NovelToon NovelToon
Terikat Tanpa Pilihan

Terikat Tanpa Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: ludiantie

Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.

Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.

Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 29

Setelah percakapan singkat di ruang tamu, suasana rumah kembali tenang.

Lampu-lampu di beberapa sudut ruangan menyala redup, membuat rumah besar itu terasa lebih hangat dibandingkan siang tadi.

Nick mengambil jasnya dari sandaran kursi.

“Kau terlihat lelah, setelah ini langsung mandi lalu istirahat,"

Tessa tersenyum tipis lalu mengangguk pelan,

“Hari ini cukup panjang.”

Nick berjalan menuju tangga tanpa mengatakan

apa-apa lagi. Tessa mengikuti di belakangnya,

Tangga besar rumah itu dilapisi karpet tebal sehingga langkah mereka hampir tidak terdengar.

Sesampainya di lantai atas, mereka berjalan menyusuri koridor menuju kamar utama di ujung rumah.

Nick membuka pintu kamar.

Ruangan luas itu langsung terlihat begitu mereka masuk.

Tempat tidur besar berdiri di tengah kamar, menghadap jendela tinggi yang memperlihatkan taman belakang rumah. Di salah satu sisi ruangan terdapat sofa panjang dengan meja kecil di depannya, sementara di dinding seberangnya terpasang televisi layar besar.

Di sudut kamar, sebuah rak buku tinggi dipenuhi buku-buku tebal tentang bisnis dan manajemen.

Segalanya terlihat rapi dan teratur.

Sangat mencerminkan pemiliknya.

Nick melepaskan jam tangannya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.

“Aku mandi dulu.”

Tessa mengangguk kecil. "Ya,”

Sementara itu Tessa duduk di sofa panjang dekat jendela.

Di depan sofa itu terpasang televisi layar besar yang hampir memenuhi dinding.

Ia mengambil remote dari meja kecil dan menyalakan televisi.

Layar langsung menyala terang sebelum Tessa mulai mengganti channel satu per satu.

Beberapa saluran ia lewati sampai akhirnya berhenti pada sebuah drama yang sedang tayang.

Tessa bersandar di sofa empuk itu.

Dari tempat duduknya, ia bisa melihat hampir seluruh kamar luas itu, tempat tidur besar di tengah ruangan, jendela tinggi yang menghadap taman, dan rak buku tinggi di sudut kamar.

Rak itu dipenuhi buku-buku tebal dengan sampul yang terlihat sangat kompleks.

Sebagian besar tentang bisnis, manajemen, dan ekonomi.

Tessa sempat meliriknya beberapa detik.

Rak buku seperti itu terasa sangat mencerminkan seorang Nick.

Sekitar dua puluh menit kemudian pintu kamar mandi terbuka.

Nick keluar dengan rambut yang masih sedikit basah, mengenakan jubah mandinya lalu berjalan menuju wardrobe,

Beberapa menit kemudian, pintu wardrobe terbuka.

Nick keluar dengan mengenakan kaos polos hitam dan celana pendek hitam, pakaian rumah yang jauh lebih santai dibandingkan setelan formal yang biasa ia kenakan.

Rambutnya masih sedikit lembap, beberapa helai jatuh santai di dahinya.

Kaos hitam itu menempel ringan di tubuhnya, memperlihatkan bahu lebar dan otot lengan yang tegas.

Sederhana.

Namun justru itu yang membuatnya terlihat… berbahaya dengan cara yang aneh.

Tessa yang masih duduk di sofa tanpa sadar menatapnya.

Matanya bahkan tidak berkedip beberapa detik.

Ia sebenarnya sudah sering melihat Nick dengan pakaian santai seperti ini, namun entah kenapa malam ini terasa berbeda.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Kenapa dia terlihat keren sekali…Batin Tessa.

Ia segera mengalihkan pandangannya ke televisi, pura-pura fokus pada layar.

Padahal pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Nick berjalan melewati ruang itu menuju meja kecil di dekat tempat tidur.

Namun langkahnya berhenti sebentar.

Ia menoleh sedikit ke arah sofa.

Tatapannya jatuh pada Tessa yang terlihat sangat… serius menatap televisi.

Nick memperhatikan beberapa detik.

Kemudian sudut bibirnya bergerak tipis.

“Kalau kau ingin melihat,” katanya tenang.

Tessa langsung menoleh. “Apa?”

Nick menatapnya datar.

“Kau tidak perlu berpura-pura menonton televisi.”

Beberapa detik hening.

Tessa berkedip. Wajahnya langsung memanas,

“Aku tidak..."

Nick memotong dengan santai, “Kau bahkan belum mengganti channel selama lima menit.”

Tessa langsung melirik layar televisi. Ternyata benar.

Ia bahkan tidak tahu adegan apa yang sedang berjalan.

Nick sudah mengambil dokumen di meja kecil.

Sebelum berjalan menuju pintu kamar, ia berkata tanpa menoleh,

“Lain kali menatapnya jangan terlalu lama.”

Kalimat itu keluar begitu saja, seolah tidak ada maksud apa-apa.

Namun entah kenapa, itu justru membuat wajah Tessa semakin panas.

Sementara Nick berjalan keluar kamar dengan langkah santai menuju ruang kerja.

Dan Tessa baru menyadari satu hal yang membuatnya semakin kesal pada dirinya sendiri.

Jantungnya masih berdetak terlalu cepat.

Pintu tertutup pelan.

Tessa kembali menatap televisi.

Beberapa adegan berlalu tanpa benar-benar ia perhatikan.

Hari itu terasa melelahkan.

Beberapa menit kemudian ia mematikan televisi, lalu melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya,

Setelah lima belas menit Ia keluar lalu menuju wardrobe mengambil baju tidurnya, Ia memilih memakai setelan baju tidur pendek yang terlihat nyaman,

Ia berjalan menuju tempat tidur besar itu dan naik ke atasnya.

Selimut lembut menutupi tubuhnya.

Lampu kamar hanya menyisakan lampu tidur kecil di sisi tempat tidur.

Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya ia tertidur.

---------

Sementara itu di ruang kerja.

Lampu meja menyala terang di tengah ruangan yang sunyi.

Nick duduk di belakang meja dengan laptop terbuka di depannya.

Beberapa laporan perusahaan masih harus ia periksa.

Ia membaca satu dokumen lalu beralih ke dokumen yang lain.

Sesekali mengetik balasan email.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Ketika akhirnya ia melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah hampir pukul sebelas malam.

Nick menutup laptopnya sebentar.

Ia menghela napas pelan.

Rumah itu terasa sangat sunyi.

Ia berdiri dari kursinya dan keluar dari ruang kerja.

Koridor lantai atas hanya diterangi lampu kecil.

Langkahnya berhenti ketika sampai di depan pintu kamar.

Ia membukanya perlahan.

Lampu tidur masih menyala.

Tessa sudah tertidur di tempat tidur.

Selimutnya sedikit bergeser dari bahunya.

Nick berdiri beberapa detik di ambang pintu,alu ia masuk dengan langkah pelan.

Ia berhenti di sisi tempat tidur.

Tatapannya jatuh pada wajah Tessa yang tertidur.

Ia mengingat bagaimana wajah tessa yang memerah tadi saat ketahuan menatapnya tanpa berkedip, tanpa sadar, Nick tersenyum tipis.

Nick menarik sedikit selimut hingga menutupi bahu Tessa.

Gerakannya ringan.

Hampir tanpa suara.

Tessa bergerak sedikit dalam tidurnya.

Namun tidak bangun.

Nick menatapnya beberapa detik lagi, lalu ia berbalik keluar dari kamar dan kembali ke ruang kerja lagi karena pekerjaan belum sepenuhnya selesai.

-----------

Beberapa saat kemudian… Tessa terbangun sebentar.

Ia membuka mata perlahan.

Kamar itu sunyi.

Ia melirik ke sisi tempat tidur.

Kosong.

Nick belum kembali.

Tessa duduk perlahan.

Lampu koridor masih menyala redup.

Ia turun dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju arah ruang kerja.

Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Nick masih duduk di belakang meja dengan lampu menyala.

Ia mengetuk pintu pelan.

Tok tok...

Nick langsung mengangkat kepalanya.

Ketika melihat Tessa berdiri di sana, ia berkata,

“Masuk.”

Tessa membuka pintu dan melangkah masuk.

“Kenapa kau terbangun?” tanya Nick.

Tessa berjalan mendekat,

“Kau sendiri kenapa belum istirahat? Ini sudah tengah malam.”

Nick kembali menatap dokumen di depannya.

“Ada beberapa hal yang harus selesai malam ini.”

Tessa melihat tumpukan berkas di meja itu.

“Kenapa aku baru sadar kalau kau bekerja setiap malam seperti ini?”

“Tidak setiap malam.”

Nick menutup satu map.

“Hanya ketika perusahaan sedang sibuk.”

Tessa memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Ia terlihat sedikit lelah.

Tessa melirik gelas kopi di meja. “Itu kopi keempat hari ini.”

Nick menatapnya. “Kau menghitung?”

Tessa tersenyum kecil. “Tidak sengaja memperhatikan.”

Ia mengambil gelas air dari meja samping dan mendorongnya sedikit ke arah Nick.

“Kau harus minum air putih juga.”

Nick menatap gelas itu sebentar sebelum akhirnya mengambilnya.

Tessa melihat beberapa catatan tangan di dokumen itu.

“Ini tulisan tanganmu?”

“Ya.”

“Lumayan rapi.” Nick mengangkat alis tipis.

“Itu pujian?”

“Mungkin.”

Nick menutup map terakhir.

Ia menyandarkan punggungnya di kursi.

“Apa kau selalu begadang seperti ini?”

Tessa bertanya lagi.

Nick menatap langit-langit sebentar.

“Ketik perusahaan masih kecil, aku sering tidur di kantor.”

Tessa terkejut. “Benarkah?”

Nick mengangguk sedikit.

“Kadang hanya tidur dua atau tiga jam.”

Tessa menatapnya lama, Ia tidak menyangka itu.

Selama ini Nick terlihat seperti seseorang yang sudah memiliki semuanya sejak awal.

Namun rupanya tidak sesederhana itu.

“Pasti sulit.”

Nick menjawab tenang. “Kalau ingin sesuatu berkembang, seseorang harus mengorbankan sesuatu.”

Tessa terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat sisi lain dari Nick.

Bukan CEO dingin yang semua orang takut.

Tapi seseorang yang bekerja tanpa henti demi membangun semuanya.

Nick menatapnya lagi. “Kenapa menatapku seperti itu?”

Tessa tersadar. “Hanya baru menyadari sesuatu.”

“Apa?”

Tessa tersenyum kecil.

“Kau tidak seseram yang semua orang pikir.”

Nick menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata datar, “Itu karena mereka tidak mengenalku.”

Tessa tertawa pelan.

“Aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu lagi.”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, Nick memanggilnya.

“Tessa.”

Tessa menoleh.

Nick menunjuk gelas air di mejanya. “Terima kasih.”

Tessa hanya tersenyum tipis. “Selamat bekerja.”

Ia menutup pintu perlahan.

Koridor kembali sunyi.

Sementara di dalam ruang kerja, Nick menatap pintu yang baru saja tertutup itu beberapa detik sebelum akhirnya kembali membuka dokumen di depannya.

Namun kali ini, gelas air di mejanya tidak ia abaikan.

1
Nur Halida
cieeee nick mulai romantis2an🤭🤭
itsmecancer: hihii... baru permulaan nihh, hati hati looh... nanti nick makin bikin hati meleleh 🤭❤️
total 1 replies
Nur Halida
ada ya anak dan ayah kek gitu kalo ketemu yg di bicaraka saham proyek bisnis dan persaingan .. ngeri2 sedap😁😁
Nur Halida
hufffttt😮‍💨
capek banget keknya jadi tessa
Nur Halida
repot banhet ya jadi horang kaya🤭🤭🤭
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
Nur Halida
semangat tessa😍😍😍
itsmecancer: makasih sudah semangatin tessa 💪❤️
total 1 replies
Nur Halida
tessa kamu harus belajar dan percaya diri berada sejajar dg nick. .dan kamu pasti bisa
Nur Halida
ternyata nick berwatak keras tapi aku suka😁
Nur Halida: pasti entar nick jadi bucin ke tessa dan aku gak sabar nunggu nick yg bucin .. pasti lucu🤭
total 2 replies
Nur Halida
nick baik banget sihh😍😍😍
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna
itsmecancer: wahh ... nick tuh emang pinter bikin baper pembaca 🤭, ditunggu kelanjutannya ya 👌🏻
total 1 replies
Bunga
tegang
Bunga
rasanya dikit banget thor
Bunga
suka
itsmecancer: wah makasih kak, dukunganmu berharga buat author ☺️
total 1 replies
Bunga
lanjut thor😍
itsmecancer: ditunggu ya ☺️👌🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!