Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Jam tiga sore, Naraya bersiap untuk pulang. Dengan langkah ringan ia keluar dari kafe. Namun, tiba-tiba seseorang menarik tangannya, membawanya menjauh dari area kafe.
Awalnya, hampir saja Naraya berteriak, tetapi begitu melihat siapa yang menarik tangannya. ia pun terdiam dan mengikuti ke mana dirinya dibawa pergi.
"Kita mau ke mana, Bi?" tanyanya setelah Abiyan menghentikan langkahnya.
"Kita main yuk, Ra," ajak Abiyan. "Kamu nggak keberatan, kan?"
Naraya tersenyum. "Tapi aku kan, baru pulang kerja. Masih pakai seragam, emang kamu nggak malu, apa?"
"Kenapa harus malu? Toh, kamu masih pakai baju, kan?" jawab Abiyan.
Naraya terkekeh pelan. "Ya udah, kalau kamu nggak malu."
Abiyan pun menyetop angkot arah Lippo Supermall. Berada di dalam angkot, Naraya memperhatikan penampilan Abiyan lalu bertanya. "Memangnya kamu habis darimana, Bi?"
"Habis ketemu ayah sama kakak aku." jawab Abiyan, lalu meraih tangan kiri Naraya dan menggenggamnya dengan tangan kanannya.
Rasa hangat, menyusup di hati Naraya. Ia tersenyum tipis, menatap tangannya dalam genggaman Abiyan.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Lippo Supermall. Tiba-tiba Naraya merasa insecure. Namun, Abiyan tak melepaskan genggaman tangannya.
"Bi, emang ada apa sih, kita ke sini? Kenapa tadi nggak ke Tangcity aja?"
"Sekali-kali nggak pa-pa kita ke sini, Ra. Kamu butuh refreshing," kata Abiyan. "Ingat kata dokter kemarin."
Naraya akhirnya hanya bisa pasrah, meski sebenarnya ia agak ragu.
.
Sementara itu Martin ditemani Ranti mendatangi Kafe Impian. Begitu masuk, netranya menyapu ruangan mencari seseorang. Beberapa karyawan yang melihatnya merasa enggan untuk mendekat.
"Itu kan, cowok yang kemarin lusa bermasalah sama Abiyan dan Naraya," bisiknya pada rekannya.
"Mau apa dia kemari?"
"Lihat aja dulu, mau apa dia. Kalau mau membuat ulah kita segera lapor sama Pak Joni," sahut rekannya.
"Heh, kamu. Di mana Abiyan?" tanya Martin dengan gayanya yang arogan.
Andai sang ayah tidak mengancam akan membekukan kartu saktinya, mana mau dia harus repot-repot menemui Abiyan yang dianggapnya sebagai rival untuk meminta maaf.
Pramusaji itu masih terdiam, dan menoleh sekeliling cuma ada dirinya seorang, sedangkan temannya tadi sudah pergi, malas melayani pelanggan yang tidak tahu sopan santun.
Secara kebetulan, Pak Joni turun ke lantai bawah. Ranti yang melihatnya pun segera maju dan bertanya pada manager kafe tersebut. "Maaf, Mas, bisa minta tolong panggilkan Naraya atau Abiyan?"
"Kami ingin bertemu dan berbicara sebentar. Ini penting sekali," lanjutnya dengan tatapan memohon.
Pak Joni tampak mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat siapa wanita itu. Setelah ingat dia pun menjawab dengan santai. "Maaf, Bu. Hari ini Abiyan libur, sedangkan Naraya baru saja pulang," jawab Pak Joni.
"Silakan tinggalkan pesan, Nyonya. Nanti saya sampaikan pada mereka," cetus Pak Joni memberi solusi.
"Kira-kira masnya tahu nggak Abiyan tinggal di mana?" tanya Ranti kemudian.
"Wah... saya nggak tahu, Bu. Tapi sepertinya dekat dengan Naraya, soalnya mereka sering pulang bareng kalau kebetulan shift-nya sama," jawab Pak Joni.
Sementara Martin hanya diam menyaksikan interaksi ibu tirinya dengan Pak Joni.
"Ya, sudah, Mas. Kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih." Ranti mengangguk kecil lalu menarik tangan Martin membawanya keluar dari Kafe Impian.
Pak Joni menatap kepergian mereka, sesaat kemudian pria itu kembali ke ruangannya lantai atas. Setelah duduk di kursi kerjanya, dia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
"Halo, Pak Joni. Ada apa Anda menghubungi saya? Apa ada masalah?" tanya Tara dari seberang telepon.
"Barusan ada seorang wanita dan seorang pemuda mencari Tuan Muda Abiyan, Tuan," kata Pak Joni.
"Siapa nama pemuda itu?"
Kalau tidak salah, namanya Martin, Tuan."
"Baiklah, terima kasih informasinya."
Sambungan terputus, tanpa Pak Joni ketahui Tara menyeringai tipis.
.
Ranti mengajak Martin masuk ke dalam mobil. Lalu meminta sang sopir untuk pergi ke alamat yang ia tunjukkan.
"Memangnya kita mau ke mana sih, Mi?" tanya Martin penasaran.
"Ke kontrakan mereka," jawab Ranti. "Kita harus bantu papi, Sayang. Kamu nggak mau kan, perusahaan yang sudah dibangun Papi dengan susah harus gulung tikar?"
Martin terdiam, dirinya yang terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah, tentu saja dia tidak mau jika harus hidup susah. Meskipun itu artinya dia harus mengikuti perintah ayahnya.
Sesampai di mulut gang, Ranti meminta sopir untuk menghentikan mobilnya. "Ayo, kita keluar. Kita sudah sampai," ucapnya seraya membuka pintu mobil.
Ranti memimpin jalan diikuti Martin yang merasa asing di tempat seperti itu.
"Ini rumah siapa, Mi?" tanyanya saat mereka berhenti di depan kontrakan Naraya.
"Ini kontrakan Naraya, Sayang," kata Ranti, lalu mengetik pintu.
Tok
Tok
Tok
"Maaf, Nyonya. Naraya belum pulang kerja." Seorang tetangga memberitahu.
"Maaf, Mbak. Kalau kontrakan Abiyan yang mana, ya?"
"Oh, Abiyan sepertinya juga belum pulang, Nyonya."
"Bagaimana, apa kita tunggu mereka, Sayang?" tanya Ranti pada Martin.
Pemuda itu hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, tak tahu harus bagaimana.
.
Di tempat lain, tepatnya di Lippo Supermall, Abiyan dan Naraya tampak berjalan-jalan berkeliling mall sambil bergandengan tangan. Tangan kiri Naraya memegang jajanan jasuke, sementara Abiyan memegang minuman. Keduanya tampak bahagia.
"Ra, kamu lapar, nggak?" tanya Abiyan dan mendapatkan anggukan dari Naraya.
"Ya sudah kita makan dulu, ya." Abiyan membawa Naraya ke salah satu restoran yang ada di mall tersebut.
"Bi, makan di sini kan, mahal. Aku...." Abiyan menempelkan jari telunjuknya di bibir Naraya.
"Kamu tenang aja, oke."
Seorang pramusaji datang menyodorkan menu.
"Kamu mau pesan apa, Ra?"
"Samain aja, tapi menu yang murah," bisiknya sambil mencondongkan badannya di depan Abiyan membuat pemuda itu tersenyum geli.
"Ya, sudah. Pasta dua sama jus alpukat satu dan melon satu ya, Mbak."
"Baik, silakan tunggu sebentar ya, Mas."
Setelah pramusaji pergi, Abiyan meraih tangan Naraya, dia menatap wanita itu dengan teduh.
"Ra, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu."
"Ya udah ngomong aja, aku dengerin, kok."
Abiyan menarik napas dalam, masih menatap Naraya. "Emmm... Kamu mau kan, menikah denganku?"
Kira-kira diterima nggak ya?"
aku kok loading ya🏃♀️🏃♀️🏃♀️