NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN BERDARAH DINGIN

Melbourne di sore hari tampak seperti kota yang terbuat dari emas dan kaca di bawah sisa-sisa matahari musim gugur. Namun, bagi Vivien Aksara, keindahan itu terasa seperti fatamorgana yang mengejek. Ia berdiri di depan cermin besar di dalam walk-in closet yang luasnya mungkin lebih besar dari kamar tidurnya dulu. Di depannya, sebuah gaun hitam mahakarya desainer ternama telah tersampir rapi. Gaun itu berbahan beludru sutra yang berat, dengan potongan backless yang berani namun tetap mempertahankan kesan aristokrat yang dingin.

Vivien menyentuh kain itu. Terasa halus, namun bagi Vivien, gaun ini adalah seragam perang. Maximilian tidak hanya memesan gaun; ia memesan sebuah citra. Citra tentang seorang istri yang tunduk, yang kecantikannya hanya berfungsi sebagai aksesori pelengkap kejayaan Alfarezel.

Dengan gerakan yang mekanis, Vivien mulai mengenakan gaun tersebut. Setiap inci kain yang menempel di kulitnya terasa seperti pengingat akan kontrak yang ia tanda tangani. Ia memulas bibirnya dengan warna merah gelap, warna yang tidak biasanya ia pakai, namun malam ini ia butuh terlihat tajam. Ia butuh terlihat seperti wanita yang tidak bisa dihancurkan, meskipun di dalam dadanya, jantungnya berdegup seperti burung yang terperangkap dalam sangkar besi.

Tepat pukul lima sore, pintu kamar terbuka. Maximilian berdiri di sana, sudah mengenakan tuksedo hitam yang dijahit dengan presisi milimeter. Pria itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di ambang pintu, matanya menyapu penampilan Vivien dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ada jeda beberapa detik yang terasa sangat panjang, sebuah keheningan yang sarat dengan penilaian.

"Warna itu cocok untukmu," ucap Maximilian akhirnya, suaranya rendah namun menggema di ruangan itu. "Tapi jangan gunakan matamu untuk menantang orang-orang di sana seperti kau menantangku. Malam ini, kau adalah bagian dari prestasiku, bukan musuhku."

Vivien berbalik, menatap suaminya dengan dagu yang terangkat. "Aku tahu peranku, Maximilian. Aku akan tersenyum, aku akan mengangguk, dan aku akan membuat semua orang percaya bahwa Alfarezel baru saja memenangkan lotre tercantik di dunia. Bukankah itu yang kau bayar?"

Maximilian melangkah mendekat, aroma cologne maskulinnya yang berkarakter kuat segera memenuhi ruang pribadi Vivien. Ia mengulurkan tangannya, merapikan seuntai rambut Vivien yang jatuh di bahu, jemarinya sengaja menyentuh kulit leher Vivien yang terbuka. Vivien menahan diri untuk tidak berjengit.

"Bagus," bisik Maximilian. "Gunakan kemarahan itu untuk terlihat berkelas. Kemarahan adalah energi yang jauh lebih baik daripada rasa kasihan."

Perjalanan menuju Konsulat terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan yang mewah. Mobil Rolls-Royce yang mereka tumpangi meluncur mulus melalui jalanan Melbourne yang mulai macet. Di dalam mobil, tak ada percakapan. Maximilian sibuk dengan ponselnya, mengatur imperium bisnisnya dengan ketukan-ketukan jari yang efisien, sementara Vivien menatap keluar jendela, melihat orang-orang biasa yang berjalan di trotoar, merasa iri pada kebebasan mereka yang sederhana.

Setibanya di gedung konsulat yang megah dengan gaya arsitektur kolonial, lampu-lampu kilat kamera langsung menyambut mereka. Para wartawan bisnis dan gaya hidup internasional berebut mendapatkan foto pertama pasangan yang mengguncang bursa saham ini.

Maximilian keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Vivien. Inilah saatnya. Vivien meletakkan tangannya di atas telapak tangan Maximilian yang besar dan hangat. Ia keluar dari mobil dengan keanggunan seorang ratu, senyum yang sudah ia latih di depan cermin terpulas sempurna di wajahnya.

"Bernapaslah, Vivien," bisik Maximilian tepat saat mereka berjalan di atas karpet merah. "Dunia sedang menonton."

Di dalam aula besar, aroma sampanye mahal dan parfum kelas atas memenuhi udara. Orang-orang dengan kekuasaan besar berkumpul, berdansa dengan kata-kata manis yang menyembunyikan niat mematikan. Begitu mereka masuk, kerumunan seolah terbelah. Bisikan-bisikan mulai terdengar.

"Itu dia... Putri dari Aksara Group yang jatuh."

"Dia terlihat sangat tenang untuk seseorang yang keluarganya baru saja dikuliti hidup-hidup."

"Alfarezel benar-benar predator. Dia mengambil perusahaannya, lalu mengambil putrinya."

Vivien mendengar setiap bisikan itu. Setiap kata terasa seperti jarum yang menusuk harga dirinya. Namun, ia tidak membiarkan senyumnya goyah. Ia memegang lengan Maximilian dengan erat, seolah-olah ia adalah istri yang paling memuja suaminya.

Mereka dihampiri oleh Julian Vane, seorang konglomerat properti yang merupakan rival sekaligus sekutu Maximilian. Pria tua itu menatap Vivien dengan tatapan lapar yang menjijikkan.

"Maximilian, kau benar-benar tahu cara memilih koleksi," ucap Julian dengan tawa yang serak. "Aku dengar penggabungan dua keluarga ini sangat... dramatis."

Maximilian menyesap sampanyenya, matanya yang dingin menatap Julian tanpa ekspresi. "Dramatis adalah kata untuk orang-orang yang tidak mengerti logika bisnis, Julian. Ini adalah efisiensi. Vivien adalah pelengkap sempurna untuk stabilitas Alfarezel ke depan."

Vivien merasakan tangannya yang memegang lengan Maximilian semakin erat. Koleksi? Efisiensi? Ia merasa seperti objek pajangan di etalase toko.

"Dan bagaimana rasanya, Nona Vivien—maaf, Nyonya Alfarezel?" Julian beralih padanya. "Tinggal bersama pria yang menghancurkan warisan ayahmu?"

Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Beberapa telinga mulai condong untuk mendengar jawaban Vivien. Maximilian tidak membantu; ia hanya diam, menunggu untuk melihat bagaimana Vivien menangani serangan ini. Ini adalah ujian pertama.

Vivien menyesap minumannya perlahan, memberikan jeda yang penuh wibawa. Ia menatap Julian dengan tatapan yang tenang namun tajam.

"Tuan Vane, dalam dunia kita, warisan bukan sekadar angka di laporan keuangan, tapi ketahanan mental," ucap Vivien dengan suara yang jernih dan berkelas. "Maximilian tidak menghancurkan warisan saya. Dia hanya memaksa saya untuk menulis bab baru yang jauh lebih kuat. Dan sejauh ini, saya sangat menikmati posisi saya sebagai orang yang memegang kendali di samping pria paling berkuasa di ruangan ini. Bukankah begitu, Sayang?"

Vivien menoleh pada Maximilian dengan tatapan mata yang penuh kepura-puraan yang manis. Untuk sesaat, Maximilian tampak tertegun. Ada kilatan kekaguman—atau mungkin rasa penasaran—yang melintas di matanya yang dingin.

"Tentu saja," jawab Maximilian singkat, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Vivien, menariknya lebih dekat dalam sebuah gerakan posesif yang nyata. "Vivien selalu tahu cara menempatkan musuh-musuhnya di posisi yang tepat."

Julian Vane hanya bisa tertawa canggung sebelum akhirnya mengundurkan diri. Vivien merasa telah memenangkan pertempuran kecil itu, namun ia tahu perang yang sebenarnya masih berlangsung.

Saat mereka berpindah ke sudut yang lebih sepi, Maximilian melepaskan tangannya dari pinggang Vivien. "Latihan akting yang bagus. Kau hampir membuatku percaya kau benar-benar menikmatinya."

"Jangan besar kepala, Maximilian," desis Vivien, wajahnya kembali dingin saat tak ada orang yang melihat. "Aku hanya melakukan apa yang tertulis di kontrak. Menjaga martabat Alfarezel agar kau tetap mengucurkan dana untuk ibuku."

"Kau sangat pragmatis malam ini," Maximilian menatapnya dengan intens. "Tapi hati-hati, Vivien. Terlalu sering berpura-pura bisa membuatmu lupa siapa dirimu yang sebenarnya."

"Aku tidak akan pernah lupa siapa aku, dan aku tidak akan pernah lupa apa yang keluargamu lakukan pada ayahku," Vivien melangkah menjauh, hendak mengambil minuman lagi, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sosok pria di ujung ruangan.

Pria itu mengenakan setelan jas biru navy, berdiri di dekat balkon. Jantung Vivien seolah berhenti. Itu adalah Bara, asisten kepercayaan ayahnya yang menghilang tepat setelah kematian ayahnya. Bara adalah orang terakhir yang memegang berkas audit rahasia yang bisa membuktikan bahwa Maximilian telah menyabotase sistem keuangan Aksara Group secara ilegal.

Bara menatap Vivien sekejap, memberikan kode mata yang sangat cepat ke arah taman belakang konsulat, sebelum akhirnya menghilang di balik kerumunan.

Vivien merasakan tangannya gemetar. Ini adalah kesempatannya. Jika ia bisa bicara dengan Bara, ia bisa mendapatkan bukti yang ia butuhkan untuk menjatuhkan Maximilian dan membatalkan kontrak pernikahan gila ini.

Namun, ia harus melakukannya tanpa sepengetahuan Maximilian yang memiliki mata di mana-mana.

"Maximilian," Vivien berbalik, mencoba mengatur napasnya agar terlihat normal. "Aku butuh ke kamar kecil. Gaun ini sangat merepotkan."

Maximilian menatapnya dengan tatapan curiga yang sangat tajam. "Jangan lama-lama. Kita harus bertemu dengan Duta Besar dalam sepuluh menit."

"Aku tahu," jawab Vivien singkat.

Ia berjalan dengan langkah yang tenang menuju lorong kamar mandi, namun begitu ia merasa aman dari pandangan Maximilian, ia mempercepat langkahnya menuju pintu keluar belakang yang menuju taman. Hujan sudah berhenti, meninggalkan udara malam Melbourne yang menggigit tulang.

Vivien berlari kecil menembus kegelapan taman yang hanya diterangi lampu-lampu taman yang redup. Di balik deretan pohon mapel, ia melihat bayangan seseorang.

"Bara?" bisik Vivien.

Sosok itu berbalik. Benar, itu Bara. Wajahnya terlihat lelah dan penuh kecemasan.

"Nona Vivien," bisik Bara dengan suara parau. "Anda tidak seharusnya berada di sini. Maximilian... dia berbahaya. Dia memantau segalanya."

"Aku tidak punya waktu, Bara! Di mana berkas itu? Di mana bukti bahwa dia menyabotase ayahku?"

Bara meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil yang terbungkus plastik. "Ini semua yang saya punya. Tapi Nona harus tahu, Maximilian bukan satu-satunya yang terlibat. Ada orang lain di dalam Aksara Group yang mengkhianati Ayah Anda. Benang merah ini jauh lebih rumit dari yang Nona bayangkan—"

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat di atas kerikil mengejutkan mereka. Cahaya senter yang tajam membelah kegelapan.

"Vivien? Kau di sana?"

Itu suara Maximilian. Dan suaranya terdengar sangat dekat. Suaranya tidak lagi dingin, tapi penuh dengan ancaman yang nyata.

Bara segera menyodorkan flashdisk itu ke tangan Vivien. "Sembunyikan! Jangan biarkan dia tahu!"

Bara langsung lari menghilang ke arah semak-semak yang gelap tepat saat Maximilian muncul dari balik tikungan taman. Maximilian berdiri di sana, siluet tubuhnya yang tinggi besar tampak mengerikan di bawah cahaya bulan.

"Apa yang kau lakukan di sini, Vivien?" tanya Maximilian. Matanya menyapu sekitar, mencari tanda-tanda kehadiran orang lain. "Dan dengan siapa kau bicara?"

Vivien menyembunyikan tangannya di balik lipatan gaun beludrunya, mengepal flashdisk itu hingga telapak tangannya sakit. Ia mencoba mengatur wajahnya agar terlihat ketakutan—yang kali ini tidak perlu berpura-pura.

"Aku... aku hanya butuh udara segar. Di dalam sangat menyesakkan," jawab Vivien, suaranya sedikit bergetar.

Maximilian melangkah mendekat, langkah demi langkah, hingga ia berdiri tepat di depan Vivien. Ia menarik dagu Vivien agar menatap matanya. "Kau berbohong. Aku mencium bau ketakutan, dan aku melihat jejak kaki di kerikil ini."

Maximilian merogoh saku gaun Vivien, namun tak menemukan apa pun. Ia kemudian menatap tangan Vivien yang disembunyikan di belakang punggung.

"Berikan padaku, Vivien," perintah Maximilian dengan nada suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Berikan apa pun yang baru saja kau terima, sebelum aku kehilangan kesabaranku."

Malam yang dingin itu mendadak terasa membara. Vivien berdiri di tepi jurang. Jika ia menyerahkan bukti itu, ia kehilangan satu-satunya senjata untuk bebas. Jika ia menolak, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan monster di depannya ini.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!