Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Amayah tersentak dan cepat-cepat mengusap air matanya. Ia menoleh, lalu terdiam melihat Lena dan John berdiri di dekat pintu.
"Amayah…" panggil Lena pelan.
Amayah berdiri, mengenakan kembali jaketnya, lalu meraih tas sekolahnya. Ia berniat pergi. Keberadaan Lena di ruangan itu membuat hatinya kembali dipenuhi perasaan yang tak ingin ia hadapi.
Ekspresinya murung. Kebencian yang lama terpendam kembali muncul. Ia mengepalkan tangan dan melangkah menuju pintu.
Namun sebelum itu, Lena meraih pergelangan tangannya.
"Tunggu, Amayah," katanya.
Amayah tidak menoleh. Ia mencoba melepaskan genggaman itu, namun Lena memegangnya erat.
"Lepaskan," kata Amayah datar.
"Tidak," jawab Lena. "Aku ingin bicara denganmu…"
---
Akhirnya, Amayah menuruti permintaan Lena. Mereka berdua duduk di kursi panjang di lorong rumah sakit, sengaja menjauh agar tidak mengganggu Brian yang masih belum sadarkan diri.
Keduanya duduk dengan jarak yang cukup jauh. Sama-sama menunduk. Amayah tampak murung, diam tanpa tahu harus memulai dari mana. Sementara itu, Lena terlihat gugup, kebingungan memilih kata-kata yang tepat.
Hingga akhirnya, Lena memecahkan keheningan.
"Aku… minta maaf karena membuat Brian sampai seperti itu…" ucap Lena lirih, penuh penyesalan.
"Aku tidak tahu ini akan terjadi. Aku juga tidak pernah menginginkan semua ini…" lanjutnya.
"Aku hanya ingin berteman dengannya, membalas kebaikan yang ia perbuat. Tapi entah kenapa, ia justru menjauhiku…"
Lena kemudian menoleh ke arah Amayah dengan ekspresi yang sama muramnya. "Meski begitu, aku selalu penasaran mengapa ia bersikap seperti itu. Padahal aku benar-benar hanya ingin berteman…"
"Namun sepertinya aku seharusnya menyadarinya lebih cepat. Dan karena ketidaktahuanku, ia harus mengalami hal sekejam itu…"
Lena menundukkan kepalanya lebih dalam, jelas berniat meminta maaf. "Dari apa yang kamu lakukan tadi, aku tahu kamu pasti orang terdekat Brian. Tentu kamu akan membenciku karena telah membuatnya terluka…"
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak ingin meninggalkan rasa sakit pada siapa pun. Aku merasa sangat bersalah," ujar Lena dengan suara bergetar. "Tapi yang pasti, aku tidak pernah berniat buruk. Aku hanya ingin membalas kebaikan Brian…"
"Jika kamu, sebagai orang terdekatnya, tidak bisa memaafkanku… maka aku akan pergi," tambah Lena pelan.
Amayah terdiam, memproses setiap kata yang Lena ucapkan. Dadanya terasa sesak, pikirannya masih dipenuhi amarah. Namun, sebuah kalimat tiba-tiba terlintas di benaknya.
Melampiaskan kekesalan hanya akan memperburuk situasi.
Itu adalah perkataan Brian yang pernah ia dengar.
Amayah melirik ke arah Lena yang masih menunduk. Lalu, dengan suara singkat dan datar, ia berkata, "Angkat kepalamu."
Lena terkejut, lalu perlahan mengangkat wajahnya. "Ah… ya…"
Tiba-tiba, Amayah justru sedikit menundukkan kepalanya.
"Maaf atas tindakanku," ucapnya. "Awalnya aku memang membencimu karena membuat Brian seperti itu. Tapi sekarang kurasa… ini bukan sepenuhnya salahmu."
"Aku bukan siapa-siapanya Brian. Hanya sebatas teman masa kecilnya saja," lanjut Amayah. "Jadi aku tidak berhak melarangmu untuk berteman dengannya."
Kalau begitu… mengapa dadaku terasa sesak? batin Amayah.
Lena masih tampak bingung, namun perlahan mulai memahami maksud perkataan Amayah. Setelah itu, lorong rumah sakit kembali sunyi.
"Apa perasaanmu terhadap Brian?" tanya Amayah tiba-tiba, memecah keheningan.
Ia menatap lurus ke depan, wajahnya tetap datar meski kesedihannya mulai mereda.
Lena menoleh, tampak terkejut, lalu tersenyum lembut. "Aku tidak benar-benar mengenalnya. Tapi aku yakin dia orang baik yang tersakiti," katanya.
"Terlihat dari bagaimana ia rela terluka demi menyelamatkan anjing peliharaanku, Röver, tanpa mengharapkan balasan apa pun."
"Karena itu, aku menganggapnya pahlawan," lanjut Lena dengan senyum tulus. "Tanpa Röver, mungkin hidupku akan terasa hampa…"
Lena menarik napas kecil. "Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Mengetahui apa yang ia sukai, dan bagaimana caraku membalas kebaikannya."
"Satu kebaikan saja tidak akan pernah cukup untuk membalas apa yang telah ia lakukan. Aku bertekad untuk menjadi temannya," ucap Lena dengan ekspresi percaya diri.
Amayah memperhatikan wajah Lena. "Wanita ini… baik dan tulus," pikirnya. "Mungkin dia memang tipe wanita yang disukai Brian…"
"Kalau Amayah sendiri, apa perasaanmu terhadap Brian?" tanya Lena tiba-tiba.
Amayah tersentak. "A-Aku… dia…"
Ia menarik napas singkat. "Aku berteman dengannya sejak kecil. Dia pernah menolongku saat aku kesulitan. Jadi aku juga ingin membalas kebaikannya," jawabnya datar.
"Wah, ternyata kita sama!" seru Lena ceria.
Amayah berkedip bingung. "Eh… ah, ya…"
Lena tampak senang menemukan kesamaan itu, sementara Amayah masih bertanya-tanya mengapa Lena terlihat begitu bahagia.
Tak lama kemudian, John menghampiri mereka. "Lalu, bagaimana dengan Rafael?" tanyanya datar dengan alis berkerut.
Lena dan Amayah langsung menatapnya dengan ekspresi serius.
"Aku tidak menyangka dia sampai melakukan kekerasan terhadap Brian hanya karena aku memberi perhatian lebih," ujar Lena tegas. "Bagaimanapun, tindakannya tidak bisa dimaafkan. Dia harus mendapat pelajaran."
"Aku setuju," balas Amayah singkat.
Mendengar itu, John langsung berbalik menuju pintu keluar. Namun sebelum melangkah lebih jauh, Amayah menghentikannya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya datar.
John berhenti. "Tentu saja menghajar mereka," jawabnya tanpa ragu.
"Tenangkan dirimu. Jika Brian tahu kau melakukan kekerasan, dia tidak akan senang," ujar Amayah.
"Mengapa? Kekerasan dibalas dengan kekerasan."
"Membalas kejahatan hanya akan memperpanjang masalah," balas Amayah. "Tidak ada gunanya. Kau hanya akan menjerat dirimu sendiri ke dalam kasus hukum."
"Tapi ini semua demi Brian," kata John.
"Brian tidak akan menerima alasan itu. Aku mengenalnya," ucap Amayah tegas. "Dia tidak akan memaafkanmu jika kau mengorbankan dirimu demi dirinya."
Lena menyimak dalam diam. Ia mulai mengerti bahwa Amayah jauh lebih mengenal Brian dibanding dirinya.
John menunduk, raut wajahnya murung. Ia berpikir ulang.
"Maaf… aku terlalu emosi," ucapnya menyesal.
"Kita tunggu saja Brian sadar. Dia pasti akan menemukan solusinya sendiri," kata Amayah lebih santai.
Amayah menatap langit-langit rumah sakit dan membatin, "Apakah tindakanku ini sesuai dengan keinginanmu, Brian?"
Sore itu, mereka berpisah. Brian masih belum sadarkan diri akibat pendarahan hebat yang dialaminya. Dibutuhkan waktu lama hingga kondisinya stabil.
Malam itu menjadi malam yang paling tidak nyenyak bagi mereka semua, dipenuhi kecemasan akan keadaan Brian.
---
Dua hari kemudian, di sekolah Empire Heights, Amayah duduk sendirian di taman sambil menyantap makan siangnya. Namun, ia tampak sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Pikirannya terus melayang pada Brian, yang belum juga sadarkan diri selama beberapa hari terakhir.
Ia mengunyah pelan sambil menatap langit, matanya kosong, seolah semangat hidupnya ikut meredup. Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari samping.
Amayah menoleh dan mendapati William berdiri tak jauh darinya.
William mendekat dengan kedua tangan dimasukkan ke saku, lalu berhenti di samping bangku. Amayah sedikit kebingungan, merasa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
"Ada apa, Pak?" tanya Amayah datar.
"Brian sudah sadarkan diri tadi malam," jawab William santai, disertai senyum tipis.
Amayah terkejut. Tubuhnya menegang, pikirannya seolah berhenti sesaat. "Bohong," balasnya singkat, hampir refleks.
"Aku yang menemukan Brian terkapar di lantai. Aku juga yang membawanya ke rumah sakit dan mengaku sebagai walinya," ujar William tenang.
"Lalu mengapa tidak memberitahu kami?" tanya Amayah, nada suaranya campur aduk antara penasaran dan kesal.
"John sudah mengetahuinya. Seharusnya kamu bertanya padanya," jawab William sambil memejamkan mata sebentar.
Amayah masih ragu. "Tapi… sungguh?" tanyanya sekali lagi.
William tersenyum kecil, seolah ingin menenangkan. "Ya," jawabnya singkat.
Mendengar itu, Amayah perlahan memalingkan pandangannya dari William. Ia menggenggam sendoknya erat, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.
Ia tidak bisa menahan senyumannya.
Rasa lega memenuhi dadanya. Mendengar Brian telah sadarkan diri membuat beban di hatinya sedikit terangkat.
Tak lama kemudian, Amayah segera menyampaikan kabar tersebut kepada Lena dan John. Mendengarnya, mereka pun menunjukkan ekspresi lega yang sama.
Akhirnya, mereka bertiga sepakat untuk menjenguk Brian sepulang sekolah nanti.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung bergegas menuju ruang rawat Brian. Begitu pintu dibuka, perasaan lega seketika menyelimuti mereka.
Brian sudah sadarkan diri. Ia duduk bersandar di ranjang, menatap keluar jendela, memandang gedung-gedung tinggi yang berdiri diam di kejauhan.
Mendengar suara pintu, Brian menoleh perlahan.
"Kalian…"
Nada suaranya terdengar lemah, namun jelas terkejut. Ia tidak pernah menduga Amayah datang bersama Lena dan John.
"Brian… bagaimana kondisimu?" tanya Lena cemas.
Brian terdiam. Wajahnya perlahan murung, pandangannya berpaling, seolah tak sanggup menatap Lena terlalu lama.
"Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.
Lena merasakan ada jarak yang sengaja diciptakan. Suasana pun menjadi canggung. Tak ada yang berbicara.
Hingga Amayah tiba-tiba bersuara santai.
"Kau sudah sarapan?"
"Belum," jawab Brian datar.
"Biar aku memintanya ke perawat," ucap Amayah sambil berbalik dan melangkah keluar ruangan.
Ia melakukannya dengan sengaja. Amayah ingin memberi ruang bagi Brian dan Lena. John yang menyadarinya ikut pergi.
"Aku mau menyusul Amayah dulu," katanya santai sambil melambaikan tangan.
Pintu tertutup perlahan.
Kini hanya tersisa Brian dan Lena. Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Brian menunduk, sedangkan Lena tampak gelisah, menahan kata-kata yang ingin keluar.
Akhirnya, Lena memberanikan diri.
"Brian… apa kamu membenciku?" tanyanya lirih.
Brian terkejut, lalu menggeleng pelan. "Tidak."
"Sungguh?"
"Ya."
"Lalu mengapa kamu menghindariku…?" suara Lena bergetar.
Brian menarik napas pelan. "Itu hanya karena alasan pribadiku."
"Karena reputasimu yang buruk, kan? Kamu menjauhiku agar tidak semakin dibenci?" tanya Lena dengan mata berkaca-kaca.
Brian terdiam sesaat. "Ya. Aku juga punya trauma karena kejadian serupa."
Mendengarnya, dada Lena terasa sesak.
"...Hatiku... seperti... retak saat mendengar kamu dirawat… hanya karena orang-orang yang mengagumiku iri padamu," ucap Lena lirih. "Aku tahu ini salahku… karena terlalu memerhatikanmu."
Lena terlambat menyadari—atau mungkin sejak awal tak pernah tahu—bahwa dirinya bisa menjadi penyebab seseorang mengalami hal yang tak diinginkan. Kehidupan Brian yang semula tenang runtuh begitu saja… dan itu terjadi karena dirinya.
"Aku memang tidak tahu masa lalumu," lanjutnya, "tapi aku bingung. Jika kamu ingin menjauh, mengapa tidak mengatakannya saja?"
Air mata Lena jatuh. "Aku butuh kepastian, Brian."
Lena merasakan kesedihan yang menyesakkan, seakan dirinya benar-benar disingkirkan. Padahal, jika Brian mau mengatakan apa yang ia inginkan, Lena yakin ia bisa memikirkannya—setidaknya mencoba memahami..
"Maaf karena menuntutmu… andai saja kita tidak bertemu, mungkin kamu tidak akan mengalami semua ini," katanya tersedu. "Aku hanya ingin berteman denganmu…"
Brian menatapnya lama.
"Mengapa kamu bersikeras ingin berteman denganku?" tanyanya datar.
"Karena aku ingin membalas kebaikanmu," jawab Lena tanpa ragu. "Tak peduli apa kata orang lain, aku ingin berteman denganmu."
Brian terdiam. Kata-kata itu menusuk tepat ke dalam hatinya. Meski ia memilih menjauh dari Lena, gadis itu tetap ingin berada di sisinya—setidaknya sebagai seorang teman. Sempat terlintas di benak Lena bahwa Brian mungkin membencinya. Namun, perasaan itu tak pernah cukup kuat untuk membuatnya menyerah.
"Aku dibenci banyak orang. Mereka tidak akan menyukainya," ucap Brian pelan.
"Aku tidak peduli," balas Lena tegas. "Akulah yang memilih temanku sendiri."
Kata-kata itu terasa begitu familiar. Brian teringat Amayah. Kini, ia berada di posisi yang sama.
Tiba-tiba, Lena menangis. Tanpa aba-aba, ia memeluk Brian dengan lembut.
Brian terkejut.
"Aku sangat khawatir padamu," isak Lena. "Meskipun kamu menjauhiku, aku tidak ingin kehilanganmu…"
Brian terpaku. Jantungnya berdetak keras.
"Wanita ini…" batinnya. "Dia berani menghadapiku dengan kejujuran seperti ini, bahkan menegurku…"
Brian merasakan sebuah nostalgia—bukan berasal dari orang lama, melainkan dari seseorang yang baru ia kenal. Perasaan yang sudah lama terkubur perlahan muncul kembali, bercampur aduk antara rasa senang dan kekhawatiran, karena ia takut di masa depan segalanya akan berakhir dengan cara yang sama.
"Aku akan memberitahu mereka yang membenci kita," ucap Lena setelah melepas pelukan.
Mendengar itu, Brian merasa seolah Lena mampu menebak isi hatinya. Dengan kata-kata sederhana, Lena berhasil menenangkannya—ia berjanji akan mengatakan sesuatu yang membuat orang-orang yang membenci Brian menyadari kesalahan mereka.
Brian menunduk. "Maaf… aku hanya mementingkan egoku. Ini bukan salahmu. Andai aku jujur sejak awal…"
Lena tersenyum lembut. "Yang penting aku lega melihat kamu baik-baik saja."
Senyum itu membuat dada Brian bergetar. Sekilas, ia melihat sosok yang begitu ia rindukan—Kayla.
Brian tanpa sadar tersenyum tipis.
Namun, di balik pintu, Amayah mengintip melalui celah sempit. Wajahnya tetap datar, seolah tak merasakan apa pun, padahal hatinya terasa perih. Melihat orang yang ia cintai begitu dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya saja sudah cukup untuk menorehkan rasa sakit.
Ia akhirnya masuk, membawa semangkuk bubur, air minum, dan obat.
"Terima kasih," ucap Brian.
"Biar aku yang menyuapi kamu," kata Lena lembut.
"Eh? Aku bisa makan sendiri," balas Brian gugup.
Amayah memilih berbalik dan pergi tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Tak seorang pun menyadari kepergiannya. Ia tahu dirinya tak sanggup menyaksikan adegan itu lebih lama—karena setiap detiknya hanya akan menyulut kobaran api cemburu di dalam hatinya.
"Tidak apa-apa," ujar Lena sambil tersenyum hangat.
Brian menghela napas. "Baiklah…"
Lena menyuapinya perlahan. Brian merasa malu, namun juga hangat.
Perlahan, sesuatu mulai mewarnai hidupnya kembali.
Di luar ruangan, Amayah menutup pintu dengan dada sesak. Wajahnya murung. Dadanya terasa sesak.
"Kurasa Brian akan lebih bahagia dengannya…"
Ia menunduk. Merasa kehadiran Lena lebih baik dibanding dirinya.
"Jika Brian menyukai Lena, maka aku…"
Bersambung
semangat terus bang!!!