NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Rasa Percaya Dirinya

Pukul delapan pagi.

KRIIIIINGGGG!

Aku terbangun super kaget. Tanpa sadar aku terbangun tegap dan mencari jam weker yang berbunyi super nyaring hingga mengganggu seluruh manusia di muka bumi ini. Aku yang bodoh atau jam ini memutar alarmnya sendiri ke pukul delapan, aku juga tak mau memikirkan hal tersebut. Aku harus mengecek ulang proposalku dan bersiap untuk presentasi siang di depan bosku yang perfeksionis.

Pukul sebelas siang.

“Hai, Najma! Apa kabar, lo?”

Gian yang begitu segar dengan rambut kriting dan pipi tembemnya itu menyapaku. Aku memalingkan muka dan beranjak dari bangkuku menuju pantry untuk mencari segelas coklat panas sesi pagi hari.

Sekembalinya menuju meja kerjaku, ada susu kotak dan roti sobek yang kutahu dari siapa dua benda ini berasal.

“Gian! I Love you!”

“Heh! Jangan sembarangan kalau ngomong. Gue udah punya pacar. Bikin gosip aja!” ujarnya lalu tersenyum dan menaikkan satu alis matanya padaku.

“Thank you, ya! Semoga lo cepet nikah sama pacar lo.”

“Doain-nya yang spesifik dong!”

“Ih banyak komentar deh! Ya udah, semoga lo cepet nikah besok sama pacar lo!”

Gian pun berubah menjadi simpanse dan memberikan ekspresi paling menyebalkan di dunia.

Pukul dua siang.

Semua sudah duduk di bangku yang tersedia dan memenuhi satu meja besar sehingga membuat ruangan ini tampak sempit seperti gang senggol yang paling aku benci. Aku berdiri di samping papan tulis putih dan bersiap mempresentasikan apapun yang muncul dari sinar proyektor di depanku. Kutatap satu persatu teman-teman satu timku yang melihatku dengan ekspresi bermacam-macam. Lalu entah karena efek kurang tidur, perlahan kulihat wajah Gian seperti Bitzer sang anjing dan sisanya seperti kawanan Shaun si domba dan teman-temannya (petunjuk : tontonlah Shaun The Sheep).

Tidak lama kemudian Pak Bos Perfeksionis datang dengan wajah The Farmer dan menatapku lucu. Wajahnya kembali menjadi asli ketika duduk persis di depanku dan menyilangkan salah satu kakinya ke kaki yang lain.

“Yuk, Najma. Mulai.”

Mungkin kalian akan bertanya mengapa aku seperti takut kepada Pak Bos Perfeksionis yang selalu mengingikan hasil yang luar biasa dariku. Sebenarnya tampangnya tidak seram dan ia selalu tersenyum kepada siapa saja. Memang agak angkuh karena kalimatnya selalu membanggakan diri tentang kekayaan yang ia miliki dan relasi yang ia punya di planet ini. Tapi satu hal yang paling signifikan tentangnya adalah bagaimana cara dia menilai dan mengakurasi hasil kerjaku. Dua bulan pertama aku bekerja di sini, aku selalu menangis di kamar mandi dan tidak berani keluar selama tiga puluh menit karena malu.

“Oke, Pak.”

Aku mulai mempresentasikan slide demi slide presentasi yang kubuat super instan selama satu malam. Pada dasarnya aku akan membuat satu aktivitas anak muda di lapangan kampus dengan membuat satu pulau khusus dan akan aku isi banyak permainan fisik di dalamnya.

“Tadi apa insight-nya?”

“Anak muda itu suka hal yang keren karena butuh pengakuan dari lingkungannya. Makanya, kita bisa buat sesuatu yang rewarded dan bikin mereka semangat seperti mendapatkan achievement gitu, Pak.”

“Kalo gue bilang sih, dari slide keenam proposal lo nggak akan menang.”

Aku diam, semua juga diam.

“Kenapa, Pak?”

“Loh, jelas dong? Kok nanya lagi? Make it better ya.”

Lalu ia pergi dan diikuti oleh yang lain. Semua melihat wajahku dengan prihatin, namun mulut mereka hanya tersenyum dan tidak mengucapkan kata-kata penyemangat sekalipun. Kecuali, Gian.

“Ma.”

“Gue nggak apa-apa, kali.”

“Mau beli kentang lagi, nggak?”

Aku hanya tersenyum dan mencubit lengan Gian yang gempal.

**

Semesta, aku merasa sangat kosong hari ini. Sudah tidak tidur, tidak mandi, tidak juga sarapan nasi, aku merasa bahkan mungkin tidak ada yang merindukanku sedikitpun. Bagaimana ini? Tidak sukses di percintaan – apakah aku juga tidak akan sukses di bidang pekerjaan?

Semesta? Bahkan engkau tidak ingin menjawabku?

Najma dan Aga di bukit plasa kampus

“Aga!”

“Lama deh! Gue udah jamuran nih!”

“Haha! Lihat mana coba yang berjamur?”

Aga tertawa dan membentuk gestur perlindungan diri. Aku duduk di sampingnya untuk ikut serta melihat pemandangan kampus yang masih ramai. Hari di mana semua tampak kuliah di waktu yang bersamaan. Aku sempat melambaikan tangan pada beberapa teman yang melihatku di semi bukit area kampus, dan ketika itu aku baru sadar Aga sudah menatapku sebelum aku melihat ke arahnya.

“Aga, cita-cita lo apa?”

“Gue? Hm, apa ya? Mungkin, jadi suami yang baik. Hahaha.”

“Mungkin?”

“Iya, kan kita nggak pernah tahu.”

“Buat gue, cita-cita itu adalah kepastian. Untuk itulah kita diciptakan punya motivasi dan harapan sebagai penunjang terwujudnya cita-cita. Kemungkinan hanya milik orang yang nggak tahu akan jadi apa nanti.”

“Bisa jadi. Tapi sebagai manusia kita kan hanya perencana. Bagaimanapun ada yang maha kuasa sebagai pemberi keputusan untuk bisa tercapai atau tidak.”

“Tapi Tuhan nggak akan membantu lo kalau lo nggak berusaha merubah nasib lo sendiri. Lagipula, manusia macam apa yang minta tolong Tuhan hanya untuk urusan cita-cita?”

mulut Aga mengaga. Aku tertawa kemudian dan mencubit hidungnya lama.

“Suatu hari, ketika gue lulus nanti gue akan menjadi Najma yang sangat bahagia. Najma yang memiliki pekerjaan di mana gue bisa keliling Indonesia dan keliling dunia. Di mana gue merasa jadi wanita sepenuhnya: mandiri, cantik, dan mengagumkan untuk siapapun yang melihat gue.”

Aga tersenyum dan membenarkan poniku. Aku merasa jantungku berdetak lebih kencang dua kali lipat. Tatapan Aga kepadaku begitu hangat dan indah hingga aku tak ingin kehilangannya sedetik pun.

Najma di plasa gedung perkantoran

Air mataku jatuh bergantian, aku menutup wajahku dengan kedua tangan sambil duduk bersembunyi di plasa gedung yang membelakangi kafetaria. Bukan hanya karena insiden siang ini yang membuat lubang hatiku bertambah dalam, melainkan ingatanku pada Aga yang tidak juga pudar. Aku menangis tersedu sendirian di siang terik yang tertutupi kanopi biru muda.

Aku begitu merindukannya hingga pada skala merelakan tubuhku jatuh dari gedung setinggi tiga puluh lantai.

**

Kubuka pintu kamarku yang tampak berubah setelah dua hari satu malam kutinggalkan. Kulihat sudah banyak jaring laba-laba memenuhi langit-langit dan ular Anaconda yang meniduri kasurku. Walaupun ketika aku merebahkan diri ke atasnya semuanya hilang bagai butiran debu.

Aku meraih ponsel di tas biruku, lalu mencari nomor Magi untuk berusaha kembali jadi manusia yang benar, yaitu berkeluh kesah kepada siapapun yang dipercaya. Tapi malang teleponnya tidak tersambung walau sudah tiga kali aku mencobanya. Lalu, aku menghubungi Iman yang langsung berbunyi dengan suaranya yang serak dan dalam.

“Iya, Iman ganteng di sini.”

“Lagi apa?”

“Ciye. Mau pedekate, ya?”

“Ih, apa sih? Gue mau nangis!”

“Kenapa lagi?”

“Worst day ever! Gue merasa nggak berguna jadi manusia di dunia ini.”

“Bos lo lagi?”

“Yap.”

“Ya udah, sumpahin aja biar cerai.”

“Jahat banget!”

“Abis dia jahat juga sama lo.”

“Dia bilang gue nggak akan menang. Dia bilang semuanya sia-sia. Gue udah nggak tidur semaleman, dan berencana untuk malam ini juga.”

“Jadi mau gue temenin malam ini?”

“Ngapain, ya?”

“Yakali butuh radio butut.”

“Hahaha! Muka lo butut!”

“Najma, oke ya kita putus.”

“APA SIIIIIH!”

“Jangan percaya sama bos lo. Dia kan bukan klien lo, jadi nggak usah dipikirin. Buktiin kalau dia salah, buktiin aja kalau lo lebih baik dari tong kosong nyaring bunyinya.”

“Thank you ya, Iman.”

“Bayarlah 20.000.”

“Dasar matre.”

“Tapi suka, kan?”

“Lo kenapa sih, Man? Aneh banget. Ya udah deh, sesi curcol selesai. Gue mau mandi terus ngerjain lagi.”

“Selamat lembur.”

KLIK.

Memang, Iman ini sifatnya dual fungsi. Selain bikin sebal, ia juga paling bisa membuatku ceria kembali.

**

Aku tak menyesal menelepon Iman barusan. Walaupun kadang ngawur, tapi Iman mampu membuatku merasa jauh lebih baik di saat-saat seperti ini. Memang kadang ucapannya sering membuatku kesal, tapi karena ia adalah orang yang paling jujur di dunia. Hal yang selalu aku ingat dari Iman ketika aku marah dengan kejujurannya:

“Najma, berkatalah jujur walaupun pahit kata Nabi juga. Hal tersebut adalah salah satu bentuk pencapaian gue untuk masuk surga karena disuruh Nabi. Lo mau ikut nggak sama gue ke surga nanti?”

Aku membuka lemari baju dan memulai aksi menyenangkan diri sendiri di malam yang merdu atas bantuan hujan yang sudah mereda dan meninggalkan rintik-rintik di sekitar jendela kamarku. Kucari little white dress dengan renda yang super cantik untuk kupakai sehingga tubuhku benar-benar terlihat lekuk tubuhnya. Tidak terlalu langsing sih, tapi tak apalah. Lalu kuurai rambutku yang panjang sedada dengan poni menutupi alis untuk kuhias dengan mahkota bunga-bunga plastik yang melingkar di kepalaku. Aku memakai lip tint warna ceri dan kupakaikan sedikit ke kedua pipiku. Kemudian, kucari kaos kaki putih renda yang tak pernah kupakai dan kusandingkan dengan sepatu cantik tali warna biru muda. Jangan lupa parfum aroma pohon sakura favorit. Now all is set! Aku seperti Wendy yang begitu digilai oleh Peter pan.

Feeling like I am the most beautiful girl in the world, done!

Kunyalakan laptop warna abuku yang begitu kubenci akhir-akhir ini dan kunyalakan lagu Phoenix yang berjudul If I Ever Feel Better untuk membuat suasana hatiku naik level menjadi tingkat dua daripada sebelumnya. Untuk informasi saja, tadinya skala suasana hatiku senilai nol koma lima sebelum ngobrol dengan Iman, lalu berubah menjadi satu berkat motivasi Iman yang sebenarnya biasa saja, tapi hiburan garing dia itulah yang mendukungnya.

Aku menulis acak di kotretan ‘IIN’ atau dipanjangkan menjadi Ide-Ide Najma, menuliskan apapun yang bisa membantuku untuk menemukan insights berguna untuk project yang sedang kubuat.

Oke, kita mulai.

Objektif dari proyek ini diperuntukkan untuk:

- Anak muda yang sedang menikmati masa-masa kuliah.

- Anak muda yang senang bergaul dengan teman-temannya

- Anak muda yang punya selera keren untuk barang-barang yang ia konsumsi.

Jenis produk yang ingin dipromosikan:

- AMD adalah jenis prosesor komputer yang tidak cepat panas dan tahan lama sehingga cocok untuk anak muda yang senang memakai laptop dalam waktu yang sangat panjang seperti mengerjakan tugas, nonton film, atau main game.

Maksud dan tujuan aktivitas yang ingin dibuat:

- On-ground event keliling kampus di Indonesia yang melibatkan para target pasar dan menjadi ajang mereka supaya mengenali dan membeli produk tersebut.

Ideku sebelumnya adalah kata keren yang berasal dari objektif prosesor AMD tersebut yang ‘dingin’ walaupun dipakai terus menerus, dan semua orang tahu bahwa dingin is cool and cool means “something fashionably impressive”. Anak muda senang dianggap cool karena hal tersebut dapat menaikkan eksistensi mereka. Aku pun kepikiran untuk membuat aktivitas yang memacu mereka untuk merasa keren di akhir acara dari kegiatan-kegiatan yang aktif dan menambah eksistensi mereka di kampus.

Ternyata Pak Bos benar, ideku masih belum ke dasar. Ideku biasa sekali sampai aku merasa lesu karena aku tak bisa menjadi kreatif seperti dia. Aku menarik nafas selama empat hitungan, lalu menahannya selama tujuh hitungan, dan mengeluarkannya pelan-pelan selama delapan hitungan. Kemudian, aku keluar kamar hendak mengambil susu coklat dan berharap kembali dengan kekuatan super.

Baiklah, aku akan menelaah lagi dari kata ‘cool’ yang dimaksud dari ideku sebelumnya.

Cool. Cool. Cool.

Tentu anak muda atau siapapun yang merasa muda di dunia ini senang menjadi individu yang keren karena hal tersebut akan membuat mereka percaya diri dan siap menghadapi segala kekejaman dunia. Apalagi anak kuliahan yang notabene memiliki pikiran bebas dan ekspresif serta kritis dalam mengeluarkan segala pendapatnya tentang apapun.

Namun kadang kehidupan perkuliahan tidak melulu tentang kepemilikan hal-hal keren seperti punya tongkrongan tetap di kantin atau punya pacar yang cantik atau ganteng. Kehidupan perkuliahan lebih kompleks dari itu. Bagaimana dengan mahasiswa yang susah sekali menaikkan nilai IPnya atau sekadar ingin mendapat C untuk hasil ujian? Bagaimana dengan nasib mahasiswa yang cintanya bertepuk sebelah tangan? Bagaimana nasib anak kuliahan yang harus makan obat maag dan mie instan karena kurang uang untuk makan?

Jawabannya, mereka tidak peduli karena kesialan bisa terjadi kapan saja. Mereka percaya badai pasti berlalu dan menganggap semua hanya warna-warni kehidupan mahasiswa. Santai saja.

Cool itu cuek aja. Hidup harus dinikmati.

Aku pun memulai dari nol lagi. Tak masalah, aku sanggup begadang semalaman karena aku yakin tiga jam kemudian pasti selesai. Hidup harus optimis, bukan?

Aku yakin aku pasti menang!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!