“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 - CH 1 : Dapur yang Tidak Pernah Tidur
"Lima ratus perak!"
Suara bariton itu memecah keheningan atau lebih tepatnya, kebisingan di dapur ruko lantai dua itu. Suara mixer yang berdengung kalah kencang sama teriakan laki-laki yang sedang memegang butir telur ayam dengan tatapan nyalang.
Bara Mahendra. Koki, pemilik, sekaligus menteri keuangan yang paling pelit di muka bumi, sedang mengalami krisis eksistensial pagi ini.
"Bayangin, Tang," Bara menoleh ke arah gadis berambut pink neon yang sedang sibuk dengan HP-nya di pojokan. "Telur naik lima ratus perak per kilo. Kalau sebulan kita pakai seratus kilo, itu rugi lima puluh ribu! Lima puluh ribu itu bisa buat beli bensin Si Putih dua hari!"
Lintang, si gadis rambut neon, bahkan nggak repot-repot mendongak dari layar HP-nya. Jempolnya menari lincah di atas keyboard.
"Mas Bara, please deh. Lima ratus perak doang diributin. Mental health aku kena nih denger Mas ngomel pagi-pagi," sahut Lintang santai. Dia mengarahkan kamera HP ke wajah Bara yang lagi kusut. "Tahan ekspresinya, Mas. Anger issue Mas Bara tuh engagement-nya tinggi di TikTok."
"Heh! Jangan direkam!" Bara melotot, tapi tangannya dengan cekatan memecahkan telur itu ke dalam mangkuk stainless. Crak. Satu tangan. Sempurna. Kuning telurnya bulat utuh, nggak ada cangkang yang ikut masuk.
Dapur Bara’s Kitchen memang bukan dapur hotel bintang lima. AC-nya cuma pajangan karena mati sejak zaman presiden sebelumnya. Udaranya panas, bau margarin campur keringat, dan dindingnya penuh tempelan bon belanjaan. Tapi di sinilah keajaiban dan kekacauan terjadi setiap hari.
Pintu besi di belakang terbuka dengan suara krieeet panjang yang menyakitkan telinga.
Seorang bapak-bapak dengan jaket ojol lusu dan kumis baplang muncul. Napasnya ngos-ngosan kayak habis lari maraton, padahal cuma naik tangga dua lantai. Dia memanggul karung tepung terigu di pundak kirinya.
"Assalamu’alaikum... aduh, Gusti..." Mang Ojak menurunkan karung itu di lantai dengan bunyi brukk. Dia langsung menyeka keringat di dahinya pakai ujung lengan jaket. "Den Bara, kopi item dong. Napas tua butuh bensin nih."
Bara mendengus, tapi tetap mengambil gelas kaleng, menuang bubuk kopi sachet (yang dia beli grosiran biar murah), dan menyeduhnya dengan air panas dispenser.
"Gula dipisah kan, Mang?" tanya Bara.
"Dicampur atuh, Den. Biar manis kayak Eneng Lintang," Mang Ojak nyengir kuda, memamerkan giginya yang agak kuning kena noda tembakau.
Lintang yang namanya disebut langsung menoleh sambil nyengir lebar. "Mang Ojak bisa aja! Nanti Lintang tambahin bonus gorengan di jalan pulang, ya!"
"Jangan dimanjain, Tang. Nanti kebiasaan," potong Bara ketus sambil menyodorkan gelas kopi ke meja kayu yang sudah penuh goresan pisau.
Suasana hening sebentar. Hanya ada suara Bara yang kembali fokus mengocok adonan bolu pesanan Ibu RT komplek sebelah. Gerakannya cepat, efisien, dan irit tenaga. Bagi Bara, setiap kalori yang terbuang harus menghasilkan cuan.
Tiba-tiba, HP Lintang berbunyi. Bukan nada dering WA biasa, tapi notifikasi khusus DM Instagram yang bunyinya Ting-Ting!
Lintang langsung melompat dari kursi baksonya.
"Mas! Mas Bara! Dia nge-DM lagi!"
Bara berhenti mengocok adonan. Keningnya berkerut. "Siapa? Debt collector online?"
"Bukan! Si Akun Anonim itu lho! Yang profilnya gambar kucing blur!" Lintang menyodorkan HP-nya ke muka Bara.
Bara memicingkan mata, membaca pesan di layar retak HP Lintang.
User102938: Pagi, Kak. TF sudah masuk ya. Saya pesan 5 kotak Donat Kampung isi 8. Tolong yang hangat.
"Cek mutasi," perintah Bara dingin. Tangannya otomatis merogoh saku celana kargo, mengeluarkan kalkulator Casio butut andalannya. "Jangan percaya omongan doang. Zaman sekarang banyak penipuan bukti transfer palsu. Inget kasus Kue Sus fiktif bulan lalu? Rugi bandar kita."
Lintang dengan sigap membuka mobile banking di HP operasional toko. Matanya membulat di balik kacamata Harry Potter-nya.
"Mas... beneran masuk," bisik Lintang. "Dan... jumlahnya dilebihin seratus"
Detik itu juga, aura Bara berubah. Matanya yang tadi sayu langsung berbinar hijau seperti warna duit seratus ribuan. Rasa kantuknya hilang seketika.
"Tapi ada catatannya lagi di bawah, Mas," lanjut Lintang, jarinya menggeser layar ke bawah. "Dia bilang... 'Tolong bagikan 5 kotak ini ke 5 alamat berbeda yang saya kirim. Satu kotak untuk satu rumah. Pastikan sampai ke tangan mereka langsung.'"
Kening Bara berkerut. "Hah? Jadi kita disuruh jadi sinterklas donat?"
Lintang mengangguk semangat. "Iya! Liat nih alamatnya, Mas."
Bara merebut HP itu. Dia membaca daftar lokasi yang dikirim si Anonim.
Gubuk Nek Ijah (Ujung Desa, bawah jembatan gantung).
Pos Ronda Pasar Lama (Anak-anak pemulung).
Kontrakan Ibu Sari (Dekat pasar).
Bu Lastri (Rumah Bawah Beringin Besar)
(Alamat terakhir dikosongin/menyusul?)
"Kurang kerjaan," gumam Bara sambil mengembalikan HP ke Lintang. "Tapi duitnya udah masuk kan?"
"Udah, Mas! Bersih!"
"Yaudah, sikat," kata Bara tegas. Dia menggulung lengan kaos hitamnya, memperlihatkan bekas luka bakar berbentuk bulan sabit di lengan kirinya. "Panasin minyak. Kita bikin donat paling enak se-kecamatan."
"Pake adonan sisa kemarin aja, Mas? Masih ada di kulkas kok," usul Lintang polos. "Kan Mas Bara bilang harus hemat bahan."
Bara menatap Lintang tajam, lalu menggeleng pelan.
"Jangan. Pake tepung baru," jawab Bara sambil mengambil mangkuk besar.
"Lho? Tumben?" Lintang bingung. "Kesambet apaan Mas Bara jadi boros gini?"
"Tepung yang di kulkas itu... feeling gue raginya udah mati," Bara beralasan, padahal Lintang tahu persis ragi itu masih bagus. "Lagian, orang ini bayar lebih buat amal. Dosa kalau kita kasih barang sisa. Prinsip dagang: Ada rupa, ada harga."
Mang Ojak yang sedang menyeruput kopinya cuma geleng-geleng kepala. "Dasar Den Bara. Bilang aja gengsi kalau masakannya dibilang nggak enak sama orang susah."
Bara pura-pura nggak dengar. Dia mulai menuang tepung terigu ke meja stainless.
Gerakannya berubah. Bukan lagi gerakan kasar koki warung yang buru-buru. Bara memperlakukan adonan itu dengan hormat. Dia menguleni dengan irama yang pas tarik, lipat, tekan. Tarik, lipat, tekan. Keringat mulai menetes dari pelipisnya, tapi dia nggak berhenti sampai adonannya kalis sempurna, halus seperti kulit bayi.
Satu jam kemudian, aroma manis mulai memenuhi ruangan sempit itu.
Bau ragi yang bertemu minyak panas, disusul wangi gula halus yang menenangkan. Donat-donat itu mengembang sempurna di wajan, berubah warna dari putih pucat menjadi golden brown yang menggoda iman. Kemudian, ditambahkan toping pemanis yang membuatnya makin terlihat menggoda.
"Gila..." Lintang menelan ludah sambil menata donat-donat itu ke dalam lima kotak kardus polos. "Wanginya jahat banget, Mas. Boleh nyomot satu nggak?"
"Bayar," sahut Bara pendek sambil mematikan kompor. "Tiga ribu lima ratus. Friend price jadi lima ribu."
"Kok malah mahal?!"
"Biaya jasa temen deket."
Lintang manyun, tapi tangannya tetap cekatan menutup kotak-kotak itu dan menempelkan stiker logo Bara’s Kitchen yang desainnya dia bikin sendiri di Canva gratisan.
"Udah siap semua?" tanya Bara sambil melepas apron dekilnya.
"Siap, Komandan! Lima kotak, lima target!" Lintang hormat.
"Mang, panasin Si Putih. Kita berangkat sekarang. Rutenya panjang nih."
Mang Ojak langsung meletakkan gelas kopinya yang sudah tandas. "Siap, Den! Tapi doain ya, aki-akinya lagi ngambek kayaknya."
Mereka bertiga turun ke parkiran ruko. Di sana, terparkir sebuah mobil Daihatsu Espass putih yang catnya sudah mengelotok di sana-sini, membuatnya terlihat seperti kaleng kerupuk berjalan.
Mang Ojak membuka pintu depan, langsung disambut hawa panas dari mesin yang letaknya persis di bawah jok sopir. Dia memutar kunci kontak.
Ceklek. Ngggik. Ngggik.
Hening. Mesinnya nggak nyala.
"Yah... elah," Bara memutar bola mata. "Mang, bulan kemarin kan baru ganti aki?"
"Biasa, Den. Dia minta disayang dulu," Mang Ojak menepuk dashboard mobil itu dengan penuh kasih sayang, tepat di atas speedometer yang jarumnya sudah mati suri. "Ayo dong, cantik. Jangan malu-maluin di depan Den Bara. Nanti Abah beliin bensin Pertamax deh, janji. Bohong dikit nggak apa-apa lah ya."
Ajaib. Saat Mang Ojak memutar kunci lagi, mesin di bawah pantatnya menderu hidup. Brumbbb! Knalpotnya mengepulkan asap hitam tipis, bikin bodi mobil bergetar hebat kayak lagi menggigil.
"Berangkat!" seru Mang Ojak girang.
Bara duduk di kursi penumpang depan sambil memangku tumpukan kotak donat agar tidak terguncang.
SREEEKK!
Suara pintu geser samping dibuka paksa. Lintang melompat masuk ke kabin tengah, lalu memajukan kepalanya di antara sandaran kursi Bara dan Mang Ojak.
"Posisi aman, Komandan! AC alam sudah dibuka lebar-lebar!" lapor Lintang sambil membiarkan jendela sampingnya terbuka full.
Mobil tua itu melaju perlahan meninggalkan pelataran ruko, membelah jalanan sore yang mulai macet dengan suara mesin yang khas.
"Mas," panggil Lintang dari belakang, suaranya harus bersaing dengan suara mesin mobil yang berisik. "Alamat pertama ke mana nih? Gubuk Nek Ijah?"
Bara membuka secarik kertas di tangannya. Dia menatap daftar lokasi yang baru saja disalin Lintang dari DM Instagram tadi. Lima titik yang tersebar di sudut-sudut kota yang jarang dijamah layanan delivery.
"Iya, ke ujung desa dulu, Mang," kata Bara pelan, matanya menatap jalanan di depan yang mulai temaram. "Gue punya firasat... hari ini bensin kita bakal abis banyak."