NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Axel masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Lusy yang penuh keceriaan itu, mata coklatnya yang dalam terpaku pada setiap gerakan bibir wanita itu saat ia berbicara, setiap kilatan kegembiraan yang muncul di mata almondnya. Seolah jika ia berkedip sedikit saja, semua ini akan menjadi mimpi yang akan sirna begitu ia membuka mata lagi—seolah wanita itu akan kembali menjadi sekadar bayangan berwarna pixel di layar ponsel yang dingin.

Namun, rasa nyaman dan kedekatan yang terasa begitu nyata itu mendadak terusik oleh gejolak tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dalam perutnya. Rasa mulas yang tajam dan menusuk menyebar dari bagian atas perut hingga ke seluruh tubuhnya, mungkin akibat cangkir kopi pekat yang ia minum saat perut masih kosong atau sisa adrenalin yang masih mengganggu sistem tubuhnya setelah kejadian kepanikan tadi pagi.

"Lusy, maafkan aku sejenak ya..." Ucap Axel dengan suara sedikit tertekan karena rasa sakit yang muncul tiba-tiba, sambil meringis pelan dan menutupi bagian perutnya dengan sebelah tangan.

Ia mencoba untuk tetap tersenyum, namun ekspresi wajahnya jelas menunjukkan bahwa rasa tidak nyaman itu cukup mengganggu. "Sepertinya perutku tidak bisa diajak kompromi hari ini. Mungkin karena terlalu banyak bekerja tanpa istirahat atau karena kopi pagi yang terlalu kuat."

Lusy terkekeh dengan suara riang, binar jenaka yang khasnya terpancar jelas dari mata besarnya yang cerah. Ia mengangguk perlahan, kemudian menggeser rambutnya yang sedikit tertutup wajah ke belakang bahu dengan lembut. "Efek terlalu bersemangat menyambutku ya, Dokter? Jangan khawatir, pergilah saja. Aku tidak akan kabur ke mana pun kok—kalau aku mau kabur, aku sudah tidak akan kembali ke sini kan? Aku akan di sini saja, melihat-lihat 'kerajaan' kecilmu yang penuh dengan misteri ini."

"Baiklah, jangan sentuh apa pun yang ada di rak tabung ya, Sayang? Beberapa zat di sana masih dalam tahap pengembangan dan bisa saja menyebabkan iritasi kimia jika terkena kulit secara langsung." Pesan Axel.

Ia berjalan dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa menuju arah koridor yang mengarah ke kamar mandi di dekat dapur, seringkali menoleh ke arah Lusy untuk memastikan bahwa wanita itu tidak akan menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya. "Aku tidak mau calon pengantinku harus datang ke altar dengan tangan yang kemerahan karena terkena bahan kimia. Itu tidak akan menarik sama sekali."

"Siap, Tuan Dokter! Aku akan berperilaku seperti murid yang baik dan tidak akan menyentuh apa-apa yang tidak boleh disentuh!" Jawab Lusy dengan riang dan penuh semangat, bahkan melambaikan tangan kanannya dengan ceria sebagai tanda bahwa ia akan mematuhi perintah Axel. Ia kemudian mulai berjalan perlahan mengelilingi meja kerja besar itu, matanya penuh dengan rasa ingin tahu yang tak ada batasnya.

Sepeninggal Axel yang masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya, keheningan yang dalam menyergap ruangan dengan cepat. Suara pendingin ruangan yang terdengar lembut dan desisan dari kipas angin yang bekerja menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian itu.

Lusy mulai berjalan dengan langkah yang santai mengelilingi seluruh area kerja tunangannya, matanya dengan cermat mengamati setiap detail yang ada di sana. Ia melihat dengan kagum mikroskop digital yang tampak sangat canggih, tumpukan jurnal ilmiah internasional yang tertumpuk rapi di sudut meja dengan beberapa halaman yang sudah diberi sorotan dan catatan tangan, serta catatan-catatan rumit yang penuh dengan rumus kimia dan gambar struktur molekul yang menurutnya lebih mirip sandi rahasia daripada tulisan medis yang biasa ia lihat.

Udara di dalam ruangan itu terasa agak kering dan sedikit lebih hangat dari biasanya, mungkin karena banyaknya peralatan elektronik yang bekerja atau karena ventilasi yang tidak terlalu maksimal.

Rasa haus yang mendadak menyerang tenggorokannya dengan sangat kuat, menyebabkannya secara tidak sadar meniup bibirnya yang mulai terasa kering dan sedikit pecah-pecah. Sisa rasa kantuk dan kelelahan dari perjalanan panjang lintas benua yang ia tempuh mulai muncul kembali, membuatnya merasa sangat ingin mendapatkan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa haus dan memberikan energi tambahan.

Lusy membasahi bibirnya dengan lidahnya yang juga sudah mulai terasa kering, kemudian mengitari ruangan dengan pandangan yang mencari-cari botol air mineral atau sesuatu yang bisa diminum. Namun, pandangannya yang sedang berkeliaran itu justru tertuju pada sebuah gelas plastik besar yang terletak di atas meja seberang—meja yang jauh dari kerumunan peralatan lab yang tampak berbahaya dan penuh dengan zat kimia yang tidak dikenal.

Di sana, cairan berwarna kuning oranye pekat yang tampak sangat segar dan menyehatkan memantulkan cahaya lampu plafon yang menyala dengan terang, memberikan kilau yang menggiurkan pada permukaan gelasnya yang bening.

"Apa itu jus mangga?" Gumamnya dengan pelan, matanya tidak bisa bergerak lagi dari arah gelas itu.

Ia melangkah dengan langkah yang lambat mendekati meja itu, setiap langkahnya membuatnya semakin merasa haus dan ingin segera mendapatkan kelegaan dari jus yang tampak segar itu. Jus itu tampak begitu menggiurkan, warnanya yang cerah dan kental seolah masih menyimpan rasa dingin yang menyegarkan di dinding gelasnya yang dingin saat disentuh.

Lusy tahu dengan pasti bahwa itu adalah minuman Axel—mereka sudah terbiasa berbagi apa saja yang mereka miliki sejak lama, bahkan sebelum mereka resmi menjadi pasangan. Tidak ada rasa ragu sedikit pun yang muncul di benaknya saat ia mengulurkan tangan kanannya untuk meraih gelas itu dengan hati-hati. Pikirannya hanya terfokus pada rasa haus yang mencekik tenggorokannya dan bayangan rasa manis buah mangga yang akan segera membasahi kerongkongannya yang kering.

Sementara itu, di dalam kamar mandi yang terletak tidak jauh dari ruang tengah, Axel baru saja membuka keran air dan membasuh wajahnya dengan air dingin yang sangat menyegarkan. Ia menuangkan beberapa genggam air dingin ke wajahnya yang panas akibat rasa tidak nyaman dan kepanikan yang masih mengganggunya, kemudian mengusapkannya dengan handuk wajah yang terletak di rak dekat keran.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin kaca yang besar di atas wastafel, mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar tidak teratur dan mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi lebih tenang. Matanya yang merah sedikit karena kurang tidur tampak lebih jelas di bawah cahaya lampu kamar mandi yang terang, dan ia bisa melihat bagaimana wajahnya terlihat sangat lelah dan penuh dengan kekhawatiran yang mendalam.

Tiba-tiba, sebuah kilatan memori menyambar otaknya dengan kecepatan seperti petir yang menyambar di malam hari yang gelap. Gambar tentang percikan cairan kuning keemasan yang keluar dari tabung reaksi yang terpelanting, bagaimana butiran-butiran kecil zat kimia itu melayang perlahan di udara sebelum akhirnya mendarat tepat ke dalam gelas jus mangganya yang terbuka lebar—semua itu muncul dengan sangat jelas di dalam pikirannya seperti sebuah film yang diputar ulang berkali-kali.

Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana warna kuning keemasan dari racikan eksperimentalnya itu menyatu dengan warna oranye pekat dari jus mangga, menghilang tanpa bekas dalam sekejap mata dan membuat jus itu tampak sama sekali tidak ada yang salah padahal sudah terkontaminasi oleh zat yang sangat berbahaya.

Seluruh persendian Axel mendadak terasa lemas dan tidak berdaya, membuatnya hampir menjatuhkan handuk wajah yang masih digenggamnya ke lantai kamar mandi yang licin. Napasnya tertahan di tenggorokan dengan sangat kuat, membuatnya merasa seperti sedang tersedak dan tidak bisa bernapas dengan normal.

"Gelas itu..."

Ia baru saja menyadari bahwa saat ia tergesa-gesa untuk menyambut kedatangan Lusy, ia telah meletakkan gelas yang terkontaminasi itu tepat di meja yang paling mudah dijangkau oleh siapa saja yang baru masuk ke ruangan itu—termasuk Lusy yang pasti akan merasa haus setelah melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan itu.

Tanpa berpikir panjang lagi, Axel menghambur keluar dari kamar mandi dengan kecepatan yang sangat tinggi, tubuhnya bergoyang karena tergesa-gesa dan membuat pintu kamar mandi yang terbuka lebar menyentak dengan sangat keras hingga membentur dinding di luar dengan suara dentuman yang nyaring dan menggema di koridor kosong itu.

"Lusy! Jangan!"

Teriaknya dengan rasa kegelisahan yang luar biasa, kaki kirinya hampir terpeleset saat ia berlari dengan sangat cepat menuju arah ruang tengah yang kini tampak seperti tempat yang paling berbahaya di dunia ini baginya.

Namun, waktu adalah pengkhianat paling kejam yang tidak bisa pernah dipercaya atau diperlambat dengan cara apa pun. Seluruh dunia seolah berhenti bergerak dalam sekejap mata bagi Axel ketika ia memasuki ruang tengah dan melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di sana.

Saat Axel berlari dengan cepat menutupi jarak di antara mereka dengan langkah yang tergesa-gesa dan tidak stabil, pandangannya menangkap sebuah pemandangan yang membuat seluruh dunianya seolah runtuh menjadi kepingan abu yang tak berharga.

Lusy sedang berdiri dengan tenang di sisi meja seberang, kedua tangannya masih menggenggam gelas plastik besar itu dengan lembut—baru saja menurunkan gelas itu dari bibirnya yang merah muda itu setelah meminum sebagian besar isinya. Cairan berwarna kuning oranye pekat di dalam gelas itu sudah berkurang hampir setengahnya, dan beberapa tetes sisa jus masih menempel di sudut bibir Lusy, berkilau dengan indah di bawah cahaya lampu ruangan yang menyala terang.

"Axel? Ada apa denganmu?" Tanya Lusy dengan wajah yang sangat polos dan penuh dengan keheranan, tampak sangat terkejut saat melihat wajah tunangannya yang tiba-tiba menjadi pucat pasi seperti mayat yang baru saja dikeluarkan dari peti mati.

Axel tidak bisa menjawab apa-apa. Ia hanya bisa terus berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi, menerjang jarak yang tersisa di antara mereka dengan tubuh yang sudah hampir kehilangan kendali karena ketakutan yang melanda. Ia merebut gelas itu dari tangan Lusy dengan gerakan yang agak kasar dan tidak terkontrol, membuat sisa jus yang masih ada di dalam gelas itu tumpah dengan banyaknya ke lantai.

Napasnya memburu dengan sangat cepat, dada yang sesak membuatnya sulit untuk bernapas dengan normal. Matanya yang sudah merah karena kurang tidur kini melotot dengan sangat lebar menatap gelas yang sudah tersisa isinya yang masih ia pegang erat di tangannya, kemudian perlahan beralih ke wajah Lusy dengan tatapan horor dan penuh dengan rasa bersalah yang luar biasa.

"Kau... kau meminumnya?"

"I-iya, aku haus sekali setelah perjalanan panjang tadi." Jawab Lusy dengan sedikit terbata-bata dan penuh dengan rasa bersalah, matanya yang besar itu melihat Axel dengan ekspresi yang sangat bingung dan sedikit takut.

Ia menurunkan pandangannya ke tangan kanannya yang masih terangkat seolah masih ingin menggenggam gelas itu, kemudian kembali melihat wajah Axel dengan tatapan yang semakin bingung. "Maaf ya kalau aku meminum punyamu tanpa izin dulu, tapi aku pikir kau tidak akan keberatan karena kita selalu berbagi apa saja kan? Tapi kenapa wajahmu seperti itu? Ada apa dengan jus itu?"

Kalimat Lusy terhenti secara tiba-tiba saat ia melihat dengan jelas bagaimana tangan Axel yang menggenggam gelas kosong itu sedang bergetar dengan sangat hebat. Ia bisa melihat bagaimana seluruh tubuh Axel mulai menggigil dengan sangat jelas, bahkan di bawah baju kerja lab yang dikenakannya. Ia juga melihat bagaimana mata Axel hanya menunjukkan kegelapan yang dalam dan rasa takut yang sangat dalam.

Axel terpaku seperti patung batu di tempatnya berdiri, seluruh tubuhnya menjadi sangat kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Ia tidak bisa berpindahkan pandangannya dari wajah Lusy yang masih sangat cerah dan tidak tahu apa-apa itu, bahkan meskipun dalam kepalanya, bayangan struktur molekul yang "hidup" dan sangat agresif dari racikan gagal itu mulai menari-nari dengan liar seperti hantu yang mengganggu tidur nyenyak.

Ia terlambat. Hanya selisih hitungan detik saja antara keberhasilan dan kegagalan dalam melindungi wanita yang paling dicintainya—namun selisih waktu yang sangat singkat itu sudah cukup untuk membiarkan maut yang ia ciptakan sendiri masuk ke dalam aliran darah Lusy dengan cara yang paling menyakitkan dan tragis yang bisa ia bayangkan.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!