Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 AMD
Aruna tidak langsung bicara
Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, gerakannya terukur. Calvin masih menatapnya, mencoba membaca perubahan sekecil apa pun di wajahnya.
“Ada apa?” tanyanya lagi.
Aruna menggeleng pelan. “Tidak ada. Hanya notifikasi kerja.”
Separuh dari dirinya membenci kebohongan kecil itu. Dan separuh lainnya tahu ia belum punya cukup data untuk menuduh.
Calvin mengangguk, tapi sorot matanya tidak sepenuhnya percaya.
“Aku harus turun ke tim forensik,” ujar Aruna. “Aku ingin pastikan tidak ada celah sebelum dewan mengambil keputusan.”
“Kau tidak perlu melakukan semuanya sendiri.”
“Aku tahu.”
Tapi ia tetap melangkah pergi. Ruang forensik digital berada dua lantai di bawah. Tidak ada kaca dan tidak ada pemandangan kota. Hanya layar-layar besar dan cahaya putih yang terlalu terang.
Rafi, kepala IT forensik, mengangkat wajah ketika Aruna masuk. “Rapat selesai?”
“Diskors.”
Rafi menghela napas panjang. “Aku sudah menduga.”
Aruna meletakkan tasnya di meja dan mengeluarkan ponsel. “Aku butuh kamu cek ini.”
Rafi menerima ponsel itu. Matanya menyipit saat melihat gambar yang ditunjukkan oleh Aruna.
“Itu transfer internal.”
“Aku tahu.”
“Tanggalnya berbeda dari yang tadi dipresentasikan.”
“Aku juga tahu.”
Rafi mendekatkan wajahnya ke layar. “Ini dapat dari mana?”
“Nomor yang tak dikenal.”
Rafi langsung menatapnya serius. “Ini jebakan, atau kebocoran dari dalam.”
Aruna menyilangkan tangan di dada, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai berpacu. “Tanda tangan digitalnya valid?”
“Sekilas terlihat valid. Tapi aku harus akses server utama untuk pastikan.”
“Lakukan.”
Rafi mulai mengetik cepat. Layar di depannya dipenuhi deretan kode-kode dan log akses. Aruna berdiri di belakangnya, menahan napas setiap kali nama Calvin muncul di layar.
“Login dilakukan lewat jaringan kantor,” gumam Rafi. “Waktu akses pukul dua dini hari.”
Aruna memejamkan mata sejenak.
“Lokasinya?”
“Lantai eksekutif.”
Itu sama sekali tidak membantu. Banyak orang punya akses ke lantai itu. “Bisa dipalsukan?” tanya Aruna.
“Secara teori, ya. Secara praktik, sulit. Sertifikat digital CEO punya enkripsi berlapis.”
Aruna menelan.
“Berarti hanya dua kemungkinan,” lanjut Rafi. “Dia sendiri yang melakukannya. Atau ada yang sangat pintar.”
Aruna mengangguk pelan.
“Aku butuh salinan lengkap semua log akses malam itu.”
“Kamu mencurigainya?” Pertanyaan itu tidak langsung dijawab.
“Aku mencurigai semua orang,” katanya akhirnya.
Malam turun tanpa terasa. Hujan pun sudah berhenti, menyisakan jalanan basah yang memantulkan lampu kota. Aruna kembali ke ruangannya. Suasananya sepi, hanya suara pendingin udara yang berdesis pelan. Ia menutup pintu dan bersandar sejenak.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor yang sama.
Pesan kedua masuk:
“Kamu lebih pintar dari yang dia kira. Jangan biarkan dirimu diperalat.”
Aruna mengetik cepat:
Siapa ini?
Tidak ada balasan.
Ia mencoba menelepon tapi nomornya tidak aktif. Dadanya terasa sesak. Jika ini permainan, maka seseorang tahu ia akan segera menyelidiki. Seseorang tahu posisinya saat ini dekat dengan Calvin. Mereka ingin mencoba meretakkan kepercayaan itu.
Pintu diketuk pelan.
Aruna menegakkan tubuh. “Masuk.”
Calvin berdiri mematung di ambang pintu. Tanpa jas, hanya kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia terlalu lama memikirkan sesuatu.
“Kamu belum pulang.”
“Kamu juga.”
Ia masuk dan menutup pintu.
Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap.
“Rafi bilang kamu minta log tambahan,” ucap Calvin akhirnya.
Aruna tidak terkejut. Informasi bergerak cepat di lantai ini.
“Prosedur.”
“Aruna.” Nada itu bukan sebagai CEO ataupun atasan tapi sebagai pria yang ingin jawaban. “Kamu tidak mempercayaiku?”
Aruna berjalan ke mejanya dan duduk. Memberi jarak yang jelas. “Aku percaya pada fakta.”
“Dan faktanya?”
“Aku belum punya semuanya.”
Calvin mendekat. Tidak terlalu dekat kali ini.
“Kalau ada yang mencoba menjebak kita?”
“Kita?” ulang Aruna pelan.
Tatapan Calvin mengeras sedikit. “Perusahaan.” Koreksi cepat tapi cukup untuk membuat hatinya bergetar.
“Ada transfer lain,” kata Aruna akhirnya.
Calvin terdiam.
“Nominal lebih besar. Waktu berbeda.”
“Kenapa aku baru dengar?”
“Karena aku baru menerimanya satu jam lalu.”
Ia menatapnya tajam. “Dari siapa?”
“Nomor anonim.”
Hening.
Calvin menghembuskan napas pelan. “Kamu pikir itu aku.” Bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.
“Aku pikir aku harus memverifikasi.”
“Kamu tidak menjawab.”
Aruna mengangkat wajahnya. “Aku tidak ingin percaya itu kamu.” Kalimat itu jujur.
Calvin memalingkan wajahnya ke jendela. “Kalau aku bilang bukan?”
“Aku tetap akan memeriksa.”
Ia tertawa pelan. Tidak pahit. Tidak marah.
“Hanya kamu yang bisa membuatku merasa diinterogasi di kantorku sendiri.”
“Itu bukan niatku.”
“Tapi itu pekerjaanmu.”
Ia menoleh kembali.
“Apa kamu tahu apa yang paling sulit?” tanyanya pelan.
Aruna tidak menjawab.
“Bukan tuduhan dewan. Bukan ancaman media.” Tatapannya menahan sesuatu yang lebih dalam. “Tapi melihat kamu ragu.”
Dadanya seperti diremas. “Kalau aku berhenti ragu, aku berhenti jadi diriku.”
Calvin melangkah lebih dekat. “Kamu tahu kenapa aku memilihmu sebagai legal utama dalam kasus ini?”
“Karena aku kompeten.”
“Karena kamu tidak takut melawanku.”
Jarak mereka kini hanya setengah meter. “Kalau suatu hari bukti mengarah padaku,” lanjut Calvin, suaranya lebih rendah, “apa kamu akan tetap berdiri di ruang sidang dan menuntutku?” Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari yang ia duga.
Aruna menelan. “Kalau kamu bersalah, ya.”
Tidak ada getar.
Tidak ada ragu.
Hanya kebenaran.
Calvin menatapnya lama lalu mengangguk pelan “Bagus.” Ia mundur satu langkah. “Karena kalau bukan kamu, aku tidak akan percaya pada hasilnya.”
Aruna terdiam.
Kalimat itu seperti pengakuan tanpa romantisasi.
Kepercayaan yang aneh.
Kepercayaan yang menyakitkan.
Ponsel Calvin tiba-tiba berdering. Ia melihat layar lalu tiba-tiba wajahnya berubah. Tapi Aruna melihat perubahan itu. “Apa?” tanya Aruna.
Calvin mematikan panggilan itu.
“Tidak penting.”
“Kamu tidak pernah bilang begitu.”
Ia terdiam.
“Calvin.”
Ia akhirnya mengangkat wajahnya.
“Bramasta ditahan tadi sore.”
Aruna terkejut. “Apa?”
“Tim internal menyerahkan bukti awal ke pihak berwenang. Dia mencoba kabur.”
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Lalu?”
“Sebelum ditahan, dia membuat satu pernyataan.”
Aruna berdiri.
“Apa isinya?”
Calvin menatapnya.
“Dia bilang tidak sendirian.”
Hening.
Sunyi yang lebih berat dari sebelumnya.
“Ada nama lain?” tanya Aruna.
“Belum.”
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Besok pagi media akan tahu.”
Aruna menutup mata sejenak. Skandal ini pasti akan meledak dan harga saham bisa jatuh, kepercayaan publik juga bisa runtuh. Jika transfer kedua itu ternyata asli, Calvin berada tepat di tengah badai.
“Aruna.”
Ia membuka mata.
“Aku butuh kamu tetap objektif.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin pada satu hal.” Tatapannya tegas. “Jika aku jatuh, aku ingin jatuh karena kebenaran. Bukan karena kebohongan orang lain.” Kalimat itu semakin membuat dadanya sesak. Di antara mereka kini bukan hanya perasaan tapi risiko dan mungkin kehancuran.
Ponsel Aruna kembali bergetar.
Pesan ketiga.
Kali ini bukan sebuah foto.
Hanya satu kalimat:
“Cek rekaman CCTV lantai eksekutif pukul 01.47.”
Aruna mengangkat wajahnya perlahan. Calvin masih berdiri di depannya. Tidak tahu apa yang baru saja ia terima. Jam di dinding menunjukkan pukul 21.15 masih ada waktu untuk memeriksa, masih ada waktu sebelum semuanya runtuh.
“Ke mana?” tanya Calvin saat Aruna meraih tasnya.
Ia menatapnya, ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan dari matanya sendiri. “Kebenaran,” jawabnya pelan.
Dan kali ini, ia tidak tahu apakah kebenaran itu akan menyelamatkan mereka atau justru menghancurkan segalanya.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/