NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

"Ke mana sih, anak itu!?"

Seorang wanita berusia 46 tahunan mondar-mandir di ruang keluarga sejak matahari tenggelam. Rambutnya yang selalu tersisir rapi kini beberapa kali ia acak dengan jemari sendiri. Jam dinding berdetak pelan, seolah sengaja mengejek kegelisahannya.

“Masih belum pulang juga,” gumamnya, menatap layar ponsel yang sejak semalam tak menunjukkan satu pun notifikasi.

Ia mencoba menelepon lagi. Nada sambung, lalu mati. Tidak aktif.

"Apa-apaan ini?!"

Ia mencoba menelpon lagi. Namun, respon masih sama.

"Apa dia sengaja mengabaikan mamanya?"

Wanita itu menghela napas panjang, duduk di ujung sofa, lalu bangkit lagi. Seperti tak sanggup diam.

"Benar-benar nih, anak!"

Dari arah dapur, seorang pria berwajah lebih tua satu tahun darinya, keluar sambil membawa secangkir kopi. Wajahnya tenang, kontras dengan kegelisahan istrinya.

“Kamu kenapa si, Mah? Kayak depcolector aja,” katanya lembut. “Sejak tadi muter terus.”

“Gimana mau duduk, Mas Den?” Wanita itu menoleh cepat. “Anak kita enggak pulang, Mas. Yuda enggak pernah kayak gini.”

“Enggak pernah gimana? Kamu lupa dulu pernah sampai dipanggil guru BP gara-gara anak itu enggak datang ke sekolah, padahal sama kita ngakunya kemah,” jawab suaminya, Deni, sambil terkekeh mengenang. “Sekarang dia sudah dewasa, Mamah Anggun Sayang. Bukan bocah SMP lagi.”

“Masalahnya, dia enggak kasih kabar, Mas Den. Ini si Bastian juga enggak bisa dihubungi.” Suara wanita itu mulai meninggi, nyaris bergetar. “Aku cuma enggak mau tiba-tiba dibikin jantungan lagi.”

Deni malah tertawa geli. “Ya udah. Tunggu aja, papa mau tidur, besok mau main golf ma Pak Purnama.”

Anggun melirik sinis, "Jangan kegatelan sama lady. Awas saja nanti."

"Mama ikut ajalah..."

Anggun mendekus.

"Jadi lady... Hahahaha."

Anggun menimpuk suaminya dengan bantal sofa.

"Aduh! Bercanda, Sayang!"

keesokan paginya,

"Bocah ini beneran enggak pulang ternyata!"

Anggun menggebrak meja, kesabaran itu tak bertahan lama.

"Mentang-mentang week end. Kalau liburan, harusnya dia kasih kabar juga. Bukannya bikin mamanya cemas begini!"

"Sayang, tenangkan dirimu," ucap Deni sambil membalikkan majalah bisnis. Anggun hanya melirik.

"Astaga, dingin banget." Deni bergidik ngeri. "Apa ac-nya terlalu kenceng ya?" bergumam pada diri sendiri.

"Mas! Kamu mau main golf pagi ini?" tanya Anggun.

"Ini adalah pertanyaan jebakan. Tidak boleh asal menjawab," batin Deni melirik wajah istrinya yang tam bersahabat itu. "Mmm, sepertinya, Mas mau nyari Yuda saja."

"Bagus!"

"Huuff!" Deni bernapas lega. "Nanti pas nyari aku bakal nyari waktu belok ke Hiyat golf." Tentu saja, ini hanya dalam pikiran Deni saja.

"Oke! Panggil orang kemari!" perintah Anggun.

Seorang kepala pelayan di rumah itu langsung mengangguk patuh.

Anggun duduk kaku di ruang tamu. Wajahnya masih gelap. Tiga orang berbadan besar muncul dengan langkah tergopoh-gopoh. Lalu menunduk memberi hormat.

"Aku mau kalian semua cari Yuda! Anak itu... Harus diseret ke mari!"

"Siap laksanakan, Nyonya!"

*****

Rumah kecil Yuda diselimuti lampu kuning temaram. Ning masuk ke kamar yang Yuda tunjuk sebagai kamarnya.

"Ah, kamar ini lebih luas dari kamarku," bisiknya pada diri sendiri. Ada rasa haru yang tiba-tiba datang. Ia tersenyum kecil, berjalan masuk dan menyandarkan Kruk di dekat lemari.

"Lemarinya bagus," bisiknya lagi seraya mengusap pintu lemari. Lemari itu ada dua pintu dari kayu jati. Walau terlihat tua, tapi kokoh. Yang jelas, lebih bagus dari lemari miliknya yang hampir roboh itu.

"Hihihi..."

Tanpa sadar, dia tertawa kecil, ketika tangannya menggoyangkan lemari itu bergeming.

Ia membuka satu pintu lemari, di dalamnya kosong.

Dengan hati yang... Ah, Ning tak bisa jabarkan... Ia memilih mengeluarkan satu per satu pakaian, melipatnya dengan rapi.

“Mas, Ning bisa sendiri,” ucapnya pelan saat Yuda tiba-tiba mendekat dan ikut mengambil baju dari tas.

"Kamu duduk aja saja sana."

"Enggak. Ini barang Ning. Biar Ning yang tata sendiri," tolak Ning merebut baju dari tangan Yuda.

"Biar cepet." Yuda tak menghiraukan. Ia tetap saja berjongkok mengambil helaian baju milik Ning di tas.

"Mas! Jangan, Mas. Jangan, Mas Yuda!" Ning masih ingin merebut. Tapi, sekali senggol saja, tubuhnya sudah limbung. Yuda menahan punggung.

"Kesenggol dikit aja udah limbung, sok-sokan mau simpan sendiri bajumu."

Wajah Yuda terlalu dekat, jantung tiba-tiba berdebar lebih cepat.

"Kaki Ning... Pincang..." Lirih suara Ning, nyaris berbisik.

"Makanya, duduk aja di sana."

Ning menggeleng... "Ada barang pribadi Ning di sini..."

Yuda tersenyum, melihat pipi merah istrinya.

"Yang pribadi, nanti kamu pindahin sendiri. Kamu duduk aja. Mas yang masukin ke lemari," katanya seraya membantu Ning duduk lesehan di samping tas depan lemari. Sementara dia sendiri berdiri sambil memasukkan operan baju Ning.

Ning menyerahkan lipatan baju ke tangan Yuda. Lelaki itu menerima, lalu berhenti sejenak.

Kain-kain itu tipis. Warnanya pudar. Beberapa bahkan tampak sudah ada yang robek.

Yuda memasukkannya ke lemari satu per satu, dadanya terasa mengeras. Ia tak berkata apa-apa, tapi pandangannya jatuh lagi ke tumpukan kecil di dalam tas

“Ini semua bajumu?” tanyanya akhirnya.

Ning mengangguk. “Iya.”

“Yang itu?” Yuda menunjuk kemeja sederhana berwarna biru kusam.

“Ini... Baju bekas Mbak Dewi,” jawab Ning ringan. “Kalau punya saudara, bisa begitu, Mas. Adik pakai baju Embak yang sudah enggak muat lagi.”

Yuda terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Ning tersenyum kecil, tulus. Seolah tak ada luka di balik kata-katanya.

"Oohh, begitu ya?"

"Mas Yuda... Enggak punya saudara, ya? Mas Bastian itu... Dia saudara Mas Yuda, bukan?" tanya Ning ringan.

"Bukan..." Yuda memalingkan wajah. Ada sesuatu yang mengendap di dadanya—panas, menyesakkan—antara marah dan iba yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana. "Mas juga punya saudara..."

"Di mana dia sekarang? Kalau Ayah sama ibunya Mas Yuda?"

yuda memaksakan senyum. "Ada. Tapi... Jauh..."

"Oohh, pantas Mas tinggal sendiri. Hidup Mas Yuda... Pasti berat dan sepi..." bisik Ning pada dirinya sendiri. Namun, Yuda masih bisa mendengar.

"Ummm... Sisanya, biar Ning yanh bereskan."

"Kenapa? Skalian saja semua," ucap Yuda mengulurkan tangan. "Mana?"

Ning terdiam, menunduk melihat ke arah isi tas yang hanya sisa celana dalam dan bh.

"Habis, Mas."

"Habis apa? Itu kan masih. Sini skalian!"

Ning mendongak, malu. Tangannya memeluk tas rapat.

"I-ini... Tinggal pakaian dalam Ning..."

Yuda tercenung. Lalu jadi canggung. "Eheemm, ya udah. Mas tidur dulu," katanya sambil berjalan dengan langkah berantakan.

Ning hanya tersenyum kecil. Lalu ia mulai menata pakai dalamnya di lemari. Setelah semua rapi, Ning berbalik setelah memakai kruknya. Yuda sudah duduk bersandar di ranjang.

"Udah?"

Ning mengangguk.

"Ayo tidur."

Ning ragu, "Ning... Tidur di mana?"

Yuda menepuk sisi ranjang. “Di sini. Di mana lagi?”

Ning berdiri kikuk. “Di… situ?”

“Iya, di mana lagi?” Yuda tersenyum tipis. "Mau tidur di lantai? Dingin loh." Yuda menepuk sisi ranjang dia duduk. "Sini!"

Ning mengangguk, lalu naik perlahan. Ia tidur di ujung, di ujung sekali, sampai menciptakan jarak diantara mereka.

Yuda melirik, lalu terkekeh kecil. “Takut amat.”

Ning memejamkan mata, jantungnya berdegup. “Ning belum biasa.”

“Biasain,” jawab Yuda santai, lalu mematikan lampu.

Dalam gelap, Yuda menatap langit-langit. Dalam hati, sebuah tekad tumbuh perlahan, ia akan belikan Ning baju baru. Dan ponsel. Ia tak mau istrinya hidup dengan sisa-sisa belas kasihan orang lain lagi.

Pagi menyambut dengan cahaya pucat.

Yuda mengajak Ning ke pasar. Ning sempat ragu, tapi Yuda sudah menarik tangannya lembut.

Pasar ramai, riuh oleh suara tawar-menawar. Yuda terlihat kaku, tapi berusaha santai. Ning justru tersenyum kecil melihatnya.

Mereka membeli sayur, telur, ikan. Pulang, masak bersama di dapur kecil. Ning memotong bawang, Yuda menggoreng dengan hati-hati. Dia juga tak bisa masak sebenarnya.

“Mas bisa masak?” tanya Ning heran.

“Bisa dong,” jawab Yuda. “Mas hidup sendiri. Jadi, harus bisa masak biar enggak kelaparan.”

Ning mengangguk pelan. Yuda melirik, "Ummm.. Nanti, selesai sarapan, temani Mas, ya."

Alis Ning berkerut, "Ke mana, Mas?"

*_*

Hay readers, bantu dukung cerita author ya. Kalau suka, jangan lupa like, komen, dan vote cerita ini.

Terima kasih. Kamsahamnida🙏🥰

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!