Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Tatapan yang Sama
Nayla hanya memberikan senyum tipis yang sarat akan kepedihan batin namun tetap berusaha nampak kuat. "Kalian berdua sudah punya beban masing-masing di luar sana jadi aku tidak mau menambahinya lagi."
Fahmi mendekat dari arah teras belakang sembari membawa sisa semen yang sudah mulai mengering di wadah. Ia mendengar percakapan itu dan hanya bisa menundukkan kepala sembari menghela napas panjang yang sangat berat.
"Kita bakal cari pengurus baru secepatnya supaya kamu nggak kelelahan sendirian di sini Nay." Fahmi memberikan janji dengan suara yang terdengar sangat berwibawa namun penuh dengan rasa empati.
Nayla menggeleng pelan sembari terus melanjutkan pekerjaannya mengaduk sayuran di dalam kuali besar di atas kompor. "Siapa yang mau kerja di sini tanpa gaji tetap di tengah kondisi bangunan yang mau roboh."
Bayu mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan emosi yang kian meluap di dadanya. Ia merasa sangat tidak berguna karena selama ini hanya sibuk memikirkan rasa mindernya terhadap posisi Fahmi.
"Gue bakal cari donatur tetap dari teman-teman lama gue di Jakarta buat bantu operasional panti ini." Bayu akhirnya bersuara dengan nada tegas seolah sedang bersumpah di depan nisan masa lalunya yang kelam.
Nayla menoleh sedikit lalu memberikan tatapan yang sangat dalam seolah sedang mencari kejujuran di mata Bayu. Ia tidak menjawab apa-apa namun setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kemerahan terkena uap panas.
Suasana dapur mendadak menjadi sangat hening dan hanya diisi oleh suara gemericik air dari keran yang rusak. Bayu merasa beban di pundak Nayla kini menjadi tanggung jawabnya juga yang harus ia pikul bersama.
Ia menyadari bahwa perjuangan fisik memperbaiki atap hanyalah sebagian kecil dari masalah besar panti asuhan ini. Masalah yang sesungguhnya adalah bagaimana menjaga agar nyawa di dalam rumah ini tetap bisa bernapas lega.
"Istirahat dulu, Nay. Biar sisa masakan ini gue sama Fahmi yang bantu selesaikan sampai semuanya beres." Bayu mengambil alih sudip kayu dari tangan Nayla dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh hormat.
Nayla segera menggelengkan kepala tanda menolak tawaran bantuan tersebut dengan tegas. Ia mengambil kembali sudip kayu dari tangan Bayu melalui gerakan yang sangat lembut namun tetap terasa begitu kuat.
"Kalian berdua udah cukup sibuk membetulkan atap yang bocor dari tadi siang," Nayla berkata sembari memberikan senyum tipis guna menenangkan batin kedua pria yang berdiri di hadapannya.
Ia menyeka peluh di dahinya menggunakan ujung mukena yang nampak sudah mulai kusam akibat noda dapur. "Biarin aku sama anak-anak aja yang nyiapin makanan untuk buka puasa nanti sore hari."
Fahmi terdiam sejenak sembari menatap kuali besar yang mulai mengeluarkan aroma harum tumisan sayur segar. Ia menyadari bahwa memaksa Nayla untuk beristirahat justru akan membuatnya merasa semakin tidak nyaman saja.
"Yaudah kalau itu mau kamu, Nay." Fahmi akhirnya bersuara sembari memberikan isyarat kepada Bayu untuk segera beranjak pergi dari area dapur yang sempit tersebut.
Bayu pun tidak memiliki pilihan lain selain meletakkan kembali kain lap kusam yang tadi sempat ia pegang erat. Akhirnya Bayu dan Fahmi berinisiatif untuk melakukan pekerjaan lain yang jauh lebih ringan.
Mereka berdua berjalan menuju arah sumur di samping gudang guna membersihkan diri dari debu semen yang melekat. Bayu merasakan air dingin sumur membasuh wajahnya yang kaku akibat sengatan matahari siang tadi.
Fahmi mencuci lengannya yang berotot sembari sesekali melirik ke arah anak-anak panti yang mulai berkumpul di halaman. Suasana panti asuhan sore ini terasa jauh lebih hidup meski tanpa kehadiran dua pengurus senior lainnya.
Waktu salat asar pun tiba saat suara azan mulai berkumandang nyaring dari masjid desa yang letaknya tidak jauh dari sana. Fahmi segera mengajak seluruh anak laki-laki untuk mengambil wudu dan bersiap melaksanakan ibadah di ruang tengah panti.
Bayu berdiri di barisan makmum sembari memperhatikan Fahmi yang kini sudah bersiap memimpin salat asar berjamaah tersebut. Suara Fahmi saat melantunkan ayat-ayat suci terdengar merdu dan memberikan ketenangan luar biasa bagi telinga siapa pun yang mendengar.
Bayu merasakan setiap sujudnya kali ini menjadi jauh lebih bermakna daripada ibadah yang sering ia lakukan di kota besar. Ia seolah sedang mengadukan segala rasa bersalah dan harapannya langsung kepada Sang Pencipta alam semesta yang luas ini.
Setelah selesai salat berjamaah, Fahmi memberikan sedikit nasihat singkat mengenai keutamaan bersyukur di tengah keterbatasan hidup yang ada. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian sembari duduk melingkar di atas lantai semen yang sudah mulai retak dimakan usia.
"Kalian harus ingat bahwa setiap butir nasi adalah rezeki yang harus dijaga," Fahmi berucap sembari menatap satu per satu wajah kecil di depannya.
Rio mengangguk sembari membetulkan posisi sarungnya yang sedikit melorot ke bawah. "Iya, Kak Fahmi. Kami janji nggak akan membuang makanan lagi mulai hari ini."
Fahmi tersenyum mendengar jawaban polos itu lalu mengusap bahu Rio dengan penuh kebapakan. "Bagus. Itu baru namanya anak yang tangguh dan tahu cara berterima kasih."
Waktu terus berlalu hingga saat-saat berbuka puasa yang dinanti akhirnya tiba di ambang senja yang mulai temaram. Semua makanan nampak sudah tersaji rapi di atas meja dapur berkat kerja keras Nayla dan anak-anak panti perempuan tadi.
Fahmi segera memimpin anak-anak laki-laki untuk membantu Nayla meletakkan piring-piring makanan ke atas tikar plastik yang lebar. Mereka menyiapkan ruang depan yang sudah dibersihkan Bayu sejak pagi tadi agar bisa menampung seluruh penghuni panti dengan nyaman.
"Ayo baris yang rapi supaya piringnya nggak ada yang jatuh ke lantai." Fahmi memberikan instruksi dengan nada suara yang sangat tenang namun berwibawa.
Rio dan teman-temannya segera membentuk antrean kecil dari arah meja dapur menuju ruang depan panti. Mereka membawa piring plastik berisi nasi dan lauk pauk dengan langkah yang sangat hati-hati sekali.
Nayla tersenyum melihat kesigapan anak-anak tersebut dalam membantu menyiapkan hidangan buka puasa sore ini. "Terima kasih ya jagoan-jagoan Kak Nayla sudah mau bantu menyiapkan tempat buka puasa kita hari ini."
"Sama-sama Kak Nayla karena kami juga sudah sangat lapar sekali sekarang," Rio menjawab sembari meletakkan piring terakhir tepat di atas tikar plastik biru.
Bayu ikut membantu membawakan nampan berisi gelas-gelas air mineral jernih yang tadi baru saja ia beli di pasar desa. Ia menata gelas-gelas itu di setiap sudut tikar agar anak-anak mudah menjangkaunya saat berbuka nanti.
"Gue taruh airnya di sini ya, Mi, supaya nggak gampang kesenggol kaki mereka." Bayu berucap sembari meletakkan nampan kayu itu di samping bakul nasi yang masih mengepul hangat.
Fahmi mengangguk sembari merapikan posisi duduk anak-anak agar ruang depan yang sempit itu bisa menampung semua orang. "Boleh, Bay. Tolong cek juga, sendoknya udah cukup untuk anak-anak perempuan di barisan belakang."
Suasana gotong royong itu menciptakan sebuah pemandangan yang menyentuh hati siapa pun yang melihatnya dengan tulus. Bayu berdiri sejenak sembari memperhatikan Nayla yang nampak sangat telaten menuangkan kuah sayur ke piring anak yang paling bungsu.
"Duduk, Bay, sebentar lagi waktunya azan magrib dari masjid," Nayla mengajak Bayu dengan suara yang lembut sembari menunjuk satu ruang kosong di samping Rio.
Bayu segera duduk bersila di atas lantai semen yang dingin sembari terus mengamati kesibukan kecil di dalam rumah tersebut. Ia merasakan kedamaian yang sangat nyata meski batinnya masih menyimpan sedikit rasa tidak percaya diri.
Mereka akhirnya duduk melingkar dan mulai melaksanakan buka puasa bersama dengan penuh rasa syukur yang mendalam. Suara denting sendok dan piring beradu dengan tawa kecil anak-anak yang nampak gembira pada malam hari ini.
Bayu merasakan sebuah ketenangan batin yang luar biasa saat melihat anak-anak tersebut makan dengan lahap. Ia menyadari sepenuhnya bahwa bahan makanan ini adalah hasil dari jerih payahnya bekerja di depan laptop kemarin pagi.
Tiba-tiba suara azan magrib berkumandang dengan sangat merdu dari arah masjid desa di ujung jalan. Seluruh percakapan di ruang tengah itu seketika berhenti berganti dengan suasana yang sangat khidmat.
Fahmi segera mengangkat kedua telapak tangannya sembari menundukkan kepala dengan penuh rasa takzim. "Ayo anak-anak. Mari kita ucapkan doa berbuka puasa bersama-sama sekarang juga."
Bayu mengikuti gerakan tersebut sembari memejamkan matanya rapat guna meresapi setiap kalimat doa yang terucap. Suara riuh rendah anak-anak panti yang melafalkan doa berbuka terdengar sangat menyentuh relung sukmanya.
"Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa 'ala rizqika afthartu." Suara Nayla terdengar paling lembut di antara koor doa yang menggema di ruangan tersebut.
Bayu merasakan dadanya bergetar hebat saat mengamini doa tersebut sembari membayangkan perjuangan hidup mereka semua. Ia meraih segelas air mineral jernih lalu membatalkan dahaganya dengan satu tegukan yang sangat panjang.
Rasa dingin air itu seolah membasuh seluruh lelah yang sempat menghinggapi raganya sejak bekerja di atas atap tadi. "Segar banget Kak Bayu airnya," Rio berucap sembari menyeka sisa air di bibir mungilnya dengan punggung tangan.
Bayu hanya mengangguk pelan sembari memberikan senyum tulus yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain selama ini. Ia mulai menyendok nasi ke dalam piringnya sendiri sembari sesekali melirik ke arah Nayla yang duduk di seberangnya.
Saat itu matanya juga melihat Nayla yang sedang tertawa kecil sembari membagikan sebutir kurma kepada anak perempuan di sampingnya. Bayu menyadari sepenuhnya betapa cantik wajah wanita itu ketika sedang tertawa lepas di bawah cahaya lampu yang temaram.
Namun sudut matanya juga menangkap hal lain yang membuat hatinya seketika mencelos ke dasar yang paling dalam. Ia melihat Fahmi juga sedang memperhatikan Nayla dengan tatapan yang sangat lekat dan juga nampak penuh arti.
Fahmi menatap wanita itu dengan binar mata yang memancarkan kekaguman yang sangat sulit untuk disembunyikan lagi dari siapa pun. Bayu tertegun kaku karena ia menyadari bahwa itu adalah tatapan yang sama seperti cara dia menatap Nayla selama ini.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰