"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Tamu yang Tak Diundang: Si Orang Ketiga
Malam itu, rumah mewah Arkan tampak lebih terang dari biasanya. Lampu-lampu kristal di ruang makan dinyalakan semuanya, memantulkan cahaya yang menyilaukan pada peralatan makan perak yang sudah disusun rapi di atas meja.
Elena berdiri di sudut dapur, tangannya yang masih kasar dan perih akibat deterjen pagi tadi kini dibungkus sarung tangan putih tipis. Arkan memerintahkannya untuk melepaskan gaun mahalnya dan menggantinya dengan seragam pelayan—sebuah bentuk penghinaan yang disengaja karena malam ini, Arkan ingin menunjukkan pada "tamunya" siapa Elena sebenarnya.
"Ingat, Elena," suara Ibu Widya terdengar dari arah pintu dapur. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna zamrud, tampak sangat puas melihat Elena dalam seragam pelayannya. "Malam ini ada tamu spesial Arkan. Jangan buat malu. Tugas kamu hanya menuangkan wine, mengantar piring, dan diam. Jangan pernah berani menatap mata tamu itu atau suami kamu"
Elena hanya mengangguk kecil. Kepalanya terasa berat, dan hatinya terasa seperti batu yang tenggelam di dasar sumur. Dia tidak lagi memiliki tenaga untuk membantah.
Tak lama kemudian, suara tawa yang melengking terdengar dari ruang depan. Itu bukan suara Arkan. Itu suara seorang wanita yang terdengar sangat manja dan dibuat-buat. Jantung Elena berdegup kencang saat dia mendengar langkah kaki mendekat ke ruang makan.
"Sayang! Rumah kamu benar-benar luar biasa!" ucap wanita itu.
Arkan masuk ke ruang makan sambil merangkul pinggang seorang wanita muda yang tampak sangat kontras dengan Elena. Wanita itu—Selin—memakai gaun merah yang sangat berani, rambutnya yang pirang platinum jatuh sempurna di bahunya. Dia adalah tipe wanita yang tahu cara menggunakan kecantikannya untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Arkan menarik kursi untuk Selin, memperlakukannya dengan kelembutan yang tidak pernah dia tunjukkan pada Elena. Sementara itu, Elena berdiri kaku beberapa langkah di belakang mereka, memegang botol wine yang terasa sangat berat.
"Elena, tuangkan minumannya," perintah Arkan tanpa menoleh.
Elena melangkah maju. Tangannya gemetar saat dia mendekati meja. Dia bisa merasakan tatapan Selin yang penuh selidik dan merendahkan. Saat Elena menuangkan cairan merah ke gelas Selin, Selin sengaja menggerakkan lengannya hingga sedikit minuman itu tumpah mengenai taplak meja putih yang mahal.
"Ups! Ya ampun, ceroboh sekali pelayan ini!" pekik Selin dengan nada pura-pura terkejut. Selin menatap Arkan dengan wajah merajuk. "Sayang, lihat baju aku hampir kena. Kamu dapet pelayan dari mana sih? Kok kaku banget?"
Arkan menatap tumpahan itu, lalu beralih menatap Elena dengan sorot mata yang menjanjikan siksaan. "Dia bukan sekadar pelayan, Selin. Dia adalah 'pajangan' yang sedang belajar bekerja. Maafkan dia, ya. Otaknya memang sedikit lambat."
Selin tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan jemari yang kukunya dicat merah darah. "Oh, jadi ini dia? Istri desa kamu itu? Ya ampun, Arkan... kalau aku jadi kamu, aku bakal malu punya istri yang lebih cocok jadi tukang cuci piring begini."
Elena hanya bisa menunduk, menatap lantai. Dia bisa merasakan wajahnya memanas, bukan karena malu, tapi karena amarah yang tidak bisa dia ledakkan. Dia ingin berteriak bahwa dia adalah istri sah di rumah ini, tapi bayangan wajah ayahnya di desa membuat suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ambil kain, Elena. Bersihkan sekarang. Di bawah kaki Selin," perintah Arkan dingin.
Elena ragu sejenak. Berlutut di bawah kaki selingkuhan suaminya? Itu adalah penghinaan yang melampaui batas.
Tapi, Arkan memberikan tatapan peringatan yang sangat tajam. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Elena mengambil kain lap, lalu berlutut di lantai, tepat di depan sepatu tinggi milik Selin.
Selin sengaja menggerakkan kakinya, membiarkan ujung sepatunya menyentuh bahu Elena saat Elena sedang mengelap lantai. "Hati-hati ya, jangan sampai lecet sepatuku. Ini harganya bisa buat beli makan orang satu desa kamu selama sebulan."
Arkan hanya menonton pemandangan itu sambil menyesap wine-nya, tampak menikmati setiap detik kehinaan yang dialami Elena. Baginya, melihat Elena merangkak di bawah kaki wanita lain adalah puncak dari pembalasan dendamnya.
Dia ingin Elena merasa bahwa dirinya tidak lebih dari debu yang menempel di sepatu Selin.
"Kenapa diam saja, El? Bilang maaf pada Selin karena sudah mengganggu kenyamanannya," ucap Arkan lagi.
Elena berhenti mengelap. Dia menarik napas panjang, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan di dalam jiwanya yang sudah compang-camping.
"Maaf... Nona Selin."
"Suara kamu kurang dengar, Sayang," ejek Selin sambil mengelus lengan Arkan.
"Maafkan saya, Nona Selin," ulang Elena dengan suara yang lebih keras, meski hatinya terasa seperti sedang diiris sembilu.
Setelah selesai, Elena kembali berdiri di sudut, mematung seperti benda mati. Dia dipaksa menonton Arkan menyuapi Selin, mendengar mereka merencanakan liburan ke luar negeri, dan melihat bagaimana Arkan mencium tangan Selin tepat di depan matanya. Setiap tawa Selin terasa seperti paku yang dipukul masuk ke jantung Elena.
Manipulasi Arkan berlanjut saat makan malam selesai. Arkan memanggil Elena mendekat saat Selin sedang sibuk membetulkan riasannya.
"Kamu lihat dia, El?" Arkan berbisik di telinga Elena, suaranya lembut tapi mematikan. "Dia cantik, dia berkelas, dan dia tahu cara menghargai pria. Kamu? Kamu hanya beban. Kalau saja kamu dulu tidak sombong menolak ku, mungkin sekarang kamu yang duduk di kursi itu. Ini adalah hasil dari pilihanmu sendiri. Jadi jangan salahkan aku kalau aku lebih memilih mencintainya daripada menyentuh sampah seperti kamu."
Elena mulai merasa dadanya sesak. Logika Arkan mulai meracuni pikirannya lagi. Apa benar ini salahku? Apa benar karena aku menolaknya dulu, aku pantas dihina seperti ini?
Malam itu berakhir dengan Selin yang tidak pulang. Arkan membawanya naik ke lantai atas, ke kamar utama—kamar yang seharusnya milik Elena. Elena diperintahkan untuk merapikan sisa makan malam di bawah pengawasan Ibu Widya yang terus-menerus memberikan komentar pedas.
Saat rumah akhirnya sunyi, Elena duduk di bangku dapur yang keras. Menatap tangannya yang dibalut sarung tangan putih. Di balik kain tipis itu, dia tahu kulitnya sudah mulai mengelupas dan memerah. Elena mendongak ke langit-langit, mendengar suara tawa dari lantai atas yang samar-samar terdengar.
Elena merasa sangat kotor. Bukan karena lumpur desa, tapi karena ludah Arkan dan penghinaan Selin hari ini yang seolah melekat di jiwanya.
"Ayah... aku nggak kuat..." bisiknya lirih ke arah kegelapan dapur.
Tapi, di tengah keputusasaan itu, ada sesuatu yang berbeda. Bi Inah mendekatinya diam-diam, lalu menyelipkan sebuah bungkusan kecil ke tangan Elena.
"Ini dari seseorang yang menunggu di luar tadi siang, Nona," bisik Bi Inah dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar. "Dia bilang, jangan menyerah. Waktunya hampir tiba."
Elena membuka bungkusan itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada selembar daun kering yang sangat ia kenali—daun dari pohon beringin tua di desa mereka, tempat ia dan Eros sering bertemu. Di permukaan daun itu, tertulis satu kata dengan tinta hitam yang tegas: "SABAR."
Air mata Elena yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata harapan. Eros ada di sini. Eros melihatnya. Untuk pertama kalinya dalam neraka ini, Elena merasa dia tidak lagi sendirian. Meski dia harus merangkak di lantai marmer yang dingin, meski dia harus diludahi, dia tahu bahwa di luar sana, ada badai besar yang sedang bersiap untuk menghancurkan istana Arkan demi dirinya.
Elena mendekap daun itu di dadanya, membiarkan sisa malamnya diisi oleh bayangan Eros yang datang dengan kemarahan yang indah untuk menjemputnya pulang.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya