NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahaya

Langkah Viona menyusuri koridor kampus terasa lebih berat dari biasanya. Di tangannya, map berisi draf tesis itu ia peluk erat, seolah-olah itu adalah nyawanya. Ia sudah menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk: ditolak, disuruh rombak total, atau dimarahi karena judulnya dianggap terlalu ambisius.

Viona mengetuk pintu ruangan dosen itu dengan ragu. "Permisi..."

Begitu pintu terbuka, aroma cedarwood dan kopi yang kuat menyambutnya. Di balik meja kayu yang rapi, duduk seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung rapi. Ia adalah William Alexander. Wajahnya memiliki garis tegas yang elegan, khas pria yang lama menetap di Eropa, namun tatapannya terlihat lebih santai dibandingkan Noah yang kaku.

"Selamat pagi," sapa William dengan senyum tipis yang ramah.

"Selamat pagi, Pak. Saya Viona, mahasiswa bimbingan Bapak yang dialihkan. Saya ingin mengajukan kembali judul tesis yang sudah di-acc oleh dosen sebelumnya," jelas Viona dengan nada formal.

William menerima draf tersebut, membolak-balik halamannya dengan gerakan jemari yang tenang. "Iya, saya sudah melihat sekilas draf yang kamu siapkan. Arsitektur berkelanjutan dari sudut pandang efisiensi bisnis... ini cukup menarik. Silakan dilanjutkan," jelas William.

"Tapi, saya mau setiap detail kecil harus didiskusikan dengan saya. Saya tidak suka kejutan di tengah jalan."

"Wah! Baik, Pak. Terima kasih banyak!" ucap Viona antusias. Ia merasa beban di pundaknya terangkat seketika.

Namun, tepat saat Viona hendak berpamitan, William meletakkan draf itu dan menatap

Viona dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu istri Noah Sebastian?"

Viona membeku di tempat. Pertanyaan itu terdengar sangat personal di tengah suasana bimbingan yang formal. "Hm... iya, Pak," jawab Viona ragu. "Ada apa ya, Pak? Bapak tahu dari data mahasiswa atau...?"

William menyandarkan punggungnya ke kursi, senyumnya kini terlihat sedikit lebih lebar, seolah sedang mengenang sesuatu yang menarik. "Enggak, saya nggak butuh data mahasiswa untuk tahu itu. Noah adalah teman satu kampus saya dulu di London. Dan sejujurnya..."

William menggantung kalimatnya, membuat Viona menahan napas.

"...saya cukup kaget Noah bisa mendapatkan istri sepertimu. Dia selalu bilang seleranya sulit, tapi ternyata dia cuma sedang menunggu wanita yang tepat, ya?" lanjut William dengan nada bercanda yang terdengar sangat akrab.

Viona hanya bisa tersenyum kaku. Ia merasa ada aura persaingan yang tidak kasat mata antara suaminya dan dosen baru ini.

Baru saja ia hendak keluar, pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Noah berdiri di sana dengan wajah datar dan mata yang langsung terkunci pada sosok William.

"Vio, sudah selesai?" tanya Noah. Suaranya terdengar lebih dalam dan posesif dari biasanya.

William berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya sambil menatap Noah. "Lama nggak ketemu, Noah. Ternyata gosip itu benar, lo sudah pulang ke Seoul dan membawa 'permata' yang sangat berharga di bimbingan gue."

———

Sejak William menjadi pembimbingnya, hidup Viona terasa seperti lari maraton tanpa henti. William tidak mengenal waktu; ia bisa mengirim email di tengah malam atau menelepon saat Viona sedang memimpin rapat marketing di hotel. Seperti siang ini, ia dipaksa meninggalkan pekerjaannya demi bimbingan mendadak yang diminta William.

"Poin ini masih terlalu abstrak, Vio. Saya mau data yang lebih konkret soal arus kas di proyek arsitektur kamu," ujar William sambil mengetuk-ngetuk pulpennya di atas meja.

Tepat saat itu, ponsel Viona di atas meja bergetar hebat. Nama 'Noah' terpampang jelas di layar.

"Pak, maaf, saya angkat dulu ya," izin Viona merasa tidak enak.

William melirik ponsel itu, lalu tersenyum tipis, senyum yang sulit diartikan. "Angkat di sini aja, nggak apa-apa. Saya bukan dosen yang kaku banget kalau soal privasi."

Viona ragu sejenak, namun akhirnya menggeser tombol hijau. "Halo, Noah? Gue lagi revisian nih sama Pak William. Nanti gue telepon lagi ya kalau udah selesai. Oke, bye!"

Klik.

Viona memutus sambungan sebelum Noah sempat mengeluarkan satu kata pun. Ia tidak tahu bahwa di seberang sana, Noah sedang mencengkeram kemudinya dengan rahang mengeras, menatap titik merah di GPS-nya yang berhenti di sebuah kedai kopi yang jaraknya cukup jauh dari kampus maupun hotel.

Lima belas menit kemudian, lonceng pintu coffee shop berbunyi nyaring. Sosok tinggi tegap dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku masuk dengan langkah lebar. Auranya begitu mengintimidasi hingga beberapa pelanggan sempat menoleh.

"Noah?" gumam Viona kaget, matanya membelalak melihat suaminya sudah berdiri di samping mejanya.

William menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada sambil menatap Noah dengan wajah tanpa dosa. "Lo jauh-jauh ke sini cuma buat samperin istri lo, Noah? Segitu nggak percayanya lo sama cara bimbingan gue?"

Noah tidak menatap William. Matanya hanya tertuju pada Viona, tajam namun terselip kekhawatiran yang coba ia sembunyikan.

"Waktunya pulang. Ini sudah lewat jam kerja hotel, dan gue rasa bimbingan di luar kampus nggak ada di kontrak akademik."

"Masalah buat lo?" balas Noah dingin saat akhirnya menatap William. Matanya seolah berkata: Jangan macam-macam dengan apa yang jadi milik gue.

"Ish! Noah! Apaan sih, malu dilihatin orang!" bisik Viona sambil menarik-narik ujung kemeja Noah, mencoba meredam ketegangan.

William terkekeh, suara tawanya terdengar provokatif. "Santai, Noah. Gue cuma lagi bantu 'permata' lo ini supaya lulus dengan nilai sempurna. Tapi kalau lo secemas ini... gue jadi mikir, apa lo takut gue bakal nemuin sisi lain dari Viona yang belum lo tahu?"

Suasana makin mencekam. Noah meletakkan tangannya di atas pundak Viona, sebuah klaim kepemilikan yang sangat jelas. "Gue tahu semua sisi dia, Will. Termasuk sisi di mana dia nggak suka bimbingannya diganggu oleh omong kosong nggak penting."

"Udah... udah... Noah, kalau lo mau nemenin gue sebagai suami, lo cukup duduk diam ya," kata Viona tegas, memberikan tatapan 'diam atau gue pulang sendiri' kepada suaminya.

Noah tidak membalas dengan kata-kata. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang membuat napas Viona tertahan. Dengan satu tangan yang kuat, ia mencengkeram sisi kursi kayu Viona, lalu menyeretnya dengan satu sentakan mantap hingga kursi itu menempel rapat di kursi miliknya.

Sret!

Bunyi gesekan kursi di lantai itu membuat beberapa pengunjung menoleh, tapi Noah tidak peduli. Kini, bahu mereka bersentuhan tanpa celah.

"Noah!" gerutu Viona dengan wajah memerah, mencoba mendorong kursinya kembali tapi tangan Noah sudah berpindah melingkar di sandaran kursinya, seolah-olah sedang memagari wilayah kekuasaannya.

William bukannya tersinggung, malah menyengir kuda. Ia menyesap kopinya dengan santai, menikmati tontonan gratis di depannya.

Baginya, melihat Noah Sebastian yang biasanya sedingin es dan selalu terkontrol kini berubah menjadi pria posesif yang emosional adalah sebuah kemenangan kecil.

"Easy, Noah. Gue nggak bakal bawa lari istri lo lewat pintu belakang," goda William, matanya berkilat jahil.

Noah hanya memberikan tatapan tajam yang bisa membekukan air, sementara tangannya yang bebas kini mulai memainkan ujung rambut Viona dengan posesif. "Lanjutin aja diskusinya. Gue cuma mau pastiin draf istri gue nggak dikasih coretan yang nggak perlu."

William tertawa renyah, lalu kembali membuka laptopnya. "Oke, kita lanjut ya, Viona. Fokus ke layar, abaikan 'pengawal' di sebelah kamu."

Selama tiga puluh menit berikutnya, suasana menjadi sangat kontras. William dan Viona berdiskusi serius tentang struktur organisasi dan manajemen risiko, sementara Noah duduk diam seperti patung yang mengintimidasi.

Namun, setiap kali William secara tidak sengaja mencondongkan tubuh untuk menunjuk sesuatu di layar laptop Viona, Noah akan berdehem keras atau sengaja mengeratkan pelukannya di bahu Viona.

Viona berusaha keras untuk tetap profesional, meskipun jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang sangat dekat. Ia bisa merasakan deru napas Noah di pelipisnya.

"Jadi, untuk survei lapangan di Singapura nanti, saya rasa kita perlu..."

"Singapura?" potong Noah tiba-tiba, suaranya terdengar tidak senang. "Kenapa harus ke sana?"

William menutup pulpennya, menatap Noah dengan senyum menantang. "Karena objek studinya ada di sana, Noah. Dan sebagai pembimbing, rencananya gue juga bakal ikut buat supervisi langsung."

Mata Noah menyipit. Satu kata: Bahaya.

1
deeRa
haii... I found ur story, accidentally 😊
Vha Evha
karya yg bagus porsi nya pas cwe nya gk trlalu lebay dan menye" dan cwo nya meskipun bucin tpi gk kehilangan cool nya, smoga panjang crita nya
Nihayatuz Zain
lanjut kk
Nihayatuz Zain
wah karya bagus kok nggk ketauan pembaca ya
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca
Sunshine: Wahh makasihh ya kak udah suka karya aku❤️ maybe aku pikirkan dulu judul yg menarik lagi, terima kasih sarannya kak❤️❤️
total 1 replies
Nihayatuz Zain
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!