NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Perubahan Gwen

Hari-hari berikutnya di sekolah menjadi sunyi bagi Gwen. Ia tidak lagi terlihat di kantin bersama Nora dan gengnya. Ia memindahkan tempat duduknya ke barisan depan, menjauh dari kerumunan yang biasa ia ikuti.

Nora, Tamara, dan yang lainnya hanya bisa menatap dari kejauhan dengan kening berkerut. "Ada apa dengan Gwen?" bisik Tamara.

"Entahlah, mungkin dia sedang moody. Akhir-akhir ini aku lihat Dennis tidak lagi mengantar jemputnya ke sekolah", timpal yang lain.

"Apa mereka sudah putus?", tanya Tamara.

Nora yakin bahwa hubungan Dennis dan Gwen pada akhirnya akan kandas, mengingat sifat playboy Dennis. Walaupun Nora tidak menyangka mereka akan berpisah secepat ini. "Apa Gwen segitu membosankannya?", batin Nora. Nora sama sekali tidak merasa simpati pada temannya itu. Menurutnya jika Gwen patah hati karena hal itu, itu semua adalah salah Gwen sendiri. Sudah tahu pria macam apa si Dennis itu tapi malah Gwen jatuh terlalu dalam. Seharusnya Gwen juga memanfaatkan Dennis sebagaimana Dennis memanfaatkan Gwen. Untuk apa berhubungan berlandaskan cinta, bagi Nora yang penting itu harta dan kekuasaan pria itu.

Nora sebenarnya mau mengincar pria single dari salah satu di antara keempat keluarga terkaya di Metropolia tapi masalahnya keluarga Moore tidak berada di lingkaran sosial yang sama. Jadi tidak ada kesempatan untuk Nora mendekati pria-pria itu. Saat ini pilihan pria terbaiknya adalah Felix Girard.

Gwen duduk dengan punggung tegak namun wajahnya pucat. Setiap kali perutnya terasa mual, ia akan bergegas ke toilet dan mengunci diri di salah satu bilik.

"Ngomong-ngomong... Aku melihat Gwen muntah-muntah di toilet kemarin," bisik Tamara.

"Mungkin maghnya kambuh lagi? Maghnya kan selalu kambuh setiap kali dia stres. Bisa jadi dia stres soal Dennis dan ujian akhir yang tinggal sebentar lagi datang. Ugh aku jadi ikut stres memikirkannya. Soal ujian semester kemarin saja sudah sangat sulit!" timpal yang lain.

"Magh tidak membuat orang berubah jadi pemurung seperti itu," sahut Nora dengan mata menyipit penuh selidik. "Atau jangan-jangan..."

"Apa?"

"Apa mungkin dia hamil? Dia pernah bilang tidak pernah memakai pengaman dengan Dennis," bisik Nora pelan.

Mata Tamara membelalak. "Hah?! Maksudmu? Gwen hamil dan Dennis tidak mau tanggung jawab, apa karena itu dia jadi pemurung? Tapi kenapa dia malah menjauhi kita?"

"Mungkin dia malu... Apalagi, aku yang mengenalkannya pada Dennis... Aku jadi merasa bersalah sudah mengenalkan mereka berdua," gumam Nora, meski nada bicaranya tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Ei, itu bukan salahmu, itu pilihan Gwen sendiri untuk memacari Dennis yang sudah terkenal sebagai playboy ", ucap Tamara.

"Benar! Itu bukan salahmu, Nora! Gwen saja yang terlalu mudah menyerahkan semuanya pada Dennis", ucap yang lain.

Para teman munafik ini terus bergosip tentang Gwen dengan bisik-bisik supaya tidak terdengar Gwen, bagaimanapun mereka tidak berani membuat masalah dengan keluarga Preston. Meskipun begitu mereka tetap senang melihat orang lain berada di titik terendah, walau orang itu adalah teman mereka sendiri.

Sierra melihat Gwen yang tampak sangat lemas di mejanya. Tanpa berkata apa-apa, Sierra berjalan mendekat dan meletakkan sekotak susu serta sebatang cokelat di atas meja Gwen, hadiah pemberian dari siswa lain yang meminta bantuannya belajar.

Gwen mendongak. Matanya seketika berkaca-kaca melihat gestur sederhana itu. "Terima kasih," ucapnya nyaris tak terdengar.

Awalnya Gwen masih sangsi dengan kebaikan Sierra, dia khawatir jika di belakangnya, Sierra mungkin juga akan bergosip dan menyebarkan berita buruk tentang dirinya. Tapi setelah beberapa hari di sekolah, tampaknya semua normal, Sierra sama sekali tidak mengumbar cerita kehamilannya apalagi soal keinginannya untuk menggugurkan kandungannya.

Tapi Gwen masih cemas, kenapa belum ada kabar soal dokter yang akan membantunya dari Sierra. Ditambah nafsu makannya yang buruk karena mual dan muntah, Gwen menjadi semakin pendiam. Dia khawatir jika dia buka mulut malah akan berkata yang tidak-tidak mengingat dia sangat moody efek hormon ibu hamil.

Anastasia dan Eugene yang melihat kejadian itu saling berpandangan heran. Begitu ada kesempatan, mereka langsung bertanya pada Sierra.

"Sierra, katakan yang sebenarnya, ada apa antara kau dan Gwen?" tanya Anastasia dengan rasa penasaran yang meluap.

"Benar. Kenapa dia sekarang menjauhi Nora dan malah berusaha dekat denganmu?" tambah Eugene.

"Tidak ada apa-apa. Dia hanya memintaku mengajari soal pelajaran sama seperti murid lain," jawab Sierra datar sambil terus menulis.

"Lalu kenapa kau memberinya susu dan cokelat tadi? Biasanya yang meminta bantuanmu yang memberikan sesuatu padamu," desak Anastasia lagi. "Lagipula apa untungnya baik dengan dia? Dia kan bukan temanmu. Dia juga sering bergosip tentangmu dengan Nora dan yang lain."

"Aku hanya kasihan. Dia tampak lemas, mungkin lupa sarapan. Aku tidak mau dia pingsan di kelas," sahut Sierra tanpa menoleh.

"Hanya itu saja? Sejak kapan kau jadi begitu peduli pada orang lain?" tanya Eugene sangsi.

Anastasia justru tertawa kecil dan merangkul bahu Sierra. "Kau tidak tahu saja, Eugene. Sierra ini memang sebenarnya luarnya saja yang keras, tapi hatinya sangat lembut. Duh, kenapa kau bukan pria saja, Sierra? Kalau kau pria, sudah kujadikan pacar!"

"Aku tidak mau membayangkan Sierra jadi pria!" potong Eugene cepat dengan wajah sedikit memerah.

Dua hari kemudian, kabar yang ditunggu akhirnya tiba. Sepulang sekolah, Sierra membawa Gwen ke sebuah alamat. Gwen sempat mengira mereka akan ke klinik terpencil, namun matanya membelalak saat taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta eksklusif dengan penjagaan ketat.

Di dalam salah satu ruangan, seorang dokter wanita paruh baya menatap Gwen melalui bingkai kacamata peraknya. Alih-alih langsung memberikan tindakan, dokter itu justru menatap Gwen dengan tatapan kecewa dan memberikan ceramah pada Gwen.

"Kau masih sangat muda," ujar sang dokter tegas. "Anggap ini pelajaran keras. Jangan biarkan perasaan mengalahkan logika di masa depan. Kau sudah dewasa secara biologis, maka berpikirlah secara dewasa sebelum bertindak."

Gwen hanya bisa menunduk. Air matanya jatuh membasahi rok seragamnya. Rasa malu dan sesal bercampur menjadi satu di dadanya.

Setelah pemeriksaan USG, dokter mengonfirmasi usia kandungan baru sekitar tiga minggu. "Ini masih berupa jaringan kecil. Kita gunakan metode medis dengan obat penggugur kandungan. Obat pertama menghentikan pertumbuhan, obat kedua mengeluarkan jaringannya. Kau akan mengalami kram dan pendarahan," jelas dokter itu tenang.

Wajah Gwen memucat pasi. "Apa... apa ini berbahaya? Apa aku... Bisa mati?"

"Di bawah pengawasanku, risikonya minimal. Jangan khawatir. Aku akan terus memantau sampai kau pulih total."

Dua minggu telah berlalu, Gwen telah pulih total setelah dia menggugurkan kandungannya. Sikap Gwen pun berubah total setelahnya.

Tidak ada lagi pemandangan Gwen yang asyik memoles kuku dengan santai di tengah jam pelajaran. Kini, dia lebih sering menghabiskan waktunya di depan piano yang terletak di ruang seni sekolah, atau mendekam di sebuah studio musik yang letaknya tak jauh dari Metropolia International School.

Gwen resmi mendaftar sebagai murid les di studio itu sejak seminggu yang lalu. Ambisinya telah bergeser sepenuhnya. Jika dulu ia hanya bermimpi untuk menikah dengan pria kaya yang akan memperlakukannya dengan baik dan menikmati hidup sebagai sosialita kelas atas, kini ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Gwen ingin memiliki kendali penuh atas setiap keputusan dalam hidupnya tanpa harus bergantung pada siapa pun.

Ia teringat kembali pada cita-cita lamanya untuk menjadi seorang pianis profesional. Dulu, orang tuanya memadamkan keinginan itu. Bagi keluarga Preston, bermain piano hanyalah sebuah hobi atau keterampilan tambahan untuk mempercantik citra di pergaulan kelas atas, bukan sebuah profesi. Mereka tidak sudi melihat putri mereka hidup sebagai performer yang berpindah-pindah dari satu panggung ke panggung lainnya.

Namun, kali ini Gwen tidak akan membiarkan siapa pun mendikte jalannya. Ia sudah memantapkan hati, setelah lulus nanti, ia akan mendaftar ke akademi musik terbaik di dunia yang berada di luar negeri.

Ini juga kesempatan untuk dia pergi sejauh mungkin dari pengaruh keluarga Preston yang selama ini hanya menganggapnya sebagai alat politik.

Gwen sadar bahwa ambisi barunya memerlukan kerja keras. Karena akademi musik tujuannya menetapkan standar nilai yang tinggi, ia mulai mengejar ketertinggalan akademiknya dengan serius. Ia sering mendatangi meja Sierra untuk menanyakan materi pelajaran yang tidak ia pahami. Meski Sierra menyambutnya dengan wajah datar dan dingin, gadis itu tidak pernah mengusir Gwen. Sierra selalu menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan lugas dan memberikan penjelasan dengan sabar.

Nora memperhatikan interaksi itu dengan rahang mengeras. Ia merasa dikhianati oleh gwen. Baginya, kehilangan Gwen berarti kehilangan satu pion lagi setelah Wanda dan Yara. Kini, rencananya untuk menjatuhkan Sierra menjadi semakin sulit karena gadis itu justru semakin dikelilingi oleh orang-orang yang mendukungnya.

Nora tidak mengerti apa yang membuat Sierra begitu disukai dengan sikapnya yang dingin dan arogan itu.

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!