Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Mission started
Angin di atap gedung sekolah berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Abel yang mulai sedikit terlepas dari kepangnya dan sedikit berantakan. Ia berdiri dengan bahu merosot, mendekap tasnya erat-erat seolah itu adalah perisai terakhirnya. Di depannya, Arslan berdiri memunggungi pintu, bersandar pada pagar pembatas dengan gaya yang sangat tenang—kontras dengan badai yang berkecamuk di dada Abel.
"Gue kira lo bakal kabur," suara Arslan memecah sunyi. Ia memutar-mutar buku sketsa cokelat itu di jarinya.
Abel menunduk, menatap tali sepatunya yang mulai terlepas. "Buku itu... tolong balikin. Kamu boleh hukum aku apa saja, atau meminta hal apa saja, tapi tolong jangan kasih lihat ke orang lain."
Arslan berjalan mendekat. Langkah sepatunya terdengar intimidatif di atas beton atap. Ia berhenti tepat di depan Abel, memaksa gadis itu mendongak. Di balik kacamata tebalnya, mata hazel Abel tampak berkaca-kaca, penuh ketakutan sekaligus kepasrahan.
"Hukum ya?" Arslan menyeringai kecil. Pikirannya melayang pada angka 30 juta dan taruhan di grup WhatsApp semalam. "Gue nggak tertarik hukum lo, Bel. Gue justru tertarik sama isinya. Gambar lo bagus. Detail. Kayaknya lo emang merhatiin gue sedalam itu, ya?"
Wajah Abel memerah hebat, menjalar hingga ke telinga. Ia ingin bicara, tapi tenggorokannya terasa tersumbat.
"Gini aja," Arslan menurunkan nada suaranya, menjadi lebih lembut namun penuh manipulasi. "Gue bakal balikin buku ini, dan gue bakal tutup mulut soal rahasia kecil lo ini. Tapi, ada syaratnya."
Abel mengerjapkan mata. "Apa?"
"Jadi pacar gue."
Abel tertegun. Dunia seolah berhenti berputar. Kalimat itu adalah sesuatu yang selalu ia impikan dalam mimpinya yang paling liar, namun mendengarnya langsung dari mulut Arslan terasa seperti sebuah kesalahan logika. "Kamu... bercanda?"
"Gue serius," Arslan melangkah satu langkah lagi, mengikis jarak. "Tapi, ada satu aturan main. Karena status kita yang... yah, lo tahu sendiri, cukup beda, gue mau hubungan ini rahasia. Backstreet. Nggak ada yang boleh tahu di sekolah, termasuk temen-temen lo atau temen-temen gue. Di depan orang lain, kita tetep orang asing. Tapi pas kita berdua... lo milik gue."
Abel terdiam. Logikanya berteriak bahwa ini salah. Arslan yang populer, idola sekolah, tiba-tiba meminta gadis "tak terlihat" sepertinya untuk menjadi pacar—meski rahasia. Itu tidak masuk akal. Namun, rasa cintanya yang naif dan rasa takut akan reputasinya yang terancam membuat pertahanannya runtuh.
"Kenapa harus rahasia?" bisik Abel lirih.
Arslan mengedikkan bahu, memasang wajah seolah ia sedang melindungi Abel. "Lo tahu kan Clarissa dan anak-anak lain gimana? Gue cuma nggak mau lo jadi sasaran mereka kalau mereka tahu kita deket. Gue mau 'melindungi' lo dengan cara ini."
Kebohongan itu meluncur mulus dari bibir Arslan. Abel, yang tidak pernah mengenal tipu daya asmara, hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa ini adalah satu-satunya cara untuk tetap dekat dengan mataharinya sekaligus menyelamatkan harga dirinya.
"Oke," jawab Abel final.
Arslan tersenyum penuh kemenangan. Ia menyerahkan buku sketsa itu ke tangan Abel. "Pilihan yang pinter, Arabella Bellvania Laurent. Mulai hari ini, lo punya gue. Jangan lupa, satu kata bocor ke orang lain, rahasia di buku ini juga bakal bocor."
Arslan mengacak rambut Abel sekilas—sebuah gestur yang membuat jantung Abel meledak—lalu berjalan pergi meninggalkan atap. Di balik punggung Abel, Arslan merogoh ponselnya, mengetik sesuatu di grup basketnya.
Arslan (07): Mission started. Target locked. Dia baru aja bilang iya.
Abel berdiri mematung di atap, memeluk buku sketsanya. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja masuk ke dalam perangkap mainan yang dibangun dari sebuah taruhan. Ia merasa senang, namun ada rasa sesak yang aneh. Cintanya kini bukan lagi garis sejajar, tapi sebuah garis yang bersinggungan di bawah bayang-bayang kepalsuan.
Minggu pagi yang biasanya tenang di kediaman Laurent berubah menjadi medan perang urat syaraf. Abel, yang biasanya hanya mengenakan kaus kebesaran dan celana kain di hari libur, kini tampak sedikit lebih rapi dengan kardigan krem dan tas kecil yang tersampir di bahunya.
Reno, yang sedang mengerjakan tugas kuliah sembari menyesap kopi di ruang tengah, langsung menaruh cangkirnya dengan bunyi dentang yang keras saat melihat adiknya siap-siap pergi.
"Mau ke mana lo? Rapi banget," tanya Reno dengan mata menyipit tajam. Radar protektifnya langsung menyala di level merah.
"Mau ke toko buku, Kak. Ada referensi olimpiade yang harus aku cari," jawab Abel berusaha setenang mungkin, meski jemarinya gemetar saat membetulkan letak kacamata.
Reno bangkit dari sofa, berjalan mengitari adiknya seperti detektif yang sedang menginterogasi tersangka. "Toko buku mana? Gramedia? Atau toko buku bekas di pusat kota? Gue anter."
"Nggak usah! Aku bisa naik ojek online kok. Kak Reno kan tadi bilang mau lanjut ngerjain tugas kuliah," tolak Abel cepat. Terlalu cepat.
Reno berhenti tepat di depan Abel, melipat tangan di dada. "Abel, dengerin gue. Ayah sama Bunda nitipin lo ke gue. Lo itu polos, culun, dan gampang ditipu orang. Sejak kapan lo nolak dianter gue? Biasanya lo paling males gerak kalau nggak gue seret."
"Aku cuma mau mandiri, Kak! Masa ke toko buku aja harus dijagain? Aku bukan anak SD lagi!" suara Abel meninggi, sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan.
"Mandiri atau ada yang disembunyiin?" Reno menatap tepat ke manik mata Abel. "Ada cowok yang jemput lo? Siapa? Anak mana? Biar gue cek dulu media sosialnya, latar belakang keluarganya, sama nilai rapornya."
"Kakak keterlaluan! Nggak ada cowok mana pun, aku cuma mau cari buku! Kenapa Kakak harus selalu ngatur hidupku seolah-olah aku nggak bisa jaga diri sendiri?" Abel mulai merasa sesak. Ia merasa bersalah karena membohongi kakaknya, tapi ia juga takut kehilangan Arslan.
"Gue nggak ngatur, gue jagain lo! Lo nggak tahu di luar sana banyak cowok brengsek yang cuma mau manfaatin cewek kayak lo!" sentak Reno.
Pertengkaran itu berlangsung hampir lima belas menit. Mulai dari Reno yang mengancam akan menyita ponsel Abel, hingga Abel yang mengancam akan mengadu pada ibunya bahwa Reno sering pulang malam. Akhirnya, melihat mata adiknya mulai berkaca-kaca karena tertekan, Reno menghela napas kasar.
"Oke, oke! Berhenti nangis. Gue izinin lo pergi sendiri, TAPI..." Reno menunjuk wajah Abel dengan tegas, "Kirim live location lo ke WhatsApp gue. Kalau dalam tiga jam lo nggak gerak dari toko buku, gue jemput paksa ke sana. Paham?"
Abel mengangguk cepat. "Iya, Kak. Paham."
Abel keluar dari rumah dengan perasaan campur aduk. Ia segera memesan ojek menuju toko buku—hanya sebagai pengalihan. Setelah memastikan kakaknya tidak membuntuti, ia berpindah ke sebuah kafe kecil yang letaknya cukup jauh dari keramaian sekolah.
Di sana, sebuah mobil sport putih sudah terparkir. Arslan duduk di dalam, mengenakan kacamata hitam dan topi, tampak sangat kontras dengan Abel yang masih terlihat seperti gadis kutu buku.
Abel masuk ke dalam mobil dengan jantung berdebar. "Maaf telat, tadi... kakaku tanya-tanya banyak hal."
Arslan hanya tersenyum miring, tangannya santai di atas kemudi. "Kakak lo protektif banget ya? Baguslah, itu artinya lo 'barang berharga'. Tapi tenang aja, selama lo sama gue, lo aman."
Arslan melajukan mobilnya, menjauh dari jangkauan Reno. Abel merasa senang sekaligus takut. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Reno di rumah masih menatap layar ponselnya, memerhatikan titik koordinat Abel yang mulai bergerak ke arah yang tidak sesuai dengan lokasi toko buku yang disebutkan tadi.