"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Harga Diri di Balik Denting Piano
Sore itu, Nirbi tidak pulang bersama Calvin. Ia meninggalkan pesan singkat di secarik kertas yang ditempel di layar komputer Calvin: “Pak Bos, aku ada urusan bentar. Jangan kangen!”
Nirbi berjalan menyusuri trotoar dengan pikiran kalut. Ia tidak bodoh. Ia tahu permintaan Abang Varro itu sangat memalukan. Udah numpang, minta makan, minta kerja, minta dibayarin kuliah pula! Harga diri Nirbi berontak. Ia harus punya uang sendiri, setidaknya untuk biaya kuliahnya agar tidak terus-menerus jadi "beban" bagi musuh kakaknya itu.
Ia pun mendatangi sebuah kafe elit milik teman kampusnya. Beruntung, Nirbi punya bakat terpendam: jari-jarinya sangat lincah di atas tuts piano.
"Oke, Bi. Kamu main dari jam 7 sampai jam 9 malam ya. Tamu di sini orang-orang high-class, jadi mainnya harus dapet feel-nya," ujar temannya.
Nirbi mengangguk mantap. Ia mulai memainkan melodi lembut. Namun, ketenangan itu hancur saat matanya menangkap sosok wanita dengan gaun merah menyala yang masuk ke kafe. Veyra Dista.
Hinaan yang Menyakitkan
Saat jam istirahat, Veyra sengaja mencegat Nirbi di dekat toilet.
"Oh, lihat siapa ini? Si kuman kecil yang sok suci di kantor Calvin tadi siang," Veyra tertawa sinis, suaranya melengking tajam. "Ternyata bener ya, keluarga Rein itu sudah jadi sampah. Habis ngemis-ngemis di Weinstein Group, sekarang jadi wanita penghibur tamu di sini?"
Nirbi mengepalkan tangannya. "Aku cuma main piano, Kak. Halal. Daripada Kakak, hobi nempel sama cowok yang jelas-jelas nggak mau."
Plakk!
Satu tamparan mendarat di pipi Nirbi hingga sudut bibirnya berdarah. "Tutup mulutmu! Kamu itu cuma parasit! Kamu pikir Calvin tulus nolong kamu? Dia cuma kasihan liat pengemis kayak kamu!"
Nirbi yang tidak tahan lagi langsung berlari keluar kafe. Ia menangis sesegukan. Namun, di parkiran yang sepi, seorang pria berbadan besar yang sudah dibayar Veyra mencegatnya.
"Mau kemana manis? Main sama Om dulu yuk," pria itu menarik kasar pergelangan tangan Nirbi hingga memar.
"Lepasin! Tolong!" Nirbi memberontak, tapi tenaganya tidak sebanding.
"Heh! Lepaskan dia!" Sebuah suara bariton menggelegar. Seorang pria tampan dengan jaket kulit datang dan langsung melayangkan pukulan ke arah pria bejat itu. Dia adalah Arga, kakak senior Nirbi di kampus yang sudah lama menaruh hati padanya.
"Nirbi, kamu nggak apa-apa?" Arga memegang bahu Nirbi dengan cemas.
Nirbi hanya menggeleng lemah, menahan perih di bibir dan tangannya. "Kak Arga... makasih."
Amarah Sang CEO
Sementara itu, di penthouse, Calvin sudah seperti singa kelaparan. Ia mondar-mandir melihat jam yang menunjukkan pukul 10 malam. Ponsel Nirbi tidak aktif.
"Dimana dia?! Kenapa belum pulang?!" teriaknya pada asisten kepercayaannya melalui telepon. "Cari! Saya tidak mau tahu, temukan dia sekarang juga!"
Sepuluh menit kemudian, laporan masuk. Calvin mendengarkan laporan itu dengan rahang yang mengeras hingga berbunyi. Dihina Veyra... ditampar... hampir dilecehkan... ditolong pria lain.
"Veyra Dista... kamu baru saja menggali kuburanmu sendiri," desis Calvin. Matanya menyala penuh kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Kepura-puraan Nirbi
Pukul 11 malam, pintu penthouse terbuka pelan. Nirbi mengendap-endap masuk, menundukkan kepalanya dalam-dalam agar rambutnya menutupi pipi yang bengkak.
"Baru pulang, asisten pribadiku yang hebat?" suara dingin Calvin menyambar dari kegelapan ruang tamu.
Nirbi terlonjak. Ia melihat Calvin duduk di sofa dengan kotak obat di atas meja. Lampu hanya menyala remang-remang.
"E-eh, Pak Bos belum tidur? Tadi... tadi aku main ke rumah temen, keasyikan ngobrol," ucap Nirbi, suaranya dibuat ceria meski bergetar. Ia mencoba lari menuju kamar.
"Berhenti di sana, Nirbita."
Calvin berdiri, berjalan mendekat. Ia menarik tangan Nirbi. Gadis itu meringis kesakitan saat kulitnya yang memar bersentuhan dengan tangan Calvin.
"Ini apa?" Calvin mengangkat tangan Nirbi, memperlihatkan memar biru keunguan. Ia kemudian mengangkat dagu Nirbi dengan kasar namun hati-hati, melihat sudut bibir yang pecah.
"Jatuh... tadi aku kesandung di jalan," bohong Nirbi. Mata sembabnya menatap ke arah lain. "Pak Bos nggak usah peduli. Aku cuma numpang kan? Besok aku cari kos-kosan aja, aku nggak mau nambah beban Kakak lagi."
Calvin tertegun. Hatinya serasa diremas. Jadi ini alasan Nirbi pergi? Karena merasa jadi peminta-minta?
"Duduk," perintah Calvin tegas, memaksa Nirbi duduk di sofa.
"Nggak mau! Aku bisa sendiri! Kakak kan anti kuman, nanti tanganku yang kotor ini kena Kakak—"
"DIAM!" bentak Calvin. Tapi kali ini bukan bentakan marah, melainkan bentakan penuh rasa khawatir.
Calvin berlutut di depan Nirbi. Ia membuka tutup salep, lalu dengan sangat telaten—tanpa menggunakan sarung tangan—ia mengoleskan obat ke sudut bibir Nirbi.
"Siapa yang melakukan ini? Katakan padaku, Bi," bisik Calvin. Suaranya rendah dan berbahaya.
Nirbi terisak kecil. "Aku nggak mau ngemis-ngemis perlindungan lagi, Kak... aku punya harga diri."
Calvin berhenti mengoleskan salep. Ia menatap lekat mata Nirbi. "Dengarkan saya. Kamu tidak pernah mengemis. Kakakmu yang memaksa, tapi saya yang memutuskan untuk menerimamu. Jadi, kamu adalah tanggung jawab saya. Siapa pun yang menyentuhmu, berarti berurusan dengan saya."
Nirbi terdiam, jantungnya berdegup kencang melihat tatapan Calvin yang begitu intens. Untuk pertama kalinya, Calvin tidak terlihat seperti robot steril yang kaku. Ia terlihat seperti seorang pria yang siap menghancurkan dunia demi dirinya.
"Besok, kamu tidak perlu ke kafe itu lagi. Dan jangan pernah berani-berani berpikir untuk pergi dari rumah ini, atau saya akan buat kakakmu bangkrut untuk kedua kalinya," ancam Calvin, tapi tangannya dengan lembut mengusap air mata di pipi Nirbi.
Nirbi hanya bisa terpaku. Kak Calvin... kenapa tiba-tiba jadi sehangat ini?
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka