NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Pagi itu, paviliun tamu agung yang ditempati Freya berubah menjadi arena ujian kesabaran tingkat dewa. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik, namun aroma gosong sudah tercium hingga ke selasar.

Putri Sherena masuk ke kamar Freya dengan wajah yang lebih merah dari sambal terasi. Ia mengenakan celemek renda yang tampak sangat tidak cocok dengan gaun sutranya, dan tangannya gemetar membawa nampan perak berisi sarapan. Di belakangnya, Kholid berdiri dengan wajah lesu, siap dengan seragam "Aspri" kebanggaannya.

"Ini sarapanmu," desis Sherena, meletakkan nampan itu dengan sentakan kasar di meja samping tempat tidur Freya.

Freya, yang duduk bersandar di bantal empuk dengan kaki terbalut gips yang disangga estetik, melirik nampan itu dengan tatapan menilai ala juri kompetisi memasak internasional. Ia mengambil sesendok omelet yang warnanya agak kecokelatan di pinggirnya.

Begitu makanan itu menyentuh lidahnya, Freya langsung memasang wajah horor.

"Duhh! Ini keasinan, Sherena! Gue nggak suka asin, bikin darah tinggi tahu nggak! Lo mau gue stroke muda ya?" Freya meletakkan kembali sendoknya dengan bunyi denting yang nyaring.

"Aku sudah mengikuti resep!" bela Sherena dengan suara melengking.

"Resep dari mana? Laut mati?" cibir Freya. Ia kemudian mencicipi bubur manado di mangkuk sebelah. "Ih, ini juga... terlalu manis! Lo kasih gula berapa kilo sih? Gue mau sarapan, bukan mau buka puasa!"

Freya mendorong nampan itu hingga hampir jatuh dari meja. "Ini makanan apa sih? Nggak enak banget kelihatannya. Estetikanya nol besar! Mana ada calon permaisuri dikasih makan yang bentuknya kayak adukan semen begini? Ganti! Buat lagi yang bener!"

Sherena mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Freya, aku sudah berdiri di dapur sejak jam 5 pagi!"

"Terus? Lo mau dapet medali penghargaan? Buruan ganti atau gue panggil Kai sekarang juga buat liat performa 'pelayan' barunya ini," ancam Freya sambil mengangkat ponselnya dengan santai.

Sherena menghentakkan kakinya dan keluar dari kamar dengan geraman tertahan.

Tamasya Kupu-Kupu dan Aspri yang Merana

Setelah "insiden" sarapan yang melelahkan, Freya menoleh ke arah Kholid yang sejak tadi diam seperti patung pajangan.

"Aspriiiii! Jangan bengong aja lo! Buruan sini, dorong kursi gue. Gue pengen ke taman liat kupu-kupu! Di sini pengap, bau masakan gosong adek lo itu masih nempel di gorden," perintah Freya.

Kholid menghela napas panjang—mungkin napas ke-100-nya sejak pagi tadi. Ia melangkah maju, memegang pegangan kursi roda Freya, dan mulai mendorongnya keluar menyusuri koridor.

"Bisa pelan-pelan nggak? Ini gips gue kalau kena guncangan sakit tahu!" omel Freya saat mereka melewati sambungan ubin yang agak menonjol.

"Jalanan istana ini sudah yang paling rata di seluruh negeri, Freya," sahut Kholid dingin.

"Banyak protes lo ya! Cepetan, itu ada kupu-kupu warna biru di deket pohon kamboja, kejar!"

Kholid terpaksa berlari kecil mendorong kursi roda itu hanya demi mengejar seekor serangga. Para pelayan dan pengawal yang mereka lewati harus berjuang keras menahan tawa. Pangeran Kholid, yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat tinggi, kini terlihat seperti supir taksi kursi roda yang kewalahan menghadapi penumpang yang cerewet.

Saat mereka tiba di tengah taman, Freya menyuruh Kholid berhenti tepat di bawah bayangan pohon besar. Ia menatap Kholid dan Sherena (yang baru saja datang membawa segelas jus jeruk—kali ini dengan wajah sangat ditekuk).

"Gimana? Pangeran dan Putri masih mau ngerjain gue? Masih mau main minyak di lantai?" tanya Freya dengan nada kemenangan yang mutlak. "Enak kan jadi rakyat jelata yang harus melayani? Inget ya, ini baru hari pertama hukuman kalian."

Kholid terdiam, sementara Sherena hanya bisa memberikan jus itu dengan tangan gemetar. Mereka menyadari satu hal: Freya Aurelia bukan hanya seorang pelukis yang "liar", tapi dia adalah lawan yang sangat cerdik.

"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali di taman?"

Suara bariton itu membuat Sherena dan Kholid seketika berdiri tegak dan membungkuk hormat. Kaisar muncul dengan kemeja biru navy yang rapi, aura kepemimpinannya langsung mendominasi suasana.

"Eh, Kai! Sini, sini!" Freya melambaikan tangan dengan ceria, kontras dengan wajah muram dua saudaranya. "Liat nih, pelayan dan aspri aku lagi kerja bakti. Tadi Sherena bikinin aku bubur... ya walaupun rasanya kayak air laut campur sirup sih, tapi aku hargai usahanya."

Kaisar melirik ke arah Sherena yang tampak berantakan dengan sedikit noda tepung di pipinya, lalu ke arah Kholid yang berkeringat.

"Apakah mereka melayanimu dengan baik, Freya?" tanya Kaisar sambil berjalan mendekati kursi roda Freya. Ia secara alami mengambil alih pegangan kursi roda itu dari tangan Kholid.

"Ya gitu deh, Kai. Masih butuh banyak training. Kholid tadi dorongnya kurang smooth, kalau kamu yang dorong pasti lebih enak," ujar Freya manja—setengah akting untuk memanasi Kholid, setengah memang merasa nyaman.

Kaisar menatap Kholid dan Sherena dengan tajam. "Jika kalian merasa tugas ini terlalu berat, aku bisa meminta Buyut untuk memindahkan kalian ke unit pemeliharaan kuda di luar kota. Di sana kalian tidak perlu memasak, cukup membersihkan kandang."

"Ti-tidak, Kak! Kami akan melakukan tugas ini dengan lebih baik!" jawab Sherena cepat-cepat. Membersihkan kandang kuda jauh lebih mengerikan daripada menghadapi omelan Freya.

"Bagus. Sekarang kembali ke tugas kalian. Sherena, siapkan teh sore untuk Freya, pastikan suhunya tepat 70 derajat. Kholid, bersihkan semua sepatu lukis Freya yang terkena cipratan cat kemarin," perintah Kaisar mutlak.

Begitu Kholid dan Sherena pergi dengan langkah lesu, Kaisar perlahan mendorong kursi roda Freya menyusuri jalan setapak taman yang lebih sunyi.

"Kamu senang menjahili mereka?" tanya Kaisar, suaranya kini melembut, hanya untuk pendengaran Freya.

"Seneng banget! Habisnya mereka keterlaluan, Kai. Kaki aku beneran sakit tahu," jawab Freya, kali ini jujur. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, menatap wajah Kaisar dari bawah. "Makasih ya, kamu selalu dukung aku, walaupun aku kadang keterlaluan sama adek kamu."

Kaisar menghentikan kursi roda itu di depan kolam teratai. Ia berjongkok di depan Freya, memeriksa gipsnya. "Aku tidak mendukungmu karena kamu benar, Freya. Aku mendukungmu karena aku tidak tahan melihatmu terluka. Sherena dan Kholid harus belajar bahwa setiap tindakan punya konsekuensi."

Kaisar kemudian meraih tangan Freya, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Lusa adalah hari ke-25. Hanya tersisa lima hari lagi dari perjanjian awal kita."

Freya terdiam. Candaannya tadi menguap. "Iya... nggak krasa ya."

"Apakah kamu masih ingin kembali ke kehidupanmu yang lama? Tanpa aspri yang bisa kamu suruh-suruh, tanpa dress-dress cantik, dan... tanpa aku?" tanya Kaisar, matanya menatap dalam ke mata Freya, mencari jawaban yang selama ini ia takutkan.

Freya menggigit bibirnya. "Aku kangen studio aku yang berantakan, Kai. Aku kangen makan nasi padang pake tangan tanpa diliatin pengawal. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Tapi aku kayaknya bakal kangen sama robot kaku yang suka ngatur-ngatur hidup aku ini," bisik Freya pelan, wajahnya memerah hebat.

Kaisar tersenyum—senyum yang paling tulus yang pernah Freya lihat. Ia berdiri dan mengecup kening Freya dengan lembut. "Kalau begitu, jangan pergi. Tetaplah di sini, jadilah bidadari di istanaku yang membosankan ini. Aku janji, setelah kaki kamu sembuh, aku sendiri yang bakal nemenin kamu makan nasi padang setiap hari kalau itu yang kamu mau."

Freya tertawa kecil, air mata haru sedikit mengintip di sudut matanya. "Janji ya? Pake rendang yang banyak bumbunya?"

"Janji," sahut Kaisar mantap.

Di kejauhan, Ethan yang sedari tadi mengintip dari balik pohon kamboja hanya bisa geleng-geleng kepala. "Waduh, fix ini mah. Perjodohan gila berakhir jadi cinta beneran. Gue kudu siap-siap jadi saksi nikah kayaknya!"

Satu minggu lagi menuju garis akhir, dan Freya Aurelia sadar bahwa meskipun kakinya sedang sakit, hatinya justru sedang berlari menuju masa depan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣🤣🤣MasyaaAllah.. 👍
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!