NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Anak yang Kehilangan Arah

Langkah Aira terdengar kosong di koridor lantai empat.

Ia tidak ingat bagaimana ia keluar dari ruang ayahnya. Tidak ingat apa yang dikatakan Arlan setelah itu. Tidak ingat Wirawan masih di sana atau tidak.

Yang ia ingat hanya satu hal—

tangan Arlan yang sempat bergerak seolah ingin menahannya… lalu berhenti.

Seperti selalu.

Aira menuruni tangga gedung lama itu tanpa benar-benar melihat anak tangga. Dunia terasa jauh, seperti dilihat dari balik kaca tebal.

Di luar, udara siang lebih terang dari yang ia sanggup terima.

Ia berhenti di trotoar.

Gedung perusahaan ayahnya berdiri di belakangnya—tinggi, diam, dan kini terasa asing. Tempat yang dulu ia banggakan, tempat yang ia yakini sebagai simbol kerja keras ayahnya, sekarang seperti monumen keputusan yang tidak bersih.

“Ayah…” bisiknya pecah.

Kata itu terasa berbeda hari ini.

Selama ini, ayahnya adalah pahlawan yang jatuh karena pengkhianatan orang lain. Sosok yang ia bela bahkan setelah kematian. Sosok yang membuatnya membenci Arlan tanpa ragu.

Sekarang—

gambaran itu retak.

Bukan hancur total.

Tapi retak cukup dalam untuk mengubah segalanya.

Aira berjalan tanpa tujuan menyusuri trotoar. Lalu tanpa sadar ia sampai di taman kecil di ujung blok—tempat yang dulu sering ia datangi saat masih remaja, menunggu ayahnya pulang kerja.

Bangku kayu itu masih ada.

Ia duduk perlahan.

Tangannya gemetar saat mengeluarkan surat ayah dari tas. Kertasnya sudah lecek karena terlalu sering dilipat.

Ia membukanya lagi.

Tulisan tangan itu langsung menusuk.

Ayah mungkin akan membuat keputusan yang tidak akan kamu mengerti.

Napas Aira tersangkut.

Jadi ayahnya tahu.

Ia tahu suatu hari Aira akan melihatnya berbeda.

Air mata jatuh ke kertas.

“Ayah kenapa…” suaranya pecah. “Kenapa kamu pilih itu…”

Angin siang menggerakkan daun di atasnya. Suara anak-anak jauh di taman lain terdengar samar. Dunia berjalan normal sementara dunia Aira runtuh pelan.

Ia menutup mata.

Dan kenangan datang.

Ia berusia sembilan tahun.

Ruang kerja ayahnya masih baru, bau kayu dan cat segar. Ia duduk di kursi besar itu, kakinya tidak menyentuh lantai. Ayahnya berdiri di belakangnya, tertawa.

“Suatu hari ini semua milikmu,” katanya.

Aira kecil menoleh. “Aku harus jadi bos?”

“Kalau kamu mau.”

“Kalau aku nggak mau?”

Ayahnya tersenyum lembut. “Kalau begitu kamu tetap anak ayah.”

Kenangan itu dulu selalu terasa hangat.

Sekarang… terasa pahit.

Karena ayah yang sama—

adalah pria yang memilih seseorang lain menanggung kehancuran demi menyelamatkan segalanya.

“Kenapa Arlan…” bisiknya.

Nama itu membawa gelombang lain.

Lima tahun kebencian.

Semua kata tajam. Semua tuduhan. Semua tatapan dingin yang ia lemparkan padanya.

Dan Arlan hanya diam.

Bukan karena bersalah.

Tapi karena setia.

Aira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.

“Aku jahat sekali…” bisiknya serak. “Aku menyakitimu karena dosa yang bukan milikmu…”

Tangisnya pecah.

Bukan tangis rapi.

Bukan air mata diam.

Tangis seseorang yang identitasnya baru saja retak.

Ia bukan lagi putri korban.

Ia putri pria yang membuat pilihan abu-abu.

Dan ia bukan lagi wanita yang dibohongi Arlan.

Ia wanita yang membencinya tanpa tahu kebenaran.

Dunia moral yang selama ini hitam-putih berubah jadi abu-abu.

Dan abu-abu jauh lebih sulit ditanggung.

“Ayah…” ia terisak. “Aku harus bagaimana sekarang…”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin.

Hanya daun.

Hanya kota yang tidak peduli.

Ia menunduk dalam. Air matanya jatuh ke tanah di antara sepatu. Napasnya tidak teratur. Dada terasa seperti diikat.

Cinta pada ayahnya tidak hilang.

Itu yang paling menyakitkan.

Jika ayahnya sepenuhnya jahat—ia bisa marah.

Jika ayahnya sepenuhnya korban—ia bisa membela.

Tapi ini—

seorang ayah baik yang membuat keputusan tidak bersih.

Dan seorang pria yang ia benci… yang menanggungnya.

Aira mengangkat wajah perlahan.

Langit siang pucat. Cahaya terlalu terang bagi matanya yang merah.

“Aku masih mencintaimu,” katanya pelan, seolah ayahnya duduk di depannya. “Tapi aku juga tidak bisa membenarkanmu.”

Kalimat itu terasa seperti pengkhianatan dan kesetiaan sekaligus.

Ia tertawa kecil di antara tangis.

“Mungkin aku benar-benar anakmu,” bisiknya. “Karena aku juga harus memilih sesuatu yang menyakitkan.”

Angin lewat lagi.

Dan di tengah kelelahan emosional itu, satu kesadaran baru muncul—

Arlan.

Pria itu berdiri di ruang ayahnya tadi, menerima kenyataan yang selama ini ia tanggung sendirian. Tidak membela diri. Tidak menuntut balas. Tidak memaksa pengertian.

Ia hanya… ada.

Selama lima tahun.

Aira menutup mata lagi. Air mata baru jatuh.

“Aku tidak tahu bagaimana menemuimu sekarang,” bisiknya. “Setelah semua yang kulakukan…”

Rasa bersalah itu berbeda dari rasa bersalah biasa.

Ini bukan salah paham kecil.

Ini lima tahun kebencian yang salah alamat.

Dan luka yang ia buat… tidak bisa dihapus hanya dengan maaf.

Aira menarik napas dalam, goyah. Lalu berdiri perlahan dari bangku. Kakinya masih terasa lemah, tapi ia berdiri.

Untuk pertama kalinya sejak pagi—

ia tahu satu hal pasti.

Ia harus menghadapi Arlan.

Bukan sebagai musuh.

Bukan sebagai korban.

Tapi sebagai seseorang yang akhirnya tahu harga yang ia bayar.

Aira menggenggam surat ayahnya erat di dada.

“Aku belum bisa memaafkanmu sepenuhnya, Yah,” bisiknya ke udara. “Tapi aku juga tidak bisa terus menghukum orang lain atas pilihanmu.”

Air mata terakhir jatuh.

Dan di antara cinta anak pada ayahnya… dan rasa bersalah pada pria yang ia lukai—

Aira akhirnya berdiri di titik yang baru.

Tidak lagi benci.

Belum sepenuhnya damai.

Tapi siap menghadapi kebenaran berikutnya.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!