Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran hidup
“Kalau begitu, saya ingin ke tempat administrasi dulu. Saya ingin membawa anak saya pulang,” ucap Nenek Darma pelan.
Matanya sudah tidak mengeluarkan air mata lagi. Kesedihan itu masih ada, tapi kini tertahan rapi di balik senyum yang dipaksakan.
“Zita, Rio… boleh tunggu sebentar? Aku mau nemenin Nenek Darma,” tanya Clara.
“Aku ikut,” ucap Zita cepat. Rio hanya mengangguk, wajahnya sulit ditebak.
Clara dan Zita berjalan di sisi Nenek Darma menuju bagian administrasi. Di sana, petugas mulai menjelaskan prosedur kepulangan pasien dalam kondisi koma, tanda tangan pernyataan, risiko medis, hingga rincian sisa tagihan yang belum lunas. Setiap kalimat terdengar seperti palu yang memukul pelan namun pasti.
Clara melirik angka-angka di layar komputer administrasi. Nominalnya bagi sebagian orang mungkin sekadar angka. Tapi bagi Nenek Darma, itu jelas vonis.
Tak lama kemudian, Rio datang bersama Wulan dan Adit. Ternyata Zita sempat menghubungi mereka saat di depan ruang ICU.
“Tunggu dulu, Mbak,” ucap Rio tiba-tiba saat petugas hendak menyerahkan dokumen kepulangan.
Petugas menoleh.
“Nek, bisa kita bicara sebentar? Ini tentang anak Nenek,” pinta Rio pelan.
Nenek Darma mengangguk dan mengikuti Rio ke sudut lobi. Ia duduk perlahan di kursi plastik, sementara Rio berjongkok di hadapannya. Wajahnya tidak lagi santai seperti biasanya. Ada sesuatu yang bergolak di matanya.
Clara memperhatikan. Ia tahu ada keputusan yang sedang ditimbang dalam kepala Rio.
Rio sempat terdiam beberapa detik. Ia menoleh sekilas ke arah meja administrasi. Papan tarif terpampang jelas di dinding. Tiba-tiba ia teringat ruang VIP yang pernah ia gunakan tanpa pernah bertanya soal biaya. Rumah sakit ini milik keluarganya. Sistem ini… milik keluarganya.
“Nek,” ucap Rio akhirnya, suaranya tidak setenang biasanya. “Maaf kalau saya terkesan ikut campur. Tapi kalau Nenek mengizinkan… saya ingin membiayai pengobatan anak Nenek.”
Semua terdiam.
Wulan, Zita, dan Adit saling berpandangan. Mereka tahu Rio bukan tipe orang yang mudah tersentuh oleh orang asing. Tapi malam ini jelas berbeda.
Nenek Darma terperangah. “Terima kasih, Nak Rio… tapi kami tidak pantas menerimanya. Saya sudah tua. Saya tidak bisa bekerja untuk mengganti uang kamu.”
Rio menggeleng pelan. “Saya tidak meminta diganti, Nek.”
Wulan ikut berjongkok di samping Rio. “Ada orang yang berniat baik, Nek. Tidak baik kalau ditolak. Kadang Tuhan mengirim pertolongan lewat orang yang tidak kita sangka.”
Adit dan Zita mengangguk mendukung.
Nenek Darma tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Rio erat-erat. Pelukan itu gemetar, hangat, dan penuh syukur. Rio kaku sesaat, ia tidak pernah merasakan pelukan seorang nenek. Perlahan, ia membalas pelukan itu. Dadanya terasa aneh… tapi hangat.
Clara melirik Zita yang sejak tadi memeluk lengannya sambil menangis pelan.
Clara tersenyum tipis. Ternyata tidak semua orang kaya kehilangan nuraninya. Beberapa hanya belum pernah melihat kenyataan.
Setelah itu, Rio kembali ke meja administrasi dan menyelesaikan urusan pembayaran Agus, anak Nenek Darma. Ia bahkan meminta rincian lanjutan dan berbicara singkat dengan manajer administrasi, nada suaranya berubah lebih tegas dari biasanya.
Sementara itu, Zita berinisiatif menghubungi salah satu pembantu di rumahnya untuk menemani Nenek Darma selama di rumah sakit. Adit membantu mengurus dokumen, Clara dan Wulan menemani Nenek Darma menenangkan diri.
Malam terasa berbeda saat mereka akhirnya kembali ke mobil.
“Aku laper banget,” ucap Zita sambil mengelap sisa air matanya.
“Gimana nggak laper, lu nangis sesegukan begitu,” balas Adit.
“Mana kayak kukang meluk tangannya si Clara,” tambahnya.
Clara terkekeh pelan.
Di kursi depan, Rio menyetir dengan diam lebih lama dari biasanya.
“Clara,” tanya Zita tiba-tiba, suaranya polos, “apa kehidupanmu juga sesusah itu?”
Clara menoleh ke arahnya. Zita duduk di tengah, wajahnya masih sembab.
“Entahlah,” jawab Clara lembut. “Mungkin pernah… mungkin juga tidak.”
“Jawaban ambigu apa itu?” sahut Adit tanpa menoleh.
Clara tersenyum tipis. “Kadang hidup itu nggak selalu bisa dibandingkan.”
Wulan bersandar di kursinya. “Dari dulu kalian nggak pernah lihat ke arah bawah. Padahal masih banyak yang nasibnya lebih parah.”
Rio, Zita, dan Adit terdiam. Tidak bisa dipungkiri, mereka hidup dengan fasilitas lengkap, jadwal rapi, masa depan yang seolah sudah tersusun sejak lahir. Wulan berbeda. Ia tumbuh dari keluarga biasa sebelum orangtuanya sukses. Ia pernah merasakan berada di dua sisi.
Clara berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana. “Gimana tadi wawancaranya, Lan?”
“Bagus dong. Gue sama Adit dapat banyak informasi,” jawab Wulan, nadanya mulai normal.
“Ternyata seseru ini turun ke lapangan,” sahut Adit. “Daripada di depan buku bikin ngantuk.”
Rio tersenyum kecil, tapi pikirannya masih tertinggal di lobi rumah sakit. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa uang bukan sekadar alat bayar tapi penentu nasib seseorang.
Dan Clara… diam-diam tahu, malam ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu pasien.
Malam ini, ada tiga anak muda yang mulai belajar melihat dunia dengan mata yang berbeda.