Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu di Antara Rak Buku
Lilin-lilin di Paviliun Kitab Kuno sudah terbakar setengah batang, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di antara rak-rak kayu ulin hitam. Debu yang mengapung di udara tampak seperti partikel emas di bawah cahaya remang-remang. Keheningan di tempat ini begitu berat, seolah-olah ribuan kata yang tertulis di gulungan-gulungan tua itu sedang menahan napas.
Han Luo berdiri di bagian paling terpencil dari rak kategori "Dasar - Pernapasan". Di tangannya, ada sebuah buku yang sampulnya sudah dimakan rayap.
Teknik Pernapasan Kayu Mati. Tingkat: Kuning - Kelas Rendah.
Bagi kebanyakan murid, teknik ini adalah sampah. Efeknya hanya satu: Menurunkan detak jantung dan metabolisme tubuh hingga menyerupai kondisi hibernasi atau kematian semu. Biasanya digunakan oleh kultivator tua yang sekarat untuk memperpanjang sisa napas mereka beberapa hari lagi.
Tapi di mata Han Luo, ini adalah kepingan puzzle yang hilang.
"Sutra Seribu Wajah mengubah fisik, tapi tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan fluktuasi Qi saat aku bergerak," gumam Han Luo, jarinya menelusuri diagram sirkulasi Qi di halaman terakhir. "Dengan Pernapasan Kayu Mati, aku bisa menekan aura kehidupanku hingga titik nol. Dikombinasikan dengan Langkah Hantu Tanpa Jejak... aku akan menjadi lubang hitam di indra deteksi musuh."
Han Luo tidak bisa membawa buku ini keluar. Aturan sekte melarang murid luar meminjam buku fisik. Dia harus menghafalnya di sini, sekarang juga.
Dia menutup matanya. Ingatan ensiklopedisnya bekerja seperti mesin pemindai. Setiap huruf, setiap ilustrasi meridian, dicetak paksa ke dalam korteks otaknya. Kepalanya berdenyut sakit. Memasukkan informasi teknik kultivasi jauh lebih membebani mental daripada sekadar membaca novel. Ini melibatkan pemahaman konsep abstrak tentang aliran energi.
Satu jam berlalu.
Han Luo membuka matanya. Ada pembuluh darah merah pecah di bagian putih matanya, tapi bibirnya menyunggingkan senyum puas.
"Selesai."
Dia mengembalikan buku itu ke rak dengan hati-hati, memastikan posisinya sama persis seperti semula. Jejak debu di rak tidak boleh terganggu.
Dia melirik jam pasir di meja penjaga dari kejauhan. Waktunya tinggal sepuluh menit.
"Saatnya pulang dan memulai neraka tiga hari," batinnya.
Han Luo berjalan keluar. Penjaga tua di meja depan masih tertidur, mendengkur halus. Han Luo meletakkan tangannya di atas meja, bukan untuk membangunkan, tapi untuk mengambil kembali koin tembaga berkarat yang tadi dia berikan.
Dia menarik koin itu pelan-pelan.
Sret.
Penjaga itu tiba-tiba bergerak, menggaruk hidungnya. Han Luo membeku, napasnya tertahan. Jantungnya berdegup kencang.
Tapi penjaga itu hanya menggumamkan nama minuman keras dalam tidurnya dan kembali mendengkur.
Han Luo menghela napas lega, menyambar koin itu, dan menghilang ke dalam kegelapan malam. Koin itu adalah akses yang bisa dipakai ulang selama dia tidak ketahuan. Tetua Feng memberikannya tanpa instruksi, jadi Han Luo menganggapnya sebagai tiket terusan abadi sampai ada yang melarangnya.
Tiga Hari Kemudian - Malam Bulan Purnama.
Di dalam gubuk murid luar yang sempit, Han Luo duduk bersila di atas dipan kayunya. Di sekelilingnya, udara terasa dingin dan stagnan, seolah-olah tidak ada kehidupan di sana.
Jika ada orang yang masuk, mereka mungkin mengira Han Luo sudah mati. Dadanya tidak naik turun. Kulitnya pucat keabu-abuan seperti kulit pohon mati. Tidak ada suara napas, tidak ada detak jantung yang terdengar.
Ini adalah Teknik Pernapasan Kayu Mati tingkat pemula.
Tiba-tiba, mata Han Luo terbuka. Tidak ada kilatan cahaya, hanya kegelapan yang tenang.
Dia menghembuskan napas panjang, mengeluarkan uap putih keruh dari mulutnya.
"Tiga hari..." suaranya serak.
Di lantai di depannya, tergeletak tiga butir Batu Roh Rendah yang sudah berubah warna menjadi abu-abu kusam—habis energinya.
Han Luo meringis melihat sisa kekayaannya. "Tiga Batu Roh untuk menguasai dasar Langkah Hantu dan Napas Kayu Mati. Boros sekali. Bakat tubuh ini benar-benar lubang tanpa dasar."
Asetnya kini tinggal 11 Batu Roh.
Tapi hasilnya sepadan. Dia berdiri dari dipan. Kakinya menapak lantai kayu yang biasanya berderit.
Tidak ada suara.
Dia melangkah lagi, lebih cepat. Masih hening. Seolah-olah kakinya dilapisi kapas, dan berat badannya diredam oleh Qi yang membungkus telapak kakinya.
"Malam ini purnama," Han Luo melirik ke luar jendela. Bulan bulat sempurna menggantung di langit, menyinari Pegunungan Awan dengan cahaya perak yang mistis.
"Waktunya mengambil paket dari kurir kita, Long Tian."
Han Luo mengenakan pakaian serba hitam yang dia jahit sendiri dari kain bekas jubah lama. Dia tidak menggunakan Sutra Seribu Wajah malam ini untuk mengubah wajah—itu terlalu boros Qi. Dia hanya menggunakan kain penutup wajah hitam biasa.
Dia menyelipkan belati di pinggang, pedang besi di punggung, dan beberapa kantong kain kecil di sabuknya.
Dia keluar dari gubuknya, menyatu dengan bayang-bayang pohon pinus, dan melesat menuju Kebun Herbal Divisi Barat.
Kebun Herbal Divisi Barat.
Tempat ini luasnya berhektar-hektar, dipenuhi dengan aroma tanah basah dan tanaman obat. Di bawah sinar bulan purnama, daun-daun Rumput Roh Bulan berpendar redup, menciptakan pemandangan yang indah namun angker.
Di tengah kebun, ada sebuah gubuk reot. Di depannya, terlihat sosok kurus sedang duduk memeluk lutut di samping api unggun kecil.
Itu Long Tian.
Han Luo berjongkok di atas dahan pohon besar berjarak seratus meter, mengaktifkan Pernapasan Kayu Mati. Dia menjadi tak terlihat bagi indra, hanya seonggok kayu di atas pohon.
Long Tian tampak menyedihkan. Pakaiannya kotor oleh lumpur. Tangannya diperban kasar. Dia sedang berbicara pada cincin hitam di jarinya.
"Guru... kenapa Guru tidak menjawab?" suara Long Tian terbawa angin malam, terdengar putus asa. "Mereka bilang aku sampah. Manajer Ma memukulku lagi hari ini karena aku terlambat menyiram satu baris tanaman. Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa."
Cincin itu diam. Tidak ada jawaban. Kakek Tua di dalamnya masih tidur karena kekurangan energi.
Han Luo menatap dingin. Tidak ada rasa kasihan.
"Dunia ini tidak butuh air matamu, Long Tian," batin Han Luo. "Jika kau menangis, musuhmu akan tertawa. Belajarlah itu."
Long Tian akhirnya menghapus air matanya, mengambil cangkul, dan mulai bekerja lagi meski sudah tengah malam. "Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Aku akan menggemburkan tanah di Sektor 3 agar Ginseng Darah tumbuh lebih baik."
Han Luo tersentak.
Sektor 3. Ginseng Darah.
Itu lokasi targetnya!
Jika Long Tian menggali tanah di sana sekarang, cangkulnya mungkin akan mengenai sarang Ulat Sutra Es Rohani yang sedang berhibernasi. Jika itu terjadi, Long Tian akan menemukannya lebih awal, dan "Plot Armor" akan kembali bekerja (mungkin darah Long Tian menetes ke ulat itu dan membuatnya mengenali tuan).
"Sialan. Bahkan saat dia sedang sial, keberuntungannya tetap mencoba memberinya harta," rutuk Han Luo.
Han Luo tidak bisa menunggu Long Tian pergi tidur. Dia harus bertindak sekarang.
Han Luo turun dari pohon tanpa suara. Dia menggunakan Langkah Hantu Tanpa Jejak, meluncur di antara bayang-bayang tanaman obat setinggi pinggang.
Jaraknya dengan Long Tian sekitar lima puluh meter.
Han Luo mengambil sebuah batu kerikil dari tanah. Dia menyalurkan sedikit Qi ke jarinya.
Tebasan Bayangan Kilat - Variasi Lemparan.
Dia tidak menebas, tapi menjentikkan batu itu dengan prinsip ledakan Qi yang sama.
Tik!
Batu itu melesat cepat, bukan ke arah Long Tian, tapi ke arah semak-semak di sisi berlawanan kebun (Sektor 1), menghantam pagar kayu dengan suara keras.
KRAK!
Long Tian tersentak kaget. Dia memegang cangkulnya erat-erat, menoleh ke arah suara itu. "Siapa di sana?! Babi Hutan?"
Suara itu cukup keras untuk membuat Long Tian waspada. Tanaman herbal adalah tanggung jawab nyawanya. Jika babi hutan masuk, dia akan dihukum mati.
"Jangan makan tanamannya!" teriak Long Tian, berlari panik menuju Sektor 1, menjauh dari Sektor 3.
"Bodoh," desis Han Luo.
Begitu Long Tian menjauh, Han Luo melesat keluar dari bayangan menuju Sektor 3. Dia berhenti di depan sebuah tanaman Ginseng Darah yang daunnya berwarna merah pekat.
Tanah di bawah ginseng itu sedikit berembun beku, tanda anomali suhu.
Han Luo tidak menggunakan cangkul. Dia menggunakan belati Baja Dingin-nya untuk menggali tanah dengan presisi.
Satu inci. Dua inci. Lima inci.
Tanah menjadi semakin keras dan dingin. Han Luo merasakan tusukan dingin di ujung jarinya.
Di kedalaman sepuluh inci, dia melihatnya.
Sebuah kepompong seputih salju, seukuran jempol bayi, memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Di dalamnya, terlihat samar-samar seekor ulat yang sedang tidur, tubuhnya transparan seperti kristal es.
Ulat Sutra Es Rohani.
Binatang Roh Tingkat 2 (Setara Ranah Pondasi Awal). Fungsi: Memproduksi sutra yang kebal api dan racun. Darahnya bisa meningkatkan kualitas tubuh.
Jantung Han Luo berpacu.
Han Luo segera mengambil kotak kayu khusus yang sudah dia siapkan (dilapisi kain agar suhunya terjaga), memasukkan kepompong itu, dan menutupnya rapat-rapat. Dia menimbun kembali lubang itu dengan tanah, meratakannya agar terlihat alami.
"Selesai."
Saat dia hendak berbalik pergi, matanya menangkap sesuatu yang lain di lubang galian itu. Di sebelah tempat kepompong tadi, ada sebuah benda kecil lain yang tertimbun.
Sebuah biji. Hitam, keriput, dan tampak mati.
Han Luo mengerutkan kening. Di novel tidak disebutkan ada biji ini. Apakah ini... sampah?
Dia menyentuhnya. Tiba-tiba, Sutra Seribu Wajah di dalam dirinya bergetar pelan. Resonansi?
"Biji ini... memiliki aura penyamaran?" Han Luo kaget. Biji ini menyembunyikan kehidupannya sendiri, persis seperti teknik Napas Kayu Mati, tapi alami.
Tanpa pikir panjang, dia menyambar biji itu juga.
"Tidak ada apa-apa di sini!"
Suara Long Tian terdengar dari kejauhan. Dia sudah selesai memeriksa Sektor 1 dan sedang berjalan kembali sambil menggerutu.
Han Luo segera mengaktifkan Langkah Hantu, meluncur mundur ke dalam kegelapan hutan sebelum cahaya lentera Long Tian menerangi Sektor 3.
Dari balik pohon, Han Luo melihat Long Tian kembali ke Sektor 3, berdiri tepat di atas tanah yang baru saja digali dan ditutup Han Luo.
Long Tian menghela napas, lalu mulai mencangkul tanah itu—tanah yang sekarang kosong.
"Semoga Ginseng ini tumbuh besar," gumam Long Tian penuh harap, tidak sadar bahwa dia baru saja kehilangan tiket emasnya.
Han Luo berbalik, menghilang ke dalam hutan malam.
Di sakunya, kotak kayu itu terasa dingin, tapi di hatinya, ada kepuasan yang membakar.
Satu aset lagi berpindah tangan. Dan kali ini, dia mendapat bonus misterius.