Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembobolan Rumah Stella
^^^SEASON I^^^
"Lo tuh jelas-jelas butuh bantuan, Stella!"
Stella Allesandra mengangkat kepala dari tempatnya berdiri. Ia sedang membersihkan dengan teliti puing-puing yang berserakan di rumahnya. Polisi akhirnya mengizinkannya masuk kembali dan menyentuh barang-barangnya. Ia hanya ingin mengembalikan semuanya seperti semula.
Namun kata-kata sahabatnya membuatnya sungkan.
“Polisi udah bantu gue, Riggs. Mereka cari sidik jari, ngumpulin bukti, bahkan bakal ngirim patroli ke sekitar sini buat ngawasin keadaan.”
Wajah tampan Riggs menegang. “Lo butuh bantuan lebih dari itu, dan lo tahu itu. Ini kedua kalinya lo jadi target. Ini bukan sekadar pembobolan biasa, Stella. Kalau aja waktu pertama kejadian lo langsung datang ke gue—”
Stella berdiri. “Gue enggak bakal lari ke lo setiap kali ada hal buruk terjadi sama gue.”
Mata birunya melebar. “Kenapa nggak? Kan, Itu gunanya sahabat! Gue jagain pantat seksi lo, lo jagain pantat gue!”
Baiklah, Riggs memang punya pantat seksi. Anak kurus yang ia kenal waktu kecil dulu telah berubah jadi pria yang sangat tampan.
Mereka sudah seperti bayangan satu sama lain, sejak pertama bertemu di pra-TK. Saat itu Riggs mencoba makan lem, dan Stella menunjukkan perhatian kepadanya.
Sejak saat itu, mereka tak terpisahkan sepanjang masa sekolah. Riggs tahu sebagian besar rahasianya, tahu kapan ia berbohong.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Stella memejamkan mata erat. “Demi Tuhan, tolong bilang itu bukan orang yang lagi gue pikirin.”
Riggs menghela napas panjang tanpa penyesalan. “Gue harus nelpon dia. Ini wilayahnya.”
Matanya terbuka tepat saat Riggs berbalik menuju pintu depan. Setiap otot tubuh Stella menegang ketika Riggs menggenggam gagang pintu.
Empat puluh delapan jam terakhir adalah neraka bagi Stella. Ia kembali ke kota dan menemukan rumahnya sudah hancur berantakan.
Polisi menyuruhnya menjauh selama penyelidikan, jadi ia dipindahkan ke motel sekitar. Lalu ia diberi tahu bahwa polisi hampir tidak menemukan apa pun.
Stella berlari melintasi ruang tamu. “Nelpon dia itu kesalahan bes—”
Terlambat.
Stella menabrak punggung lebar Riggs tepat saat pintu terbuka.
Dan musuh bebuyutannya pun muncul ambang pintu.
Kayson Sheridan.
Tingginya hampir 190 sentimeter. Lebih tinggi dari Riggs, bahunya lebih lebar, dan sialnya … lebih seksi.
Kayson mengenakan celana tailored, kemeja putih berkancing, dan dasi hitam yang tergantung longgar di lehernya. Jaket hitam elegan melekat pada bahunya yang kuat. Matanya, bukan biru seperti milik Riggs, melainkan cokelat gelap.
Mereka berdiri saling menatap. Senyum tipis melengkung di bibir Stella saat ia menahan tatapannya. Senyum yang sensual itu, tampak seperti seringai nakal.
“Apa keadaan daruratnya?” tuntut Kayson. Matanya menyipit saat Stella mencengkeram lengan Riggs. “Apa yang begitu penting sampai gue harus ke sini tanpa ada penjelasan?”
Kayson belum melihat bagian lain dari rumah itu. Ia mungkin belum melihat apa pun.
Stella dan Riggs masih menutupi pintu masuk. Mungkin masih ada waktu untuk mengeluarkan Kayson dari rumahnya sebelum terlambat.
“Uh .…” Stella mulai bicara saat tangannya jatuh dan menggenggam erat tangan Riggs.
Tatapan Kayson jatuh pada tangan mereka yang saling bertaut. Rahangnya langsung mengeras.
“Kalian berdua akhirnya jadian juga?” suaranya yang dalam berubah menjadi geraman. “Ini maksudnya? Lo manggil gue supaya bisa bilang langsung kalau kalian mau nikah?”
Tunggu ... apa?
Stella menatap Riggs.
Riggs menatap Stella.
Lalu sahabat terbaik Stella itu berkata, “Ih ... Ogah banget!”
Stella merasakan pipinya memanas.
Riggs menggeleng. “Stella punya masalah, bro. Masalah yang bikin gue takut.” Suara Riggs sangat serius. Ia menarik Stella menjauh dari pintu dengan genggaman tangan mereka. “Lihat sendiri!”
Tatapan keras Kayson menyapu seluruh sarang itu. “Apaan ini?”
Ia melangkah masuk, menjauh dari pintu dan membantingnya hingga tertutup.
Stella meringis mendengar dentumannya.
“Siapa yang ngelakuin ini?” tuntut Kayson.
Bantal sofa disayat.
Bingkai foto pecah.
Vas hancur.
Televisi rusak.
“Kalau kita tahu …” Riggs membalas tajam. “... gue enggak bakal nelpon lo!”
Stella memeluk perutnya. “Ini cuma kasus pembobolan. Polisi bilang hal kayak gini sering banget kejadian di Kota Tua.” Suaranya terdengar tenang dan stabil. Itu pertanda baik. Ia harus terlihat bisa mengendalikan diri. “Ini bukan tipe kasus yang lo tangani, Kayson. Lo biasanya urus keamanan korporat dan perlindungan selebritas.” Orang-orang kaya dan terkenal. “Riggs enggak perlu nelpon lo. Ini bukan apa-apa.”
Namun Kayson melangkah mendekat dengan gerakan lambat dan mematikan. Ia bergerak tanpa suara, seperti biasanya.
Stella tak pernah mengerti bagaimana pria sebesar itu bisa berjalan tanpa bunyi sedikit pun.
Ia berhenti tepat di hadapannya. Stella mendongak untuk menatap mata gelap itu.
“Seseorang udah masuk ke rumah lo. Seseorang menghancurkan barang-barang lo.” Otot di rahangnya yang keras itu berkedut. Rahang itu hanya ditumbuhi janggut tipis. “Buat lo mungkin ini bukan apa-apa. Buat gue, ini masalah besar.”
“Buat gue juga!” Riggs menyela. “Makanya gue harus nelpon lo. Polisi udah jalanin prosedur mereka, tapi enggak nemuin apa-apa. Dan ini udah kedua kalinya lho!”
Kayson mengangkat tangan. “Kedua kalinya?” Tatapannya tak lepas dari wajah Stella.
“Ya.” Riggs berdeham. “Ini kedua kalinya rumah dia dibobol. Yang pertama sekitar sebulan lalu, waktu dia lagi di luar kota buat perjalanan bisnis. Tempatnya enggak dihancurin waktu itu, dan polisi hampir enggak ngecek apa-apa.” Ia melirik Stella dengan tatapan tak setuju. “Apalagi gue bahkan enggak tahu kejadian itu, karena Stella rahasiain ini dari sahabatnya sendiri.”
Serius?
“Bukan rahasia. Lo lagi sibuk waktu itu.” Waktu itu ada kasus besar di perusahaan Kayson. “Dan gue enggak mikir itu masalah besar. Jadi gue urus sendiri.”
“Lo urus sendiri?” Suara Kayson rendah dan berbahaya.
Ia memang selalu begitu. Saat paling marah, ia justru makin tenang.
Orang lain mungkin akan berteriak dengan wajah memerah. Kayson tidak. Tentu saja ia marah, Stella bisa melihat kemarahan itu mengeras di matanya. Dan suara rendah itu … sial, dia benar-benar kesal.
Stella menegakkan bahu. “Lo enggak perlu datang ke sini,” katanya pelan.
“Malah seharusnya gue datang sebulan yang lalu!” balasnya kasar. “Apa yang bajingan itu lakuin waktu dia masuk dulu?”
Stella menggigil. “Cuma … beberapa barang dipindahin. Beberapa foto. Beberapa barang di kamar gue.”
Pipi Stella kembali memanas. Saat ia melapor ke polisi waktu itu, mereka bahkan menganggapnya tidak waras. Mereka menyarankan mungkin ia sendiri yang memindahkan barang-barang itu dan lupa.
Polisi tidak menganggapnya serius. Namun saat melihat kehancuran kali ini, reaksi mereka berbeda.
“Barang apa di kamar lo?” Tatapan Kayson menahannya di tempat.
Stella menelan ludah dan melirik cemas ke arah Riggs.
Riggs Pengkhianat.
Padahal ia tahu jika Stella tidak ingin melibatkan Kayson.
Bukankah selama ini Stella selalu berusaha menghindari kakak laki-laki Riggs yang terlalu protektif itu?
Pria itu membuatnya gelisah sejak dulu.
“Stella .…”
Cara Kayson menyebut namanya membuat bulu kuduknya meremang. Ia bahkan tidak tahu apakah itu rasa yang baik atau buruk.
“Jangan lihat Riggs,” kata Kayson, suaranya dalam dan bergema. “Lihat gue. Ngomong sama gue!”
Menghela napas kesal, Stella kembali menatapnya. “Oke ... Celana dalam gue ... puas? Dipindahin. Sama kayak isi laci, baju tidur gue. Gue yakin ada orang masuk ke kamar gue, dan itu bikin gue takut. Tapi polisi enggak nemu bukti apa pun waktu itu.”