Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awkward
Baru saja Greta hendak meletakkan tasnya, ia tersentak. Di atas permukaan bangku kayunya yang bersih, terdapat genangan tinta hitam pekat yang sengaja ditumpahkan. Cairan itu masih terlihat berkilau dan basah, perlahan merembes ke arah lantai.
"Astaga... Greta!" seru Clara dengan wajah pucat. "Siapa yang melakukan ini? Tunggu di sini, aku akan panggilkan cleaning service sekarang juga!"
Clara berbalik dengan terburu-buru, namun gerakannya terhenti mendadak.
Bukkk!...
Bahunya menabrak tubuh Revelyn yang sudah berdiri tegak di belakangnya, seolah-olah memang sedang mengadang jalan. Revelyn tidak bergeming, ia hanya menatap Clara dengan pandangan dingin dan tajam.
"Mau ke mana, Clara?" tanya sebuah suara sinis dari arah samping.
Norah berjalan santai mendekat, melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan kekacauan di meja Greta dengan tatapan puas. Ia menyeringai tipis melihat plester di dahi Greta yang nampak kontras dengan noda hitam di hadapannya.
"Kamu sebaiknya kembali ke bangkumu sekarang, Clara," ucap Norah dengan nada memerintah yang tidak menerima bantahan. "Jangan jadi pahlawan kesiangan untuk orang yang bahkan tidak punya ponsel untuk berterima kasih padamu."
Clara gemetar, ia menatap Norah lalu menatap Greta yang hanya terdiam memandangi mejanya yang hancur. Suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap. Semua mata tertuju pada mereka, namun tak ada satu pun yang berani membela.
"Tapi Norah, ini keterlaluan" suara Clara mencicit pelan.
"Kembali. Ke Bangkumu," potong Norah perlahan, menekankan setiap katanya.
Greta mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan amarah yang bergejolak.
Tiba-tiba, suara pintu kelas yang terdorong kasar mengejutkan semua orang. Luca melangkah masuk dengan gaya santai yang khas, tangan kirinya mendekap sebuah bola basket yang sesekali ia pantulkan pelan ke lantai, menciptakan suara berdeham yang menggema di ruangan yang sunyi itu.
Langkah kakinya yang lebar membawanya langsung menuju ke arah meja Greta. Ia berhenti tepat di tengah kerumunan kecil itu, lalu terdiam sejenak sambil mengedarkan pandangan dinginnya ke arah Norah, Revelyn, dan Clara.
"Kalian ngapain pada di sini?" tanyanya dengan nada datar namun mengintimidasi.
Norah yang tadinya berkuasa mendadak gelagapan. Ia langsung kehilangan kata-kata saat melihat Luca berada di sana. Mata Luca kemudian melirik ke arah bangku Greta, melihat genangan tinta hitam yang masih basah di sana. Ia sempat terdiam, memejamkan mata sesaat, dan menarik napas panjang seolah mencoba menahan emosi atau rasa jengkelnya.
"Sudah-sudah... awas, aku mau tidur," ucap Luca tiba-tiba.
Tanpa peringatan, ia menerobos halauan Revelyn yang masih berdiri kaku. Luca langsung menghempaskan tubuhnya untuk duduk di bangku Greta yang penuh tinta itu.
"Tu... Tunggu! Lucaa!!" teriak Norah dan Greta secara bersamaan. Untuk pertama kalinya, kedua gadis yang bermusuhan itu bekerja sama, refleks menarik tangan Luca agar tidak duduk di sana.
Namun, Luca sama sekali tidak memedulikan mereka. Ia tetap mendudukkan dirinya dengan mantap. Seluruh kelas terpatung, mulut mereka menganga melihat seragam Luca yang mahal kini pasti sudah ternoda tinta hitam pekat.
Clara, dengan wajah pucat, memberanikan diri bicara, "Luca... di bangku itu ada tinta..."
Mendengar itu, Luca hanya mengangkat pantatnya sedikit, melihat noda hitam yang kini menempel di celananya, lalu kembali duduk dengan acuh tak acuh.
"Hari sial memang tidak ada di kalender ya?" ucapnya datar sambil menyandarkan punggung, seolah tinta itu hanyalah tumpahan air biasa.
Norah yang melihat rencananya untuk mempermalukan Greta malah berantakan dan justru mengenai Luca orang yang ia sukai langsung berteriak kesal ke arah Greta. "Argh!! Dasar pembawa sial!"
Dengan wajah merah padam karena marah dan malu, Norah menghentakkan kakinya dan kembali ke bangkunya di sayap kanan kelas, diikuti oleh Revelyn yang tampak bingung.
Pintu kelas terbuka perlahan, dan masuklah Ms. Watson, guru filsafat yang dikenal paling ramah dan hangat di sekolah tersebut. Ia masuk dengan senyum lembut, membawa aura tenang yang seketika meredakan ketegangan sisa kejadian tinta tadi.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini kita akan membahas tentang 'The Allegory of the Cave' dari Plato," ucap Ms. Watson dengan suara yang menenangkan.
Di tengah penjelasan Ms. Watson yang mendalam tentang bayangan dan kenyataan, Greta tidak bisa fokus sepenuhnya. Ia sesekali menoleh ke arah bangkunya sendiri yang kini diduduki oleh Luca. Di sana, Luca tampak sangat tenang, melipat tangannya di atas meja dan tertidur lelap seolah-olah kursi yang penuh tinta itu adalah kasur paling empuk di dunia.
Tiba-tiba, suara Ms. Watson yang lembut namun tegas memecah keheningan. "Luca... di kelas filsafat kita mencoba untuk terbangun, bukan untuk tertidur..."
Mendengar nama Luca dipanggil, jantung Greta berdegup kencang. Secara refleks, ia mencondongkan badannya dan menyenggol lengan Luca dengan sigap. Karena Luca tidak kunjung bereaksi, Greta memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke arah telinga Luca, membisikkan kata-kata dengan suara yang sangat halus agar tidak terdengar satu kelas.
"Luca... bangun, kamu dipanggil Ms. Watson..." bisik Greta.
Luca yang merasa terganggu akhirnya mendongakkan kepalanya. Namun, bukannya menatap ke depan kelas, Luca justru memutar wajahnya tepat ke arah Greta yang masih berada sangat dekat dengan telinganya.
Seketika, pandangan mereka bertemu dalam jarak yang hanya beberapa sentimeter. Mata Luca yang biasanya terlihat malas, kini menatap dalam ke netra Greta dengan tatapan yang intens dan hangat sebuah momen romantis yang seakan membekukan waktu di antara mereka.
Seluruh penghuni kelas terdiam, mata mereka membelalak melihat interaksi yang terlihat sangat intim itu. Keheningan itu membuat Greta tersadar sepenuhnya. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga. Ia segera menarik tubuhnya kembali ke postur tegak, lalu dengan panik membolak-balik halaman buku filsafatnya secara acak, mencoba menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.
"Ma-maaf, Ms. Watson," gumam Greta tanpa berani menatap ke mana pun.
Di sayap kanan kelas, pemandangan itu menjadi racun bagi Norah. Ia menyaksikan setiap detik kedekatan Luca dan Greta dengan mata yang berkilat marah. Tangannya meremas pensil kayu di genggamannya begitu erat hingga terdengar suara derit kayu yang hampir patah. Bagi Norah, melihat Luca menatap Greta seperti itu jauh lebih menyakitkan daripada melihat seragam Luca terkena tinta.
Ms. Watson hanya tersenyum simpul, menyadari percikan emosi di dalam kelasnya. "Baiklah, karena Luca sudah 'terbangun' berkat bantuan Miss Greta, mari kita lanjut..."
Bukannya menjauh setelah ditegur Ms. Watson, Luca justru sengaja menumpukan dagunya di atas tangan, memajukan wajahnya hingga semakin dekat dengan Greta. Greta yang masih pura-pura sibuk membolak-balik buku filsafatnya bisa merasakan kehadiran Luca dari sudut matanya. Debaran jantungnya semakin tidak keruan saat suara rendah Luca merambat masuk ke indra pendengarannya.
"Kemarin sepulang sekolah, aku janji mau membalas pertolonganmu di kelas Mr. Sterling, tapi aku tidak melihatmu di gerbang sekolah?" tanya Luca, suaranya sedikit berbisik namun penuh selidik.
Greta akhirnya menyerah dan menoleh pelan ke arah Luca. "Tidak usah, Luca... aku tidak apa-apa."
Saat Greta menoleh, helaian rambutnya yang menutupi dahi sedikit tersingkap. Mata Luca yang tajam seketika menangkap sesuatu yang mengganggu pemandangannya. Ia melihat plester medis yang tertempel di dahi Greta, kontras dengan kulitnya yang pucat.
"Loh, itu kamu kenapa?" tanya Luca kaget, suaranya naik satu oktav hingga membuat Ms. Watson melirik mereka sejenak.
"Ah... kemarin aku terjatuh di tangga sekolah," jawab Greta cepat, mencoba memberikan alasan yang paling masuk akal.
"Terjatuh? Bagaimana bisa sampai seperti itu?" Luca mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya. Ia tahu tangga sekolah ini lebar dan tidak licin. Bagaimana bisa seorang gadis sehati-hati Greta terjatuh sampai harus memakai banyak plester?
Greta hanya membalas dengan senyuman tipis sebuah senyum yang seolah ingin mengakhiri pembicaraan lalu ia kembali membenamkan wajahnya ke dalam buku filsafatnya.
Luca terdiam, raut wajahnya berubah menjadi penuh kecurigaan. Ia menyadari ada yang tidak beres. Instingnya bekerja, dan secara tidak sengaja ia melirik ke arah sayap kanan kelas, tepat ke arah Norah. Kebetulan, Norah sedang menatap Luca dengan pandangan intens yang sulit diartikan. Begitu mata mereka beradu, Norah tersentak dan langsung memalingkan wajahnya dengan kasar ke arah buku, pura-pura sangat fokus pada penjelasan Ms. Watson.
Luca menyipitkan matanya. Ia menangkap kegugupan di wajah Norah. Otaknya mulai menghubungkan benang merah antara luka di dahi Greta, tumpahan tinta di bangku, dan sikap Norah yang tidak biasa.
oke lanjut thor.. seru ceita nya