NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 19

Di tengah sejuknya hembusan AC ruangan OSIS, suasana yang tadinya kaku mendadak berubah menjadi arena permainan.

Kael, dengan bakat alaminya sebagai penghidup suasana, mengumpulkan semua orang—termasuk Lily yang masih tampak sedikit malu-malu—untuk berdiri melingkar di tengah ruangan.

"Baiklah, kawan-kawan! Karena kita semua haus dan tidak ada yang mau berkorban nyawa keluar ke padang pasir di luar sana, ayo kita tentukan dengan cara yang paling adil dan bahagia!" seru Kael sambil melirik Lily dan Sasha bergantian.

"Lily harus ikut, Sasha juga wajib! Bahkan Tuan Putri Aria, jangan coba-coba kabur!"

Aria awalnya ingin menolak, namun melihat antusiasme di mata teman-temannya, ia akhirnya menyerah dan ikut bergabung dalam lingkaran.

Kael mulai menghitung dengan suara lantang, "Satu... dua... tiga!"

"Batu... gunting... kertas!"

Secara bersamaan, tangan mereka terulur. Hasilnya mengejutkan: Lily dan Aria mengeluarkan gunting, sementara yang lainnya mengeluarkan batu.

"Yesss! Keadilan ditegakkan!" teriak Kael kegirangan. Sasha menyeringai puas sambil menyandarkan punggungnya kembali ke sofa.

"Nasibmu memang buruk hari ini, Aria. Cepat sana, aku haus sekali."

Satu per satu memberikan uang kepada Aria dan Lily sambil menyebutkan pesanan mereka.

Sasha memesan **Minuman Soda Rasa Blueberry dengan ekstra es**, Yudas meminta **Minuman Isotonik dingin**, Indah memesan **Teh Melati kemasan**, Raka meminta **Kopi Hitam kaleng**, sementara Kael dengan semangat meminta **Susu Cokelat dingin**.

Aria menghela napas panjang, merapikan roknya, lalu melangkah keluar ruangan diikuti oleh Lily.

Di perjalanan menuju kantin yang terik, Lily memecah keheningan. "Kak Aria, rasanya sudah lama sekali ruangan OSIS tidak seramai dan sehangat itu. Biasanya selalu sepi dan penuh ketegangan laporan."

Aria tersenyum tipis. "Benarkah? Mungkin itu karena hari yang sangat panas ini. Panas membuat orang-orang kehilangan akal sehat dan masuk ke ruangan orang lain tanpa ijin," candanya pelan.

Sambil membawa plastik besar berisi minuman dingin, Lily kembali bertanya, "Kak, setelah lulus nanti, apa yang akan Kakak lakukan?"

"Aku akan kuliah, Lily. Tapi aku harus mengejar beasiswa penuh dulu agar tidak membebani orang tuaku," jawab Aria tenang.

"Aku paham," Lily mengangguk. "Lalu... menurut Kakak bagaimana keadaan sekolah tahun ini? Maksudku, dengan semua kejadian yang baru saja kita lalui?"

Aria berhenti berjalan di tengah koridor yang sepi. Ia menatap lurus ke depan, seolah sedang mencari jawaban di udara. "Entahlah, Lily. Aku hanya melakukan hal yang biasa kulakukan, tidak lebih. Dan menurutku aku..."

Kalimat Aria terhenti. Tangannya mendadak lemas, dan genggamannya pada plastik besar itu terlepas.

*BRAK!*

Botol-botol dan kaleng minuman itu berserakan di lantai koridor. Lily langsung panik dan ikut berjongkok membereskannya. "Kak Aria? Kakak tidak apa-apa? Wajah Kakak pucat sekali!"

"Aku tidak apa-apa, maaf. Tanganku hanya sedikit licin karena embun botolnya," dalih Aria cepat, meski matanya tampak menyimpan sesuatu. Setelah semua rapi kembali, mereka bergegas kembali ke ruangan OSIS.

Sesampainya di sana, mereka membagikan minuman tersebut sesuai pesanan.

Saat tiba giliran Sasha, Aria memberikan botol sodanya dengan tatapan penuh peringatan. "Sasha, hati-hati saat membukanya. Jangan langsung ditarik tutupnya."

Sasha mendengus, sudah memegang tutup botol itu dengan gaya menantang. "Memangnya kenapa? Ini cuma soda, bukan bom tahu! Jangan berlebihan."

*PSSSSTTT... DORRR!*

Begitu tutupnya diputar sedikit, cairan soda berwarna biru itu memuncar keluar dengan tekanan tinggi, membasahi wajah, seragam, hingga rambut Sasha.

Rupanya, guncangan saat jatuh di koridor tadi membuat gas di dalamnya terjebak.

Sasha membeku dengan wajah basah kuyup dan mulut menganga, sementara aroma blueberry menyeruak di seluruh ruangan. Seluruh orang di sana—Yudas, Kael, Indah, bahkan Raka—meledak dalam tawa yang tak tertahankan.

"Hahahaha! Kubilang juga apa! Itu bom Blueberry!" teriak Kael sambil memegangi perutnya.

Sasha hanya bisa menggeram sambil menyeka wajahnya, sementara Aria hanya bisa menggelengkan kepala melihat sang berandalan kini benar-benar terlihat konyol di tengah musim panas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!