tangannya terus di tarik oleh Ella sampai bocah itu sadar Ethan masih berdiri di belakang sana. Arel melambai ke pria itu dengan senyum polosnya.
"Bye-bye om!" Serunya.
Sudut bibir Ethan terangkat. Tangannya ikut terangkat melambai ke Arel.