Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 - manusia lebih tajam dari binatang
Pagi di Desa Qinghe terasa tidak wajar.
Bukan karena suara, melainkan karena ketenangan yang terlalu rapi—seolah desa itu sedang menahan napas. Angin bertiup pelan, namun dedaunan tidak banyak bergerak. Burung-burung enggan turun ke ladang.
Qing Lin merasakannya sejak membuka mata.
Ia duduk di tepi ranjang, menutup mata sejenak, lalu mengatur napas. Qi di tubuhnya stabil, berputar perlahan di sekitar titik kecil di bawah pusarnya. Tidak bertambah banyak, namun lebih patuh.
Namun ada hal lain.
Tekanan samar.
Seperti tatapan yang tidak terlihat.
Qing Lin berdiri, mengambil keranjang, dan berpura-pura menjalani hari seperti biasa. Ia menyapa beberapa tetangga, membantu menimba air, lalu berjalan ke arah hutan dengan alasan mencari kayu bakar.
Ia tahu seseorang mengikutinya.
Langkah itu rapi, ringan, terlalu teratur untuk pemburu desa.
Qing Lin tidak menoleh.
Ia memperlambat langkah.
Memastikan jarak.
Begitu masuk ke jalur sempit yang dikelilingi pohon tua, Qing Lin berhenti.
“Apa kau butuh sesuatu?” tanyanya datar.
Daun berdesir.
Seorang pria muncul dari balik pepohonan.
Usianya sekitar dua puluh lima, jubah biru tua melekat rapi di tubuhnya. Lencana awan perak tergantung jelas di dada—pengawas luar Sekte Awan Biru.
Namun berbeda dari yang datang sebelumnya.
Tatapan pria ini lebih tajam.
Lebih dingin.
“Kau peka,” katanya singkat. “Lebih dari yang seharusnya dimiliki pemuda desa.”
Qing Lin menatap balik, tenang. “Aku hanya tidak tuli.”
Pria itu menyipitkan mata.
“Namamu Qing Lin.”
Itu bukan pertanyaan.
Qing Lin tidak menyangkal. “Ya.”
Pria itu melangkah mendekat satu langkah.
Qi keluar dari tubuhnya—tidak kuat, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar bergetar. Tekanan itu mengarah langsung ke dada Qing Lin.
Bagi orang biasa, lutut mereka akan gemetar.
Qing Lin hanya merasakan berat.
Qi di tubuhnya bergerak otomatis, membentuk lapisan tipis yang menahan tekanan itu. Tidak sempurna, namun cukup.
Pria itu berhenti.
Alisnya terangkat sedikit.
“Kau tidak punya akar spiritual,” katanya pelan. “Aku sudah memeriksanya.”
Qing Lin mengangguk. “Aku tahu.”
“Namun kau menyerap qi.”
Itu pernyataan.
Qing Lin diam.
Beberapa detik berlalu.
Angin berhembus.
Pria itu tertawa kecil. “Tenang. Aku tidak tertarik membunuhmu.”
Qing Lin tidak langsung percaya.
“Namaku Yu Chen,” lanjut pria itu. “Aku pengawas luar. Tugasku memastikan tidak ada penyimpangan yang membahayakan sekte.”
“Dan aku?” tanya Qing Lin.
Yu Chen menatapnya lama. “Kau adalah penyimpangan yang… rapi.”
Ia mengelilingi Qing Lin satu putaran, seperti menilai barang.
“Ada darah di fondasimu,” katanya pelan. “Tipis. Terkendali. Kau membunuh binatang iblis.”
Qing Lin mengepalkan tangan.
Ia tidak menyangkal.
“Menariknya,” lanjut Yu Chen, “kau tidak kecanduan.”
Itu membuatnya berhenti.
“Banyak kultivator yang menggunakan teknik darah jatuh dalam kegilaan. Kau tidak.”
Qing Lin mengangkat pandangan. “Aku tidak mencarinya.”
Yu Chen tersenyum tipis. “Justru itu yang berbahaya.”
Ia mengeluarkan sebuah batu kecil berwarna abu-abu dari lengan bajunya.
“Ini batu penanda qi. Jika kau berbohong, ia akan retak.”
Ia melemparkannya ke tanah di antara mereka.
“Jawab jujur,” katanya. “Apakah kau berniat melangkah lebih jauh?”
Qing Lin menatap batu itu.
Lalu menatap Yu Chen.
“Aku hanya ingin hidup,” jawabnya pelan. “Dan melindungi satu orang.”
Batu itu tidak bereaksi.
Yu Chen menutup mata sesaat, lalu menghela napas pendek.
“Jawaban yang membosankan,” katanya. “Namun… bersih.”
Ia mengambil batu itu kembali.
“Dengarkan baik-baik, Qing Lin,” lanjutnya dengan nada lebih rendah. “Aku akan berpura-pura tidak melihatmu. Sekte juga tidak akan mengganggumu—untuk sementara.”
“Namun jika kau melangkah keluar dari desa ini…”
Ia menatap tajam.
“Dunia kultivasi tidak selembut binatang iblis.”
Qing Lin mengangguk. “Aku mengerti.”
Yu Chen berbalik pergi.
Namun sebelum menghilang di balik pepohonan, ia berhenti.
“Satu saran,” katanya tanpa menoleh. “Jika teknikmu terus tumbuh… belajarlah menahan, bukan menambah.”
Setelah itu, ia pergi.
Qing Lin berdiri sendirian di jalur hutan.
Napasnya tetap stabil, namun telapak tangannya basah oleh keringat.
Ia baru saja menyadari satu hal penting:
Binatang iblis menyerang dengan taring.
Manusia menyerang dengan niat.
Dan niat—
jauh lebih sulit dihindari.
Saat ia kembali ke desa, matahari sudah tinggi.
Ia menatap langit sebentar.
Jalannya masih sunyi.
Namun kini, ia tahu—
sunyi bukan berarti aman.