Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Udara di Uluwatu siang itu terasa menyengat, namun Alana tetap melangkah menuju area fondasi dengan helm putihnya. Suara alat berat menjadi latar musik rutinnya. Namun, langkahnya terhenti di depan gerbang masuk proyek.
Di sana, di pinggir jalan berdebu, seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun sedang duduk di atas tumpukan batu kali. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya—mungkin ibunya yang bekerja sebagai buruh kasar di sekitar sini—sedang mengomel keras sambil menghitung beberapa lembar uang kumal.
"Cuma segini? Mana cukup buat bayar kontrakan dan susu adikmu!" bentak wanita itu. Suaranya melengking, membelah kebisingan proyek.
Gadis kecil itu hanya menunduk dalam, jemari kecilnya memainkan ujung bajunya yang kotor. "Tadi aku sudah minta bonus ke mandor, Mak, tapi katanya belum ada."
"Kamu itu nggak guna! Harusnya kamu lebih pintar merayu, biar kita dikasih lebih! Lihat tuh, Ibu sampai pusing begini mikirin utang!"
Deg.
Kalimat itu menghantam jantung Alana seperti palu godam. Pandangannya mengabur. Tiba-tiba, debu konstruksi di sekitarnya seolah berubah menjadi ruang tamu rumahnya dua puluh tahun lalu.
Memori yang Kembali Menghujam
Alana kecil berdiri di sana, di tempat gadis itu berada. Ia baru saja pulang membawa piala lomba lukis, berharap sebuah pelukan. Namun, yang ia terima adalah wajah Ibu yang ditekuk karena tagihan listrik yang menunggak.
"Piala nggak bisa dimakan, Alana! Kenapa kamu nggak minta uang saku lebih saja sama guru-gurumu? Kamu tahu kan Ibu susah?"
Kata-kata "susah", "pusing", dan "utang" adalah lagu nina bobo Alana sejak kecil. Ia tidak pernah diizinkan menjadi anak-anak. Ia dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya, menjadi tempat sampah emosi Ibunya, dan menjadi solusi atas ketidakmampuan finansial keluarganya.
Bahkan saat ia jatuh dan lututnya berdarah hebat, Ibu hanya berkata: "Jangan menangis, Alana. Biaya obat itu mahal. Kamu harus kuat, jangan bikin Ibu tambah beban."
Sejak hari itu, Alana berhenti menangis. Ia membunuh sisi rapuhnya dan menggantinya dengan mesin pengejar kesuksesan, hanya agar ia tidak lagi disebut "beban".
Realitas di Uluwatu
"Bu Alana? Anda baik-baik saja?" suara pengawas lapangan membuyarkan lamunannya.
Alana tersentak. Napasnya memburu. Ia melihat gadis kecil itu sekarang sedang menyeka air matanya dengan punggung tangan, berusaha tidak bersuara agar Ibunya tidak semakin marah.
Tanpa pikir panjang, Alana merogoh dompetnya. Ia mendekati mereka, menyelipkan beberapa lembar uang besar ke tangan gadis itu—bukan ke tangan ibunya.
"Ini untuk sekolahmu. Jangan berikan ke siapa pun," bisik Alana pelan, matanya menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu yang kini tertegun.
Alana berbalik dan berjalan cepat menuju kantor proyek. Dadanya sesak. Ia segera masuk ke ruangan AC yang dingin, mengunci pintu, dan menyandarkan punggungnya di sana. Tubuhnya gemetar.
Ia meraba ponselnya dan tanpa sadar menekan nomor pribadi Pradipta. Ia tidak butuh instruksi kerja. Ia hanya butuh seseorang yang tahu bahwa saat ini, ia sedang "panas".
Panggilan itu diangkat pada nada kedua.
"Alana? Ada apa?" suara Pradipta terdengar khawatir di seberang sana.
"Saya... saya melihat diri saya sendiri tadi, Pradipta," suara Alana bergetar hebat. "Saya melihat anak kecil yang tidak boleh menangis karena ibunya sedang 'pusing'. Ternyata luka itu tidak pernah benar-benar kering, ya?"
Hening sejenak di ujung telepon. Alana bisa mendengar helaan napas berat Pradipta yang menenangkan.
"Luka itu bagian dari sejarahmu, Alana. Tapi dia bukan lagi masa depanmu," ujar Pradipta lembut. "Bernapaslah. Kamu di Bali sekarang, bukan di ruang tamu itu lagi. Kamu sudah berhasil keluar."
Alana memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa rasa takut. Kali ini, ia tidak menangis karena dilarang, tapi karena ia tahu, ada seseorang di Jakarta yang sedang menjaganya agar tetap berpijak di bumi.