NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 – Permusuhan Terbuka

Tidak ada yang benar-benar ingat kapan tepatnya permusuhan itu berubah menjadi tontonan.

Yang pasti, sejak minggu itu, nama Kia dan Tara selalu disebut dalam satu tarikan napas yang sama.

Awalnya hanya bisik-bisik.

Di kantin, di lorong, di grup chat kelas.

“Lo sadar nggak, tiap Kia lewat, Tara pasti pasang muka?”

“Gue denger mereka berantem lagi.”

“Katanya gara-gara Daffa.”

“Pantes, sih. Dua-duanya keras.”

Sekolah menyukai drama.

Dan konflik antara Kia dan Tara adalah drama yang terlalu menarik untuk diabaikan.

Hari itu, guru Sosiologi memberi tugas kelompok.

“Kelompokkan secara acak,” katanya sambil menunjuk daftar nama. “Supaya kalian belajar kerja sama.”

Kia tidak terlalu peduli, sampai nama itu disebut.

“Kiandra… Tara… satu kelompok.”

Kelas langsung riuh.

“Oh anjir.”

“Mampus.”

“Ini bakal pecah.”

Tara menoleh cepat. Kia tetap diam, wajahnya datar, tapi rahangnya mengeras.

Guru tidak menyadari ketegangan itu. Atau mungkin memilih tidak peduli.

“Kalian presentasi dua minggu lagi,” lanjutnya. “Diskusi mulai sekarang.”

Guru keluar kelas.

Dan suasana berubah.

Tara berdiri lebih dulu.

“Oke,” katanya tegas, mencoba terdengar profesional. “Kita bagi tugas aja. Biar cepat.”

Kia menutup bukunya perlahan. “Ngatur-ngatur?”

“Aku cuma mau tugasnya kelar,” balas Tara. “Nggak semua orang mau nilai hancur.”

“Tenang,” jawab Kia dingin. “Aku selalu kelarin bagianku.”

“Dengan cara lo?” sindir Tara. “Ngancem orang? Ngangkat suara?”

Beberapa siswa di sekitar mereka mulai memperhatikan. Kursi bergeser. Ponsel diam-diam diangkat.

Kia berdiri.

“Jangan bawa-bawa reputasi gue,” katanya rendah. “Lo nggak tahu apa-apa.”

“Oh ya?” Tara mendengus. “Seluruh sekolah tahu.”

Kalimat itu seperti tamparan.

“Seluruh sekolah,” ulang Kia. “Atau versi lo?”

“Versi fakta,” jawab Tara cepat. “Lo kasar. Lo galak. Lo bikin semua orang takut.”

Kia tertawa pendek. “Takut itu pilihan. Gue nggak pernah maksa.”

“Lo selalu merasa paling benar,” suara Tara meninggi. “Paling berani. Paling korban.”

Sekarang semua mata tertuju pada mereka.

Daffa, dari bangku depan, berbalik dengan wajah tegang.

“Kita fokus tugas aja,” ujarnya mencoba menengahi.

Tara melirik Daffa. “Ini urusan kita.”

“Justru karena itu,” sahut Daffa. “Lo berdua bikin satu kelas nggak nyaman.”

Kia menatap Daffa. Ada kilat kekecewaan di matanya.

“Oh,” katanya pelan. “Sekarang aku masalahnya?”

“Aku nggak bilang gitu,” Daffa menghela napas. “Tapi semua orang lihat.”

Kia mengedarkan pandangan. Puluhan pasang mata. Beberapa penasaran. Beberapa menikmati.

Dadanya panas.

“Selamat,” ucap Kia pada Tara. “Lo berhasil. Ini yang lo mau, kan? Penonton.”

Tara membeku. “Aku nggak—”

“Jangan pura-pura,” potong Kia. “Lo seneng akhirnya orang-orang lihat aku sebagai monster.”

“Karena lo bertingkah kayak monster!” teriak Tara.

Kelas meledak.

“Apa-apaan ini?!”

Guru Sosiologi kembali dengan wajah merah.

“Keluar kalian berdua! Sekarang!”

Kia dan Tara berdiri. Tanpa saling lihat. Tanpa kata.

Langkah mereka menuju ruang BK diikuti bisik-bisik yang tidak bisa ditahan lagi.

“Gila, berantem gede.”

“Fix gara-gara cowok.”

“Drama banget.”

“Pantes viral.”

Video itu muncul sore harinya.

Rekaman pendek. Goyang. Tapi jelas.

Suara Tara yang meninggi.

Tatapan Kia yang dingin.

Satu kalimat yang diulang-ulang:

“Seluruh sekolah tahu.”

Dalam hitungan jam, video itu tersebar ke hampir semua grup.

Komentar bermunculan.

Kia lebay.

Tara nyolot.

Anak galak sok jago.

Anak manis tapi nyebelin.

Tidak ada yang peduli konteks.

Tidak ada yang mau tahu alasan.

Sekolah sudah memilih kubu.

Di ruang BK, suasana tidak lebih baik.

“Kalian sadar nggak reputasi sekolah dipertaruhkan?” tanya guru BK dengan nada lelah.

Kia menatap meja. Tara memandang jendela.

“Kalian ini siswi pintar,” lanjutnya. “Kenapa harus ribut di kelas?”

“Karena kami dipaksa satu kelompok,” jawab Kia datar.

Tara menoleh tajam. “Jadi ini salah aku?”

“Ini salah sistem,” balas Kia. “Dan orang-orang yang suka nonton tanpa ngerti.”

Guru BK menghela napas panjang. “Kalian diskors tiga hari. Untuk menenangkan diri.”

Tara tersentak. “Bu—”

“Tidak ada tapi,” potong guru BK. “Pulang. Kalian butuh jarak.”

Di rumah besar, Tara melempar tasnya ke sofa.

Ibunya menoleh kaget. “Tara?”

“Aku diskors,” jawab Tara singkat.

“Apa?” ayahnya berdiri. “Karena apa?”

Tara membuka ponsel, menunjukkan video itu.

Ayahnya menonton. Wajahnya mengeras. Bukan marah. Takut.

“Ini Kia,” kata Tara pelan. “Dia selalu bikin masalah.”

Ayahnya menutup ponsel terlalu cepat. “Kamu jauhi dia.”

“Kenapa?” Tara menantang. “Papa kenal dia, kan?”

Ruangan mendadak sunyi.

“Itu bukan urusan kamu,” jawab ayahnya dingin.

Tara tertawa pahit. “Semua yang penting selalu bukan urusan aku.”

Di rumah kecil, Kia duduk di lantai kamarnya.

Ibunya memeluknya erat.

“Kamu nggak salah,” bisik ibunya.

“Tapi semua orang pikir aku salah,” jawab Kia lirih.

Ibunya menahan tangis. “Kadang jujur itu mahal.”

Kia memejamkan mata.

Ia tidak menangis.

Ia tidak berteriak.

Tapi sesuatu di dalam dirinya retak.

Daffa mengirim pesan malam itu.

Daffa: Lo aman?

Kia menatap layar lama sebelum membalas.

Kia: Jangan ikut campur.

Daffa: Gue cuma—

Kia: Gue capek jadi tontonan.

Tidak ada balasan lagi.

Daffa meletakkan ponselnya, dadanya sesak.

Ia mulai sadar: berdiri di tengah dua badai berarti siap terseret.

Keesokan harinya, seluruh sekolah tahu.

Permusuhan Kia dan Tara bukan lagi isu kecil.

Bukan lagi bisikan.

Itu sudah jadi label.

Dan ketika konflik menjadi konsumsi publik,

yang tersisa bukan lagi siapa benar atau salah—

melainkan siapa yang akan jatuh lebih dulu.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!