🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 | Puncak Badai Moneter
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Udara di dalam ruang trading utama Grup Dragon terasa tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar oleh kepanikan yang terpancar dari puluhan layar monitor. Suara denting konstan dari mesin tele type dan teriakan para pialang menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga. Hari ini, 2 Juli 1997, sejarah sedang ditulis dengan tinta merah. Thailand baru saja mengambangkan mata uang Baht, dan efek domino itu menghantam Asia seperti tsunami yang tak terbendung.
Aku berdiri di balkon lantai mezanin, memperhatikan lantai bursa di bawah ku. Di atas kepala setiap pialang yang sedang berteriak panik, aku melihat angka-angka yang terjun bebas. Aura ruangan itu berwarna abu-abu kehijauan, warna dari ketakutan finansial yang murni.
"Inilah saatnya," kata ku dalam hati. "Dunia yang dulu menghina ku sebagai sampah sekarang sedang runtuh. Dan aku? Aku adalah satu-satu nya orang yang memegang peta di tengah badai ini."
Aku merasakan panas yang membakar di balik mata ku. Darah cenayang ku bergejolak, mensinkronkan detak jantung ku dengan fluktuasi pasar global. Aku bisa melihat benang-benang takdir ekonomi yang saling menjerat; aku melihat miliaran dollar berpindah tangan dalam hitungan detik, dan aku melihat kehancuran total bagi mereka yang masih memegang aset dalam mata uang lokal.
"Satya! Kita kehilangan dua puluh persen nilai aset kita dalam tiga jam!" suara Wang Meiling memecah fokus ku.
Dia menghampiri ku dengan rambut yang sedikit berantakan, pertama kali nya aku melihat sang "Wanita Es" kehilangan ketenangan nya. Di atas kepala nya, angka kerugian terus berkedip: -$400.000.000.
"Ayah ku sedang dalam rapat darurat dengan Bank Sentral, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Cadangan devisa kita menipis, dan spekulan asing yang dipimpin oleh George Soros sedang mengincar Yuan setelah mereka menghancurkan Baht!" Meiling mencengkeram lengan ku, kuku-kuku nya yang terawat menusuk kain jas sutra ku. "Kita akan bangkrut, Satya. Grup Dragon akan tamat sebelum matahari terbenam."
Aku menoleh pada nya, menatap mata nya yang dipenuhi keputusasaan. "Meiling, lihat aku."
Dia mendongak. Aku membiarkan sedikit kilatan merah darah di pupil ku terlihat oleh nya. "Apakah kau masih mempercayai ku?"
"Aku... aku tidak punya pilihan lain," bisik nya dengan bibir gemetar.
"Beri aku kendali penuh atas meja trading," kata ku, suara ku rendah namun memiliki otoritas yang membuat para pialang di bawah berhenti berteriak sejenak. "Beri aku otoritas mutlak untuk menggunakan seluruh sisa modal perusahaan, termasuk dana cadangan keluarga Wang."
Meiling terbelalak. "Itu bunuh diri! Jika kau gagal, keluarga ku tidak hanya akan miskin, kami akan dipenjara karena hutang luar negeri!"
"Jika aku tidak melakukan nya, kalian sudah mati saat ini juga," aku melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kami hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan. "Percayalah pada ku. Aku akan membuat para spekulan itu berlutut di kaki mu."
Meiling menarik napas panjang, menatap kedalaman mata ku yang tak manusiawi. "Lakukan. Aku akan memberikan otoritas darurat pada mu."
Aku turun ke lantai trading. Suasana mendadak hening saat aku melangkah ke meja utama. Para pialang senior menatap ku dengan sinis.
"Siapa pria ini? Meiling, kau gila memberikan kendali pada orang asing di saat seperti ini?" teriak kepala trader, seorang pria tua bernama Zhang yang sudah bekerja tiga puluh tahun di sana.
"Diam dan dengarkan instruksi nya!" perintah Meiling dari atas balkon dengan suara yang kembali dingin dan tajam.
Aku duduk di kursi utama, menatap deretan monitor yang menampilkan grafik jatuh. Mata ku mulai bekerja. Aku melihat masa depan lima menit ke depan, lalu sepuluh menit, lalu satu jam. Aku melihat pergerakan spekulan asing yang sedang melakukan short-selling massal terhadap Yuan melalui pasar gelap di Hong Kong.
"Semuanya, dengarkan!" teriak ku. "Jangan beli Yuan. Jual seluruh sisa Yuan kita sekarang juga."
"Apa?!" Zhang berteriak. "Itu akan mempercepat kejatuhan mata uang kita! Itu pengkhianatan!"
"LAKUKAN!" bentak ku. "Jual Yuan, beli kontrak opsi put pada Baht dan Rupiah secara besar-besaran lewat broker di Singapura. Gunakan leverage satu banding seratus!"
Tangan para pialang gemetar, namun di bawah tatapan Meiling, mereka mulai mengeksekusi perintah ku. Selama satu jam pertama, angka kerugian kami membengkak. Wajah Meiling di balkon tampak semakin pucat.
"Sedikit lagi..." batin ku. "Mereka pikir mereka sedang memancing ikan kecil, padahal mereka sedang mengumpan naga."
Tiba-tiba, penglihatan ku menangkap sebuah kilatan emas. Titik balik.
"Sekarang!" aku berdiri, menunjuk ke layar. "Tarik seluruh keuntungan dari opsi di Singapura. Kita punya likuiditas tiga kali lipat sekarang. Gunakan semua nya untuk membeli Yuan kembali di titik terendah ini. Serang posisi spekulan di pasar berjangka!"
"Tapi Yuan masih turun!" Zhang memprotes.
"Tidak lagi," kata ku tenang. "Bank Sentral China baru saja memutuskan untuk melakukan intervensi rahasia dalam tiga puluh detik ke depan. Jika kita membeli sekarang, kita akan naik bersama mereka."
Tepat tiga puluh detik kemudian, sebuah tembok pembelian raksasa muncul di layar. Bank Sentral masuk ke pasar dengan kekuatan penuh. Karena posisi kami sudah berada di sana lebih dulu dengan modal raksasa hasil keuntungan opsi tadi, nilai aset kami meroket dalam hitungan detik.
"Tuan! Spekulan asing terjepit!" teriak salah satu pialang muda. "Mereka harus membeli kembali Yuan dengan harga tinggi untuk menutup posisi mereka! Kita sedang memeras mereka!"
Aku tidak berhenti di situ. Mata ku melihat rahasia di balik layar komputer para spekulan di London. "Zhang! Masuk ke pasar komoditas. Beli emas sekarang. Besok pagi, dunia akan panik dan emas akan menjadi satu-satu nya tempat berlindung. Kita akan melipat gandakan keuntungan ini sepuluh kali lipat."
Selama empat jam berikut nya, aku menggerakkan meja trading seperti konduktor memimpin orkestra. Aku tidak butuh laporan analis; aku melihat masa depan langsung dari sumber nya. Setiap kali pasar bergejolak, aku sudah tahu arah nya sebelum grafik itu terbentuk.
Pukul 17.00. Bel penutupan pasar berbunyi.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Semua mata tertuju pada layar ringkasan total.
Angka merah kerugian di atas kepala Meiling telah menghilang, digantikan oleh aura emas yang menyilaukan. Di layar utama, angka laba bersih hari itu tertera dengan jelas: $3.500.000.000 (3,5 Miliar Dollar).
Sorakan pecah. Para pialang berpelukan, beberapa menangis tersedu-sedu karena lega. Zhang terduduk di kursi nya, menatap ku dengan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan.
Aku berdiri, merasakan kelelahan yang luar biasa menghantam tubuh ku. Menggunakan kekuatan pada skala ini benar-benar menguras jiwa ku. Aku berjalan perlahan menuju lift, namun langkah ku terhenti saat Meiling berlari menuruni tangga dan menerjang ke arah ku.
Dia memeluk ku dengan sangat erat di depan semua karyawan nya. Dia tidak peduli lagi dengan citra "Wanita Es"-nya.
"Kau melakukan nya... Kau benar-benar melakukan nya, Satya," isak nya di dada ku. "Kau menyelamatkan keluarga ku. Kau menyelamatkan Grup Dragon."
Aku membalas pelukan nya, merasakan kehangatan tubuh nya yang gemetar. "Aku sudah berjanji pada mu, Meiling. Dan aku selalu menepati janji ku."
Dia melepaskan pelukan nya sedikit, menatap wajah ku. Mata nya berkaca-kaca, namun ada api ketertarikan yang sangat kuat di sana, bukan lagi sekadar kagum pada genius nya, tapi ketertarikan seorang wanita pada pria yang telah menaklukkan dunia nya.
"Malam ini..." bisik Meiling, suara nya hanya bisa di dengar oleh ku di tengah keriuhan. "Tidak ada pesta besar. Hanya kau dan aku di griya tawang ku. Aku ingin merayakan ini... secara pribadi."
Sentuhan tangan nya di dada ku terasa membakar. Aku tahu apa yang dia tawarkan, dan sebagai pria, darah ku berdesir. Namun, sebelum aku sempat menjawab, ponsel di saku jas Meiling berdering.
"Ayah?" Meiling mengangkat telepon nya. "Ya, kami berhasil... Satya melakukan mukjizat... Apa? Detektif Chen ada di kantor depan? Dia ingin bertemu Satya sekarang?"
Aku tersenyum tipis. Detektif Chen tidak akan membiarkan ku tenang setelah kejadian di gudang tempo hari.
"Wanita-wanita ini," pikir ku sambil melihat ke arah pintu masuk di mana Chen berdiri dengan seragam nya yang ketat, menatapku dengan tajam melintasi ruangan. Di samping ku, Meiling menggenggam lengan ku secara posesif. "Dunia mungkin sedang hancur karena krisis, tapi di sekitar ku, badai yang berbeda sedang terbentuk. Badai yang jauh lebih menyenangkan untuk dijinakkan."
Aku menatap ke luar jendela gedung. Di kejauhan, aku bisa melihat penglihatan baru: Jakarta sedang terbakar. Mantan istriku, Clarissa, sedang duduk di kursi roda dengan wajah yang diperban, menatap layar TV yang menyiarkan kesuksesan seorang investor misterius di Shanghai yang baru saja mengalahkan pasar global.
"Lihatlah, Clarissa," batin naga di dalam diri ku bersorak. "Sampah yang kau buang kini menjadi raja yang mengatur nafas ekonomi mu. Dan ini hanyalah awal dari penaklukan ku."
Aku melangkah menuju Detektif Chen, dengan Meiling yang tetap menempel di sisi ku. Hari ini aku meraup triliunan, namun bagi ku, kemenangan yang sesungguh nya adalah melihat bagaimana takdir kini berlutut memohon di bawah kaki ku.
...----------------🍁----------------🍁----------------...