NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Sepatu Naga Awan dan Lorong Angin Pisau

Lorong bawah tanah itu bergetar hebat. Debu dan kerikil berjatuhan dari langit-langit seiring dengan derap langkah kaki yang memburu di kegelapan.

"JANGAN LARI, TIKUS KECIL!"

Suara Tetua Topeng menggelegar di belakang, disertai dengan gelombang Qi yang menghancurkan pilar-pilar batu di sisi lorong. Jarak mereka semakin dekat. Meskipun Ye Chen memiliki fisik yang kuat, perbedaan empat tingkat kultivasi (Tingkat 4 vs Tingkat 8) dalam hal kecepatan murni sangat sulit dijembatani.

Ye Chen menggertakkan gigi. Keringat dingin membasahi punggungnya.

"Sialan, orang tua itu cepat sekali," umpat Ye Chen.

Dia melirik ke belakang. Tetua Topeng terbang melayang rendah di atas tanah, didorong oleh aura hitam yang pekat. Di sebelahnya, Tetua Besi berlari dengan langkah berat yang menghancurkan lantai, kapak besarnya siap membelah apapun.

Jarak mereka tinggal lima puluh meter.

"Aku butuh kecepatan lebih," batin Ye Chen.

Tangannya meraba Kantong Penyimpanan sambil berlari. Dia mengeluarkan sepatu bot usang yang baru saja dia curi dari kotak batu di altar.

Sepatu itu terbuat dari kulit bersisik warna perak pudar, terlihat tua dan tidak istimewa. Namun, saat Ye Chen memegangnya, dia merasakan denyut energi angin yang liar di dalamnya.

Sepatu Naga Awan (Cloud Dragon Boots).

Harta Karun Tingkat Bumi - Bawah.

"Pakai saja dulu!"

Tanpa berhenti berlari, Ye Chen menendang sandal jeraminya yang sudah hancur, lalu memasukkan kakinya ke dalam sepatu bot itu sambil melompat.

Sreeet!

Ajaibnya, sepatu itu menyusut seketika, menyesuaikan diri dengan ukuran kaki Ye Chen dengan sempurna. Rasanya seperti kulit kedua.

Ye Chen mengalirkan Qi-nya ke kaki.

WUUUNG!

Sepatu itu menyala terang. Sisik-sisik peraknya terbuka, memancarkan uap putih yang berputar di sekitar betis Ye Chen.

Tiba-tiba, tubuh Ye Chen terasa seringan bulu. Gravitasi seolah kehilangan cengkeramannya.

"Ini..." mata Ye Chen berbinar.

Dia mencoba satu langkah.

SWUUUSH!

Bukan lari, dia meluncur. Satu langkah membawanya melesat dua puluh meter ke depan, meninggalkan jejak kabut putih. Kecepatannya melonjak dua kali lipat!

Di belakang, mata Tetua Topeng membelalak di balik topeng besinya.

"Harta Karun Tingkat Bumi?! Bocah itu memakainya?!"

Keserakahan di mata Tetua Topeng semakin menjadi-jadi. Harta Tingkat Bumi adalah sesuatu yang bahkan Ketua Sekte pun jarang memilikinya. Sepatu itu bisa membuat seorang kultivator terbang jarak pendek!

"Tetua Besi! Gunakan Pil Pembakar Darah! Jangan biarkan dia lolos dengan harta itu!" perintah Tetua Topeng.

Tetua Besi menggeram. Dia menelan sebuah pil merah. Otot-ototnya membesar, pembuluh darah di matanya pecah. Kecepatannya juga meledak, mengejar Ye Chen dengan gila.

Ye Chen merasakan lonjakan kecepatan musuh.

"Masih mengejar?" Ye Chen melihat peta di tangannya sekilas.

Lorong di depan bercabang dua. Kiri menuju jalan buntu. Kanan menuju area yang ditandai dengan simbol Tengkorak Angin.

"Lorong Angin Pisau..." Ye Chen menyeringai tipis. "Tempat yang cocok untuk mengubur sampah."

Ye Chen berbelok tajam ke kanan.

Begitu dia memasuki lorong itu, suara siulan tajam langsung menyerang telinganya.

Srrrt! Srrrt!

Angin di sini bukan angin biasa. Dinding lorong dipenuhi dengan formasi pedang kuno yang rusak, memuntahkan Qi Pedang (Sword Qi) yang tak terkendali ke udara, menciptakan badai angin yang setajam silet.

Baju Ye Chen langsung robek di beberapa bagian. Pipinya tergores.

Namun, Ye Chen tidak melambat. Dia memiliki Niat Pedang di dalam jiwanya. Dia menyelaraskan auranya dengan angin tajam itu, membiarkan angin "mengenalinya" sebagai sesama pedang, sehingga serangan angin itu meminimalisir dampaknya pada tubuhnya.

Tapi musuhnya tidak memiliki kemewahan itu.

Tetua Besi dan Tetua Topeng menerobos masuk ke lorong itu.

"ARGH!"

Tetua Besi berteriak kaget. Angin tajam itu langsung menyayat kulit bajanya. Baju zirahnya berdecit ngeri, tergores dalam ribuan kali dalam sedetik.

"Hati-hati! Ini Formasi Pedang Angin!" teriak Tetua Topeng, segera mengaktifkan perisai Qi hitamnya.

Meskipun kuat, mereka harus membagi konsentrasi untuk menahan angin pisau itu, membuat kecepatan mereka menurun drastis.

Ye Chen berhenti di ujung lorong yang menyempit. Di belakangnya adalah jalan buntu berupa jurang gelap. Ini adalah tempat terakhir.

Dia berbalik, mencabut Pedang Pemecah Gunung dari punggungnya.

Pedang hitam raksasa itu berdengung, seolah menantang badai angin di sekelilingnya.

"Kalian mengejarku sampai ke sini," suara Ye Chen tenang, tapi terdengar jelas di antara deru angin. "Sekarang, tidak ada jalan lari lagi."

Tetua Besi, yang tubuhnya penuh luka sayatan halus dan berdarah-darah, tertawa meremehkan.

"Jalan lari? Kau yang terpojok, Bocah! Jurang di belakangmu, kami di depanmu. Serahkan sepatu dan peta itu, lalu lompatlah. Mungkin kau akan selamat jika beruntung."

Tetua Topeng melayang mendekat, matanya waspada. "Hati-hati, Besi. Dia sengaja memancing kita ke sini."

"Pancingan apa? Dia hanya Tingkat 4! Di hadapan kapakku, dia hanya daging cincang!"

Tetua Besi, yang sudah kehilangan kesabaran karena efek Pil Pembakar Darah, tidak mau menunggu. Dia melompat tinggi, kapak raksasanya diayunkan dengan kekuatan penuh Tingkat 7 Puncak.

Teknik Kapak: Pembelah Gunung Berdarah!

Kapak itu bersinar merah, membelah angin pisau di lorong itu, mengarah tepat ke kepala Ye Chen.

Ye Chen menatap kapak itu. Waktu melambat.

Dia tidak menggunakan teknik pertahanan. Dia menekan kakinya ke tanah, mengaktifkan Sepatu Naga Awan dan Tubuh Guntur secara bersamaan.

"Salah," bisik Ye Chen. "Bukan aku yang terpojok."

Ye Chen menghilang.

Langkah Naga: Kilatan Awan!

Kecepatannya begitu tinggi hingga dia meninggalkan Afterimage (bayangan tertinggal) yang masih berdiri di tempatnya.

Kapak Tetua Besi menghantam bayangan Ye Chen dan terus melaju menghantam lantai batu.

BLARR!

Batu hancur. Tetua Besi bingung. "Bayangan?!"

"Di atasmu."

Tetua Besi mendongak.

Ye Chen sedang melayang di udara, tepat di tengah badai angin pisau yang paling ganas. Angin itu tidak melukainya, malah berputar mengelilingi pedang hitamnya, memperkuatnya.

Ye Chen memanfaatkan Niat Pedang-nya untuk mengendalikan sebagian kecil angin pisau di lorong itu dan memadatkannya ke bilah Pemecah Gunung.

Teknik Pedang Asura: Badai Kehancuran (Chaos Storm)!

Ye Chen jatuh seperti meteor. Pedang 500 kilogram + Kecepatan Gravitasi + Qi Guntur + Angin Pisau Lorong.

Semua disatukan dalam satu tebasan vertikal.

"TIDAK MUNGKIN!" Tetua Besi mencoba mengangkat kapaknya untuk menangkis.

TRANG!

Suara logam beradu yang memekakkan telinga.

Kapak Tetua Besi—senjata Tingkat Kuning Atas—langsung patah menjadi dua.

Pedang Ye Chen tidak berhenti. Pedang itu terus turun, membelah helm baja Tetua Besi, membelah kepalanya, membelah dadanya, hingga sampai ke selangkangan.

SPLAT!

Tubuh Tetua Besi terbelah dua dengan rapi. Darah menyembur seperti air mancur, langsung ditiup oleh angin pisau ke segala arah, menciptakan hujan darah.

Ye Chen mendarat di belakang mayat Tetua Besi yang terbelah. Dia berdiri tegak, napasnya memburu, uap panas keluar dari tubuhnya.

Satu serangan. Membunuh Tingkat 7 dalam satu serangan.

Tentu saja, itu karena bantuan faktor lingkungan, senjata berat, sepatu kecepatan, dan kecerobohan musuh. Tapi hasilnya tetap sama: Kematian mutlak.

Di ujung lorong, Tetua Topeng mematung.

Dia melihat rekannya, seorang veteran sekte, dimusnahkan dalam sekejap mata oleh seorang bocah yang baru masuk akademi.

Ketakutan yang dingin merayap di punggungnya.

"Kau... kau menyembunyikan kultivasimu?!" tuduh Tetua Topeng, suaranya bergetar. "Mustahil Tingkat 4 bisa melakukan itu!"

Ye Chen berbalik perlahan. Matanya yang hitam pekat menatap Tetua Topeng. Dia mengibaskan darah dari pedang besarnya.

"Sekarang tinggal kita berdua, Pak Tua."

Ye Chen mengangkat pedangnya, ujungnya menunjuk ke arah Tetua Topeng.

"Kau punya dua pilihan. Lompat ke jurang itu..." Ye Chen menunjuk ke belakangnya.

"...Atau biarkan aku menjadikanmu sarung pedang baruku."

Tetua Topeng mundur selangkah. Mentalnya goyah.

Namun, dia adalah Tingkat 8. Harga dirinya tidak membiarkannya lari dari seorang bocah.

"Dasar Iblis Kecil! Jangan pikir aku sama bodohnya dengan si Besi!"

Tetua Topeng merobek jubahnya. Dari tubuhnya, keluar sepuluh jarum hitam yang melayang di udara, dikendalikan oleh Qi-nya.

Teknik Jarum Bayangan: Seribu Tusukan Maut!

"Mati!"

Kesepuluh jarum itu melesat lebih cepat dari suara, sulit dilihat mata telanjang, mengincar titik-titik vital Ye Chen.

Ye Chen menyipitkan mata. Ini serangan jarak jauh dan cepat. Kelemahan pedang berat.

Tapi Ye Chen tidak panik. Dia menghentakkan kaki kirinya yang memakai Sepatu Naga Awan.

Wush!

Ye Chen mulai berlari di dinding lorong. Dia bergerak zig-zag dengan kecepatan hantu, menghindari jarum-jarum itu.

Jarum-jarum itu menancap di batu, meninggalkan lubang korosif yang dalam.

"Kau tidak bisa lari selamanya!" Tetua Topeng mengendalikan jarum itu untuk berputar balik mengejar Ye Chen.

Ye Chen terus berlari mendekat. Jarak 20 meter... 15 meter...

Saat jarak tinggal 10 meter, Ye Chen tiba-tiba melempar sesuatu ke arah Tetua Topeng.

Itu bukan senjata. Itu adalah mayat Tetua Besi yang sudah terbelah dua!

"Apa?!" Tetua Topeng kaget melihat potongan tubuh temannya terbang ke arahnya. Refleks, dia mengendalikan jarum-jarumnya untuk mencabik "serangan" itu.

Crass! Crass!

Mayat Tetua Besi hancur berkeping-keping oleh jarum rekannya sendiri.

Tapi itu hanya pengalihan.

Di balik tirai darah dan daging itu, Ye Chen sudah melompat.

Pedang hitamnya siap menebas.

Tetua Topeng panik. Jarumnya sedang cooldown (jeda kendali). Dia terpaksa mengeluarkan belati dari pinggangnya untuk menangkis.

CLANG!

Tetua Topeng terdorong mundur, tangannya mati rasa. Kekuatan fisik Ye Chen terlalu monster.

"Kau..."

Ye Chen tidak memberinya napas. Dia melepaskan pedang beratnya dengan tangan kiri, membiarkannya jatuh menindih kaki Tetua Topeng.

"ARGHH!" Tetua Topeng menjerit saat kakinya remuk tertimpa 500 kg besi.

Dan tangan kanan Ye Chen sudah mencekik leher Tetua Topeng.

Ye Chen mengangkat Tetua Topeng ke udara, menahannya di pinggir jurang.

"Tunggu! Tunggu!" Tetua Topeng meronta, topeng besinya terlepas, memperlihatkan wajah tua yang ketakutan. "Jangan bunuh aku! Aku bisa memberimu harta! Aku tahu rahasia Sekte Pedang Darah! Aku tahu rencana Han Yun!"

Ye Chen menatapnya datar. Cengkeramannya semakin kuat.

"Rahasia bisa dicari. Tapi nyawa musuh yang dibiarkan hidup adalah benih bencana."

"Tidak! JANGAAAN!"

KRAK!

Ye Chen mematahkan leher Tetua Topeng tanpa ragu.

Tubuh tua itu terkulai lemas. Ye Chen melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat itu jatuh ke dalam jurang gelap di belakangnya.

Hening.

Hanya suara angin pisau yang bersiul.

Ye Chen mengambil kembali pedangnya, lalu memungut Kantong Penyimpanan milik Tetua Besi dan Tetua Topeng (yang sempat dia ambil sebelum melemparnya).

"Dua Tetua tingkat tinggi..." Ye Chen menghela napas panjang, duduk bersandar di dinding lorong. Tubuhnya gemetar kelelahan. Penggunaan Sepatu Naga Awan dan Tubuh Guntur secara berlebihan menguras Qi-nya hingga titik nadir.

Dia mengeluarkan beberapa pil pemulih dan menelannya.

"Ujian Akademi Bintang..." Ye Chen tertawa kecil, tawa yang kering. "Aku baru hari pertama, tapi rasanya sudah seperti perang setahun."

Dia melihat ke arah peta. Titik cahaya itu kini diam. Posisinya tepat di seberang jurang ini.

Ye Chen melihat ke seberang. Ada jembatan batu tipis yang tersembunyi di balik kabut.

"Istirahat sebentar," putus Ye Chen. "Lalu kita lihat apa yang sebenarnya disembunyikan di ujung jalan ini."

Di kegelapan lorong kuno itu, Dewa Asura muda menutup matanya sejenak, ditemani oleh bau darah dan suara angin kematian.

(Akhir Bab 29)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!