Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *19
Siang menjelang sore, mereka berdua berangkat ke desa kecamatan. Udara saat ini sangat bersahabat. Tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin.
Rin menikmati setiap jalan yang mereka lewati saat menuju ke desa kecamatan. Angin segar yang ia hirup, cukup untuk membuat hatinya lebih tenang, dan terasa sangat ringan.
"Indah," gumam Rin pelan sambil tersenyum.
"Jika begitu, kita akan sering jalan-jalan untuk ke depannya," ucap Bayu menanggapi satu kata yang Rin ucapkan barusan.
"Boleh. Tapi jika kamu tidak sibuk."
"Seperti biasa, aku tidak cukup sibuk jika untuk membawa mu keluar jalan-jalan, Rin."
Ketika kota bertemu desa, ternyata hasilnya sama sekali tidak buruk. Memang ada perbedaan diantara keduanya. Namun, perbedaan itu sama sekali bukan halangan untuk keduanya bersama.
Gadis cantik itu tersenyum bahagia. Pria desa yang dulunya ia anggap sama sekali tidak cocok dengannya, kini selalu membuat ia merasa nyaman.
Motor yang Bayu kendarai dengan kecepatan sedang cendrung pelan itu akhirnya tiba ke tempat yang ingin mereka tuju. Desa kecamatan yang jauh lebih ramai dari pada desa tempat tinggal Bayu. Motor itupun berhenti di persimpangan depan taman yang sebelumnya Bayu katakan pada Rin.
"Nah, kita sudah sampai."
Rin tidak menjawab apa yang Bayu katakan. Namun, matanya menyapu seluruh tempat yang ada di depannya. Taman desa yang ternyata sangat indah nan asri. Di dalam taman tersebut juga terdapat beberapa pohon dengan ukuran yang cukup rindang.
"Bagaimana? Indah tidak?"
Rin tidak menjawab, tapi tangannya langsung meraih tangan Bayu. Gadis itu tidak enggan untuk mengandeng pria desa yang dulunya tidak ia inginkan sama sekali.
Ulah Rin membuat Bayu terpaku sesaat. Tapi tetap bergerak ketika Rin menarik tangannya untuk segera beranjak.
"Ayo, Bay! Tamannya indah. Ayo masuk lebih jauh."
Bayu tersenyum singkat. Tangannya terus Rin genggam. Hatinya kini berbunga-bunga. Ada semu yang berusaha Bayu sembunyikan dari pandangan mata.
Melihat Rin dan Bayu yang bergandengan tangan. Beberapa pasang mata yang lewat menatap mereka dengan tatapan penuh selidik. Tapi Rin tidak ingin menghiraukan apapun itu. Karena dia sudah cukup terbiasa akan pandangan-pandangan aneh yang orang-orang tujukan padanya.
"Ayo, Bay! Foto di sana."
Bayu hanya terus mengikuti ke mana Rin ingin pergi. Beberapa jepretan foto Rin ambil dengan kamera ponselnya.
"Ih, Bayu. Senyum."
"Sekali lagi ya. Awas saja kalau kamu tidak senyum, Bay."
"Iya, baiklah. Aku senyum."
Lagi, Rin mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen indah mereka berdua. Namun, ketika pria itu tersenyum, Rin malah terpesona akan keindahan senyum yang Bayu miliki. Pria itu jarang senyum lebar. Namun sekalinya tersenyum, madu mungkin bisa ia tandingi sangking manisnya senyum Bayu di mata Rin.
"Rin."
"Ah, iya?"
"Fotonya, kenapa? Gak jadi? Tunggu! Ada yang salah sama aku?"
"Ah, eng-- nggak. Gak ada. Ayo ... foto lagi. Senyum."
Beberapa jepretan foto dengan Bayu tersenyum manis akhirnya berhasil Rin abadikan dengan baik. Merekapun mengambil beberapa tempat yang berbeda untuk dijadikan latar dari foto tersebut.
Hampir satu jam di taman tersebut, akhirnya Bayu mengajak Rin pergi meninggalkan taman. Mereka kini beranjak menuju cafe yang ada di desa tersebut.
"Nah, ini dia tempatnya," ucap Bayu ketika mereka tiba di tempat yang Bayu maksudkan.
Rin memperhatikan tempat tersebut dengan seksama. Cafe itu sama sekali tidak mirip dengan cafe yang ada di kota. Kalau menurut Rin, ini sama dengan warung pecal lele yang hanya buka pada malam hari di pinggiran jalan yang ada di kota tempatnya tinggal.
"Ini ... cafe?"
"Hm. Iya. Ini cafe yang ada di desa, Rin. Memang, sangat jauh dari cafe yang ada di kota. Tapi, suasananya sangat nyaman untuk bersantai, bukan?"
Rin memperhatikan sekeliling. Memang, apa yang Bayu katakan itu benar. Suasananya indah, nyaman untuk dijadikan tempat bersantai. Meja dan kursi kayu di susun agak berjauhan dari yang satu dengan yang lain. Sangat nyaman untuk dijadikan tempat minum sambil menikmati udara segar desa pada sore hari.
"Mau duduk di mana, Rin?"
Rin menoleh sesaat ke arah Bayu. Lalu, mengalihkan pandangan ke kursi kosong yang ada tak jauh dari bawah pohon rindang.
"Di ... sana saja."
"Baiklah. Ayo!"
merekapun duduk di sana. Sesaat kemudian, pelayan cafe yang tak lain adalah anak dari si pemilik cafe itu sendiri datang. Seperti penjual pada umumnya, gadis itu menyapa pembeli dengan ramah.
"Mau pesan apa, mbak? Mas?"
Bayu menoleh. "Mau-- "
"Mas Bayu. Ku kira siapa, Mas. Ternyata kamu. Mas Bayu sama .... " Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah Rin. "Siapa?"
Seperti sebelumnya, pria itu dengan bangga memperkenalkan Rin sebagai istrinya pada siapapun. "Istriku. Rin."
Wajah si gadis langsung berubah. "Istri? Mas Bayu ... kapan nikahnya?"
"Beberapa waktu yang lalu."
Tanpa menunggu gadis itu menjawab lagi, Bayu langsung menoleh ke arah Rin. Mengajak Rin untuk bicara agar sang istri tidak merasakan hal aneh untuk hatinya.
"Rin. Mau pesan apa?"
"Aku mau ... ee ... menunya mana?"
"Ah, iya. Menunya?" Bayu meminta pada gadis tersebut.
Si gadis memberikan apa yang Bayu minta dengan wajah yang tidak seramah biasanya. Bayu menerima, tapi langsung menyerahkan ke tangan Rin. Singkatnya, dia tentu saja akan tetap meratukan istrinya di manapun dia berada.
"Bayu. Aku mau ini saja," ucap Rin sambil mengarahkan telunjuk ke jus naga yang ada di urutan daftar menu yang ada di tangannya.
"Oke."
"Kami pesan dua jus naga."
"Makanannya?" Pelayan itu bertanya tanpa senyum.
"Rin." Lagi, Bayu membiarkan istrinya untuk memilih.
Si penjual semakin terlihat kesal. "Biasanya, mas Bayu akan pesan pisang goreng coklat," ucapnya tanpa ada yang bertanya.
Rin reflek mengalihkan pandangan ke arah Bayu. Perasaan kesal itu muncul begitu saja. Rin sendiri tidak tahu kenapa dia bisa merasakan perasaan aneh yang sangat menyebalkan ini.
"Kamu suka makan pisang goreng coklat, Bay? Kalau gitu, minta itu saja untukmu. Tapi untukku, aku tidak mau apa-apa."
"Ah, kalau gitu, aku juga tidak mau."
Bayu menoleh ke pelayan tersebut. "Kami hanya pesan air saja. Tidak makanan."
"Tapi biasanya-- "
"Kali ini tidak biasa. Aku datang bersama istriku. Jadi, tidak biasa lagi."
Wajah si pelayan semakin tidak terlihat baik-baik saja. Wajah kesal bercampur sedih terlihat dengan sangat jelas.
"Baiklah. Pesanan mas Bayu akan segera datang."
Setelah kepergian pelayan tersebut, Rin menatap Bayu dengan tatapan lekat. Perasaan kesal itu tidak bisa ia sembunyikan lagi. Satu pertanyaan akhirnya muncul. "Kamu sering ke sini, Bayu?"
Bayu menatap Rin dengan tatapan yang sama. "Aku, tidak juga. Hanya beberapa kali saja."