Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Topeng yang Retak di Lobi Utama
Pagi itu, Rumah Sakit Medika Utama tampak lebih sibuk dari biasanya. Di tengah hiruk-pikuk pasien dan perawat, Dimas berdiri di lobi utama, membantu Kathryn membawa beberapa tas kecil berisi perlengkapan Sean. Hari ini adalah hari kepulangan balita itu, dan wajah Kathryn tampak bersinar, meski ada gurat kelelahan karena harus mengurus administrasi sendirian.
"Mas Dimas, benar-benar tidak perlu repot sampai ke lobi. Saya bisa menunggu Kak Paul di depan," ujar Kathryn sambil membetulkan letak tas di bahunya. Ia mengenakan dress selutut berwarna putih tulang, tampak sangat kontras dengan jas putih dokter yang dikenakan Dimas.
Dimas tertawa kecil, suara yang membuat beberapa suster yang lewat sempat menoleh terpesona. "Hanya sampai pintu depan, Kathryn. Anggap saja ini layanan purnajual dari dokter yang merawat Sean."
Mereka berdua tertawa bersama. Dimas merasa sangat rileks, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan jika berada di dekat Reina. Namun, tawa itu seketika terhenti saat sebuah suara sepatu hak tinggi yang tajam berdentum keras di lantai porselen lobi, mendekat ke arah mereka dengan ritme yang penuh kemarahan.
"Oh, jadi ini alasan kamu bilang ada jadwal operasi mendadak?"
Dimas menoleh dan mendapati Reina berdiri di sana. Istrinya itu tampil sangat mencolok dengan kacamata hitam yang bertengger di kepala dan tas kulit buaya yang harganya setara dengan biaya operasional satu klinik kecil. Wajahnya merah padam, menatap Dimas dan Kathryn bergantian dengan pandangan menghina.
"Reina? Sedang apa kamu di sini?" tanya Dimas, suaranya tetap datar namun waspada.
Reina tidak menjawab suaminya. Matanya justru tertuju pada Kathryn, memindai penampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Siapa perempuan ini, Dimas? Jadi sekarang kamu mulai berani membawa selingkuhanmu ke tempat kerja? Dan lihat penampilannya... seleramu ternyata sangat rendah ya. Gadis kampung mana yang kamu pungut ini?"
Wajah Kathryn seketika memucat. Ia tersentak mendengar kata-kata kasar yang belum pernah ia dengar ditujukan langsung padanya. Namun, alih-alih membalas dengan emosi, Kathryn justru menarik napas panjang dan menundukkan kepalanya dengan sopan, mencoba menjaga martabatnya.
"Maaf, Ibu. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini," ujar Kathryn dengan suara lembut namun tegas. "Nama saya Kathryn. Saya adalah keluarga pasien yang dirawat oleh Dokter Dimas. Beliau hanya membantu saya membawa barang-barang karena keponakan saya baru saja diperbolehkan pulang."
Reina tertawa sinis, suara tawanya memantul di dinding lobi yang tinggi. "Keluarga pasien? Atau simpanan yang menyamar? Jangan pikir aku bodoh, ya. Perempuan tipe sepertimu biasanya memang suka mendekati pria yang terlihat punya status, meskipun cuma dokter rendahan seperti suamiku ini."
"Reina, jaga bicaramu! Kamu tidak berhak menghina Kathryn seperti itu," potong Dimas, suaranya merendah dan penuh ancaman.
"Oh, kamu membelanya sekarang?" Reina melangkah maju, mendekati Kathryn hingga jarak mereka hanya beberapa senti. "Dengar ya, Gadis Kecil. Pria yang kamu kagumi ini tidak punya apa-apa. Dia hidup dari belas kasihanku. Kalau kamu berharap mendapatkan harta darinya, kamu salah besar. Dia cuma benalu di hidupku!"
Kathryn tetap berdiri tegak, meski tangannya sedikit bergetar. Ia menatap mata Reina dengan tatapan tulus yang justru membuat Reina semakin meradang. "Saya tidak tahu urusan rumah tangga Anda, Ibu. Namun, bagi saya, Dokter Dimas adalah orang baik yang sangat profesional dalam pekerjaannya. Kami tidak memiliki hubungan apa pun selain dokter dan keluarga pasien. Saya sangat menghormati beliau."
"Menghormati? Munafik!" desis Reina.
Ia kemudian berbalik ke arah Dimas dan mengulurkan tangannya dengan angkuh. "Sudahlah, aku ke sini bukan untuk berdebat soal selingkuhanmu. Berikan aku uang tambahan. Limit kartu kreditku sudah habis karena belanja keperluan cafe kemarin, dan aku tahu kamu baru saja menerima gaji bulanan."
Dimas menatap tangan istrinya yang menengadah, lalu menatap wajah Kathryn yang tampak sangat terluka meski berusaha tetap sopan. Rasa muak yang selama ini ia pendam seolah mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Aku tidak punya uang tambahan untukmu, Reina. Semua sudah aku berikan untuk cicilan rumah dan keperluan dapur yang kamu minta," ujar Dimas dingin.
"Apa? Tidak punya uang? Lalu untuk apa kamu bekerja siang malam kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan istrimu?" teriak Reina tanpa malu di depan umum.
Beberapa perawat dan pengunjung mulai berbisik-bisik. Adrian, yang melihat kejadian itu dari kejauhan, sudah bersiap-siap untuk maju, namun Dimas memberikan isyarat tangan agar sahabatnya itu tetap di tempat.
"Kathryn, silakan pergi dulu. Kakakmu sudah menunggu di depan, bukan?" ujar Dimas pada Kathryn, mengabaikan teriakan Reina.
Kathryn mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Sekali lagi, maafkan saya jika kehadiran saya memicu keributan. Permisi, Dokter Dimas. Permisi, Ibu."
Dengan langkah anggun dan kepala tetap tegak, Kathryn berjalan meninggalkan lobi. Ia merasa sangat sedih, bukan karena dihina, melainkan karena melihat bagaimana pria sesabar Dimas harus menghadapi wanita seperti Reina setiap hari.
Begitu Kathryn menghilang dari pandangan, Dimas menoleh kembali pada Reina. Matanya yang biasanya hangat kini sedingin es.
"Pulanglah, Reina. Jangan buat dirimu semakin malu di sini," ucap Dimas dengan nada yang sangat rendah namun mengandung otoritas yang membuat Reina terdiam sejenak.
"Kamu mengusirku demi perempuan itu? Lihat saja, Dimas! Aku akan pastikan hidupmu semakin menderita!" Reina menghentakkan kakinya dan melesat pergi menuju pintu keluar, meninggalkan aroma parfum menyengat yang terasa menyesakkan.
Dimas menghela napas panjang, ia memijat pangkal hidungnya. Di saat yang sama, ponsel di saku jasnya bergetar. Sebuah pesan dari manajer keuangannya masuk.
"Dokter Dimas, pengalihan saham mayoritas Cafe Darmawanti atas nama istri Anda sudah selesai kami proses. Secara hukum, Anda adalah pemilik tunggal gedung dan izin operasional cafe tersebut sekarang. Kapan Anda ingin kami melakukan pengosongan?"
Dimas menatap pesan itu lama. Senyum tipis yang penuh misteri kembali muncul di wajahnya. Waktunya hampir tiba. Kesabarannya sudah mencapai garis akhir.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰