Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Getar di Saku Celana atau Getar di hati
Langkah kaki Justin menggema pelan di atas lantai kayu perpustakaan pusat yang hening. Aroma buku tua dan pembersih lantai yang khas menyambutnya. Ia sengaja memilih tempat paling pojok di barisan belakang, sebuah meja kayu panjang yang letaknya tepat di samping jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang kampus. Di luar, hujan masih turun dengan ritme yang stabil, menciptakan suasana melankolis yang bagi Justin terasa sangat menenangkan.
Ia meletakkan tas ranselnya, menarik kursi perlahan agar tidak menimbulkan suara decit yang mengganggu, lalu duduk. Justin mengeluarkan sebuah buku tebal tentang Manajemen Strategis, namun sebelum membukanya, ia meraih earphone dari saku jaketnya.
Daftar putar lagunya bergulir, dan jemarinya berhenti pada sebuah lagu yang sebenarnya jarang ia dengarkan di depan umum. Fearless milik Taylor Swift mulai mengalun lembut di telinganya.
“And I don’t know why but with you I’d dance in a storm in my best dress, fearless...”
Lirik itu seolah menyindir kejadian beberapa menit lalu di tengah lapangan. Justin menyandarkan punggungnya, menatap rintik air yang meluncur di kaca jendela. Ia memasukkan ponselnya ke saku celana jinsnya, berniat untuk benar-benar fokus membaca.
Sementara itu, di toilet lantai dasar gedung fakultas, Liana berdiri di depan cermin besar wastafel. Tubuhnya sedikit menggigil karena sisa air hujan yang meresap ke bajunya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melepas kaus olahraganya yang lembap dan mengenakan hoodie abu-abu milik Justin.
Begitu kain tebal itu menyentuh kulitnya, rasa hangat langsung menjalar. Hoodie itu terlalu besar untuk ukuran tubuh Liana; lengannya menutupi hingga setengah telapak tangannya, dan bagian bawahnya mencapai paha. Aroma Justin—campuran antara wangi sabun maskulin dan sisa parfum yang mahal—terasa begitu nyata menyelimuti indranya. Liana menghirup napas dalam-dalam, merasa seolah Justin sedang memeluknya secara tidak langsung.
Liana mengambil ponselnya dari saku tas. Ia membuka aplikasi WhatsApp dan menatap kolom pencarian. Di sana, nama "Kak Justin" sudah tersimpan. Ia mengetik sesuatu, menghapusnya, mengetik lagi, lalu menghapusnya kembali. Jantungnya berdegup kencang.
"Halo Kak Justin, ini Liana..."
Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang tersisa, lalu mengirimkan pesan tersebut.
Liana: Halo Kak Justin, ini Liana. Makasih banyak ya Kak buat jaketnya, bener-bener nolong banget. Nanti kalau sudah saya cuci bersih, segera saya kembalikan ke Kakak. Sekali lagi makasih ya Kak.
Setelah menekan tombol kirim, Liana langsung mematikan layar ponselnya dan mendekap benda itu di dadanya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—seorang gadis kecil yang tenggelam dalam hoodie kapten basket yang paling ditakuti sekaligus dikagumi di kampus.
Di perpustakaan, Justin baru saja membaca tiga paragraf awal bukunya saat ia merasakan getaran kuat di saku celananya. Drrrtt... Drrrtt...
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor yang belum dikenal muncul di layar.
+62812xxxx: Halo Kak Justin, ini Liana. Makasih banyak ya Kak buat jaketnya...
Justin menatap pesan itu cukup lama. Lagu di telinganya masih berputar, menciptakan suasana yang entah kenapa terasa sangat pas. Ia tidak langsung membalas. Ia menekan nomor tersebut, lalu memilih opsi "Tambah ke Kontak". Ia mengetik nama "Liana" dengan hati-hati, seolah takut salah mengeja nama yang singkat itu.
Setelah menekan tombol simpan, sebuah keajaiban digital terjadi. Foto profil yang tadinya kosong kini muncul. Justin mematikan sebentar musiknya agar bisa lebih fokus.
Di foto profil itu, Liana tampak sedang berada di sebuah taman. Ia memakai pakaian kasual, rambutnya tergerai indah, dan ia memegang setangkai bunga tulip berwarna merah muda. Yang membuat Justin terdiam adalah senyumannya. Senyum tulus yang membuat matanya menyipit kecil, memancarkan keceriaan yang sepertinya bisa menghapus mendung di luar sana.
Justin tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di wajahnya yang biasanya kaku. Ia kemudian mengetik balasan singkat.
Justin: Sama-sama. Pake aja dulu sampai hujan reda. Nggak usah buru-buru balikin nya.
Setelah mengirim pesan itu, Justin mematikan ponselnya dan meletakkannya terbalik di atas meja. Ia kembali menatap ke luar jendela. Hujan mulai mereda menjadi rintik halus. Suara Taylor Swift kembali memenuhi kepalanya. Ia merasa suasana pagi ini benar-benar mendukung sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan asing yang terasa hangat, seperti jaket yang baru saja ia berikan pada Liana.
Kembali ke toilet fakultas. Ting!
Ponsel Liana berbunyi. Ia segera membukanya dengan mata berbinar. Begitu melihat balasan dari Justin, Liana hampir saja memekik kegirangan jika tidak ingat ia sedang berada di toilet umum.
Namun, ada hal lain yang membuatnya terpaku. Saat ia melihat ke arah nama kontak Justin, sebuah foto profil kini terlihat jelas. Itu artinya, Justin juga sudah menyimpan nomornya.
Liana memperbesar foto tersebut. Di sana, Justin tampak sedang berada di lapangan basket. Foto itu sepertinya diambil secara diam-diam (candid). Justin sedang memegang bola basket dengan satu tangan, wajahnya menoleh ke samping, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas dan sorot mata yang fokus. Ia tampak begitu berwibawa, begitu tak tersentuh, namun sekaligus sangat mempesona.
Liana menyentuh layar ponselnya, tepat di wajah Justin pada foto itu.
"Dia beneran simpan nomor gue..." bisik Liana pada dirinya sendiri.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Mengenakan hoodie milik laki-laki itu, memiliki nomor pribadinya, dan mengetahui bahwa laki-laki itu peduli padanya meskipun lewat tindakan-tindakan kecil.
Liana keluar dari toilet dengan langkah ringan, meskipun udara di koridor masih dingin. Baginya, hari ini bukan lagi hari yang mendung. Hari ini adalah awal dari ribuan detik baru yang akan ia lalui dengan perasaan yang semakin tumbuh subur di dalam hatinya.
Di perpustakaan, Justin masih memandang jendela. Dan di koridor Fakultas, Liana masih menggenggam ponselnya dengan memakai Hoodie yang kebesaran. Dua orang yang berbeda, namun di detik yang sama, mereka sedang memikirkan satu sama lain di tengah sisa-sisa hujan yang perlahan menghilang.