Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Sekolah yang Sama
Hari pertama Kia menginjakkan kaki di SMA itu terasa seperti masuk ke wilayah asing yang penuh mata waspada. Gedungnya besar, catnya masih terlihat baru, dan halaman depannya dipenuhi mobil-mobil yang tak pernah Kia lihat sebelumnya—mobil mahal, bersih, dengan pelat nomor yang tampak berkilau di bawah matahari pagi.
Ia berdiri di depan gerbang beberapa detik lebih lama dari siswa lain. Tangannya mencengkeram erat tali ransel lusuh yang sudah menemaninya sejak SMP. Ibunya sempat meminta maaf saat memberikannya.
“Maaf ya, Kia. Ibu belum bisa beli yang baru.”
Kia hanya menggeleng waktu itu. Ia sudah terbiasa. Sejak kecil, hidup mengajarkannya satu hal: jangan berharap terlalu tinggi, agar tak jatuh terlalu sakit.
Langkahnya akhirnya bergerak. Seragam putih abu-abu yang ia kenakan disetrika rapi oleh ibunya semalam, meski kainnya sudah tak lagi tebal dan warnanya sedikit pudar. Kia menunduk, melewati kelompok-kelompok siswa yang tertawa keras, memamerkan sepatu mahal dan tas bermerek.
Ia memilih duduk di bangku dekat jendela, baris paling belakang. Tempat aman untuk orang sepertinya—tak terlalu terlihat, tak terlalu diperhitungkan.
Bel masuk berbunyi.
Beberapa menit kemudian, suasana kelas yang tadinya ribut mendadak berubah. Suara bisik-bisik muncul seperti gelombang kecil.
“Kamu lihat belum?”
“Itu dia…”
“Anak Pak Arman, ya?”
Kia mengangkat kepalanya perlahan.
Seorang siswi masuk bersama wali kelas. Rambutnya hitam panjang, tergerai rapi, wajahnya cerah dengan senyum yang seolah sudah terlatih. Seragamnya pas, sepatunya mengilap, dan caranya melangkah begitu percaya diri, seakan ruangan itu memang miliknya.
“Tolong perkenalkan diri,” kata wali kelas ramah.
Siswi itu tersenyum lebih lebar. “Nama aku Tara.”
Hanya satu kata, tapi dampaknya terasa aneh. Entah kenapa, dada Kia terasa sedikit sesak saat mendengarnya.
“Aku pindahan. Semoga kita bisa berteman baik.”
Beberapa siswa langsung menyambut hangat. Kursi di dekat depan sudah penuh, tapi ada satu kursi kosong di tengah kelas.
“Duduk di situ ya, Tara,” ujar wali kelas.
Kursi itu… tepat dua baris di depan Kia.
Sejak saat itu, Kia sadar satu hal: hidupnya tak akan tenang.
Tara cepat beradaptasi. Terlalu cepat, menurut Kia. Dalam hitungan hari, namanya sudah sering disebut. Pintar, ramah, aktif, dan—yang paling membuat Kia muak—disukai guru-guru.
Kia memperhatikannya tanpa sadar. Cara Tara tertawa, cara ia berbicara sopan pada guru, bahkan caranya mengikat rambut saat pelajaran olahraga. Semua itu bertolak belakang dengan dirinya.
Tara adalah anak yang dipilih dunia.
Sedangkan Kia… hanya anak yang bertahan.
Pertemuan pertama mereka terjadi secara langsung di minggu kedua.
Saat itu jam istirahat. Kantin penuh sesak, dan Kia memilih membeli minum lalu kembali ke kelas. Namun di lorong, ia bertabrakan dengan seseorang.
Minumannya tumpah.
“Eh—maaf!” suara perempuan itu terdengar lebih dulu.
Kia mendongak. Tara.
Seragam Tara terkena cipratan minuman, meski hanya sedikit.
“Ya ampun, maaf banget,” lanjut Tara cepat. “Aku nggak lihat.”
Kia menatapnya datar. “Ya jelas. Orang jalan sambil ketawa.”
Tara terdiam sebentar, jelas tak menyangka respon itu.
“Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya lagi, lebih hati-hati.
Kia menghela napas. “Udah. Nggak apa-apa.”
Ia hendak pergi, tapi Tara menahan sedikit dengan gerakan refleks.
“Tunggu. Bajuku—”
“Cuma air,” potong Kia dingin. “Nggak bakal rusak.”
Tatapan Tara berubah. Ada sesuatu di sana—bingung, mungkin juga tersinggung.
“Oke,” kata Tara akhirnya. “Kalau begitu.”
Sejak hari itu, hubungan mereka tak pernah benar-benar netral.
Mereka sering berpapasan. Di lorong, di perpustakaan, di lapangan. Dan entah kenapa, selalu ada saja yang membuat suasana memanas.
Tara tipe yang tak suka ditantang. Kia tipe yang tak suka diremehkan.
Suatu hari, guru meminta mereka satu kelompok untuk tugas sejarah.
“Apa nggak bisa tukar?” Tara bertanya sopan.
“Kenapa?” Kia menyahut cepat. “Takut satu kelompok sama aku?”
Beberapa teman menoleh.
“Bukan gitu,” jawab Tara menahan emosi. “Aku cuma—”
“Kalau cuma, ya kerjain aja,” potong Kia.
Sejak itu, mereka jadi bahan pembicaraan. Dua perempuan dengan aura bertolak belakang, selalu saling menyindir tanpa kata-kata kasar, tapi cukup tajam untuk melukai.
Yang Kia tak tahu—dan tak pernah terpikirkan—adalah satu fakta sederhana.
Nama ayah mereka sama.
Pak Arman.
Nama yang bagi Tara adalah kebanggaan.
Nama yang bagi Kia adalah luka.
Suatu sore, Kia duduk di halte menunggu angkot. Hujan turun rintik-rintik. Ia memeluk tasnya erat, menahan dingin.
Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh. Dari dalamnya, Tara turun, membawa payung.
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, dunia seperti berhenti.
Tara ragu, lalu melangkah mendekat. “Kamu… pulang naik angkot?”
“Iya,” jawab Kia singkat.
“Oh.” Tara menggigit bibir. “Hujan begini…”
“Kenapa?” Kia menatapnya. “Mau nawarin tumpangan?”
Tara terdiam. Lalu mengangguk kecil. “Kalau kamu mau.”
Kia tertawa kecil, pahit. “Nggak usah. Aku nggak biasa duduk di mobil orang asing.”
“Aku bukan orang asing,” balas Tara refleks.
Kalimat itu menggantung di udara.
Kia menatap Tara tajam. “Kita bukan apa-apa.”
Ia bangkit, berjalan menjauh, meninggalkan Tara yang berdiri sendiri di bawah payung mahalnya.
Tak satu pun dari mereka tahu, hujan sore itu adalah awal dari benang kusut yang akan mengikat hidup mereka lebih erat dari yang bisa mereka bayangkan.
Takdir telah mempertemukan mereka.
Bukan sebagai saudara.
Belum.
Tapi sebagai dua anak yang berdiri di sisi berlawanan dari pilihan seorang ayah.
Dan pertemuan itu… baru saja dimulai.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya