NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Tragis Bermula

Lampu gantung kristal di butik "Nirmala’s Couture" memantulkan cahaya yang elegan, namun bagi Nirmala Dizan, kilau itu terasa dingin. Ia berdiri di depan manekin, jemari lenturnya menyisir kain sutra premium yang baru saja tiba dari Italia. Di usianya yang ke-28, Nirmala adalah definisi kesempurnaan fisik dan status. Sebagai putri tunggal pasangan Marwan Dizan dan Rina Sugiarti, garis hidupnya telah ditarik lurus—tanpa belokan, tanpa pilihan.

"Nona, gaun pesanan Tuan Januar sudah selesai dikemas," suara asistennya, Maya, memecah keheningan.

Nirmala hanya mengangguk kecil. Nama itu—Januar Suteja—selalu menimbulkan sensasi pahit di pangkal lidahnya. Pria berusia 40 tahun, seorang duda dengan satu putri remaja, dan yang paling penting: rekan bisnis utama ayahnya. Pertunangan mereka bukan didasari oleh getaran cinta di balik senja, melainkan oleh angka-angka di atas kertas kontrak proyek pembangunan pelabuhan baru.

"Taruh saja di meja," jawab Nirmala singkat. Suaranya tenang, namun ada keletihan yang tersembunyi di balik riasan wajahnya yang sempurna.

Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap jalan protokol Jakarta. Langit sore itu berwarna jingga kemerahan, seolah sedang bersiap untuk sebuah duka yang tak terduga. Nirmala menghela napas. Besok adalah hari pertunangan resminya. Ia akan menjadi milik Januar, menjadi ibu sambung bagi seorang anak yang membencinya, dan menjadi pion terakhir dalam catur bisnis ayahnya.

"Ayah, Ibu... apakah kebahagiaanku benar-benar hanya sebatas angka saham?" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri di kaca.

****

Tepat pukul lima sore, ponsel Nirmala yang tergeletak di meja marmer bergetar hebat. Nama "Paman Hadi"—orang kepercayaan ayahnya—muncul di layar.

Nirmala mengerutkan kening. Biasanya, Paman Hadi hanya akan menghubunginya jika ada perubahan jadwal pertemuan keluarga. Ia menggeser ikon hijau.

"Halo, Paman? Ada apa? Apa Ayah meminta perubahan warna dekorasi lagi?" tanya Nirmala dengan nada sedikit bergurau.

Namun, tidak ada jawaban instan dari seberang sana. Hanya suara napas yang memburu dan isakan tertahan yang membuat bulu kuduk Nirmala meremang seketika.

"Nirmala..." suara Hadi parau, pecah oleh emosi yang tak tertahankan. "Nirmala, kau harus kuat, Nak..."

Jantung Nirmala berdegup kencang. Ia mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Paman, ada apa? Jangan menakutiku. Ayah dan Ibu sedang dalam perjalanan pulang dari Singapura, kan? Pesawat mereka seharusnya mendarat satu jam lagi."

"Pesawat itu, Nirmala..." Hadi terisak hebat. "Pesawat Private Jet PK-DZN... hilang kontak di atas perairan Kepulauan Seribu. Radar menunjukkan mereka jatuh dengan kecepatan tinggi. Tim SAR baru saja mengonfirmasi... tidak ada tanda-tanda korban selamat dari puing yang ditemukan."

Brak!

Ponsel di tangan Nirmala terjatuh ke lantai kayu butik yang mahal. Suara benturan itu menggema, namun bagi Nirmala, dunia seolah-olah mendadak senyap secara total. Oksigen di sekitarnya terasa lenyap. Dadanya terasa seperti dihantam oleh palu godam raksasa yang meremukkan tulang rusuk dan jantungnya sekaligus.

"Nona? Nona Nirmala?!" Maya berlari menghampiri saat melihat majikannya limbung.

Nirmala tidak mendengar teriakan Maya. Pandangannya mengabur. Bayangan wajah ibunya yang tersenyum lembut saat berpamitan tempo hari, dan tawa tegas ayahnya yang menjanjikan masa depan cerah, berputar-putar seperti kaset rusak di kepalanya.

"Tidak... tidak mungkin," bisik Nirmala. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kehampaan. "Mereka berjanji akan datang ke pertunanganku besok. Ibu bilang dia ingin melihatku memakai gaun itu..."

Ia mencoba melangkah, namun kakinya terasa seperti jeli. Nirmala jatuh terduduk di lantai, tepat di samping ponselnya yang masih menyala, menampilkan durasi panggilan yang masih berjalan dengan suara Paman Hadi yang memanggil-manggil namanya di kejauhan.

Dunia yang selama ini dibangun dengan kemewahan, protokoler, dan rencana-rencana besar, runtuh seketika. Nirmala Dizan, sang putri konglomerat yang selalu tampak tak tersentuh, kini hanyalah seorang wanita yang hancur berkeping-keping di lantai butiknya sendiri.

Di luar sana, langit jingga telah berganti menjadi hitam pekat. Badai mulai turun, seolah alam pun turut meratapi jatuhnya sang putri dari singgasananya.

****

Nirmala menatap tangannya yang gemetar. Ia melihat cincin tunangan pemberian Januar yang melingkar di jari manisnya—sebuah berlian 5 karat yang kini tampak seperti belenggu besi yang panas. Tanpa orang tuanya, siapa dia sekarang? Tanpa perlindungan Marwan Dizan, siapa yang akan menjaganya dari serigala-serigala bisnis di luar sana, termasuk pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya?

Rasa sakit itu tidak datang sebagai air mata yang deras di awal, melainkan sebagai rasa dingin yang merayap dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Ia merasa sepi. Kesepian yang paling mutlak yang pernah ia rasakan dalam 28 tahun hidupnya.

"Ayah... Ibu..."

Raungan itu akhirnya pecah. Sebuah jeritan memilukan keluar dari kerongkongan Nirmala, membelah keheningan butik mewah itu. Ia meremas dadanya, berusaha menahan rasa sesak yang seolah ingin meledakkan paru-parunya.

Raungan itu akhirnya pecah. Sebuah jeritan memilukan keluar dari kerongkongan Nirmala, membelah keheningan butik mewah itu. Ia meremas dadanya, berusaha menahan rasa sesak yang seolah ingin meledakkan paru-parunya.

Kehidupan Nirmala Dizan yang sempurna baru saja berakhir. Dan di reruntuhan itu, sebuah babak baru yang penuh duri baru saja dimulai.

****

Langit di atas San Diego Hills tampak seolah dicuci oleh kesedihan. Awan kelabu berarak rendah, menggantung berat di atas hamparan rumput hijau yang tertata rapi. Di tengah keheningan kompleks pemakaman mewah itu, dua peti mati kayu jati berlapis pernis hitam mengkilap perlahan diturunkan ke liang lahat yang berdampingan.

Nirmala Dizan berdiri mematung di tepi lubang sedalam dua meter itu. Wajahnya yang biasanya berseri kini pucat pasi, seperti porselen retak yang nyaris hancur. Dibalut terusan hitam polos yang elegan namun suram, ia tampak jauh lebih kecil dan rapuh dari biasanya. Angin kencang menerpa wajahnya, menerbangkan helai-helai rambut hitamnya yang tak lagi tertata rapi.

Di sampingnya, Januar Suteja berdiri tegak. Pria berusia 40 tahun itu mengenakan setelan jas hitam mahal. Ekspresinya datar, sulit dibaca. Sesekali ia meletakkan tangannya di bahu Nirmala, sebuah gestur yang bagi orang luar tampak seperti dukungan emosional, namun bagi Nirmala terasa seperti cengkeraman kepemilikan. Pertunangan mereka yang seharusnya dirayakan hari ini, terpaksa digulung oleh kain kafan.

"Nirmala, ikhlaskan," bisik Januar, suaranya berat dan rendah. "Dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu perpisahan."

Nirmala tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap gumpalan tanah pertama yang dijatuhkan ke atas peti ibunya. Duk. Bunyi tanah menghantam kayu itu bagaikan dentuman palu hakim yang mengakhiri masa indahnya selamanya.

****

Belum juga tanah makam itu rata dengan permukaan, suasana khidmat mulai terganggu oleh suara bisik-bisik yang tajam. Sekitar sepuluh meter dari tempat Nirmala berdiri, dua sosok sedang terlibat pembicaraan sengit dengan seorang pria paruh baya berkacamata—Handoko, pengacara lama keluarga Dizan.

Mereka adalah Elias Dizan, adik kandung ayahnya, dan istrinya, Rini Susilowati.

Rini, dengan selendang hitam sutra yang menutupi sebagian rambut putihnya yang disasak tinggi, tampak tidak bisa menahan diri. Angin kencang membuat ujung selendangnya berkibar-kibar liar, seperti sayap burung pemakan bangkai yang sedang mengitari mangsa.

"Handoko, jangan berbelit-belit!" suara Rini meninggi, mengabaikan tatapan beberapa pelayat yang masih ada di sana. Ia melepas kacamata hitamnya dengan kasar, menunjukkan mata yang merah bukan karena tangis, melainkan karena ambisi yang meluap-luap. "Marwan sudah tidak ada. Rina juga tidak ada. Dizan Holding tidak bisa dibiarkan tanpa kendali sementara Nirmala hanya seorang perancang busana yang tidak tahu apa-apa soal manajemen!"

"Sabar, Rini. Ini masih tanah pemakaman," Elias mencoba menenangkan, namun nada suaranya sama mendesaknya. "Tapi Handoko, istriku benar. Dalam AD/ART perusahaan, jika pemegang saham mayoritas berhalangan tetap, keluarga terdekat harus segera mengambil posisi di dewan komisaris. Kami punya hak."

Handoko menghela napas panjang, mencoba menjaga martabat di depan makam kliennya. "Tuan Elias, Nyonya Rini, harap tenang. Semua wasiat dan pembagian saham sudah diatur secara legal oleh almarhum Tuan Marwan. Kita akan membicarakannya di kantor, bukan di sini."

"Kantor?" Rini mendengus, langkahnya mendekat hingga ia berada tepat di depan Handoko. "Besok pasar saham dibuka! Jika publik tahu Dizan Holding kehilangan nakhodanya, nilai perusahaan akan anjlok. Kami butuh surat kuasa sekarang juga untuk mengamankan aset di Singapura dan Jakarta!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!