Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sore hari menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus celah gorden kamar.
Permadi menggeliat, perlahan membuka matanya dan mendapati Rengganis sedang menatapnya dengan lembut.
Wajah istrinya sudah jauh lebih segar, meski gurat pucat itu belum sepenuhnya hilang.
"Sudah bangun, Mas?" tanya Rengganis pelan.
Permadi mengangguk, ia membetulkan posisi duduknya namun tetap membiarkan lengannya menjadi bantal bagi Rengganis.
"Jam berapa sekarang?" tanya Permadi.
"Sudah hampir jam lima sore. Kamu tidur sangat nyenyak," ujar Rengganis.
Ia menarik napas panjang, lalu memberanikan diri untuk memulai diskusi yang sejak tadi ia susun di kepalanya.
"Mas, boleh kita bicara jujur? Sebagai suami istri, dan mungkin sedikit dari sudut pandangku sebagai dokter."
Permadi mengerutkan kening, namun ia mengangguk patuh.
"Bicaralah. Aku akan mendengarkan."
Rengganis menyentuh tangan Permadi yang besar.
"Aku tahu, Mas. Aku tahu betapa sulitnya bagimu untuk menahan diri sejak semalam. Sebagai dokter kandungan, aku paham biologimu. Kamu pria berusia 25 tahun dengan tingkat energi yang luar biasa. Apa yang kamu rasakan, dorongan yang begitu kuat itu hal yang wajar secara medis, apalagi untuk pria sepertimu."
Permadi terdiam, sedikit terkejut karena Rengganis membahasnya secara klinis namun tetap penuh empati.
"Mas, semalam itu salahku juga karena tidak mengingatkanmu untuk lebih tenang. Tapi ke depannya, kita harus bekerja sama," lanjut Rengganis.
"Kondisiku yang lecet semalam itu karena kurangnya persiapan ( lubrication ) dan intensitas yang terlalu tinggi secara tiba-tiba dalam waktu lama. Sebagai dokter, aku bisa membantumu mengelola itu nanti. Kita bisa menggunakan bantuan medis atau teknik tertentu agar kamu tetap terpenuhi, tapi aku tetap aman."
Permadi menatap istrinya dengan tatapan yang antara malu, lega, dan kagum.
"Jadi, kamu tidak menganggapku aneh? Atau menganggapku hanya memikirkan nafsu?"
"Tentu tidak, Mas," Rengganis tersenyum tulus.
"Itu bagian dari kebutuhan biologis yang sehat. Tapi, karena kita sudah menikah, kita harus saling menjaga. Aku ingin kamu bahagia, tapi aku juga ingin tetap sehat agar bisa mendampingimu lama. Jadi, saat aku bilang 'pelan-pelan' nanti, tolong didengarkan ya?"
Permadi menunduk, lalu mengecup tangan Rengganis.
"Maafkan aku, Ganis. Aku hanya terlalu bersemangat memilikimu. Aku janji, setelah ini aku akan lebih mengontrol diri. Aku akan belajar menjadi 'pasien' yang baik untuk dokternya."
Rengganis terkekeh, suasana yang tadinya tegang kini mencair.
"Bagus. Kalau begitu, sebagai langkah awal pemulihan, sore ini kita hanya akan menonton film dan makan camilan. Tidak ada yang lain. Setuju?"
"Setuju, Ibu Dokter," jawab Permadi sambil tersenyum nakal, namun kali ini sorot matanya jauh lebih tenang dan penuh pengertian.
Sementara suasana di kamar VVIP rumah sakit mulai menghangat dengan pengertian di antara Permadi dan Rengganis, di Jakarta, sebuah badai besar sedang dipersiapkan.
Laras, dengan sorot mata penuh dendam dan ambisi yang terluka, tidak tinggal diam setelah diabaikan di Labuan Bajo.
Di sebuah ballroom hotel mewah, Laras berdiri di balik deretan mikrofon dari berbagai media hiburan papan atas.
Ia mengenakan pakaian hitam yang memberikan kesan "terzalimi", lengkap dengan riasan wajah yang dibuat pucat seolah-olah ia baru saja melewati masa-masa sulit.
"Terima kasih rekan-rekan media sudah hadir," ucap Laras dengan suara yang sengaja dibuat bergetar.
"Saya hanya ingin meluruskan simpang siur mengenai hubungan saya dan Permadi Wijaya. Seharusnya, saat ini adalah masa-masa persiapan pernikahan kami. Namun, semuanya hancur karena kehadiran orang ketiga."
Lampu flash kamera menyambar-nyambar tanpa henti.
"Dokter Rengganis, dia adalah orang yang merampas calon suami saya. Dia menggunakan posisinya sebagai dokter untuk mendekati Permadi saat ia sedang dalam kondisi rentan. Saya adalah korban di sini, dan saya ingin masyarakat tahu siapa sebenarnya wanita yang saat ini sedang bersama Permadi di Labuan Bajo," lanjut Laras sambil menyeka air mata buayanya.
Berita itu meledak dalam hitungan detik. Headline berita daring mulai dipenuhi judul-judul provokatif.
"Dokter Cantik Rampas Calon Suami Pewaris Wijaya Group!"
Di kamar rumah sakit, ponsel Permadi tiba-tiba berdering nyaring.
Nama "Papa Baskoro" terpampang di layar. Permadi mengerutkan kening, perasaan tidak enak mendadak menyergapnya.
"Halo, Pa?"
"Permadi! Nyalakan televisi sekarang! Chanel berita apa saja!" suara Papa Baskoro terdengar menggelegar dan penuh amarah dari seberang telepon.
"Ada apa, Pa? Kami sedang istirahat—"
"Jangan banyak bicara! Lihat apa yang dilakukan wanita gila itu pada reputasi istrimu dan keluarga kita! Cepat!"
Permadi segera menyambar remote televisi di atas nakas. Rengganis yang sedang bersandar padanya ikut menatap layar dengan bingung. Begitu layar menyala, wajah Laras sedang memenuhi layar kaca dalam tayangan Breaking News.
"...Saya hanya meminta keadilan. Saya sudah memberikan segalanya untuk Permadi, tapi Dokter Rengganis datang dan merebutnya begitu saja..."
Wajah Permadi seketika mengeras. Rahangnya mengatup rapat, dan urat-urat di lehernya menegang. Ia merasakan tangan Rengganis yang menggenggam lengannya mendadak menjadi dingin dan gemetar.
"Mas, apa itu?" bisik Rengganis dengan suara bergetar, matanya menatap nanar ke arah layar yang menampilkan fotonya dengan caption "Pelakor Berkedok Dokter".
Permadi mematikan televisi dengan kasar hingga remote itu nyaris retak di tangannya.
Ia berbalik, menatap Rengganis yang kini mulai menangis lagi karena syok.
"Laras, dia benar-benar mencari mati," desis Permadi dengan suara rendah yang sangat mengerikan.
Sultan yang baru saja bersikap manis itu kini telah kembali menjadi predator yang siap menghancurkan siapa pun yang menyentuh miliknya.
Dunia seolah berputar bagi Rengganis. Kata-kata "Pelakor" dan "Perampas" yang terpampang di layar televisi tadi terus terngiang, menghantam harga dirinya sebagai seorang dokter yang selama ini ia jaga dengan integritas tinggi. Napasnya mulai pendek, sesak menyumbat dadanya.
"Ma, nama dan karirku..." bisik Rengganis parau.
Wajahnya yang memang belum pulih kini berubah menjadi seputih kertas.
Sebelum Permadi sempat menangkapnya, tubuh Rengganis lunglai.
Kepalanya terkulai ke samping, dan matanya terpejam rapat. Ia jatuh pingsan tepat di pelukan Permadi.
"Ganis! Sayang! Bangun!" teriak Permadi histeris.
Ia mengguncang bahu istrinya, namun Rengganis tidak memberikan respons.
Mesin pemantau jantung di samping ranjang tiba-tiba mengeluarkan suara pip yang tidak beraturan, menunjukkan detak jantung yang meningkat tajam akibat syok sebelum akhirnya melemah.
Dokter dan perawat segera berlarian masuk setelah mendengar teriakan Permadi.
Mereka langsung melakukan tindakan darurat, memasang masker oksigen di wajah Rengganis yang tampak sangat menderita dalam ketidaksadarannya.
"Keluarlah, Pak Permadi! Kami harus menstabilkan kondisinya!" perintah dokter dengan tegas.
Permadi dipaksa keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, ia berdiri mematung di lorong rumah sakit yang sepi.
Rasa bersalah, amarah, dan ketakutan bercampur menjadi satu hingga membuatnya nyaris gila.
Ia adalah pria yang memiliki segalanya, namun saat ini, ia merasa menjadi pria paling tidak berguna di dunia karena membiarkan masa lalunya menghancurkan masa depan wanita yang ia cintai.
"AARRGGHH!!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Permadi memukul dinding beton rumah sakit dengan tangan kosongnya berulang kali.
Ia tidak peduli dengan buku-buku jarinya yang pecah dan berdarah.
Air matanya mengalir deras di pipinya dan sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang pewaris Wijaya Group.
"Bajingan kau, Laras! Bajingan!" raungnya sambil terisak.
Ia menyandarkan dahinya di dinding yang dingin, bahunya naik turun menahan tangis yang pecah.
"Maafkan aku, Ganis. Maafkan aku. Aku yang membawamu ke dalam neraka ini."
Darah segar dari tangannya kini menodai dinding putih rumah sakit, sama merahnya dengan amarah yang kini membakar seluruh jiwanya.
Permadi merogoh ponselnya dengan tangan gemetar yang berlumuran darah, lalu menghubungi nomor asisten pribadinya.
"Siapkan jet pribadi. Dan panggil semua pengacara terbaik di negeri ini. Aku ingin Laras kehilangan segalanya malam ini juga. Jangan sisakan satu helai rambut pun darinya yang merasa aman!"