NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

"Letakkan koper itu dan angkat tanganmu," perintah pria bersenjata itu dengan suara yang berat.

Arlan menatap lurus ke dalam lubang hitam pistol yang mengarah ke dahinya. Tegar berdiri kaku di belakang Arlan, tangannya terkepal kuat namun tidak berani bergerak gegabah. Suara mesin jet yang menderu di luar menyamarkan detak jantung Arlan yang mulai sinkron dengan sistem di kepalanya.

{Sistem, pindai mekanisme pemicu senjata dan sistem kelistrikan kabin pesawat ini.}

[Analisis Selesai: Senjata jenis Glock 19. Jari pelaku berada di posisi tegang. Sistem lampu kabin terhubung dengan panel kontrol di dinding sebelah kiri Anda.]

"Siapa yang mengirimmu? Wiratama? Atau bos besarnya di Singapura?" tanya Arlan dengan nada suara yang sangat tenang.

"Itu bukan urusanmu. Serahkan koper itu sekarang atau aku akan menembakmu di sini," jawab pria itu sambil melangkah maju satu langkah.

Arlan perlahan menurunkan koper perak itu ke lantai pesawat yang berkarpet tebal. Pada saat yang sama, ia mengirimkan impuls sinyal melalui sarafnya ke sistem Isogen-9 untuk meretas panel kontrol lampu kabin.

"Baik, ini kopernya. Tapi kamu harus tahu satu hal," ucap Arlan sambil menegakkan tubuhnya kembali.

"Apa?" tanya pria itu dengan nada tidak sabar.

"Pesawat ini adalah wilayah kekuasaan saya," jawab Arlan.

[Aksi Sistem: Overload Sirkuit Pencahayaan Kabin. Intensitas Cahaya: 1000%]

Lampu kabin pesawat mendadak menyala dengan tingkat kecerahan yang menyilaukan mata, seperti ledakan cahaya putih yang membutakan. Pria bersenjata itu berteriak kaget sambil menutup matanya dengan lengan kiri.

"Sekarang, Tegar!" teriak Arlan.

Tegar menerjang maju dari belakang punggung Arlan seperti banteng yang lepas dari kandang. Ia menghantam tubuh pria itu hingga terpental menabrak dinding kabin. Pistol di tangan pria itu terlepas dan jatuh ke lantai.

Arlan segera memungut pistol tersebut dan mengarahkannya ke kepala pria yang kini sedang dipiting lehernya oleh Tegar.

"Ikat dia di kursi belakang dan pastikan dia tidak bisa bicara dengan siapa pun," perintah Arlan kepada Tegar.

"Siap, Mas Arlan. Dia tidak akan mengganggu perjalanan kita," jawab Tegar sambil menarik tali pengaman kargo untuk mengikat tangan dan kaki penyusup itu.

Arlan berjalan menuju kokpit pesawat. Pilot jet pribadi itu menatap Arlan dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar di atas kemudi.

"Anda juga bagian dari rencana mereka?" tanya Arlan dengan nada dingin.

"Sa... saya hanya dibayar untuk menerbangkan pesawat ini ke lokasi yang mereka tentukan, Pak. Tolong jangan bunuh saya," jawab pilot itu dengan suara terbata-bata.

"Terbangkan pesawat ini ke Bandara Changi Singapura sesuai rencana awal saya. Jika Anda melenceng satu derajat saja, saya akan tahu," ancam Arlan sambil menunjukkan layar tabletnya yang terhubung ke sistem navigasi pesawat.

"Ba... baik, Pak. Kita akan lepas landas sekarang," ucap pilot itu sambil mulai memacu pesawat ke landasan pacu.

Pesawat jet itu melesat naik menembus awan malam, meninggalkan kekacauan di Jakarta. Arlan kembali ke kabin penumpang dan duduk di kursi kulit yang empuk. Ia menarik napas panjang dan menatap koper perak yang ada di pangkuannya.

{Wanita di mobil tadi bilang ini adalah kunci gerbang Megantara Global. Apa isinya?}

Arlan membuka koper tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya tidak ada uang atau emas, melainkan sebuah papan sirkuit komputer tua yang terlihat sangat kuno dan sebuah buku catatan harian dengan sampul kulit yang sudah usang.

[Analisis Objek: Prototipe Motherboard Logistik Tahun 1998] [Pencocokan Data: Teknologi ini adalah basis dasar dari seluruh sistem otomatisasi yang dipatenkan oleh Megantara Global.]

Arlan membuka buku catatan harian itu. Halaman pertamanya tertulis nama pemilik buku dengan tinta biru yang mulai memudar: "Hendra Gunawan".

"Hendra Gunawan... nama ini tidak asing," gumam Arlan.

Tegar datang dari arah belakang setelah selesai mengurus tawanan mereka. Ia duduk di kursi seberang Arlan dan melihat isi koper tersebut.

"Itu nama ayah Mbak Siska, Mas Arlan. Saya pernah melihat foto beliau di ruang kerja Mbak Siska," ucap Tegar.

Arlan tertegun. Ia menyadari bahwa wanita yang memberikan koper ini di hanggar tadi pastilah seseorang yang sangat dekat dengan masa lalu ayah Siska.

"Jadi Megantara Global mencuri teknologi ini dari ayah Siska, lalu membunuhnya untuk menutupi jejak," ucap Arlan menyimpulkan benang merah yang selama ini terputus.

"Dan sekarang kita membawa bukti pencurian itu langsung ke depan pintu rumah mereka," sahut Tegar dengan senyum tipis.

Arlan menutup koper itu kembali. Ia menatap ke luar jendela pesawat yang gelap. Cahaya lampu kota di bawah sana terlihat seperti kunang-kunang.

"Tidur sebentar, Tegar. Besok pagi kita akan menghadapi perang yang sesungguhnya di Singapura," perintah Arlan.

"Baik, Mas. Tapi saya akan tetap berjaga di sini," jawab Tegar sambil menyandarkan kepalanya.

Arlan memejamkan matanya, namun sistem di kepalanya terus bekerja menyusun strategi. Ia tahu bahwa mendarat di Singapura dengan membawa bukti ini sama saja dengan masuk ke kandang singa dengan membawa daging segar.

[Peringatan: Sinyal Pelacak Aktif pada Koper Perak] [Lokasi Penerima Sinyal: Gedung Marina Bay Sands, Singapura]

Arlan membuka matanya kembali. Ia tersenyum miring.

"Mereka sudah menunggu kita. Bagus, biarkan mereka menyiapkan sambutan," bisik Arlan pada dirinya sendiri.

Roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Changi dengan mulus saat matahari pagi mulai menyinari cakrawala Singapura. Arlan merapikan jasnya dan mengambil koper perak itu. Tegar berjalan di belakangnya, memastikan tidak ada ancaman yang mengintai dari sudut-sudut bandara.

"Mas Arlan, pilot tadi sudah saya kunci di dalam kokpit. Otoritas bandara akan menemukannya nanti," lapor Tegar dengan suara pelan.

"Bagus. Kita harus bergerak cepat sebelum mereka menyadari kita sudah mendarat," jawab Arlan sambil melangkah keluar dari pintu pesawat.

Namun, harapan Arlan untuk menyelinap keluar sirna seketika. Di ujung tangga pesawat, tiga buah mobil limusin hitam sudah menunggu. Enam orang pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi berdiri membentuk barisan pagar betis.

Seorang pria tua dengan rambut memutih dan tongkat kayu eboni berdiri di tengah-tengah mereka. Ia tersenyum ramah, namun matanya memancarkan aura kekuasaan yang sangat kuat.

"Selamat datang di Singapura, Tuan Arlan Dirgantara," sapa pria tua itu dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Arlan berhenti di anak tangga terakhir. Ia mencengkeram pegangan koper perak itu lebih erat.

{Sistem, analisis identitas subjek.}

[Identitas: Wijaya Megantara. Pendiri dan CEO Megantara Global. Status: Miliarder Tingkat Asia.]

"Bapak Wijaya. Suatu kehormatan bisa disambut langsung oleh pendiri kekaisaran logistik," balas Arlan dengan nada suara yang tenang.

"Saya selalu menghargai anak muda yang punya nyali besar. Jarang ada orang yang berani mencuri balik dari saya," ucap Wijaya sambil mengetukkan tongkatnya ke aspal.

"Saya tidak mencuri, Pak. Saya hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik sejarah yang benar," sahut Arlan.

"Sejarah ditulis oleh pemenang, Arlan. Dan hari ini, kamu belum menjadi pemenang," kata Wijaya sambil memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk membukakan pintu mobil.

"Masuklah. Kita akan sarapan bersama. Saya rasa kita punya banyak hal untuk dibicarakan selain masa lalu yang membosankan," lanjut Wijaya.

Tegar hendak maju untuk melindungi Arlan, namun Arlan memberikan isyarat tangan untuk menahannya.

"Tidak apa-apa, Tegar. Pak Wijaya adalah pebisnis terhormat. Beliau tidak akan melakukan hal kotor di depan umum," ucap Arlan sambil melangkah menuju mobil limusin tersebut.

"Tentu saja. Temanmu boleh ikut di mobil belakang," kata Wijaya dengan senyum yang masih mengembang.

Arlan masuk ke dalam mobil yang sangat mewah itu. Aroma kulit mahal dan pendingin udara yang sejuk menyambutnya. Wijaya duduk di hadapannya, menuangkan teh hangat dari sebuah teko perak.

"Kamu mengingatkan saya pada diri saya waktu muda. Ambisius, cerdas, dan sedikit nekat," ucap Wijaya sambil menyodorkan cangkir teh.

"Saya berbeda dengan Anda, Pak. Saya membangun bisnis saya di atas fondasi kejujuran, bukan di atas mayat rekan kerja," balas Arlan tanpa menyentuh cangkir teh tersebut.

Wajah Wijaya sedikit berubah. Senyumnya menghilang perlahan.

"Kejujuran adalah kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh orang miskin, Arlan. Di level ini, yang ada hanyalah kepentingan," kata Wijaya dengan nada suara yang mulai dingin.

"Maka saya akan mengubah aturan main di level ini," sahut Arlan dengan tatapan tajam.

Mobil itu melaju meninggalkan bandara menuju pusat kota. Arlan melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.

"Kamu membawa koper itu karena kamu pikir itu bisa menghancurkan saya. Tapi kamu lupa satu hal, Arlan. Teknologi di dalam koper itu sudah usang. Saya sudah mengembangkannya sepuluh kali lipat lebih canggih," ucap Wijaya sambil menunjuk koper di pangkuan Arlan.

"Mungkin teknologinya usang. Tapi bukti hukum bahwa Anda mencurinya tidak akan pernah kedaluwarsa. Dan dengan koneksi Isogen-9 yang saya miliki, saya bisa menyiarkan isi buku harian ini ke seluruh layar bursa saham dunia dalam hitungan detik," ancam Arlan.

Wijaya terdiam. Ia menatap Arlan dengan tatapan yang baru. Tatapan yang mengakui bahwa pemuda di hadapannya adalah ancaman yang nyata.

"Apa yang kamu inginkan, Arlan? Uang? Saham? Kekuasaan?" tanya Wijaya dengan suara rendah.

"Saya ingin pengakuan publik. Saya ingin Anda mengakui di depan media bahwa Megantara Global dibangun di atas paten milik Hendra Gunawan. Dan saya ingin hak paten itu dikembalikan kepada Siska," tuntut Arlan.

Wijaya tertawa keras. Tawa yang terdengar sangat meremehkan.

"Kamu naif sekali. Pengakuan itu akan meruntuhkan harga saham saya dalam semalam," kata Wijaya.

"Itulah tujuannya," jawab Arlan singkat.

Mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah. Logo Megantara Global terpampang besar di puncaknya.

"Kita sudah sampai. Mari kita lihat apakah keberanianmu masih tersisa saat kamu berdiri di ruang rapat direksi saya," tantang Wijaya sambil membuka pintu mobil.

1
Naga Hitam
bagus sekali
Naga Hitam
suka donk
Ahmad Refaldy
sistem apa kok gk guna
Was pray
sistem memperingatkan Arlan tapi bahaya udah di depan mata ya sama juga bohong.... 😄😄
sitanggang
jgn goblok2 kali, udah ada system tapi cupu, anjing🔥
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
aldo
up thor 🙏🙏🙏
aldo
lanjut thor 🙏🙏🙏
aldo
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!