NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 MALAM PEMBAKARAN

Angin malam di alun-alun universitas berhembus tajam, membawa aroma debu yang sudah mengendap selama berabad-abad. Itu bukan bau tanah, melainkan bau tinta tua yang mengering dan kertas yang melapuk di dalam rak-rak kayu mahoni.

Bagi Sang Profesor, malam ini, itu adalah bau kuburan pikiran.

Ia berdiri di tengah alun-alun batu yang dingin. Di hadapannya, menjulang sebuah konstruksi aneh yang ia bangun sendiri selama tiga jam terakhir. Itu bukan sebuah patung, melainkan sebuah menara. Sebuah ziggurat yang terbuat dari ribuan buku.

Ada disertasinya sendiri yang bersampul kulit tebal—hasil jerih payah lima tahun yang hanya dibaca oleh tiga penguji yang kini sudah pensiun. Ada tumpukan jurnal internasional bereputasi tinggi, yang di dalamnya namanya tercetak kecil di samping deretan angka-angka statistik yang rumit. Ada buku-buku teks tebal yang telah ia wajibkan kepada mahasiswanya selama dua dekade, buku-buku yang mengajarkan mereka cara berpikir di dalam kotak yang rapi.

Menara itu adalah hidupnya. Sebuah monumen dari segala sesuatu yang pernah ia anggap sebagai "kebenaran".

Dan malam ini, menara itu tampak baginya seperti tumpukan kayu mati.

Sang Profesor menatap tangannya sendiri. Jemari itu panjang, kurus, dan pucat, dengan noda tinta permanen di jari tengahnya. Jemari seorang sarjana. Jemari yang selama ini hanya tahu cara membalik halaman dengan hati-hati, takut merobek jilidan yang rapuh.

Malam ini, jemari itu menggenggam sebuah kotak korek api kayu murahan.

"Mereka bilang pengetahuan adalah cahaya," bisiknya pada kesunyian malam. Suaranya serak, jarang digunakan untuk berbicara jujur. "Tapi mereka lupa, cahaya yang paling terang tidak berasal dari pantulan. Ia berasal dari pembakaran."

Ia menarik sebatang korek.

Kres.

Bunyi gesekan itu terdengar asing dan kasar di tempat suci akademis ini. Lidah api kecil muncul di ujung batang kayu, menari-nari, kuning dan lapar.

Ia menatap api kecil itu. Betapa rapuhnya, namun betapa jujurnya keberadaan api itu. Ia tidak berpura-pura menjadi abadi seperti tulisan-tulisan di atas kertas. Ia hidup, ia memakan, dan ia akan mati.

Dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, seolah sedang meletakkan batu terakhir pada sebuah bangunan agung, Sang Profesor menjatuhkan korek api yang menyala itu ke dasar tumpukan buku.

Kertas tua, yang kering kerontang karena terlalu lama disimpan di ruangan ber-AC, menyambut api seperti kekasih yang lama hilang.

Awalnya hanya asap tipis berbau tajam. Lalu, halaman-halaman buku tebal di bagian bawah mulai mengeriting, berubah cokelat, lalu hitam, sebelum akhirnya meledak dalam nyala oranye yang terang.

Api merambat dengan cepat, rakus menjilati jilidan kulit dan lem yang mengeras. Huruf-huruf—ribuan argumen, teori, dan catatan kaki—terkelupas dari halamannya dan terbang menjadi abu pijar ke langit malam yang gelap.

Panas mulai menerpa wajah Sang Profesor. Ia tidak mundur. Ia justru mendekat selangkah.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, di tengah musim dingin akademis yang membekukan jiwa, ia merasa hangat.

"Demi Tuhan! Apa yang terjadi di sana?!"

Teriakan itu memecah kesunyian, diikuti oleh derap langkah kaki yang panik di atas batu paving.

Cahaya api yang semakin membesar menarik perhatian mereka—para penjaga malam "Lembah Nama". Mereka adalah rekan-rekan sejawat Sang Profesor, para akademisi yang masih terjaga di menara gading mereka, mungkin sedang merevisi naskah untuk kesepuluh kalinya demi memenuhi kuota publikasi tahunan.

Yang pertama tiba adalah Dr. Hardi. Pria paruh baya dengan kacamata tebal dan punggung yang sedikit bungkuk karena terlalu lama menunduk di depan meja. Wajahnya, yang biasanya datar tanpa ekspresi, kini pucat pasi saat disinari cahaya oranye yang menari-nari.

Ia berhenti beberapa meter dari api unggun raksasa itu, matanya terbelalak ngeri di balik lensa tebalnya.

"Profesor... Profesor Abimanyu?" suaranya bergetar, antara ketidakpercayaan dan ketakutan murni. "Itu... itu koleksi pribadi Anda? Edisi pertama Heidegger itu? Jurnal-jurnal langka itu?"

Sang Profesor—Abimanyu—tidak menoleh. Ia terus menatap api yang kini telah menelan separuh menara buku. "Mereka bukan koleksi, Hardi. Mereka adalah penjara."

"Penjara?" Dr. Hardi tergagap. "Anda sudah gila! Itu adalah ilmu pengetahuan! Itu adalah warisan! Itu adalah aset universitas!"

Lebih banyak orang berdatangan. Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat, seorang satpam yang kebingungan memegang pentungan, dan Dekan Fakultas yang napasnya tersengal-sengal karena berlari.

Mereka membentuk setengah lingkaran di sekitar api, menjaga jarak aman. Wajah-wajah mereka diterangi oleh cahaya kebakaran, menampakkan ekspresi yang seragam: horor.

Bagi mereka, ini bukan sekadar pembakaran. Ini adalah sakrilegi. Ini adalah tindakan seorang barbar yang menghancurkan kuil suci.

"Padamkan! Seseorang panggil pemadam kebakaran!" teriak sang Dekan, menunjuk-nunjuk dengan panik.

"Jangan berani-berani," suara Abimanyu tenang, namun entah bagaimana, suaranya memotong keributan api dan teriakan manusia.

Ia akhirnya membalikkan badannya, memunggungi api yang berkobar di belakangnya seperti sepasang sayap oranye raksasa. Ia menatap rekan-rekannya.

Di mata Abimanyu malam ini, mereka tidak tampak seperti manusia. Mereka tampak tipis. Dua dimensi. Seolah-olah jika angin berhembus sedikit lebih kencang, mereka akan melayang pergi.

Mereka adalah Manusia Kertas.

Mereka terbuat dari ijazah yang dibingkai, dari slip gaji bulanan, dari pujian basa-basi di konferensi tahunan. Jika kau mengambil tumpukan kertas yang mendefinisikan siapa mereka, tidak akan ada yang tersisa di dalamnya. Kosong.

"Lihatlah kalian," kata Abimanyu, suaranya dipenuhi rasa kasihan yang dingin, yang lebih menyakitkan daripada amarah. "Kalian gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena ketakutan. Kalian melihat kertas-kertas ini terbakar dan kalian merasa seolah kulit kalian sendiri yang terkelupas."

"Profesor Abimanyu, Anda sedang tidak sehat," kata Dekan, berusaha mengambil nada otoritatif namun gagal. "Anda mengalami gangguan saraf. Mundurlah dari api itu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik di ruangan saya besok pagi."

Abimanyu tertawa pelan. Tawa yang kering, seperti gesekan daun mati.

"Ruangan Anda," ulangnya. "Kotak beton yang diisi dengan lebih banyak kertas. Tempat kita menyusun kata-kata indah untuk menutupi fakta bahwa kita sudah berhenti berpikir sejak dua puluh tahun yang lalu."

Ia melangkah maju, mendekati Dr. Hardi yang otomatis mundur selangkah.

"Katakan padaku, Hardi. Kapan terakhir kali kau memiliki pemikiran yang benar-benar milikmu sendiri? Pemikiran yang tidak kau kutip dari orang lain yang sudah mati seratus tahun lalu? Kapan terakhir kali kau berani menulis sesuatu yang tidak aman?"

Hardi membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya menelan ludah, matanya menatap nanar pada api di belakang Abimanyu.

"Kalian memuja abu," lanjut Abimanyu, suaranya mengeras. Ia menunjuk ke arah universitas, bangunan megah yang berdiri dalam kegelapan. "Kalian membangun kuil untuk menyimpan abu dari pikiran orang-orang hebat di masa lalu, lalu kalian duduk di atasnya dan menyebut diri kalian penjaga api. Tapi kalian tidak menjaga api. Kalian hanya menjaga agar abunya tidak terbang tertiup angin."

Sebuah buku tebal di puncak tumpukan—mungkin sebuah ensiklopedia—akhirnya menyerah pada gravitasi dan api. Ia runtuh ke dalam pusat nyala dengan suara bum yang pelan, mengirimkan semburan bunga api ke udara.

Kerumunan itu tersentak mundur.

"Malam ini, aku berhenti menjadi penjaga abu," deklarasi Abimanyu.

Ia merogoh saku jas tweed-nya yang sudah usang. Ia mengeluarkan kartu identitas dosennya—sepotong plastik persegi dengan foto dirinya yang tersenyum kaku dan serangkaian nomor induk. Tanda pengenal yang selama ini memberinya akses ke semua pintu, gelar, dan rasa hormat palsu di lembah ini.

Tanpa ragu, ia melemparkan kartu itu ke dalam api. Plastik itu meleleh seketika, mengerut dan berbuih sebelum hilang ditelan nyala oranye.

"Mulai malam ini, aku bukan lagi seorang Profesor. Aku bukan lagi seorang Guru yang membutuhkan murid untuk merasa penting."

Ia menatap langit malam di atas nyala api. Asap tebal membubung tinggi, menutupi bintang-bintang, seolah mencoba mencapai sesuatu yang jauh di atas sana.

"Aku hanyalah seorang murid yang terlambat menyadari bahwa sekolah yang sesungguhnya tidak memiliki atap."

Api terus menjilat ke atas, mengubah kebijaksanaan berabad-abad menjadi karbon yang tak berarti. Sang Profesor—tidak, pria yang dulunya seorang profesor—berdiri diam di tengah panas yang membakar, sementara di sekelilingnya, manusia-manusia kertas berbisik-bisik dalam ketakutan, tidak menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah kelahiran, bukan kematian.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!