Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Penyesalan
Di malam yang sama, orang tua Damar juga menerima kabar pernikahan yang mendadak itu. Salah satu rekan kerjanya yang memiliki kerjasama dengan Elbara, memposting foto Elbara dan Yumna di atas pelaminan.
"Papa sudah lihat, kan?! Yumna benar-benar menikah. Papa masih percaya sama anak kesayangan papa itu? Yang katanya hubungan mereka baik-baik saja." ujar Bu Kinan menggebu-gebu.
"Tidak mungkin Yumna setiba-tiba ini menikah. Dia pasti sakit hati karena Damar dan Nasya." katanya berasumsi.
Tak lama kemudian Damar tiba di rumahnya. Damar bingung karena orang tuanya menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan.
"Pa, ma. Ada apa?" tanya Damar.
Bu Kinan langsung melempar Damar dengan bantal sofa.
"Mama sudah peringatkan kamu kan. Tinggalkan Nasya, kembali sama Yumna. Sekarang Yumna sudah menikah. Sudah jadi istri orang. Kamu membuang Yumna yang sangat baik. Demi anak manja itu. Keterlaluan!!" Bu Kinan memaki Damar.
Damar tak membalas. Dia memilih diam. Karena hatinya mulai bimbang.
"Mau kemana kamu?!! Mama belum selesai bicara...!!!" seru Bu Kinan, saat Damar beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.
"Sudah, ma. Mungkin memang keluarga kita belum jodoh dengan Yumna." pak Hendra mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Yumna itu gadis yang baik, pa. Yang bodoh itu anak kita." Bu Kinan menangis dalam pelukan suaminya.
Damar memang sudah tak terlihat, tapi dia bisa mendengar tangis mamanya. Setiap kata yang diucapkan sang mama, menyiratkan rasa kecewa yang mendalam. Hati Damar semakin ngilu dibuatnya. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menahan rasa yang sulit dia ungkapkan.
"Kenapa?? Ada apa denganku...?? Aku pikir aku benar-benar sudah jatuh cinta sama Nasya. Tapi kenapa aku sesakit ini saat Yumna menikah?"
Damar melangkah dengan malas menuju ke kamarnya. Dia ingin mencari tahu lebih banyak lagi soal Yumna dan pernikahan itu.
___
Pagi harinya di hotel...
"Mama..., apa kita akan kembali ke rumah hari ini?" tanya Aluna.
"Coba tanya papa." jawab Yumna sambil mengusap hidung Aluna dengan jarinya beberapa kali.
"Papa..., papa...!!" seru Aluna sambil berlari ke arah Elbara. "Hari ini kita kembali ke rumah?" tanyanya.
"Aluna maunya tetap di sini atau pulang?" tanya Elbara balik bertanya.
"Aku mau pulang. Aku mau makan ayam gorengnya Bu Binar." jawabnya.
"Baiklah. Hari ini kita pulang." kata Elbara kemudian.
"Horeee...!!" serunya. "Mama..., kata papa Bara kita pulang...!!" dia berteriak pada Yumna yang sedang merapikan kasur.
"Aluna main sendiri dulu, ya. Papa mau kemas barang." katanya lagi.
Elbara kemudian pergi mengemas barangnya yang sempat dia keluarkan dari koper.
"Aluna minta pulang hari ini." ujar Elbara pada Yumna.
"Iya." jawab Yumna. "Biar saya yang bereskan." katanya kemudian.
"Kamu tidak keberatan, kalau kita tinggal di rumah mama?" tanya Elbara lagi.
"Tidak masalah." balas Yumna.
Elbara mencari keberadaan Aluna, setelah memastikan Aluna berada di tempat yang nyaman dan fokus dengan mainannya. Elbara kemudian mendekati Yumna.
"Yumna, meskipun pernikahan ini tidak masuk akal. Tidak ada perasaan apapun di antara kita. Kamu jangan khawatir. Saya tetap akan bertanggung jawab penuh atas diri kamu." tutur Elbara.
"Tidak perlu terlalu memikirkan saya. Saya baik-baik saja." balas Yumna.
Elbara memaklumi sikap Yumna yang dingin padanya. Menurut Elbara, siapa juga yang bisa menerima pernikahan semacam itu. Tapi setidaknya dia memiliki itikad baik. Sebagai suami dia akan bertanggung jawab atas semua hal yang menyangkut hidup Yumna.
"Kenapa aku jadi sedikit menyesal dengan pernikahan ini? Bagaimana kalau pernikahan ini membuatnya merasa semakin tersakiti?"
Penyesalan memang tidak akan muncul diawal cerita, itu fakta. Semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Elbara lakukan, selain menjalaninya dengan segala kecanggungan ke depannya.
Setelah memastikan semua barang milik mereka sudah masuk koper, Elbara menghubungi Niko. Tak lama kemudian Niko yang sudah menunggu di depan pintu kamar mereka pun masuk.
"Halo, om Niko..." sapa Aluna.
"Halo, cantik sekali hari ini nona kecil kita...!!" balas Niko.
"Apa aku secantik mama Yumna...? Lihatlah..., baju kita warnanya sama. Bagus kan...?!!" Aluna berputar memamerkan dress princess miliknya yang berwarna putih.
"Pokoknya nona paling cantik..." kata Niko.
Sejujurnya dia juga mengagumi paras Yumna yang enak sekali dipandang. Menyenangkan, tidak pernah membosankan. Sayangnya, sekarang guru privat Aluna itu sudah menjadi nyonya barunya. Dia harus pintar-pintar menjaga sikap. Kalau tidak mau terima sanksi berat dari tuannya.
Niko kemudian menghampiri Elbara. Ada hal yang ingin dia sampaikan.
"Tuan, di bawah ada Damar. Mantan pacar nyonya." bisik Niko.
"Belum apa-apa, pengusik sudah datang begitu cepat." umpat Elbara dalam hati.
"Pastikan dia tidak mengganggu Yumna!" ujar Elbara dengan tegas.
"Saya sudah bilang pada pegawai di bawah, agar tidak memberikan info apapun tentang tuan dan nyonya. Kecuali tentang adanya pesta semalam." tutur Niko.
"Bagus." balas Elbara.
___
Di lobi hotel, Damar sedang berhadapan dengan resepsionis. Dia menanyakan keberadaan Yumna.
"Yumna yang semalam menikah, berada di kamar nomor berapa ya?" tanya Damar.
"Maaf, mas. Kalau pengantin yang semalam tidak menginap di sini. Mereka langsung pulang." jawabnya.
"Boleh tahu alamatnya?" pinta Damar.
"Mohon maaf. Kami dilarang memberikan data pribadi milik pengunjung." jawabnya dengan sopan.
"Baiklah. Terimakasih."
Damar kemudian berbalik, melangkah keluar dari lobi.
"Aku harus mencarinya kemana?" gumam Damar saat sudah melewati pintu keluar.
Damar menoleh ke kiri dan ke kanan. Ada dorongan yang begitu kuat, yang membuatnya harus segera bertemu dengan Yumna. Damar tidak menemukan data apapun mengenai keluarga Wiranata. Kecuali perusahaan milik mereka. Yang memang tersebar di mana-mana. Bahkan temannya yang semalam dia hubungi, tidak tahu alamat rumah Elbara. Akhirnya Damar memilih pergi dari hotel itu.
Tak berselang lama keluar dari hotel, Damar tidak sengaja melihat Yumna bersama seorang anak kecil berdiri di depan kios yang menjual jus segar. Damar tersenyum lebar. Dia pun putar balik, lalu menepikan mobilnya di depan kios.
Sayangnya, Niko menghadangnya sebelum melangkah lebih jauh.
"Apa-apa ini?!" sentak Damar tak terima.
"Jangan dekati nyonya Yumna!!" balas Niko.
Mendengar nama Yumna disebut, Damar pun memperhatikan pria di depannya. Dia baru ingat, kalau mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Apa hakmu melarangku?!!" bantah Damar.
Saat itu Yumna sudah berjalan kembali ke arah mobil mereka di parkir.
"Yumna...!!" teriak Damar memanggil nama Yumna.
Yumna berhenti, dan sontak menoleh ke sumber suara.
"Mama, itu siapa?" tanya Aluna.
"Tidak tahu. Ayo masuk, papa sudah menunggu." jawab Yumna.
"Yumna, tunggu!!"
Damar terus berusaha mendorong Niko, namun tenaganya tak sebanding dengan Niko.
"Kamu lihat sendiri kan. Nyonya mengabaikan kamu. Jadi sebaiknya kamu pergi!!" perintah Niko.
Sementara di dalam mobil...
"Tidak ingin menemuinya?" tanya Elbara.
"Dia pasti sudah tahu hubunganku dengan Damar." batin Yumna.
"Tidak." jawab Yumna singkat.
"Mama..., apa itu orang jahat? Kok om Niko menghadangnya?" sahut Aluna.
"Mama tidak tahu, sayang. Ini minum jusnya. Enak tidak?" Yumna mengalihkan topik.
Tak lama kemudian Niko kembali. Sedangkan di luar sana, Damar diam terpaku. Melihat mobil itu membawa Yumna pergi.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Elbara.
"Hanya ingin bicara dengan nyonya katanya." jawab Niko.
"Bisa tidak, jangan bahas ini sekarang. Kalian tidak melihat ada Aluna di sini?" tegur Yumna. Dingin dan tenang.
Elbara dan Niko terkejut, karena Yumna tiba-tiba menyela obrolan mereka yang baru saja akan dimulai.
___
Tiba di rumah, mereka disambut dengan penuh suka cita. Semua turut berbahagia atas pernikahan Elbara dan Yumna. Seperti halnya tamu undangan semalam.
"Aluna ke kamar sama sus ya." ujar Bu Kartika.
"Tapi aku mau sama mama." sahut Aluna yang masih menggandeng tangan Yumna.
"Mama dan papa butuh istirahat, sayang. Nanti main sama mama lagi." Bu Kartika berusaha memberi pengertian yang mudah dipahami oleh Aluna.
Aluna kemudian balik badan dan menatap Yumna.
"Mama tidak akan pergi kan? Mama akan di sini terus sama aku. Iya kan...?" ujar Aluna.
Yumna kemudian berjongkok di hadapan Aluna. Menangkup kedua pipinya.
"Iya. Mama tidak akan kemana-mana. Mama akan di sini sama Aluna." katanya.
"Terimakasih, mama...!!" Aluna memeluk Yumna.
"Ayo sus, kita ke kamar." kata Aluna setelah melepaskan pelukannya.
"Bara, ajak Yumna istirahat. Nanti bangun pas makan siang. Kalian pasti sangat lelah." kata Bu Kartika.
"Terimakasih, ma." balas Elbara.
Tanpa diminta, Yumna mengambil alih kursi roda Elbara. Mendorongnya dengan hati-hati menuju ke kamar Elbara.
"Ada yang mau saya tanyakan." kata Elbara setelah mereka berada di dalam kamar.
"Apa...?" balas Yumna.
"Maaf sebelumnya. Ini soal orang tua kamu." kata Elbara.
"Saya tidak yakin mereka ada." sahut Yumna.
"Kita tidak akan tahu, kalau tidak mencarinya." ujar Elbara.
"Saya tidak mau mencari mereka." ucap Yumna.
"Bagaimana kalau ternyata mereka tidak tahu apa-apa soal kamu?" tanya Elbara lagi.
"To the point saja. Apa mereka sudah ketemu?" sahut Yumna.
"Sejujurnya, saya sedang menyelidiki semuanya." akhirnya Elbara mengakuinya.
"Buat apa? Tidak usah lakukan itu. Saya tidak ingin bertemu mereka." begitu kata Yumna.
"Saya merasa..."
"Cukup!" sahut Yumna menyela. "Saya tidak mau membahas itu lagi. Tolong...!!!" pinta Yumna, suaranya bergetar.
Yumna tidak terlihat dingin kali ini. Dia justru tampak sangat terpuruk. Dan air mata memenuhi pelupuk matanya.
Elbara mendekatinya. Menghapus air mata yang menetes di pipi Yumna dengan ibu jarinya.
"Maafkan saya." ujar Elbara.
"Semakin dia seperti ini. Kenapa hatiku semakin sakit...?" batin Elbara bertanya-tanya.
......................