Radit, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang rendah, mendadak mendapatkan sistem misterius yang mengubah nasibnya. Dari mahasiswa biasa, kini bangkit menjadi sosok bertopeng putih yang bengis. Seluruh kekuatan, duniah bawah, dan kejayaan diraihnya.
Di tengah puncak, ia kembali menemukan arti hidup melalui cintanya pada Rania. Namun, tragedi kampus merenggut segalanya. Amarah dan dendam bangkit kembali menghancurkan dunia.
Setelahnya pembalasan tersebut, Radit memulai hidup baru dan meninggalkan segalanya hanya demi satu hal. Dirinya yang kuat dan menemukan kembali cintanya yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
" Begini lebih baik. " kata nya pelan.
Ia tidak butuh perhatian, belum ! Untuk saat ini , ia memilih menjadi bayangan mengumpul kan kekuatan, menata pijakan, dan memahami dunia yang jauh lebih kejam dari yang ia bayang kan saat masih hidup di panti asuhan.
Namun di balik ketenangan itu, satu hal tak bisa di sangkal :
Api itu masih ada .
Di sembunyi kan .
Di tekan.
Di tunggu.
Dan ketika hari itu tiba , ketika penyamaran ini di lepas. Dunia akan menyadari bahwa selama ini, mereka telah membiar kan seekor predator tumbuh... Tepat di tengah tengah mereka.
Pagi itu taman kota masih di selimuti udara sejuk. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara jalur lari yang melingkari taman mulai di penuhi oleh orang - orang yang ber olah raga. Suara langkah kaki , tarikan napas , dan kicau burung bercampur menjadi irama pagi yang tenang.
Radit ber lari dengan langkah stabil. Gerakan nya ringan, napas nya teratur, tidak ada aura kuat yang keluar dsri tubuh nya, bagi siapa pun yang melihat, ia hanyalah seorang mahasiswa yang rajin menjaga kebugaran nya. Sistem penyamaran bekerja dengan sempurna, menekan kekuatan nya hingga tampak sebagai prajurit akhir yang wajar.
Saat ia memperlambat langkah untuk minum air, pandangan nya menangkap sosok yang tidak asing. Rania Azizah. Gadis itu berdiri di tepi jalur, mengenakan jaket olah raga ber warna pink tipis dan celana training. Rambut nya di ikat sederhana, wajah nya tampak segar, namun sorot mata nya menyimpan ke hati - hati an , seolah pengalaman malam itu masih membekas di benak nya.
Rania juga melihat Radit, mata nya sedikit membesar lalu ia ter senyum kecil.
" Radit ? "
Langkah Radit tidak ber henti. Ia hanya mengangguk tipis sebagai jawaban, lalu ia kembali melangkah, seolah pertemuan itu tidak lebih dari kebetulan biasa.
Rania terdiam sesaat, lalu berusaha menyusul dengan langkah cepat.
" Kita sering ketemu belakangan ini. " kata nya sambil berjalan di samping Radit . " Kamu juga suka lari Pagi ? "
" Kadang. " jawab Radit singkat.
Nada suara nya datar, tidak kasar , namun jelas ia menjaga jarak. Rania tersenyum canggung. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh. Lalu Radit berhenti di per simpangan jalur , menengok sebentar.
" Aku harus ke sana. " ucap nya singkat.
Tanpa menunggu balasan, ia ber belok dan menjauh, meninggal kan Rania yang sedang berdiri di jalur taman. Rania menatap punggung nya hingga menghilang di balik pepohonan.
" Dia orang nya dingin sekali. " gumam nya.
Tidak lama setelah itu suasana taman berubah, di area yang lebih sepi , dekat deretan kios yang tutup, beberapa pria muncul. Pakaian mereka kusut , langkah nya malas, namun mata mereka tajam dan tidak ramah.
" Pagi, neng... " salah satu dari mereka menyapa dengan senyum miring.
Rania refleks mundur.
" Maaf saya buru buru! "
" Tenang saja. " sahut yang lain sambil menghalangi jalan.
" Cuman mau kenalan saja. "
Jantung Rania berdegup dengan cepat , area itu sepi, beberapa orang telihat jauh di kejauhan , namun terlalu jauh untuk mendengar. Langkah pereman itu semakin mendekat.
" Tolong minggir ! " suara Rania, bergetar namun tegas.
Salah satu dari mereka tertawa kecil . " Galak juga ya kamu cantik! "
saat tangan kasar hampir menyentuh lengan nya.... Sebuah suara terdengar dari belakang. Nada itu tenang, dingin , namun mengandung tekanan yang membuat udara seakan membeku.
Radit berdiri di sana, ia tidak ber lari, tidak tergesa, namun kehadiran nya cukup untuk membuat para pereman menoleh secara serempak.
" Siapa lu ? " salah satu dari merek menyeringai.
Radit melangkah maju satu langkah. " Pergi ! " gumam nya.
Aura yang ia lepas kan sangat ter kontrol , cukup untuk menekan, namun tidka cukup untuk menarik, perhatian di luar. Tekanan itu membuat napas para pereman tersedat tanpa mereka mengerti alasan nya.
Salah satu dari mereka mundur setengah langkah . " Gila.... Kenapa dada ku sesak ? "
" Udah... " kata yang lain gugup. " Cabut. "
Mereka tidak menunggu lebih lama, dalam hitungan detik gerombolan itu pergi terbirit - birit meninggal kan mereka. Taman kembali sunyi. Rania menatap Radit dengan mata yang membesar.
" Kamu.... Kamu baik - baik saja ? " tanya nya , masih gemetar.
Radit menoleh. " Kamu tidak ter luka ? "
itu bukan pertanyaan.
Rania mengangguk. " Terima kasih . "
Radit terdiam sejenak, lalu ber kata pelan. " Taman ini ramai, jangan ke area sepi. "
Nada itu tetap dingin, namun kali ini, ada per hatian di dalam nya.
Rania tersenyum kecil. " kalau begitu... Boleh aku traktir kamu kopi sebagai ucapan terima kasih ku ? "
Radit menatap nya beberapa detik. Ia hampir menolak, namun entah mengapa , ia tidak langsung menjawab.
" Sebentar saja. " kata nya akhir nya.
Senyum Rania mengembang. Dan di pagi yang sejuk itu , di taman kota yang sederhana, sebuah jarak mulai menyempit. Bukan karena janji, bukan karena rasa kagum, sebagai teman . Masalah itu tidak pernah benar - benar selesai.
Bagi Radit , kejadian di showroom mobil sport waktu itu hanya lah transaksi, membakar uang , mendapat kan poin , lalu pergi . Tatapan terkejut mantan pacar nya dan pria kaya di samping nya tidak pernah ia anggap penting.
Namun bagi pria itu, kejadian tersebut adalah penghinaan. Nama nya Rafka Arkana. Seorang mahasiswa degan latar belakang keluarga kelas dua, keluarga Arkana, salah satu keluarga yang cukup berpengaruh di dunia bisnis regional. Meski masih berada jauh di bawah ke empat keluarga besar . Sejak kecil , Rafka terbiasa di hormati. Uang, status , dan nama keluarga nya selalu membuka jalan.
Hingga hari itu di showroom. Seorang mahasiswa sederhana, yang bahkan tidak ia anggap layak menajadi lawan , membeli bugatti edisi terbatas secara tunai, tepat di hadapan mata nya. Lebih buruk nya lagi mantan pacar Radit memandang pria itu engan ekspresi yang tidak bisa ia terima : Ragu... Dan terkejut.
Harga diri nya runtuh. Dan Rafka Arkana bukan tipe orang yang membiar kan hal itu berlalu. Beberapa hari kemudian, konflik itu menemukan jalan nya.
Di taman kampus sore hari , Rania Azizah duduk di bangku kayu sambil membaca, wajah nya tenang , namun pikiran nya masih sering membali pada malam melam itu, malam ketika seseorang bertopeng putih muncul seperti bayangan dan menyelamat ksn nya.
Ia tidak tahu siapa pria itu. Namun entah mengapa, sosok Radit selalu muncul di benak nya setiap kali ia mencoba mengingat postur tubuh dan tatapan sang penolong nya itu.
Langkah kaki mendekat, Rania mengangkat kepala dan melihat sekelompok mahasiswa datang. Di tengah mereka berdiri seorang pria ber penampilan rapi, mahal, dengan senyuman dingin di wajah nya.
" Permisi. " kata Rafka sopan namun nada nya kosong. " kamu Rania Azizah kan ? "
Rania mengernyit. " Iya, ada apa ? "
" Kamu kenal Radit ? "
Nama itu membuat Rania terdiam sesaat. " Kenal, kami satu kampus. "
Rafka tersenyum tipis. " Menarik. "
Di saat yang sama , Radit baru saja keluar dari gedung fakultas bersama Agus, langkah nya terhenti ketika mata nya menangkal pemandangan itu, Rania di kelilingi beberapa orang asing, aura nya tidak nyaman.
Alis Radit sedikit berkerut. Ia mengenali salah satu wajah itu.
Rafka Arkana.
" Agus, tunggu disini. " kata Radit singkat.
" Ada masalah ? " suara Radit terdengar datar saat ia berdiri di samping Rania.
Rania menoleh, sedikit lega. " Radit... "
Rafka menatap Radit dari atas ke bawah , senyuman mengejek nya kembali muncul. " Akhir nya ketemu juga! "
" Aku tidak tertarik ner bincang! " jawan Radit tenang. " Minggir !! "
Udara di sekitar mereka berubah, para pengikut Rafka melangkah maju setengah langkah. Meskipun kekuatan mereka di samar kan , insting praktisi tetap ada. Mereka merasakan sesuatu dari Radit , Ranah prajurit akhir, cukup kuat untuk ukuran mahasiswa.
" Percaya diri sekali. " Kata Rafka dingin . " Kamu tahu siapa aku? "
" Tidak penting! " jawab Radit.
Kalimat itu menusuk, wajah Rafka mengeras.
" Berani sekali kamu meremeh kan keluarga Arkana. "
Rania membeku. " Keluarga... Arkana? "
Nama itu bukan asing bangi nya , ia tahu cukup banyak untuk mengerti bahwa ini bukan masalah sepele.
" Rania tidak ada hubungan nya dengan urusan mu! " lanjut Radit . " Pergi !! ''
Namun aura di udara mulai berdesakan. Sistem penyamaran Radit bekerja keras menekan gelombang kekuatan yang nyaris bocor.
Rafka mengangkat tangan. " Tenang, aku tidak akan membuat keributan di sini. "
Ia menarik Rania sekali lagi . " Tapi aku saran kan kamu menjauh dari nya! "
Rania menatap Radit lalu ke Rafka. " Aku memutus kan dengan siapa aku berteman! ''
Jawaban itu membuat Rafka tersenyum tipis, senyum orang yang sudah mengambil keputusan berbahaya.
" Bail. " kata nya pelan. " Kalau begitu, ... Kita lihat sampai sejauh apa kamu bisa melindungi orang orang di sekitar mu, Radit ! "
ia berbalik dan pergi bersama rombongan nya. Keheningan tertinggal, Rania menarik napas panjang. " Maaf ... Seperti nya aku ikut terseret. "
Radit menatap punggung nya Rafka yang menjauh, mata nya dingin. " Bukan salah mu. " namun di dalam hati nya satu hal sudah jelas :
Keluarga Arkana telah mulai bergerak. Dan jika mereka berani menyentuh Rania, maka ini bukan lagi soal harga diri di showroom. Ini akan menjadi konflik yang tidak bisa di hindari.
Langit ibu kota masih kelabu ketika sebuah kabar menyebar di kalangan elit ekonomi dan dunia bayangan. PT. AR ADITYA PUTRA membuka empat cabang utama.
Bukan sekedar cabang biasa, melain kan empat pusat kendali yang masing masing berdiri di wilayah timur, barat, utara, dan selatan. Setiap wilayah di pimpin oleh direktur bayangan, namun satu hal tetap sama , tak satu pun dari mereka pernah melihat wajah pemilik sejati nya.
Di ruang rapat tertinggi gedung pusat, sosok itu berdiri menghadap jendela. Topeng putih tanpa ekspresi menutupi wajah nya.
Radit.
" Empat wilayah, empat jalur aliran kekuatan. "
" Dan satu pusat kendali... Aku. "
Wilayah timur, gerbang modal mentah wilayah timur di kenal sebagai sumber tambang, energi, dan sumber daya mentah.
Cabang PT . AR ADITYA di sana bergerak cepat mengakuisisi konsesi tambang, pelabuhan logistik, dan jalur distribusi energi.
Dalam waktu tiga bulan, harga saham perusahaan lokal melonjak... Lalu jatuh ke tangan satu investor misterius.
Setiap transaksi bernilai puluhan hingga ratusan miliar. Di balik layar , sistem berbunyi tanpa henti.
\[ Ding! \]
Penguaran terverifikasi.
\+ 50.000.000 point kekuatan.
Total : tak terbaca.
Wilayah Barat - Pusat Finansial dan pasar modal.
Wilayah barat adalag sarang keluarga- keluarga kelas dua. Bank , sekuritas, dan dana investasi berada di bawah pengaruh mereka. Namun kali ini muncul pemain baru.
PT. AR ADITYA BARAT , Menjadi pemegang saham mayoritas di tiga bank menengah dalam satu minggu , tanpa ancaman, tanpa tekanan. Hanya uang dengan jumlah yang mustahil. Seorang patriark keluarga kelas dua mengerut kan kening.
" Perusahaan itu... Tidak mencari keuntungan. "
" Mereka sedang membangun fondasi. "
Wilayah Utara - Teknologi dan informasi . Cabang utara bergerak senyap. Startup AI , Satelit komunikasi, pusat data bawah tanah, semua di akuisisi melalui perusahaan cangkang.
Di sini lah Radit menanam mata dan telinga, setiap data yang mengalir, setiap pergerakan keluarga elit, semua tercatat . Keluarga kelas satu mulai merasakan sesuatu yang ganjil.
" Informasi kita bocor! "
" Bukan di retas... Tapi di beli. "
Untuk pertama kali nya keluarga kelas satu mulai bersikap waspada.
Wilayah Selatam - Logistik dan militer swasta. Wilayah selatan menjadi yang paling menghawatir kan. PT. AR ADITYA Selatan menguasai jalur logistik , galangan kapal , dan perusahaan keamanan swasta internasional.
Legal di atas kertas, mematikan dalam praktik. Seorang tetua keluarga kelas dua ber kata dengan suara bergetar :
" Dia tidak hanya membangun bisnis... "
" Dia sedang menyiap kan wilayah kekuasaan. "
Reaksi keluarga - keluarga.
Keluarga kelas dua, mereka mulai bersatu diam diam. Pertemuan rahasia, aliansi sementara, dan kesepakatan non - agresi di bentuk.
Namun satu hal sama : Tak satu pun berani menyerang lebih dulu.
" Perusahaan itu belum menunjukan taring nya. "
" Dan justru itu yang menakutkan. "
Keluarga kelas satu.
Lebih tenang .... Namun lebih berbahaya. Mereka tidak panik, mereka menghitung. " Jika dia naik satu langkah lagi. "
" Kita harus turun tangan. "
Keluarga besar.
Mereka tidak bergerak, tidak ber suara. Di balik bayangan sejarah dan kekuasaan sejati, para keluarga besar hanya mengamati.
" Biar kan anak itu bermain. "
" Kita lihat... Apakah dia pantas untuk naik ke panggung ! "
Di ruang tertinggi gedung pusat, Radit menatap peta digital dunia. Empat titik cahaya menyala - Timur, Barat, Utara, Selatan- terhubung ke satu pusat.
Topeng putih nya memantul kan cahaya dingin. " Jika mereka sudah waspada. "
" Berarti aku berada di jalur yang benar. "
Sistem kembali berbunyi.
\[ Ding ! \]
Wilayah kekuasaan terbentuk.
Status : Dominasi awal
Wilayah barat tak pernah tidur, gedung - gedung tinggi berdiri rapat , lampu kota menyala, seperti lautan emas , di sana lah jantung ekonomi negeri ini berdetak.
Dan kini, di tengah wilayah itu, berdiri pusat utama, PT AR ADITYA PUTRA. Gedung nya tidak paling tinggi, tidak paling mencolok. Namun setiap keluarga kelas dua tahu atu hal:
Semua aliran keputusan berhenti di sana. Gedung pusat di lantai paling atas , sebuah ruangan sunyi terbentang luas. Dinding kaca memperlihat kan panorama kota barat.
Di tengah ruangan itu berdiri satu kursi hitam. Di atas nya duduk sosok ber topeng putih.
Bersambung......
lanjut kk, tetap semangat ya. saran aja sih, kalau ada waktu, sebelum lempar up, sebaiknya swasunting dulu, biar nggak terlalu banyak typo. 😊🙏🙏
ada beberapa typo ya thor, kalau sempet, ayo kita revisi. 💪
ceritanya bagus Thor, langsung subscribe, satu vote, dan dua iklan, untukmu. 😊.
ayo kita saling mendukung ya😊