Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Kebahagiaan semu di apartemen Rungkut itu hancur berkeping-keping tepat pada pukul sepuluh malam. Saat itu, Arsen baru saja selesai mandi dan Araluna sedang asyik mengenakan kaos kebesaran milik Arsen sambil menyisir rambutnya yang masih basah. Suasana begitu hangat, penuh tawa kecil dan rencana-rencana tentang menu sarapan besok pagi.
Tiba-tiba, suara benturan keras menghantam pintu kayu apartemen mereka.
BRAK! BRAK! BRAK!
"ARSEN! BUKA PINTUNYA! PAPA TAHU KALIAN DI DALAM!" Suara menggelegar Papa Arga merobek kesunyian malam itu.
Araluna mematung, sisir di tangannya jatuh ke lantai. Wajahnya seketika pucat pasi, matanya membelalak ketakutan. Arsen, dengan gerakan cepat, menyambar kaos hitamnya dan memakainya dengan terburu-buru. Sifat kakunya kembali dalam seketika, namun kali ini bercampur dengan aura protektif yang sangat kuat.
"Kak... gimana ini?" bisik Luna dengan suara bergetar.
Arsen tidak menjawab. Ia melangkah maju, memasang badan di depan Luna. Ia tahu tidak ada gunanya bersembunyi. Dengan napas yang diatur sedemikian rupa, Arsen memutar kunci dan membuka pintu.
Bugh!
Begitu pintu terbuka sedikit, sebuah tinju mentah dari Papa Arga mendarat telak di rahang Arsen. Arsen terjerembap ke belakang, menabrak meja makan kecil hingga gelas-gelas di atasnya berdenting keras. Sudut bibirnya langsung pecah, mengeluarkan darah segar yang kontras dengan kulit wajahnya yang memucat.
"ANAK KURANG AJAR!" teriak Papa Arga dengan napas memburu. Beliau merangsek masuk ke dalam apartemen sempit itu dengan mata yang berkilat penuh murka. "Kamu pikir kamu bisa lari dari Papa?! Kamu pikir kamu bisa menculik putri Papa dan hidup tenang di sini?!"
Bunda muncul dari belakang Papa, wajahnya sudah sembab namun terlihat sangat tegas sekaligus hancur. Begitu melihat Araluna yang berdiri gemetar di sudut ruangan, Bunda langsung melesat maju.
"Araluna! Ikut Bunda pulang sekarang!" Bunda menyambar pergelangan tangan Luna dengan sangat kuat, menyeret Araluna keluar dari pojok ruangan.
"Nggak mau, Bun! Lepasin! Luna mau di sini sama Kak Arsen!" Luna berontak, ia mencoba melepaskan cengkeraman Bunda yang terasa menyakitkan di kulitnya. Air mata Luna tumpah seketika, ia melihat Arsen yang sedang berusaha bangkit di bawah tatapan mengintimidasi Papa Arga.
Papa Arga kembali mendekati Arsen, ia menarik kerah kaos Arsen dan mengangkatnya dengan kasar. "Kamu sudah merusak kepercayaan kakekmu, kamu merusak masa depan Luna, dan kamu menghancurkan keluarga kita! Papa tidak pernah membesarkan seorang predator sepertimu, Arsen!"
"Saya mencintai Luna, Pa..." ucap Arsen dengan suara serak, meski rahangnya terasa sangat sakit. Ia menatap Papa Arga tepat di mata, tidak ada lagi rasa takut, yang ada hanyalah ketegasan pria dewasa yang sedang mempertahankan hidupnya. "Hukum saya sesuka Papa, tapi tolong dengarkan kami sekali ini saja."
"CINTA?!" Papa Arga tertawa sinis, suaranya memenuhi ruangan apartemen itu. "Kalian itu saudara! Sampai kapanpun dunia tidak akan menerima kalian! Kalian hanya akan menjadi aib!"
Tangisan dan Perlawanan Terakhir
Bunda terus menyeret Luna menuju pintu keluar. Luna menangis histeris, ia mencoba meraih tangan Arsen yang masih berada di bawah cengkeraman Papa.
"Kak Arsen! Tolongin gue!" teriak Luna. Piyama kaosnya yang tipis tersingkap karena tarikan Bunda, memperlihatkan beberapa bekas "tanda" kemerahan di lehernya akibat malam sebelumnya.
Mata Bunda tertuju pada tanda itu. Seketika, Bunda berhenti. Wajah beliau berubah dari marah menjadi sangat lemas. Bunda melepaskan tangan Luna sejenak hanya untuk menutup mulutnya, menahan isakan yang lebih besar.
"Kalian... kalian benar-benar sudah..." Bunda tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Beliau menatap Arsen dengan pandangan yang sangat menusuk. "Arsen, Bunda yang merawat kamu sejak kecil setelah ibu kamu meninggal. Bagaimana bisa kamu melakukan ini pada adikmu sendiri?"
Arsen tertunduk. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada tinju Papa tadi. "Maafin Arsen, Bun."
Papa Arga yang melihat reaksi Bunda langsung menyadari apa yang terjadi. Beliau melepaskan Arsen dengan sentakan kasar hingga Arsen tersungkur kembali. Papa menunjuk wajah Arsen dengan jari gemetar.
"Mulai malam ini, kamu bukan lagi anak saya. Jangan pernah injakkan kakimu di rumah itu, dan jangan pernah coba-coba mencari Luna lagi. Jika Papa melihat wajahmu dalam jarak satu kilometer dari Luna, Papa pastikan kamu membusuk di penjara!"
"PAPA JANGAN!" Luna berlutut di kaki Papanya, memohon dengan sangat memilukan. "Pukul aku aja Pa, tapi jangan buang Kak Arsen! Luna yang salah! Luna yang nakal!"
Papa Arga tidak peduli. Beliau membantu Bunda menarik Luna secara paksa keluar dari apartemen itu. Luna diseret menyusuri lorong apartemen, suaranya yang memanggil-manggil nama Arsen menggema pilu, hingga akhirnya ia dipaksa masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu di lobi.
Arsen hanya bisa terduduk di lantai apartemennya yang kini terasa sangat luas dan hampa. Ia menyentuh sudut bibirnya yang berdarah, menatap pintu yang terbuka lebar. Ia baru saja merasakan surga selama dua hari, dan kini ia dilemparkan kembali ke neraka yang paling dalam. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, sang Singa Kaku itu bersumpah: ini bukan akhir. Ia akan merebut kembali miliknya, tidak peduli seberapa hancur ia nantinya.