Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10
...SESUATU LEWAT DI JENDELA...
Mentari kini bersinar menyambut pagi datang. Namun bukan pagi yang menyapa dengan hangat dan semangat hidup. Ini pagi yang ragu. Pagi yang seperti salah alamat. Cahaya matahari menyusup pelan lewat celah jendela posko, tipis, pucat, dan terasa enggan, seperti tamu yang datang hanya karena tidak enak menolak undangan. Seolah matahari pun mempertimbangkan ulang keputusannya mampir ke desa ini. Udara pagi masih dingin dan lembap. Dinding kayu posko menyimpan sisa dingin malam, dan lantai terasa sedikit licin, entah karena embun atau karena rumah ini memang sejak awal tidak berniat ramah. Bau kayu tua bercampur dengan aroma mie instan yang baru matang menciptakan perpaduan yang aneh, tapi entah kenapa terasa seperti definisi resmi KKN.
Ketegangan malam pertama belum benar-benar pergi. Ia tidak kabur. Ia hanya bersembunyi, Menempel di sudut-sudut rumah, di sela kasur lipat, di balik pintu kamar mandi, dan yang paling parah, di kepala masing-masing penghuni posko. Beberapa dari mereka terbangun dengan mata bengkak. Dan sebagian lain, bahkan ada yang belum tidur sama sekali.
Surya duduk bersandar di dinding dengan hoodie masih menutup kepala, matanya merah, rambutnya kusut, ekspresi wajahnya seperti orang yang baru saja bernegosiasi dengan alam gaib semalaman dan kalah tipis. Sesekali ia melirik ke arah jendela, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan, seolah takut matanya bertemu sesuatu yang tidak seharusnya ada di jam segini.
Juned tidur sambil memeluk kamera, seolah takut kalau benda itu ditinggal, ia akan merekam sendiri. Tali kamera melilit tangannya seperti borgol sukarela. Mukanya menempel di meja makan darurat yang terbuat dari papan bekas, dan entah bagaimana, ia tetap bisa mendengkur tipis sambil bergumam, “Jangan close-up…”
Udin bangun paling awal, bukan karena segar, tapi karena tidak bisa memejamkan mata lagi sejak jam dinding berhenti berdetak malam tadi. Jam itu masih tergantung miring di dinding, jarumnya menunjuk angka yang salah, seperti menertawakan konsep waktu. Udin menatapnya dengan curiga, sambil sesekali meniup mie panasnya terlalu keras sampai kuahnya hampir tumpah.
Dan di sudut ruangan, Wati, entah bagaimana, tetap bisa mendengkur pelan dengan stabil, teratur dan damai. Sebuah prestasi yang membuat iri sekaligus ingin ditoyor.
“Ini pagi apa masih malam versi terang?” gumam Surya sambil mengucek mata.
Ia berdiri, melangkah ke jendela, dan mengintip keluar. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon-pohon. Desa terlihat seperti gambar lama yang warnanya sudah luntur. Rumah-rumah penduduk tampak jauh lebih diam dari seharusnya, seolah semua orang sepakat untuk tidak keluar rumah pagi ini, atau tidak ingin terlihat.
“Pagi,” jawab Juleha dari arah dapur darurat. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk orang yang semalam hampir ikut baca ayat kursi tiga kali. “Tapi suasananya masih dosa.”
Surya menoleh.
“Maksudnya?”
“Biasanya kalau suasana begini,” lanjut Juleha sambil menuang air panas ke gelas, “itu pertanda niat belum bersih atau ada yang lupa doa.”
Palui langsung refleks merogoh saku.
“Dompet gue masih ada.”
Tidak ada yang tertawa, Itu justru yang paling mengkhawatirkan. Sarapan berlangsung hening. Bukan hening yang damai namun hening yang penuh kecurigaan. Bahkan terlalu hening untuk ukuran mahasiswa yang biasanya ribut bahkan saat antre air galon. Biasanya, pagi KKN adalah waktu paling berisik. saling ejek, rebutan colokan, komplain air dingin, dan debat siapa yang belum mandi dua hari. Tapi pagi ini? Sendok beradu dengan mangkuk terdengar seperti suara alarm bahaya. Setiap ting kecil membuat beberapa kepala otomatis menoleh ke arah sumber suara, lalu saling pandang, memastikan tidak ada yang hilang, atau bertambah.
Anang berdiri di depan kompor kecil, mengaduk mie instan dengan wajah serius seperti sedang menyusun rencana kudeta. Setiap gerakannya penuh pertimbangan. Setiap adukan mie terasa sarat tanggung jawab. Bahkan cara ia menuang bumbu terlihat seperti ritual sakral.
Palui berdiri di belakangnya, tangan bersedekap, matanya tajam mengawasi jumlah mie yang masuk ke panci seolah itu emas batangan.
“Itu mie buat rame-rame, kan?”
“Iya.”
“Kenapa rasanya kaya buat pewarisan keluarga?”
Anang tidak menjawab. Ia hanya mengaduk lebih pelan, seolah mie itu bisa tersinggung.
“Kenapa kalian pada pendiem?” tanya Ani, jelas tidak betah dengan suasana sunyi.
Ia duduk bersila, rambut diikat seadanya, matanya sibuk mengamati sekeliling, bukan karena takut, tapi karena kepo. Otaknya jelas sedang menyusun daftar kemungkinan kejadian aneh yang bisa dijadikan cerita. Tangannya berhenti di udara sesaat sebelum menyuap, seperti sedang menunggu konfirmasi dari alam semesta.
“Karena kalau ngomong,” jawab Bodat sambil menyendok mie, “takut ada yang jawab dari tempat lain.”
Kalimat itu jatuh seperti sendok ke lantai. Sunyi mendadak jadi lebih sunyi. Ani membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Juned berhenti merekam.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang berani menoleh ke arah jendela. Padahal sejak tadi entah kenapa, angin di luar terasa tidak konsisten. Tirai tipis di jendela bergerak pelan, lalu berhenti, lalu bergerak lagi, seperti disentuh sesuatu yang ragu-ragu.
“Eh,” Palui akhirnya berdehem, mencoba memecah suasana, “kita tuh sebenernya lagi KKN apa uji nyali?”
“Diam,” bisik Udin cepat, sambil menunjuk mangkuknya. “Makan dulu. Kalau perut kosong, halu makin kreatif.”
Sebuah bayangan melintas cepat di balik kaca jendela. Tidak terlalu jelas , tapi juga bukan bayangan samar. Namun cukup untuk membuat sebuah salah paham. Tidak ada yang langsung berteriak atau langsung menunjuk diantara mereka. Yang ada hanyalah gerakan serempak, sendok berhenti di tengah jalan, mie menggantung di udara, dan beberapa pasang mata perlahan, sangat perlahan, bergeser ke arah jendela.
“Barusan…” Surya menelan ludah, “…kalian lihat juga nggak?”
“Lihat apa?” tanya Ani pelan, tapi matanya sudah berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi karena penasaran akut.
Juleha berdiri tanpa suara, berjalan ke arah jendela, dan mengintip keluar. Tangannya masih memegang gelas, tapi air di dalamnya sudah dingin. Di luar, hanya ada kabut, pohon dan jalan desa yang sepi.
“Angin,” katanya akhirnya.
“Angin bentuknya nggak punya kaki,” sahut Bodat cepat.
Wati mendadak berhenti mendengkur. Ia membuka mata, menatap sekeliling, lalu berkata dengan polos,
“Mie nya nambah nggak?”
Beberapa orang hampir tertawa. Tetapi kemudian sarapan dilanjutkan dengan lebih banyak doa dalam hati serta lebih sedikit suara sendok. Tidak ada yang tahu pasti apa yang lewat di jendela pagi itu. Tapi satu hal jelas, pagi ini tidak berniat menenangkan siapa pun. Dan makan pagi, hanya jadi jeda singkat sebelum rasa tidak nyaman itu menemukan cara baru untuk mengingatkan, mereka belum benar-benar sendirian.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....