NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: tamat
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:612.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 16

Miranda terus berjalan menyusuri malam. Dari satu bak sampah ke bak sampah lain, ia memilih rongsokan yang masih bisa dijual. Botol plastik, besi tipis, kardus lembap, semuanya ia pilah dengan teliti. Tekadnya kuat. Bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan keinginan untuk menjadi kaya.

“Aku tidak boleh hidup seperti ini selamanya,” gumam Miranda sambil memasukkan botol plastik ke dalam karung. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh desir angin malam.

Langkahnya semakin berat. Kakinya perih seperti ditusuk jarum, betisnya menegang, dan bahunya terasa nyeri. Karung di punggungnya sudah penuh oleh berbagai barang. Bebannya membuat napasnya terengah, dadanya naik turun tak beraturan.

Belum ada tanda pagi. Langit masih hitam pekat. Lampu jalan berdiri jarang, menciptakan bayangan .

Ia berhenti di depan sebuah ruko yang sudah lama tutup. Rolling door berkarat itu tertutup rapat. Di sekitarnya sunyi, hanya ada debu dan sisa hujan lama yang mengering di lantai.

“Di sini saja,” gumam Miranda pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Ia menggelar kardus bekas, meletakkan karung di samping tubuhnya, lalu menyelipkan pisau ke balik celananya. Pisau itu dingin menyentuh kulit. Rasa dingin itu justru memberinya sedikit keberanian.

Miranda memejamkan mata. Napasnya mulai teratur. Tubuhnya terasa berat, seolah seluruh kelelahan menindih bersamaan.

Baru saja terlelap, suara raungan motor memecah keheningan. Miranda tersentak. Suara itu mendekat cepat, lalu berhenti tepat di depan ruko.

Miranda membuka mata. Masih dalam posisi berbaring, ia melihat beberapa pemuda turun dari motor. Langkah mereka santai, tawa mereka ringan, seolah malam ini adalah milik mereka.

Jantung Miranda berdegup kencang. Tangannya refleks menggenggam pisau dengan erat. Telapak tangannya basah oleh keringat.

“Woy, ada mangsa,” ucap seorang pemuda sambil tertawa. “Lumayan buat uji coba.”

“Ambil barang dan uangnya,” sambung yang lain. “Organ dalamnya juga laku.”

Miranda mengintip dari balik kelopak mata. Ia menghitung cepat. Sekitar sepuluh orang. Dadanya berdegup keras, napasnya pendek, tenggorokannya kering.

Mereka semakin mendekat. Salah satu pemuda menendang kakinya tanpa peringatan.

“Woy, bangun!” bentaknya kasar.

Miranda bangkit perlahan. Ia duduk, lalu berdiri. Tubuhnya gemetar, tetapi matanya menatap mereka tanpa berkedip.

“Mau apa kalian?” tanya Miranda tegas, meski suaranya terdengar serak.

“Serahkan semua barang kamu,” ucap seorang pemuda dengan senyum menyeringai. “Lalu ikut sama kami.”

Miranda benar-benar putus asa. Ia merasa dunia begitu kejam padanya. Pada detik itu, Miranda ingin mati saja malam ini.

“Baiklah, mati tinggal mati saja. Sebelum mati, aku harus membunuh salah satu dari mereka,” ucap Miranda dalam hati, lahir dari jiwa yang lelah.

Miranda berdiri tegak. Ia mencabut pisau dan mengacungkannya ke arah mereka.

“Aku yakin malam ini akan mati!” teriak Miranda. Matanya menyala tajam.

“Tapi sebelum mati, aku akan menusuk perut kalian dan merobeknya. Salah satu dari kalian harus menemaniku di neraka!”

Para pemuda terdiam. Tawa mereka lenyap seketika.

Tangan Miranda bergetar, tetapi pisaunya tetap terangkat tinggi.

“Andai aku mati,” teriaknya dengan suara pecah, “tidak ada yang akan menangisiku!”

“Sedangkan kalian,” napas Miranda tersengal,

“Kalian hanya anak-anak manja. Orang tua kalian akan menangis. Mati karena menganiaya gembel!”

Keheningan menekan mereka semua. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berani melangkah.

“Ayo maju!” bentak Miranda. “Aku cuma punya uang enam puluh lima ribu, baju, dan rongsokan ini!”

“Ambil semuanya,” lanjutnya lantang. “Tapi aku akan ambil nyawa kalian!”

Para pemuda saling pandang. Wajah mereka berubah. Ragu. Takut.

“Majuuu!” teriak Miranda. “Bunuh aku! Temani aku ke neraka!”

Suaranya memecah sunyi dini hari. Pisau di tangannya berkilat terkena cahaya lampu jalan yang redup.

“Cepat maju!” teriaknya lagi. “Bunuh aku sekarang!”

Salah satu pemuda mundur setapak. Wajahnya pucat.

“Mundur, woy,” ucapnya gugup. “Dia orang gila.”

Entah keberanian dari mana, Miranda melangkah maju dan mengayunkan pisaunya ke udara.

“Maju kalian semua!” teriaknya.

Alih-alih menyerang, para pemuda itu justru berlari. Mereka naik ke motor dan memacunya kencang, meninggalkan suara knalpot yang semakin menjauh.

Miranda terduduk lemas. Napasnya tersengal, dadanya terasa nyeri. Tangannya masih menggenggam pisau, gemetar tak terkendali.

Tenggorokannya kering. Ia melihat kran di samping ruko, lalu berjalan tertatih dan minum dengan rakus. Air itu terasa seperti hidup yang kembali mengalir.

Miranda duduk kembali. Pisau masih di tangannya.

“Ternyata ini cuma soal nyali,” gumamnya pelan. “Selama ini aku terlalu penakut.”

Ia menatap jalanan kosong.

“Mati itu pasti,” lanjutnya lirih. “Dan aku begitu takut menghadapinya.”

Miranda duduk dengan pisau masih dipegang erat.

“Selama ini aku terlalu penakut sampai keluarga angkatku menindasku dan mengusirku.”

“Aku terlalu penakut sampai aku jadi babu di rumah suamiku sendiri dan berakhir dicampakkan.”

“Aku merasa dunia begitu kejam padaku.”

“Ternyata aku salah,” lanjutnya dengan suara bergetar. “Bukan dunia yang kejam, tapi aku yang terlalu penakut.”

Miranda menggenggam pisau semakin keras. Air mata mengalir membasahi pipinya. Tubuhnya gemetar.

Dengan penuh tekad, ia berkata, “Aku tidak mau kalah. Aku harus berani.”

“Aku harus berani!” teriak Miranda sambil terisak.

Ia mengatur napas, lalu kembali berbaring. Pisau diselipkan ke balik bajunya. Matanya terpejam, membawa tekad yang kini lebih keras daripada rasa takut.

Saat azan subuh terdengar, Miranda terbangun. Suara itu lembut, tetapi kuat. Ia mengambil mukena yang ia temukan di sungai beberapa hari lalu. Mukena itu sudah ia cuci bersih. Ia yakin mukena itu suci, sama seperti niatnya.

Miranda baru sadar ada CCTV di dekat atap ruko. Ia menghadap ke kamera itu, lalu membungkukkan badan.

“Mohon maaf. Saya izin menginap di depan ruko Anda dan menggunakan air untuk minum dan salat,” ucap Miranda lirih, meski tahu kamera itu tidak merekam suara.

Ia berwudu, menggelar kardus, lalu mengenakan mukena untuk salat subuh. Miranda memilih tidak ke masjid.

Ia takut kehadirannya mengganggu kekhusyukan orang lain. Masjid harus hening. Tidak boleh ada kebencian di dalamnya. Setelah debat, pasti ada yang merasa kalah. Dari situlah kebencian tumbuh.

Masjid dalam benaknya bukan untuk diperdebatkan. Itu sesuatu yang harus diwujudkan. Kenyataan selalu lebih berharga daripada kata-kata.

Usai salat, Miranda membersihkan lantai ruko. Ia tidak ingin meninggalkan jejak. Ia menemukan pensil dan kertas. Hatinya berbinar.

Ia menulis,

“Siapa pun pemilik toko ini, mohon keikhlasannya. Lantainya saya jadikan tempat tidur dan saya menggunakan air untuk minum dan wudu. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.”

Ia menulis itu karena ragu apakah CCTV aktif atau tidak. Setelahnya, Miranda kembali membungkuk ke arah kamera dan pergi meninggalkan ruko.

Sementara itu, Raka terbangun oleh gedoran keras di pintu kamarnya.

“Mir, Mir, buka pintunya,” gumam Raka dengan mata terpejam.

Gedoran makin keras. Raka hendak memanggil lagi, lalu teringat. Miranda sudah pergi.

Kepalanya berat, perutnya mual. Ia melangkah tertatih dan membuka pintu.

“Ada apa, Bu?” tanya Raka.

“Raka, kita harus cari pembantu,” keluh Rina. “Si Lela itu tidak bisa diandalkan. Ibu bisa mati berdiri kalau tiap pagi begini. Piring pecah, baju menumpuk.”

Kepala Raka berdengung.

“Lusi ke mana?” tanyanya lemah.

“Ah, sama saja. Tidak bisa diandalkan,” bentak Rina. “Dua-duanya malah mengunci pintu kamar.”

Raka menghela napas panjang.

“Bagaimana, Bu,” ucapnya lirih. “Pusing, kan, tidak ada Miranda.”

“Raka!” bentak Rina tajam.

1
Titien Prawiro
Ibunya Raka gila hormat. lidahnya tajam banget.
Titien Prawiro
Kan sdh dijelaskan kalau Agustinus jadi mualaf, Agustinus nama Nasrani
Titien Prawiro
Nanti Lisa hamil diluar nikah, orang kok jahat banget iri yg gk masuk akal.
Titien Prawiro
Si Raka menikahi perempuan yg gk jelas, mendingan Miranda biar bukan sarjana baik hati setia pinter cari uang sopan.
Titien Prawiro
Amazing
Titien Prawiro
paling Lina itu hanya OB, masak kalau asisten apa tadi mau ngajak mkn calon ipar minta uang sama Raka, paling Raka hanya diporoti uangnya, dia hanya OB
Sumirah Mira
sangat bagus ceritanya .. penuh dengan motivasi hidup 🥰🥰🥰
Titien Prawiro
Semangat Miranda, semoga hidupmu kedepan lebih baik dan bahagia.
Sazmah Maa
kamu jangan bodoh miranda
Eka
Novel yang sangat bagus
Eka
Bagus sekali ceritanya Thor
Heny
Sdh pergi baru di ingat dl waktu ada di cuekin
Heny
Jng sdh km hsr kuat
Heny
Jng mau jd pembantu gratisan lbh baik pergi
Ranny
keluarga gila di kiranya si Mira mau balik lagi kasihan deh loe rugi banget kalau hidup di keluarga toxic seperti kalian
Ranny
😄😄😄 benarkan filling ku si Raka salah ucap nama pengantin wanita nya 🤭
Ranny
Mahar banyak tp yg di dapat pengantin wanita nya so nda virgin dan pernah hamil lagi 😄😄😄
Ranny
jangan² pas ijab qobul yg di sebut nama nya Miranda 🤪
Ranny
😄😄😄 gaji 30jt saja di besar²in jadi ratusan jt itu mah dr hasil ngerampok kali🤭
Ranny
😄😄😄 siap² kalian tinggal di hotel prodeo lebih nyaman kan🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!