NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lingkar Perak di Jari Manis

Kinan menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin panjang. Tak henti matanya melirik pada kotak beludru kecil yang tergeletak di atas ranjang. Kotak berisi cincin yang akan mereka kenakan nanti. Cincin yang sama seperti yang dia siapkan bersama Olin berbulan-bulan lamanya.

Tak ingin lama-lama menatapnya, Kinan melanjutkan mengancing jas putih miliknya. Jas yang baru dan lebih bersih daripada yang telah disiapkan bersama Olin. Entah kapan ibunya menyiapkan ini semua.

"Masih lama, Ki?" tanya seseorang yang langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Kinan yang sempat menegang karena terkejut, melirik sinis pada Aldo yang menyembulkan kepalanya di sana. "Lo bisa ngetuk pintu dulu nggak?"

Detik selanjutnya, barulah terdengar suara ketukan pada pintu kamar hotel itu. Aldo tersenyum jahil setelah merasa berhasil membuat Kinan berdecak pelan karena ulahnya. Dia langsung masuk begitu saja dan merebahkan dirinya pada ranjang kamar Kinan.

Matanya melirik pada Kinan yang tak sedikit pun menyunggingkan senyum di wajahnya. Dia tentu mengerti apa yang Kinan rasakan. Hari pernikahan yang telah dinanti sekian lama, kini harus dijalani bersama orang baru yang bahkan belum genap tiga bulan dikenalnya.

"Senyum dong, Brodi! Masa pengantinnya murung begitu?" celetuk Aldo dengan senyum kecil di wajahnya.

Mendengar itu, Kinan lantas menyunggingkan senyum. Bukan senyum bahagia, bukan juga senyum dari hati. Senyumnya tampak hambar di depan cermin. Perasaannya tengah campur aduk saat ini.

"Pernah nggak sih lo bayangin kalau hari yang udah lo persiapkan sama pasangan lo, harus lo jalanin sama orang lain?" tanya Kinan masih dengan senyum yang tak dapat diartikan.

Pria itu kembali memasang atribut pernikahannya satu per satu. "Dan di saat hari itu tiba, lo yakin kalau lo masih bisa senyum, Do?" lanjutnya sambil menoleh ke arah kawannya yang kini berpangku tangan memandang ke arahnya.

Aldo yang mendapat pertanyaan seperti itu, terdiam. Dia mendudukkan dirinya di atas ranjang, membuat benda itu sedikit berdecit karena pergerakannya. Lalu, dia mengedikkan bahunya sambil menyahuti, "Mungkin."

Terdengar tawa datar dari Kinan. Mata pria itu bahkan tak sedikit pun menyipit karena senyum lebarnya. "Meskipun calon istri lo yang sebenarnya itu mati gara-gara lo?"

"Ki..., semuanya udah lewat," sahut Aldo.

Mengungkit perihal kematian Olin membuatnya tak enak hati. Dia takut Kinan hanya akan kembali menyalahkan dirinya sendiri. Dia takut kalau-kalau sahabatnya ini kehilangan semangat hidup yang baru saja tumbuh setinggi pohon kecambah.

Kinan menggeleng. "Bagi orang lain, semuanya emang udah lewat. Tapi, bagi gue semua kejadian itu baru terjadi kemarin, Do."

Pria dengan setelan baju pengantin itu membalikkan tubuhnya. Membuat dirinya menghadap sang sahabat sepenuhnya. Dapat Aldo lihat ahu lebar itu bergetar samar.

"Lo nggak pernah tahu gimana rasanya bayang-bayang kejadian itu selalu muncul setiap malam, Do. Gue selalu merasa diri gue hilang perlahan setiap kejadian itu muncul di kepala gue."

Setelah mengatakan itu, Kinan menundukkan kepalanya. Bahunya naik turun tak karuan. Hidungnya berair hingga sedikit memerah. Lalu, tangannya mengusap matanya dengan kasar, mencegah air mata itu untuk turun mengenai wajahnya.

"Sorry, Ki. Gue seharusnya nggak ngomong gitu," ucap Aldo menyesal.

...****************...

Aroma bunga melati  khas pengantin menguar dalam ruangan yang terang benderang dengan lampu menyala di mana-mana. Alana memandang lurus pada wajahnya yang sudah dipoles dengan riasan cukup tebal. Mata dan bibirnya kini terasa berat.

Roncean melati yang sudah dapa dipastikan cukup mahal itu kini menghiasi kepalanya bersama dengan sanggul yang menempel di belakang sana. Melati yang paling panjang tersampir manis di salah satu bahunya. Kebaya putih yang melekat sempurna di tubuhnya semakin membuatnya tampak mempesona.

"Sudah cantik," ucap sang perias tepat di samping telinga Alana. Dia tersenyum puas dengan hasil kerjanya yang melekat sempurna di wajah Alana.

Alana ikut tersenyum simpul. "Makasih, Kak," ucapnya.

Wanita itu mengangguk sambil mengusap bahu Alana sejenak. "Tenangin diri dulu, biar aku panggilin bridesmaid-nya, ya," pamitnya sebelum keluar dari kamar Alana.

Kini tinggal dirinya seorang diri. Pandangannya masih dengan sorot tak percaya dengan pantulan dirinya di kaca yang dikelilingi oleh lampu. Entah perasaan apa ini, yang pasti jantung Alana berdegup lebih kencang daripada biasanya.

Perempuan itu sedikit menunduk, memandangi ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Pesan yang dia kirimkan kepada kakaknya masih belum mendapat balasan. Teleponnya pun tak mendapat jawaban, pria itu bahkan tak berinisiatif untuk meneleponnya balik.

Di antara hening yang begitu dingin bagi Alana, decit pintu di balik tubuhnya terdengar menggema. Seorang perempuan yang hampir dia temui setiap hari, mengintip dari sela pintu.

"Lan.... Aku boleh masuk?" tanya Betari dari balik daun pintu.

Untuk pertama kalinya dalam hari ini, senyuman Alana mengembang karena kemauan hatinya. "Masuk aja," jawabnya.

Betari masuk dan terdiam sejenak. Dia pandangi sahabatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku mau terpana, tapi kita udah nggak ada waktu lagi buat saling muji, Lan."

Mendengar itu, Alana tertawa kecil. Dia tentu mengerti maksud Betari. Alana langsung berdiri dari tempatnya. Dengan bantuan Betari, dia berjalan dengan sepatu hak tinggi yang sudah disediakan untuknya.

"Mbak Sukma udah datang, Tar?" tanya Alana.

Betari mengangguk. "Udah. Itu lagi di depan, ngobrol sama Ibumu."

Mendengar itu, Alana tersenyum lega. Kakak iparnya itu menepati janjinya. Jika Dipo tidak datang ke pernikahan Alana, wanita itulah yang akan menggantikan kekosongan posisi kakak di hari spesial Alana. Meski begitu, tetap saja Alana masih berharap Dipo ikut hadi di sana.

Betari tentu menangkap kegelisahan di balik mata bening Alana. "Nggak usah menunggu yang nggak pasti, Lan. Kan, udah ada Ibu sama Mbak Sukma.... Ada aku juga, hehe!"

...****************...

Bahkan sampai cincin perak dengan ukiran tanggal hari ini melingkar di jari manisnya pun. Alana tak mendapati sosok Dipo hadir di sana. Matanya tak hanya fokus pada Kinan yang kini tengah memasangkan cincin di jari manisnya. Tapi juga pada para tamu yang hadir.

Sering kali matanya bertemu pandang dengan Sukma. Wanita itu tersenyum padanya seolah mengatakan 'nggak apa-apa, ada aku  di sini'. Satu hal yang membuatnya sediki tenang.

"Alana!" panggil Kinan kesekian kalinya dengan suara sedikit lebih kencang.

Mendengar itu, Alana mengerjap tertegun sesaat. "Ya?"

"Cincinnya," pinta Kinan.

Alana paham. Dia ambil cincin perak dengan lingkar sedikit lebih besar dari dalam kotak beludru dan memakaikannya di jari manis Kinan. Sama seperti yang Kinan lakukan padanya sebelum itu.

Begitu kedua cincin itu terpasang di jari manis masing-masing, sorak sorai ucapan syukur dan tepuk tangan menghujani gedung yang disewa satu malam ini. Menyambut kedua manusia yang menjejaki langkah baru dalam fase kehidupan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!