Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Pulang
Panggilan itu datang tanpa kata “darurat”.
Tidak ada nada tinggi. Tidak ada kalimat yang meminta Wawan segera pulang. Yang ada hanya satu notifikasi singkat di layar ponselnya, muncul saat ia sedang menyapu lantai kafe, menjelang tutup.
Pemberitahuan Lanjutan
Sehubungan dengan proses peninjauan akun usaha Anda, kami memerlukan verifikasi tambahan.
Wawan berhenti menyapu.
Ia membaca kalimat itu dua kali. Lalu tiga kali. Tidak ada tenggat waktu. Tidak ada tautan jelas ke manusia yang bisa dihubungi. Hanya tombol kecil bertuliskan Lanjutkan.
Ia meletakkan sapu di sudut, duduk di kursi dekat jendela, dan menekan tombol itu.
Layar berpindah ke halaman baru. Formulir digital. Kolom-kolom yang harus diisi. Data usaha. Data pribadi. Data pendukung. Semuanya tampak wajar… terlalu wajar, sampai Wawan lupa bahwa sebagian besar data itu sudah pernah ia kirim sebelumnya.
Ia mengisi satu per satu, pelan, hati-hati. Seperti orang yang takut salah langkah bukan karena konsekuensi hukum, tapi karena konsekuensi sunyi: akses yang kembali ditunda tanpa penjelasan.
Di kolom terakhir, tertulis:
Unggah dokumen pendukung tambahan.
Wawan mengernyit. Ia menekan ikon tanda tanya kecil di sampingnya.
Dokumen dapat berupa surat keterangan domisili, pernyataan usaha aktif, atau bukti aktivitas terbaru.
Domisili.
Kata itu membuatnya terdiam lebih lama.
Ia tinggal di Medan, benar. Tapi KTP-nya masih Jawa. Usahanya terdaftar di sini, tapi beberapa dokumen lama masih mencantumkan alamat awal ketika ia merintis. Selama ini, tidak pernah menjadi masalah. Tidak pernah dipersoalkan.
Sampai sekarang.
Wawan menutup aplikasi, menaruh ponsel di meja, lalu berdiri. Ia berjalan mondar-mandir di kafe yang sudah sepi, mematikan lampu satu per satu. Bayangan kursi dan meja memanjang di lantai. Tempat ini kecil, tapi ia membangunnya dengan niat yang besar… menjadi ruang singgah, bukan mesin uang.
Ia duduk kembali, menarik napas panjang.
“Tenang,” gumamnya. “Ini cuma administrasi.”
Kalimat itu terdengar seperti doa yang diucapkan terlalu sering.
Ia membuka kembali ponsel, masuk ke Random. Pesan terakhir dari Yanto dan Kusuma masih ada. Tentang pertemuan tak sengaja. Tentang hidup yang makin sempit. Wawan membaca ulang, lalu menulis pesan pendek.
Wawan:
Kayaknya gue harus ngurus dokumen lama.
Sistem minta verifikasi tambahan.
Tidak ada balasan cepat. Sudah larut. Wajar.
Malam itu, Wawan pulang lebih cepat. Di rumah, ia membuka laci, mengeluarkan map berisi berkas-berkas lama: fotokopi KTP, surat usaha awal, izin kecil-kecilan yang dulu ia urus dengan penuh semangat. Ia menatanya di lantai, menyusunnya seperti puzzle.
Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengencang:
…hidupnya tersebar di terlalu banyak versi administratif.
Versi Medan.
Versi Jawa.
Versi daring.
Versi yang diingat sistem.
Versi yang ia jalani setiap hari.
Dan kini, sistem meminta ia memilih satu yang paling sah.
Keesokan harinya, Wawan mendatangi kantor kelurahan. Bangunan tua dengan cat yang mengelupas. Antrean pendek. Pelayanan lambat tapi ramah. Ia menyerahkan berkas, menjelaskan maksudnya.
Petugas itu membaca sebentar, lalu mengangguk. “Bisa,” katanya. “Tapi harus sesuai domisili KTP.”
“Kalau KTP saya belum pindah?” tanya Wawan.
Petugas itu tersenyum apologetik. “Ya harus diurus dulu, Mas.”
“Berapa lama?”
“Kalau lengkap, bisa cepat. Kalau nggak… ya tergantung.”
Tergantung.
Kata itu kembali muncul, menempel seperti bayangan.
Wawan keluar dari kantor kelurahan dengan langkah lebih lambat. Matahari Medan terasa terik. Ia duduk di motor, menatap jalanan, dan untuk pertama kalinya mempertimbangkan hal yang selama ini ia tunda.
Pulang.
Bukan pulang sebagai nostalgia. Bukan pulang karena rindu. Tapi pulang sebagai penyatuan ulang identitas, agar hidupnya tidak lagi tercecer di sistem yang tidak sabar menunggu.
Ia mengendarai motor tanpa tujuan jelas, berhenti di warung kecil, memesan teh manis hangat. Di meja plastik itu, ia membuka ponsel dan menulis pesan pribadi ke Ari.
Wawan:
Ri,
kalau gue harus pindah sebentar buat ngurus semua ini,
menurut lo itu mundur atau justru maju?
Ia menekan kirim sebelum ragu menghapusnya.
Sore menjelang, notifikasi masuk lagi dari aplikasi. Kali ini lebih singkat.
Pengajuan Anda masih dalam proses.
Wawan tersenyum kecil. Ia sudah menduga.
Di kafe, malam itu, hanya sedikit pelanggan datang. Wawan melayani seperti biasa, tersenyum, berbincang ringan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum itu, ia sedang menghitung jarak… antara Medan dan Jawa, antara bertahan dan bergerak.
Saat menutup kafe, ia berdiri lama di depan pintu, tangan memegang kunci. Tempat ini bukan sekadar usaha. Ini bukti bahwa ia bisa membangun sesuatu di luar tempat asalnya.
Namun kini, justru bukti itu yang terancam tak terbaca oleh sistem.
Ia mengunci pintu, memasukkan kunci ke saku, dan berjalan pulang dengan langkah yang lebih pasti dari kemarin. Di kepalanya, kata pulang tidak lagi terasa seperti kekalahan, melainkan langkah logis yang ditunda terlalu lama.
Malam itu, sebelum tidur, Wawan membuka ponsel sekali lagi. Pesan dari Ari sudah masuk.
Ari:
Kadang mundur satu langkah
itu cara paling jujur buat lihat keseluruhan.
Wawan mematikan layar. Ia berbaring, menatap langit-langit. Tidak ada keputusan final malam itu. Tapi sesuatu telah bergeser: ia tidak lagi menunggu sistem mengizinkannya hidup.
Ia mulai mempertimbangkan untuk menyusul hidupnya sendiri.
Keputusan itu tidak datang sebagai satu kalimat utuh.
Ia datang sebagai rangkaian tindakan kecil yang, jika dilihat terpisah, tidak terlihat dramatis. Namun ketika disusun berurutan, Wawan sendiri terkejut menyadari bahwa ia sudah berjalan cukup jauh tanpa sempat benar-benar berhenti.
Pagi itu, ia membuka kafe lebih lambat dari biasanya. Bukan karena kesiangan, tapi karena ia duduk terlalu lama di depan laptop, menatap halaman pemesanan tiket. Kota tujuan sudah terisi otomatis, alamat di Jawa yang masih tertera di KTP-nya. Tanggal keberangkatan belum ia pilih.
Ia menutup laptop, berdiri, dan mulai menyiapkan kafe. Mesin kopi dinyalakan. Meja dilap. Semua dilakukan dengan tubuh yang patuh, sementara pikirannya terus melayang ke satu pertanyaan sederhana: berapa lama.
Pelanggan pagi datang seperti biasa. Beberapa wajah akrab. Obrolan ringan tentang cuaca, tentang harga bahan baku yang naik, tentang jalanan yang makin macet. Tidak ada yang menyinggung sistem. Tidak ada yang bertanya tentang verifikasi. Dunia kecil kafe ini masih berjalan di luar logika digital yang menekannya.
Seorang pelanggan tetap… aki-laki paruh baya yang sering datang sendirian menatap Wawan lebih lama dari biasanya.
“Mas kelihatan capek,” katanya.
Wawan tersenyum. “Lagi banyak urusan administrasi.”
“Oh,” pelanggan itu mengangguk, seperti paham. “Sekarang semua urusan jadi administrasi, ya.”
Kalimat itu melayang ringan, tapi menancap tepat di tempat yang sensitif.
Siang hari, Wawan menutup kafe lebih awal. Ia menempelkan kertas kecil di pintu kaca:
Tutupan sementara. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Sementara.
Kata itu terasa ironis ketika ia menulisnya sendiri.
Di dalam, ia menghitung stok, memeriksa catatan keuangan, memindahkan beberapa barang pribadi ke tas. Ia tidak mengosongkan kafe. Belum. Ia hanya memastikan bahwa jika ia pergi beberapa minggu, tempat ini tidak akan runtuh sendirian.
Ia menghubungi seorang teman lama di Medan… bukan anggota grup, hanya orang yang ia percaya untuk menjaga kafe.
“Gue mau keluar kota sebentar,” katanya lewat telepon. “Mungkin dua minggu. Bisa bantu jaga?”
Temannya tidak banyak bertanya. “Bisa. Lo urusin aja yang penting.”
Wawan mengucapkan terima kasih, menutup telepon, lalu duduk lama di kursi kasir. Ia menatap mesin pembayaran digital yang kini jarang ia nyalakan. Layar gelap itu memantulkan wajahnya samar-samar.
Ia membuka ponsel, masuk ke aplikasi yang selama ini menjadi sumber kegelisahannya. Statusnya masih sama: dalam proses. Tidak ada perubahan. Tidak ada kemajuan.
Wawan mematikan aplikasi itu tanpa marah. Ia sudah lelah menunggu sinyal dari sesuatu yang tidak pernah berbicara langsung.
Sore itu, ia akhirnya memilih tanggal keberangkatan. Bukan besok. Bukan lusa. Tiga hari lagi. Cukup dekat untuk terasa nyata. Cukup jauh untuk menyelesaikan urusan kecil.
Tiket dipesan. Konfirmasi masuk. Panggilan pulang berubah dari kemungkinan menjadi rencana.
Ia membuka Random. Jarinya berhenti sejenak di atas layar sebelum mengetik.
Wawan:
Gue bakal pulang ke Jawa beberapa minggu.
Bukan liburan.
Ngurus identitas, berkas, semua yang kebelah-belah itu.
Pesan terkirim.
Tidak lama kemudian, balasan datang satu per satu.
Yanto:
Hati-hati di jalan, Wan.
Kalau lewat Bali, kabarin.
Doli:
Kalau butuh bantuan urusan dokumen, bilang.
Gue mungkin nggak bisa nyelesain,
tapi gue bisa bantu ngerti bahasanya.
Kusuma:
Semoga urusan lo lancar.
Kalau udah sampai Jawa,
jalanannya enak buat motor.
Wawan membaca pesan-pesan itu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada yang menahannya. Tidak ada yang mendorongnya lebih keras. Semua menerima keputusannya sebagai sesuatu yang masuk akal.
Dan justru itu yang membuatnya sadar: ia tidak sendirian dalam pergeseran ini.
Malam terakhir sebelum keberangkatan, Wawan berjalan mengelilingi kafe. Menyentuh meja, merapikan kursi, mematikan lampu satu per satu. Ia berdiri di tengah ruangan yang gelap, membiarkan kenangan datang tanpa ia undang.
Ia tidak merasa kalah. Ia juga tidak merasa menang. Yang ia rasakan adalah kejelasan yang terlambat: bahwa hidupnya tidak bisa lagi dipecah-pecah menjadi versi yang saling tidak mengenal.
Keesokan paginya, ia berangkat dengan tas kecil dan satu koper. Tidak banyak barang. Ia meninggalkan kunci cadangan pada temannya, lalu naik motor menuju bandara. Jalanan Medan pagi itu padat, seperti biasa. Tidak ada tanda perpisahan khusus.
Di ruang tunggu bandara, Wawan duduk sendiri. Ia melihat orang-orang berlalu-lalang, masing-masing dengan tujuan sendiri. Ponselnya bergetar.
Pesan dari Ari.
Ari:
Kalau lo di Jawa dan ada waktu,
gue pengin ketemu.
Bukan buat diskusi.
Cuma pengin duduk bareng.
Wawan menatap pesan itu lama. Ia tidak langsung membalas. Ia melihat tiket di tangannya, melihat papan keberangkatan, lalu kembali ke layar ponsel.
Wawan:
Bilangin tempatnya.
Gue atur.
Pesan terkirim. Ia mematikan ponsel, menyimpannya di saku jaket.
Ketika pesawat mulai bergerak di landasan, Wawan menutup mata sejenak. Ada rasa asing di dadanya… bukan takut, bukan ragu. Lebih seperti kesadaran bahwa langkah kecil ini akan menyeret langkah-langkah lain menyusul.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di Jawa. Ia juga tidak tahu apakah sistem akan berubah setelah ia kembali dengan berkas lengkap. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa melakukan sesuatu yang tidak sekadar reaktif.
Pulang kali ini bukan untuk berlindung.
Bukan untuk mengulang masa lalu.
Pulang adalah cara Wawan mengumpulkan kembali potongan hidupnya—agar ketika sistem bertanya siapa kamu, ia tidak perlu lagi menjawab dengan versi yang berbeda-beda.
Dan tanpa ia sadari, kepulangannya membuka ruang bagi pertemuan yang selama ini hanya beredar sebagai kemungkinan di layar ponsel.