"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Istana Kardus dan Rencana Besar
Langkah kaki Clarissa terhenti di depan sebuah pintu kayu yang lapuk dengan cat yang sudah mengelupas. Bau selokan yang mampet dan suara bising anak-anak tetangga yang menangis menjadi musik latar yang menyambutnya. Setelah merogoh saku rok seragamnya, ia menemukan sebuah kunci berkarat dengan gantungan boneka kusam.
Cklek.
Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter. Hanya ada kasur tipis di lantai, sebuah lemari plastik yang salah satu pintunya lepas, dan tumpukan buku-buku bekas di sudut ruangan.
"Jadi... di sinilah kau tinggal, Lestari?" gumam Clarissa sambil menghela napas panjang.
Ia melempar tasnya ke lantai dan duduk di pinggir kasur yang keras. Kepalanya terasa berdenyut. Kemarin, ia masih tidur di atas sprei sutra dengan aroma terapi lavender. Sekarang? Ia bahkan takut ada kecoa yang merayap di bawah kakinya.
Namun, Clarissa bukan wanita yang mudah menyerah. Ia segera bangkit dan mulai menggeledah isi ruangan itu. Ia butuh informasi. Ia perlu tahu siapa sebenarnya 'Lestari' sebelum ia bisa melangkah lebih jauh.
Di bawah tumpukan baju, ia menemukan sebuah kotak sepatu tua. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian kecil dan beberapa lembar foto. Mata Clarissa membelalak saat melihat salah satu foto tersebut.
Foto itu memperlihatkan Lestari yang masih kecil sedang digendong oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam pengamanan... di depan gedung lama K-Corp.
"Ayah Lestari... adalah mantan satpam K-Corp?" Clarissa membaca catatan di balik foto itu. 'Hari terakhir Ayah bekerja sebelum kecelakaan di gudang.'
Clarissa terdiam. Ingatannya kembali ke lima tahun lalu, saat Kenzo baru saja mengambil alih posisi manajer operasional. Ada insiden kecelakaan kerja besar yang ditutup-tutupi oleh perusahaan. Ayah Lestari adalah korbannya, dan dia meninggal tanpa kompensasi sepeser pun karena dokumennya dipalsukan.
"Jadi itu alasanmu bekerja sebagai tukang pel di sana, Lestari? Kau ingin mencari bukti untuk membersihkan nama ayahmu?" Clarissa mengusap foto itu dengan lembut. "Jangan khawatir. Sekarang tubuhmu milikku. Aku tidak hanya akan membalas dendamku, tapi juga dendam ayahmu."
Malam semakin larut, namun Clarissa tidak bisa tidur. Ia mengambil ponsel bututnya dan mulai mencari berita tentang kematiannya sendiri.
"Tragedi Kecelakaan Maut: CEO Wanita Berbakat Clarissa Wijaya Tewas Terbakar di Jurang."
Di kolom komentar, banyak orang yang berduka, namun ada satu hal yang menarik perhatiannya. Foto pemakamannya dilakukan secara tertutup dan sangat terburu-buru pagi tadi. Bahkan, Kenzo tampak menangis tersedu-sedu di depan kamera wartawan, sementara Angelica berdiri di sampingnya dengan wajah yang disedih-sedihkan.
"Akting yang sangat menjijikkan," desis Clarissa.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
[Datanglah ke Mahendra Tower besok jam 8 pagi. Jangan pakai seragam pelayanmu yang bau itu. - DM]
Clarissa tersenyum. Devan Mahendra benar-benar pria yang tidak sabaran. Namun, ada satu masalah besar: Lestari tidak punya baju bagus.
Clarissa membongkar lemari plastik itu lagi. Sebagian besar isinya adalah kaos oblong dan celana kain yang sudah pudar warnanya. Di tumpukan paling bawah, ia menemukan sebuah gaun hitam sederhana berbahan katun. Potongannya kuno, tapi kainnya masih cukup layak.
"Ini akan cukup dengan sedikit modifikasi," ucap Clarissa. Ia mengambil gunting dan jarum jahit. Dengan bakat estetikanya, ia memotong bagian lengan yang menggelembung menjadi model sleeveless dan memperpendek bagian bawahnya agar terlihat lebih modern.
Keesokan harinya, Mahendra Tower tampak berdiri megah di bawah sinar matahari pagi. Saat Clarissa melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Meskipun ia hanya memakai gaun hitam murah, cara berjalannya yang penuh percaya diri dan riasan wajah tipis yang ia buat dengan kosmetik sisa milik Lestari membuatnya tampak seperti model off-duty.
Ia tidak lagi menunduk. Ia berjalan lurus menuju meja resepsionis.
"Aku ada janji dengan Tuan Devan," ucapnya tenang.
"Nama Anda, Nona?" tanya resepsionis dengan sopan, terintimidasi oleh aura Clarissa.
"Lestari."
Resepsionis itu sempat ragu, namun setelah memeriksa jadwal, ia segera mengangguk. "Silakan, Nona. Tuan Devan sudah menunggu di lantai paling atas."
Di kantor CEO yang luas dan berdinding kaca, Devan berdiri membelakangi pintu sambil menatap pemandangan kota. Saat Clarissa masuk, ia berbalik. Devan sempat tertegun sesaat melihat perubahan penampilan gadis di depannya. Gaun itu murah, tapi dipakai oleh orang yang salah—atau justru orang yang sangat tepat.
"Kau tepat waktu," ucap Devan sambil berjalan mendekat.
"Waktu adalah uang, Tuan Devan. Begitu kan prinsip Mahendra Group?" balas Clarissa santai.
Devan meletakkan sebuah kartu kredit berwarna hitam (Black Card) di atas meja kerja. "Gunakan ini. Beli semua pakaian dan kebutuhan yang pantas untuk seorang Konsultan pribadiku. Aku tidak ingin orang mengira aku mempekerjakan gelandangan."
Clarissa menatap kartu itu, lalu menatap Devan. "Anda sangat royal. Tapi saya tidak butuh uang Anda untuk sekadar baju. Saya butuh akses."
"Akses apa?"
"Akses ke sistem keuangan K-Corp yang sudah diblokir. Saya tahu Kenzo telah memindahkan semua server data ke sub-perusahaan baru bernama 'Angel Cloud'. Jika Anda bisa memberiku jalan masuk ke sana, aku bisa memberikan bukti korupsi mereka dalam waktu tiga hari."
Devan menyipitkan mata. "Kau tahu tentang Angel Cloud? Itu informasi rahasia yang bahkan detektifku belum bisa tembus."
Clarissa maju selangkah, memperkecil jarak antara mereka hingga ia bisa mencium aroma parfum woody Devan yang maskulin. "Aku punya caraku sendiri, Tuan. Jadi, bagaimana? Apakah kita punya kesepakatan?"
Devan menatap bibir Clarissa sejenak, lalu tangannya bergerak cepat menarik pinggang Clarissa, membawa tubuh mereka menempel rapat. "Kau sangat berbahaya, Ratu. Kau tahu itu?"
"Wanita yang sudah kehilangan segalanya memang tidak punya rasa takut lagi, Tuan Devan," bisik Clarissa tepat di depan wajah Devan.
Wajah mereka sangat dekat, hanya terpaut beberapa sentimeter. Suasana di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi panas dan penuh ketegangan romantis. Devan seolah ingin menciumnya, namun ia menahan diri dan justru membisikkan sesuatu yang membuat jantung Clarissa berdesir.
"Jangan pernah mencoba mengkhianatiku. Karena jika kau melakukannya, aku sendiri yang akan mengantarmu kembali ke jurang itu."
Clarissa melepaskan diri dengan senyum menantang. "Aku tidak akan mengkhianati orang yang memegang pedang untukku."
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka tanpa diketuk.
"Devan! Apa yang kau lakukan dengan—"
Seorang wanita cantik dengan pakaian high-fashion masuk ke ruangan itu. Dia adalah Sophia, tunangan Devan yang dijodohkan oleh keluarga besar Mahendra. Sophia mematung melihat Devan bersama seorang gadis asing yang terlihat sangat intim.
"Siapa jalang ini, Devan?" teriak Sophia histeris.
Clarissa hanya melirik Sophia dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu menoleh ke Devan dengan wajah bosan. "Tuan Devan, sepertinya Anda harus membereskan 'gangguan' kecil ini sebelum kita mulai bekerja."
Sophia semakin marah dan melayangkan tamparan ke wajah Clarissa. Namun, dengan gerakan cepat yang terlatih, Clarissa menangkap pergelangan tangan Sophia di udara.
"Nona manis," ucap Clarissa dengan suara dingin yang menusuk. "Tangan ini terlalu mahal untuk menyentuh wajahku. Dan satu hal lagi... aku bukan jalang. Aku adalah mimpi burukmu."
Clarissa menghempaskan tangan Sophia dengan kasar hingga wanita itu terhuyung. Devan hanya diam menonton, tampak sangat terhibur dengan keberanian "konsultan" barunya itu.