Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
"Ibu benar-benar gak habis pikir sama kamu Fel, bisa-bisanya kamu punya hubungan dengan pria yang sudah beristri. Bahkan kamu mau-mau aja dijadikan istri kedua. Ibu malu sama keluarga sama para tetangga, pasti setelah ini semuanya membicarakan kamu yang tidak-tidak." ujar bu Nurma meluapkan emosinya yang sudah ia tahan-tahan sedari tadi.
Kini para tamu undangan sudah pulang, hanya menyisakan beberapa keluarganya saja.
"Ibu kenapa sih malah nyalahin aku. Kami saling mencintai bu, lagian sekarang istri mas Aris itu cuma aku bu. Ibu kan dengar sendiri tadi, kalau mas Aris sudah menceraikan mantan istrinya itu."
jawab Fela tanpa merasa bersalah.
"Ya itu karna kalian selingkuh, istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya diam-diam menikah lagi. Memangnya kamu mau nanti Aris menikah lagi tanpa sepengetahuan kamu." ujar bu Nurma yang kecewa dengan jawaban anak semata wayangnya yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
"Ibu kenapa ngomong gitu sih, mas Aris gak akan menikah lagi. Mas Aris cinta sama aku bu, buktiknya mas Aris lebih memilih aku daripada istrinya itu." seru Fela yang mulai sewot.
"Terserah kamu deh Fel, pokoknya ibu sudah memperingatkan kamu. Dari awal memang ibu kurang setuju kamu hanya dinikahi secara siri, apalagi melihat tingkah ibu mertuamu itu yang sombong. Setelah ini kamu cepat-cepat suruh Aris remiin pernikahan kalian." ujar bu Nurma sambil berlalu dari kamar anaknya.
Ia sangat menyayangkan sikap anaknya yang berani mempunyai hubungan dengan suami orang. Pasti setelah ini keluarga serta para tetangganya akan berpikir buruk tentangnya terutama pada Fela.
"Huh.. Kenapa ibu malah nyalahin aku sih, ya wajar dong mas Aris lebih memilih aku ketimbang mantan istrinya itu. Aku ini lebih dari segala-galanya ketimbang cewek resek itu. Lagian kenapa sih mas Aris gak cerein aja istrinya itu dari dulu, kan kejadian memalukan tadi gak akan terjadi." dumel Fela yang tidak merasa bersalah.
"Aku gak nyangka suamimu itu hasil merebut dari orang lain, kamu berbakat banget jadi pelakor Fel." sindir Andin yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar Fela.
"Siapa yang kamu sebut pelakor hah! kamu jangan sok tahu ya. Mas Aris itu memang sudah mau bercerai dari istrinya, karna istrinya itu mandul, gak bisa kasih mas Aris anak." seru Fela kembali tersulut emosi mendengar ucapan sepupunya itu.
"Masa sih, tapi tadi suamimu itu kelihatan banget kalau dia gak mau bercerai dari istrinya itu." ujar Andin mengejek Fela, ia puas melihat sepupunya itu dipermalukan didepan banyak orang, karna memang selama ini mereka tidak pernah akur. Fela dari dulu memang sombong apalagi ketika ia sudah bekerja diperusahaan besar membuanya semakin merasa diatas.
"Kamu jangan sok tahu, urus aja diri kamu sendiri yang tidak laku-laku." balas Fela sengit.
"Sorry ye, yang bilang gue gak laku siapa? gue cuma gak mau salah pilih, apalagi sampai harus merebut suami orang." sinis Andin kemudian pergi dari kamar Fela setelah puas membalas semua kesombongan sepupunya itu selama ini.
"Sialan lo Ndin.. Gue sumpahin lo jadi perawan tua." pekik Fela dengan hidung kembang-kemping menahan emosi.
"Bu, gimana ini. Aris gak mau bercerai dari Shafira bu." Aris merengek pada ibunya seperti anak kecil yang ingin naik bianglala.
"Kamu apa-apa an sih Ris, kamu itu sudah menjatuhkan talak sama si Shafira, ya mana bisa dibatalkan. Lagian ngapain sih kamu masih mikirin mantan istri kamu itu, si Shafira saja kelihatan senang saat kamu ceraikan. Udahlah kamu lupain si Shafira, kamu juga sudah punya gantinya. Kamu fokus aja buatin ibu cucu, buktikan kalau memang benar selama ini mantan istri kamu itu yang mandul. Biar mantan istri kamu itu malu sama kamu." ujar bu Ratna yang sudah jengah melihat Aris yang terus merengek tidak ingin bercerai dari Shafira.
"Tapi bu, Aris masih cinta sama Shafira bu."
rengek Aris yang ingin menangis.
Bu Ratna memutar bola matanya jengah.
"Prettt.. Cinta-cinta, kalau cinta kamu ngapain pake selingkuh segala." semprot bu Ratna sambil menggetok kening Aris.
"Ya Aris niatnya cuma main-main aja bu, Aris gak nyangka kalau bakalan ketahuan sama Shafira."
cicit Aris mengusap-usap keningnya.
Bu Ratna mendengus mendengar ucapan anaknya itu.
"Main-main kok sampai menikah. Udahlah kamu lupain si Shafira, fokus aja buatin ibu cucu. Ibu udah pengen gendong cucu." ketus bu Ratna.
"Terima kasih ya sudah mengizinkan kita berdua untuk gabung disini." ujar Satria pada ketiga perempuan yang ada di depannya.
"Santai saja pak, lagian kalau rame-rame kan lebih seru." jawab Nita yang diangguki Shafira dan Vinna.
"Kalian masih mau disini atau sudah mau pulang? biar sekalian kami antar." tawar Satria yang orangnya memang ramah.
"Kami masih mau keliling-keliling dulu pak, kami juga bawa kendaraan sendiri." ujar Nita.
"Kalau diluar kantor, jangan panggil pak dong.
Saya ini belum tua lho, masih sigle juga." ujar Satria nyengir kuda.
"Baik m-mas." cicit Nita salah tingkah.
"Nah, gini kan enak dengernya. Ya sudah, kami duluan ya, sekali lagi terima kasih. Semoga kedepannya kita bisa berkumpul lagi seperti ini rame-rame. Nanti makanannya sekalian saya yang bayar."
"Eh gak perlu repot-repot pak, eh mas.. Nanti biar kami yang bayar sendiri." seru Niat keceplosan.
"Gak repot kok, kami duluan ya. Sampai ketemu lagi ya." ujar Satria berlalu sambil tersenyum diikuti oleh Kenzo.
Vinna menyenggol lengan Shafira sambil tersenyum menaik turunkan alisnya.
"Lo kenapa sih, jadi aneh gini." ujar Shafira.
"Lo jangan pura-pura gak tahu, lo juga lihat kan pak Kenzo selalu curi-curi pandang sama lo.
Hayoloh... Ada yang naksir itu, cie ciee bestie aku gak bakalan lama jadi janda ini." goda Vinna tersenyum penuh arti yang malah terlihat menyebalkan dimata Shafira.
"Apa sih lo, ngarang aja! Gak mungkin lah pak Kenzo naksir sama gue. Lagian gue juga belum mikirin ke arah sana. Gue cerai juga belum ada sehari." sewot Shafira mendengus.
"Vinna bener kok Ra, gue juga lihat kok pak Kenzo selalu natap lo, tatapan pak Kenzo ke elo itu beda tau. Kayaknya emang pak Kenzo suka deh sama lo." timbrung Nita.
"Gue belum mau mikirin itu dulu ya bestie. Lo aja dulu, kayaknya lo udah deket tuh sama pak Satria." ujar Shafira mengalihkan pembicaraan.
"Y-ya deket karna kan satu kantor." jawab Nita mendadak salah tingkah.
Shafira dan Vinna kompak memicingkan mata mereka menatap tajam pada Nita yang terlihat gugup.
"Hayoo.. Lo nyembunyiin sesuatu ya dari kita." todong Shafira.
"A-ap sih, gue gak ada nyembunyiin apa-apa. Gue deket sama pak Satria karna setiap hari ketemu dikantor." ujar Nita.
"Ciee yang setiap hari ketemuan, kayaknya ada bau-bau cinlok ini." goda Vinna yang diikuti Shafira.
"Bau cilok kali." sewot Nita menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Ayok kita keliling-keliling, katanya Fira mau beli perabotan rumah." ujar Nita mengalihkan pembicaraan.
"Ciee yang salah tingkah." goda keduanya kompak sambil menaik turunkan alisnya.
"Apa sih kalian berdua."
Keduanya tertawa setelah puas menggoda Nita.
Diperjalanan, Kenzo tidak henti-henti tersenyum membuat Satria merasa aneh dengan tingkah bos sekaligus sahabatnya itu.
"Lo kenapa sih Ken, sakit?" ujar Satria menempelkan punggung tangannya ke kening Kenzo.
"Lo apa an sih, ngerusak suasana aja." sungut Kenzo menepis tangan Satria yang bertengger dikeningnya.
"Ya habisnya lo aneh, gue ngeri aja kalau lo sampai kesambet." ujar Satria tanpa dosa.
"Gue lagi bahagia jangkrik! makanya gue senyum-senyum." sewot Kenzo tapi mukanya tetap tersenyum.
"Ya makanya cerita dong, biar gue gak gagal paham." dengue Satria.
"Gue bahagia karna untuk yang ketiga kalinya gue ketemu sama perempuan yang berhasil mencuri hati gue." seru Kenzo dengan mata berbinar-binar.
"Hah? Kapan lo ketemu lagi sama pujaan hati lo itu? Kok gue gak tahu." seru Satria.
"Lo kan tadi juga duduk deket sama dia." ujar Kenzo mesem-mesem.
" Ja-jadi selama ini yang lo maksud itu, Ni-nita??" gagap Satria.
"Hah??"