Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam telah membungkus Jakarta dengan selimut kelabu yang lembap. Di kediaman Mahendra, lampu kristal di ruang makan berpijar lebih terang dari biasanya. Aroma masakan yang dipesan khusus dari restoran bintang lima memenuhi udara.
Arlan tampak luar biasa gelisah. Ia telah berganti pakaian tiga kali hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada kemeja biru dongker yang dulu pernah dipuji Hana.
Luka lebam di wajahnya masih terlihat jelas, namun ia mencoba menutupi rasa sakitnya dengan ekspresi penuh harap. Ia mondar-mandir di depan pintu utama, berkali-kali merapikan kerah kemejanya dan melirik jam tangan peraknya.
Di meja makan, Maura duduk dengan tangan bersedekap. Wajahnya ditekuk dalam, matanya menyiratkan kecemburuan yang membara.
Ia melihat bagaimana Arlan secara pribadi mengatur letak piring dan gelas, sebuah detail yang bahkan tidak pernah Arlan lakukan untuknya selama ia mengandung.
"Mas, kamu berlebihan sekali," celetuk Maura sinis. "Hana datang cuma mau jenguk Mama, bukan mau menghadiri pesta kenegaraan. Kenapa harus ada makan malam segala?"
Arlan berhenti melangkah, menatap Maura dengan dingin. "Ini urusanku, Maura. Sebaiknya kau diam dan bersikap manis nanti. Jangan sampai Hana merasa tidak nyaman dan langsung pergi."
"Nyaman?" Maura tertawa getir. "Aku ini istrimu, Mas! Dan sekarang aku disuruh melayani mantan istrimu supaya dia merasa nyaman di rumahku sendiri?"
"Ini rumah Mahendra, Maura! Bukan rumahmu!" bentak Arlan pelan namun penuh penekanan. "Ingat posisimu. Jika Hana tidak kembali, rumah ini akan terus kacau, dan itu tidak baik untuk citraku!"
Perdebatan mereka terhenti saat suara bel pintu berbunyi. Ding-dong.
Jantung Arlan berdegup kencang. Ia segera mengatur napas dan memasang wajah selembut mungkin. Dengan langkah cepat, ia menarik gagang pintu besar itu.
Di sana, berdiri seorang wanita yang seolah keluar dari mimpi buruk sekaligus kerinduan terdalam Arlan. Hana berdiri dengan anggun mengenakan setelan blazer berwarna krem yang sangat profesional. Rambutnya diikat rapi, menonjolkan leher jenjang dan wajahnya yang kini tampak sangat bersih tanpa beban.
Kecantikan Hana malam itu terasa berbeda, bukan lagi kecantikan seorang pelayan yang penat, melainkan kecantikan seorang wanita yang tahu harga dirinya.
"Hana... kau datang," ucap Arlan dengan nada suara yang bergetar penuh antusias. Ia menatap Hana dari ujung kepala hingga ujung kaki, terpesona oleh aura yang dipancarkan istri pertamanya itu.
Hana menatap Arlan datar. Tidak ada binar kemarahan, namun tidak ada juga sisa kehangatan. "Aku datang untuk melihat kondisi Mama Mira. Di mana beliau?"
"Masuklah dulu, Han. Mama ada di kamar atas, tadi sempat drop sedikit tekanannya setelah minum obat. Tapi sekarang sudah lebih tenang," bohong Arlan sedikit, sambil memberi ruang bagi Hana untuk masuk.
Hana melangkah masuk ke dalam rumah yang selama lima tahun menjadi saksi bisu tetesan air matanya. Ia merasakan dejavu, namun kali ini ia tidak merasa tertindas.
Ia berjalan melewati Maura yang menatapnya dengan pandangan tajam, namun Hana hanya memberikan anggukan kecil yang sangat formal, seolah Maura adalah orang asing yang tak sengaja ia temui di jalan.
"Duduklah sebentar, Hana. Aku sudah menyiapkan makan malam. Kita bisa bicara sambil makan sebelum kau ke atas," ajak Arlan, tangannya mencoba menyentuh bahu Hana, namun Hana dengan halus menghindar.
"Aku tidak lapar, Mas Arlan. Aku datang hanya untuk urusan kemanusiaan," sahut Hana tegas.
"Hanya sebentar, Han. Demi aku... demi rumah ini," pinta Arlan dengan nada memohon yang dibuat-buat.
Hana akhirnya menghela napas. Ia tahu jika ia tidak menuruti permintaan kecil ini, Arlan akan terus mengulur waktu untuk mengizinkannya melihat Ibu Mira.
Ia mengikuti Arlan ke meja makan. Di sana, hidangan mewah sudah tersaji, namun bagi Hana, aroma makanan itu terasa hambar.
Suasana di meja makan sangat canggung. Arlan terus mencoba mengambilkan lauk untuk Hana, sementara Maura hanya bisa mengaduk-aduk nasinya dengan kasar.
"Hana, bagaimana pekerjaanmu di kantor Gavriel?" tanya Arlan membuka percakapan, mencoba terdengar kasual meski hatinya panas mengingat nama Adrian.
"Sangat baik. Jauh lebih baik dari yang pernah kau bayangkan," jawab Hana singkat.
"Han, soal kejadian semalam... aku benar-benar minta maaf. Aku hanya terpancing emosi melihatmu bersama pria itu. Aku tidak ingin kau dimanfaatkan oleh orang seperti Adrian," Arlan mulai meluncurkan manipulasinya.
Hana meletakkan sendoknya, menatap Arlan tepat di mata. "Adrian tidak memanfaatkanku. Dia justru memberiku ruang yang kau rampas selama lima tahun ini. Dan tolong, jangan bahas urusan pribadiku di meja ini."
Maura yang sejak tadi menahan diri akhirnya meledak. "Cukup! Hana, kau datang ke sini untuk jenguk Mama atau mau pamer kesuksesanmu di depan Mas Arlan? Kau tahu kan aku sedang hamil? Suasana hatiku sedang sensitif, jangan bikin keributan di sini!"
Hana menoleh ke arah Maura dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku tidak membuat keributan, Maura. Suamimulah yang memaksaku makan di sini. Jika kau merasa terganggu, mungkin kau bisa masuk ke kamarmu lebih dulu."
"Kau ...!" Maura hendak membalas, namun Arlan membentaknya.
"Maura! Masuk ke kamar sekarang!" perintah Arlan tegas.
"Tapi Mas ..."
"Masuk!"
Dengan wajah merah padam dan mata berkaca-kaca karena malu, Maura berdiri dan berlari menaiki tangga. Arlan kembali menatap Hana, mencoba tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maafkan dia, Han. Dia memang sedang tidak stabil. Nah, sekarang setelah dia pergi, kita bisa bicara lebih tenang..."
"Aku ingin melihat Mama Mira sekarang," sela Hana, tidak ingin membiarkan Arlan masuk ke area pribadi lagi.
Di Kamar Ibu Mira
Hana melangkah masuk ke kamar Ibu Mira. Suasana di dalam redup, hanya ada lampu tidur yang menyala. Ibu Mira tampak berbaring dengan wajah pucat. Saat mendengar pintu terbuka, ia perlahan membuka mata.
"Hana..." bisik Ibu Mira dengan suara lemah.
Hana mendekat, duduk di pinggir ranjang, dan menyentuh tangan mertuanya itu. Dingin. Hana menyadari bahwa kali ini darah tinggi Ibu Mira memang benar-benar kambuh, meski mungkin tidak separah yang didramatisir Arlan.
"Iya, Ma. Ini Hana."
"Hana... pulanglah, Nak. Mama minta maaf. Rumah ini sepi sekali tanpa kamu. Arlan... Arlan jadi berantakan. Mama tidak tahu harus bagaimana kalau kamu benar-benar pergi," ucap Ibu Mira dengan suara parau.
Hana merasakan sedikit cubitan di hatinya. Selama ini, Ibu Mira memang keras padanya, namun ada ikatan yang sulit diputus begitu saja. Namun, Hana segera teringat kata-kata Adrian - Jangan biarkan rasa bersalah memanipulasimu.
"Ma, Hana sudah memaafkan Mama. Tapi untuk kembali... Hana rasa itu tidak mungkin. Kita semua tahu rumah ini sudah tidak sama lagi sejak ada Maura," ucap Hana dengan nada yang sangat hati-hati namun berprinsip.
Ibu Mira menangis pelan. "Tapi bayi itu, Hana... Arlan butuh kamu untuk membimbing keluarga ini. Maura tidak tahu apa-apa."
"Maura adalah pilihan Mas Arlan, Ma. Dia harus belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Hana bukan lagi bagian dari beban itu."
Arlan yang berdiri di ambang pintu mendengar percakapan itu. Rahangnya mengeras. Ia masuk ke dalam kamar, mendekati Hana.
"Han, kau dengar sendiri kan? Mama butuh kamu. Aku butuh kamu. Apa kau tega membiarkan wanita yang sudah kau anggap ibumu sendiri menderita?" tanya Arlan, mencoba memojokkan Hana secara moral.
Hana berdiri, berbalik menghadap Arlan. "Aku tidak membiarkannya menderita, Mas. Aku datang ke sini sebagai bentuk baktiku. Tapi jika kehadiranku di sini kau jadikan alat untuk memaksaku kembali ke pernikahan yang sudah hancur, maka ini adalah terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di rumah ini."
Arlan terkejut dengan ketegasan Hana. "Hana, kau sudah berubah. Siapa yang mencuci otakmu? Apakah si Gavriel itu?!"
"Tidak ada yang mencuci otakku, Mas Arlan! Aku hanya baru sadar bahwa aku punya otak dan hati yang selama ini kau abaikan!" balas Hana dengan suara yang mulai meninggi namun tetap terkontrol.
Tiba-tiba, dari arah luar terdengar suara ribut-ribut. Maura kembali berteriak dari lantai bawah.
"Mas Arlan! Lihat ini! Ada mobil mewah berhenti di depan gerbang! Pria itu... pria semalam datang ke sini!"
Arlan dan Hana tersentak. Hana segera melihat ke arah jendela. Di bawah sana, di depan gerbang mewah Mahendra, terparkir sebuah sedan hitam mengkilap.
Sosok Adrian Gavriel keluar dari mobil, berdiri tegak dengan aura yang sangat mengintimidasi, menatap langsung ke arah balkon kamar Ibu Mira seolah tahu Hana ada di sana.
"Dia berani datang ke rumahku?!" geram Arlan, emosinya kembali tersulut.
Hana menatap Arlan dengan tenang. "Dia menjemputku. Dan aku rasa, urusanku di sini sudah selesai."
Hana berpamitan singkat pada Ibu Mira yang masih terpaku, lalu ia melangkah keluar kamar. Arlan mengejarnya, mencoba menghalangi langkah Hana di tangga.
"Kau tidak boleh pergi dengan dia, Hana! Kau masih istriku yang sah!"
Hana berhenti, menoleh sedikit, dan menatap Arlan dengan tatapan paling dingin yang pernah ada. "Secara hukum, mungkin iya. Tapi secara hati, aku sudah menjandakan diriku sejak malam kau membawa wanita itu masuk ke kamar kita. Selamat malam, Mas Arlan."
Hana menuruni tangga dengan anggun, melewati Maura yang mematung ketakutan, dan melangkah keluar menuju pintu utama di mana Adrian sudah menunggunya dengan pintu mobil yang terbuka lebar.
Malam itu, di bawah tatapan penuh amarah Arlan dan kecemburuan Maura, Hana meninggalkan rumah Mahendra untuk selamanya, menuju kehidupan yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
...----------------...
Next Episode ....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.