seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 | pernikahan yang tak terduga
"cinta kita memang Berawal dari dendam awalnya, tetapi cintaku ke lo itu tulus."
Afan baskara Khadafy
🍃🍑🍃🍑
"gua awalnya kecewa, ketika gue tau ternyata lo mendekatiku hanya untuk dendam. tapi perlahan gue sadar, lo itu di tekan oleh keadaan dan terpaksa melakukan dendam itu kepadaku."
serli devia artika
selamat membaca gayss
happy readingg
tiga hari telah berlalu, dan kini hari dimana pernikahan yang tak pernah Afan inginkan telah tiba.
pikiran Afan melayang ke arah Devi, apa Devi akan datang? fikirnya.
fikiran nya pun buyar ketika pintu kamar terbuka. "Afan, ayo keluar" suara mamahnya terdengar dari ambang pintu.
Afan mengangguk, lalu mengambil nafas dalam dalam.
sedangkan diluar, Clarissa menunggu Afan di altar dengan senyum manis nan licik.
Afan melangkah keluar kamar, kaki Afan serasa berat, seperti menapaki jalan menuju ke arah jurang. voke tersenyum, senyuman kemenangan. Afan melihat Clarissa, yang berdiri di ujung lorong altar.berpakaian gaun putih yang sangat elegan dan pas di tubuhnya.
"fan, kamu sangat begitu tampan hari ini. jangan kacaukan hari ini fan" ucap voke, dan menyesuaikan dasi Afan.
Afan tidak menjawab, dia hanya menatap ke depan dengan pandangan dingin.
Clarissa menatap afan, senyum nya semakin lebar. Afan berhenti di depan Clarissa. "Lo menang, clar." katanya, suaranya terdengar sangat dingin.
Clarissa tersenyum miring, "ini baru awal fan"
mereka melangkah menuju altar, diiringi musik klasik.
[Gambar: Pasangan pengantin berjalan menuju altar dengan dekorasi bintang dan lampu gantung]
Devi tersenyum tipis, menyembunyikan kesedihan di balik mata yang berkaca-kaca.
[Gambar: Dekorasi bintang yang banyak dan lampu gantung]
Mala yang menyadari mata devi berkaca kaca, ia menepuk pelan pundak Devi dan menatapnya sambil tersenyum.
vio yang menyadari Devi sedang sedih hatinya ia tiba tiba nyeletuk "gua kapan yak nikah?" celetukan vio mampu membuat devi dan mala menatap tak percaya dengan celetukan vio barusan.
"Lo mau nikah sama siapa kocak?" sahut Mala
Devi ikut menimpali dengan nada yang mengejek vio "Lo aja gapunya pacar vioo"
ejekan Devi mampu membuat wajah vio cemberut, vio pun langsung menatap Devi dengan tatapan mengidentifikasi. "apaan sih! kan gue punya pacar kalian aja yang gatau"
Devi dan mala mengangkat satu alisnya.
"elo punya pacar? siapa?"tanya mala
vio dengan bangganya langsung menjawa, "pacar gua tuh yang di Korea itu! cakepp bangett ASTAGAA"heboh vio
Mala dan Devi reflek saling bertatapan dan menghadap ke vio lagi lalu,"dih najong" ucap mereka berdua barengan.
wajah vio kembali cemberut, Devi dan mala yang melihat itu langsung menyemburkan tawanya.
"ahahaha" tawa devi dan mala
"apaan sihh kaliann, tau ahhh" vio melipat tangan nya di dada
"udah dongg jangan ngambek ngambek gitu, kan yang jelek nambah jelek" ejek devi sambil merangkul pundak vio.
tawa Mala kembali pecah ketika melihat Devi kembali mengejek vio.
"ahh tau dehh deviii!" vio kesal
"yaampunnn ututututu...pacarnya si eby eby itu lagi ngambek yakk" goda Devi
"apaan sih siapa yang pacaran sama dia cobak?"tanya vio
"ya elu" jawab mala
Mala menatap ke arah altar, yang dimana kini Afan dan clarissa telah resmi sebagai pasangan suami istri.
devi melihat Mala yang kembali menatap ke depan altar, dan devi juga baru menyadari bahwa sekarang Afan dan clarissa telah resmi sebagai pasangan suami istri.
vio yang tadi terlihat kesal dengan kedua teman nya mendadak ikutan menatap ke depan.
"gays.." panggil vio ke mereka berdua
Mala menoleh ke arah vio namun tidak dengan Devi, Devi masih menatap ke depan altar dengan mata yang berkaca-kaca.
Mala mengusap pelan punggung Devi supaya tenang, dan vio menepuk pelan pundak devi. Devi akhirnya menoleh ke mereka berdua, "gays gaada harapan lagi..." ucap Devi pelan
tanpa aba aba lagi mereka berdua memeluk erat devi, mencoba untuk menenangkan devi yang kini air matanya telah mengalir.
di atas altar, mereka berdua duduk di sofa yang telah di sediakan di altar khusus pengantin.
Clarissa mencoba meraih tangan Afan untuk ia genggam, namun Afan selalu menepisnya.
Clarissa berdecak kesal, "fan? kenapa sih Lo?" tanya clarissa kesal
Afan tak menjawab ia hanya diam.
Clarissa melanjutkan, "gua sekarang istri Lo fan! lupain cewek itu!"
Afan menatap Clarissa dengan pandangan yang sangat marah, "maksud Lo? lupain devi? gak akan Clar!"
"gak akan apanya? Lo sekarang udah jadi milik gua selamanya"
"selamanya? yakin bisa sampe selama itu?"
"ya yakin lahh!"
"tapi gua gak akan biarin pernikahan sialan ini bakal bertahan selamanya"
tangan Clarissa terkepal erat, "kalo gua bakal nyingkirin Devi Lo bisa apa?"
mata Afan melotot terkejut, "Lo jangan sampai apa apain Devi!"
Clarissa tertawa sinis "kalo gua tetep bakal apa apain Devi?"
rahang Afan mengeras mendengar jawaban Clarissa, "gua yang akan nyingkirin Lo, Clar."
mata Clarissa menyipit, "apa apaan inii?" batinnya.
Afan berdiri dari duduk nya, dan berjalan menuju ke arah sang papah. ketimbang di atas altar bersama perempuan hyila itu.
Clarissa yang di tinggal Afan secara tiba tiba ia mendengus sebal, mengapa Afan sangat susah di taklukan?, fikirnya.
Afan melihat Lian yang sedang mengobrol dengan rekan bisnis nya, tanpa basa basi Afan pun langsung menuju ke arah lian.
"pah" panggilnya
Lian menoleh, dan tersenyum tipis ke arah Afan.
"pah boleh kita ngobrol berdua?"tanya Afan
"boleh" jawab Lian
Afan menatap sekeliling sebelum berbicara, "apa papah setuju sama pernikahan aku dan si itu?" tanya afan, malas menyebut nama Clarissa.
"jelas papah tidak setuju fan, dari awal ini cuman rencana mamah kamu bukan papah."terang Lian
"apa masih ada harapan untuk aku kembali ke Devi?"
"masih fan, tapi kamu sekarang udah jadi suami orang"
Afan menghela nafas, lalu ia kepikiran, apa Devi datang ke acara ini?
"pah, Devi datang gak kesini?"tanya Afan
"datang, tadi bersama kedua teman nya"
"kalo eby sama rakha?" tanya Afan lagi
"mungkin datang"
"makasih pah udah ngasih tau aku mau cari Devi dulu" Afan pun langsung pergi dari hadapan Lian
Lian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Afan
"cinta kalian berdua tuh bener bener sedalam itu, walaupun badainya gak berhenti henti" gumam Lian
Afan mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan Devi, dan disana devi berada. bersama kedua temannya, siapa lagi jika bukan Mala dan vio.
afan segera berjalan menghampiri devi, dan ketika ia sampai di belakang Devi, Afan memegang pelan pundak Devi. dan Devi terkejut lalu ia segera menoleh.
betapa terkejutnya Devi, ketika ia melihat Afan berada di belakang nya.
Afan menatap manik mata devi yang terkejut itu, menurut Afan itu sangat lucu ekspresi devinya.
"dev?" panggil Afan kepada Devi sembari tersenyum seperti biasanya
"Lo ngapain kesini?" balas devi
Mala menyahut, "aelah dev pake nanya ngapain kesini lagii, tadi elu aja nangis nangis" vio mengangguk, menyetujui ucapan Mala.
"Lo nangis?" tanya Afan
Devi segera menggelengkan kepala cepat, "apaan si, siapa juga yang nangis?"
"bohong nya ketara banget" ejek afan
"nyenyenye"
Afan hanya terkekeh kecil, lalu tanpa aba aba ia mencubit pelan hidung Devi dan membuat sang empu meringis pelan.
devi mengusap-usap hidungnya yang habis di cubit oleh Afan, ekspresi Devi juga sekarang sudah mengerucutkan bibirnya. tangan devi terangkat dan menabok lengan Afan, dan sekarang giliran Afan yang meringis dengan gaya dramatis. Devi hanya mendengus sebal, padahal kan itu juga tidak terlalu kencang? apalah Afan ini.
"devv sakitt" ucapnya dramatis sambil memegang lengan nya
devi hanya memutar bola matanya malas
Afan mengangkat tangan satunya, dan ia membentuk jarinya menjadi huruf v. "serius deh dev ini sakit bangett, gua gak bohong suer🤞"
"dihh"
"kalo ini sampe parah gimana dev tulangnya?" lanjut afan semakin dramastis
"apaan sih, perasaan gak sampe segitunya dehh" jawab devi tak percaya
afan tersenyum, "gue bercanda doang kok"
"tuhkan apa gua bilanggg"
vio menarik narik tangan Mala dan berbisik pelan, "mal gua males banget jadi nyamuk"
"sama"jawab mala
disaat devi dan Afan saling bercanda dan bertukar cerita, tiba tiba saja voke datang menghampiri keduanya.
"AFAN! DEVI!" panggil voke
tubuh devi dan afan seketika menegang.
"AFAN! kamu ini udah jadi suami orang masih aja deketin dia!" tunjuk voke ke arah devi
devi memutar bola matanya malas.
"dan kamu devi, siapa yang undang kamu ke sini?"tanya voke
"aku" jawab Afan
"AFAN kamu ini-" belum sempat voke menyelesaikan ucapannya tiba tiba saja shara--mama Clarissa, dan bagas--papa Clarissa, tiba tiba saja datang menghampiri voke.
panggil Shara"VOKE!"
"ini kenapa maksudnya? afan masih cinta sama perempuan itu?"tanya shara
"lalu mengapa kau menjodohkan putri kita kepada putramu voke!" lanjut Shara
voke gelanggapan, "Shara, ini hanya kesalah pahaman. afan mana mungkin masih cinta sama dia"
Shara menoleh ke arah Devi dengan tatapan tajam, "jika Afan masih cinta dengan gadis ini, bisa gawat. nanti rencana keluargaku bakal hancur lebur! tidak bisa ini, aku harus cari cara untuk singkirkan Devi!" batin shara penuh dengan emosi
"ngapain noh mak nya si nenek lampir natap gua kek gitu" batin devi
devi tak menggubris tatapan tajam milik Shara, ia malah dengan santainya mengambil segelas minuman di meja bundar sampingnya, dan meminumnya hingga tandas. Mala dan vio sampai tercengang melihatnya, mengapa Devi malah sesantai itu disaat seperti ini? fikir mereka berdua.
"Tante voke yang terhormat gini ya, jangan salahin saya dong! salahin saja anaknya si Tante Shara ini, siapa suruh ngehancurin hubungan orang?" ucap Devi santainya
"DEVI! diam kamu!"
devi hanya menatap voke santai
Shara dan Bagas semakin tajam menatap Devi, karna telah menghina putri mereka ngehancurin hubungan dia? apa apaan.
Devi menatap balik mereka berdua, dan menyahut. "well well, itu kenyataan ya om Bagas dan Tante Shara yang terhormat. kalian tau apa putri kalian itu pernah juga mencoba menghabisi ku dan mengganggu ku terus terusan?"
afan ikutan menyahut Devi, "itu beneran om, Tante"
Devi tersenyum kemenangan karna Afan ikut membelanya.
"buang buang waktu aja disini, mendingan pulang" ucap Devi santainya
lalu ia berjalan pergi meninggalkan mereka semua yang terdiam dan bungkam.
Mala dan vio mengikuti Devi dari belakang menuju ke luar tempat ini.
"afan mantan mu itu sungguh tidak sopan!" ucap Shara lalu ia berbalik dan pergi
"lihat Afan? semuanya jadi kacau gara gara Devi!" ucap voke kesal
"jangan salahin Devi mahhh!" jawab Afan tak kalah emosinya
dan Afan ia berjalan ke luar mengikuti Devi dan kedua teman nya.
Afan memegang pergelangan tangan Devi dari belakang dan menahannya.
"dev, sorry jangan dengerin apa kata mereka ya?"
"tenang aja fan, gak kok"
afan tersenyum lembut ke arah devi
"gua harus pulang fan"ucap Devi
raut wajah Afan berubah sedih, "tungguh gue ya, gua bakal cari cara untuk cerai in Clarissa"
Devi mengangguk dan tersenyum ke arah Afan. senyum yang sangat manis menurut Afan.
"dada fann" Devi melambaikan tangan nya ke arah Afan, dan Afan ia membalas melambaikan tangannya ke arah Devi.
"tunggu gua ya dev" batin Afan sambil menatap mobil yang di kendarai oleh Devi.